Seven Pounds: Martir Cinta


Rindu menonton film drama romantic, terobati seketika saat beberapa hari yg lalu saya meyaksikan sebuah film yang menggetarkan. Seven Pounds dibintangi oleh Will Smith yang memerankan Tim Thomas. Seorang engineer penerbangan yang dengan kesadaran penuh melepas pekerjaannya yang cemerlang, lalu menyusun sebuah rencana  penebusan dosa yang luar biasa mencengangkan sekaligus mengagumkan. Sedikit mengerikan juga sih sebenarnya, karena untuk melengkapi seluruh rencananya tersebut, ia harus mengorbankan nyawanya sendiri.

" In seven days, God created  the world, in seven seconds i shattered mine". 

Pada suatu malam, Tim bersama tunangannya tengah berkendara dalam keadaan suka cita. Namun karena kelalaian Tim yang tidak berhenti mengoperasikan ponselnya sembari menyetir mengakibatkan keadaan suka cita itu berubah menjadi horor yang mengerikan. Mobil Tim menabrak kendaraan yang juga tengah melaju kencang dari arah yang berlawanan. Tujuh nyawa melayang termasuk tunangan Tim yang saking hebatnya tabrakan itu tubuhnya terlempar jauh dr mobil mereka. Beruntung, Tim selamat. Namun ia merasakan guncangan tiada tara tatkala dengan merangkak ia menghampiri tubuh kekasihnya yang berlumuran darah.

Menyesal atas kejadian tersebut berujung pada gagasan luhur Tim untuk menebus rasa bersalahnya dengan memberikan sebuah hadiah istimewa kepada tujuh orang baik yang ia pilih dengan caranya sendiri. Hadiah yang akan meng"hidup"kan kembali seseorang yang nyawanya sudah di ujung tanduk. Hal pertama yang ia lakukan adalah menghadiahkan sebelah paru-parunya kepada saudara kandungnya Ben Thomas, seorang pegawai IRS __ semacam konsultan pajak__ yang kemudian ia pinjam diam-diam identitas pekerjaanya itu untuk memudahkan ia mencari orang-orang baik yang akan ia beri hadiah. Ia kemudian pindah dari rumahnya di pinggir sebuah pantai, ke motel murahan dengan peliharaannya; seekor ubur-ubur dalam toples. Kemudian Tim menghadiahkan sebelah livernya kepada seorang petugas dinas sosial yang bernama Holly, sebelah  ginjalnya kepada sahabatnya George dan merelakan sumsum tulang belakangnya disedot untuk diberikan kepada seorang anak penderita kelainan sumsum tulang belakang.

Atas saran Holly kemudian ia menghibahkan rumah pantainya kepada seorang perempuan imigran single parent yang kerap dianiaya oleh kekasihnya. Perempuan itu dibantu oleh Tim melarikan diri dari kekasihnya lalu pindah bersama kedua anaknya ke rumah yang telah diterimanya dari Tim. Dengan syarat setelah menanda tangani berkas pemindahan hak milik atas rumah itu, ia tidak boleh bertanya mengapa rumah itu dihadihkan kepadanya. dengan gemetar dan rasa tidak percaya, perempuan itu memasuki rumah mewah itu dan berusaha mencegah anak-anaknya agar tidak serta merta berlarian kesana kemari mengelilingi rumah itu. Keesokan harinya, anak beranak itu berlarian riang di sepanjang bibir pantai.

Sampai disini, saya mulai tidak bisa mencegah air mata yang menggenang di pelupuk untuk tidak jatuh bercucuran. saya mulai bisa menangkap pesan dari film ini tentang pengorbanan apa yang bisa lakukan untuk membantu sesama manusia. Its all about sacrificing our life to make the other life stay alive. Mengorbankan bahkan sampai nyawa kita untuk membuat nyawa seorang yang sudah terancam menjadi terselamatkan. Jarang sekali kita menemukan orang seperti Tim ini, tapi saya yakin di luar sana ada orang yang rela mengorbankan nyawanya untuk sebuah nyawa atau banyak nyawa lainnya. Saya sendiri sungguh belum seujung tahi kuku sekalipun, bila ditanya apa yang telah kau korbankan demi orang lain. Saya masih sangat selfish dan seringkali masa bodoh terhadap banyak penderitaan yang saya saksikan di sekitaran.

Kembali kepada Tim yang masih mencari-cari dua kandidat lain untuk ia beri dua hal vital pada tubuhnya. Akhirnya ia menemukan seorang pianis yahudi yang juga operator telepon. Tim mengamati, menguji dan lalu menyimpulkan bahwa lelaki penyabar yang vegetarian itu layak untuk menerima kornea matanya. Di sisi lain Tim juga tengah menyelami kehidupan seorang perempuan cantik yang terkena kelainan jantung bawaan. Tim ingin benar-benar yakin bahwa perempuan bernama Emilia Posa itu sangat memerlukan donor jantung untuk mempertahankan hidupnya. Dengan penuh perasaan Tim menemani saat kritis Emilia yang ternyata menjadi jatuh hati pada ketulusan hati Tim yang selalu ada dan berusaha menguatkan Emilia di saat sakit dan ketakutan akan kematian menderanya. Mereka sempat terlibat romantisme yang dalam, penuh dengan surprise-surprise yang menyenangkan bahkan emosi layaknya sepasang kekasih.

Sampailah pada saat yang menentukan. Ketika dokter memvonis harapan hidup Emilia hanya tinggal 3 persen, lalu memberikan sebuah penyeranta yang akan berbunyi bilamana ada donor jantung untuknya. Tim menelepon sahabatnya George untuk memberitahukan bahwa saatnya telah tiba. Tim meminta George untuk mengurus segala sesuatunya dan dengan berlinangan air mata George mengiyakan.

Malam itu dengan keyakinan penuh Tim mengangkat berkarung-karung es batu lalu mengisinya ke dalam bath tubnya. Mengalirkan air ke dalamnya dan menenggelamkan tubuhnya ke dalam bath tub yang hampir membeku. Kilatan-kilatan ingatan mempertontonkan detik-detik kecelakaan yang merenggut nyawa kekasihnya. Tim meraih telepon, menelepon 911 dan mengabarkan telah terjadi bunuh diri di kediamannya. Ketika ditanya siapa korbannya, Tim menjawab: "Saya...".

Tim melepaskan ubur-ubur ke dalam bath tub. Sontak ubur-ubur mengeluarkan bisanya. Menyerang Tim dengan dahsyat hingga ia menggelepar-gelepar meregang nyawa. Keesokan harinya, penyeranta Emilia berbunyi.

Beberapa waktu kemudian. Pada sebuah konser anak-anak sekolah, Emilia dengan ragu menghampiri keramaian. Matanya berkaca-kaca memandang seorang pianis yang tengah mengiringi konser. Ia seperti hendak meyakinkan dirinya. Tak lama kemudian sang pianis turun dari panggung dan Emilia pun mendekatinya. Sang pianis tersenyum. Emilia mendapatinya hal yang sangat menggetarkan hatinya, ia seperti tengah berhadapan dengan Tim Thomas, lelaki yang ia sayangi dan telah hadiah terindah untuk kehidupannya. Sebuah jantung yang kini tertanam di rongga dadanya. Lama mereka berdua hanya bisa terpana. Sang pianis berambut pirang itu memiliki sepasang mata yang tidak biasa. Bola mata hitam milik Tim Thomas.

"Ezra Thurner....?"
"You must be Emilia", sepotong senyum menyungging.

Detik kemudian mereka berpelukan dengan sangat erat. Saya tergugu sendirian.......

Ode To My Beloved Mother

Semestinya aku menuliskan ini dua hari yang lalu. Tatkala seluruh anak-anak  se nusantara memberi kecupan, pelukan, kado kecil, mengikuti lomba spesial, menyanyikan lagu dan mengucapkan selamat hari ibu kepada seorang perempuan yang telah menghadirkan mereka di bumi ini.

Saat itu aku jauh darinya. Jauh dari perempuan yang ingin kukecup pipinya, kupeluk erat tubuhnya. Perempuan yang tiga puluh enam tahun yang lalu bersimbah darah, menyabung nyawa tiga hari tiga malam untuk melahirkanku. Seorang ibu yang darinya aku belajar mengenal huruf-huruf cinta. Yang setiap malam mengajarkanku untuk mengenal keagungan Tuhan. Yang dari merdu suaranya aku mengenal nada-nada.

Aku sedari pagi disibukkan oleh segala tetek bengek pekerjaan kantor. Lalu pulang ke rumah berkutat dengan kompor yang ngadat entah kenapa. Sementara samar-samar dari televisi kudengar sebaris kalimat yang membuat hatiku gerimis mengingat perempuan yang paling kucinta itu.

"Saat kita kecil, ibu selalu ada untuk kita. Bila kita haus ibu akan segera datang memberi kita segelas air minum. Bila kita lapar ibu akan cepat membawakan sepiring nasi. Bila kita jatuh ibu akan tergesa menghampiri kita dan mengobati luka kita. Bila kita mengantuk ibu akan memeluk dan menina bobokan kita.

Sekarang setelah kita besar dan tumbuh dewasa, apakah kita bisa selalu ada disisinya saat ia membutuhkan kita?"

Aku lamat-lamat mengingat sebuah syair indah dari Alice May. Meresapinya dengan segenap sukma. Mengharap semoga angin berhembus dan bintang kemerlip di langit sana, menangkap kerinduanku kepada perempuan terkasihku itu, dan menghamburinya dengan doa-doa ke sekujur tubuhnya. Doa dan rindu dariku, anaknya yang nun jauh di ujung Sumba.

Mother, how are you today?
Here is a note from your daughter.
With me everything is ok.
Mother, how are you today?

Mother, don't worry, I'm fine.
Promise to see you this summer.
This time there will be no delay.
Mother, how are you today?


I found the man of my dreams.
Next time you will get to know him.
Many things happened while I was away.

Mother, how are you today?


I love You, Mamah....

Kehilangan...

Kehilangan selalu saja menyebabkan kenestapaan. Tidak peduli betapa kita telah berupaya keras untuk mengatasi kehilangan itu dengan bermacam cara. Meskipun telah penat kita menguatkan hati untuk mengambil pelajaran penting yang mungkin tersembunyi di balik kehilangan itu. Selalu dan tetap menyisakan perih.

Kita menyaksikan kehilangan terjadi  di sekitaran kita hampir setiap detik. Di masjid dan mushalla, berita duka tentang kehilangan seseorang yang berarti dan dekat dalam kehidupan kita kerap mengguncangkan hati. Sehingga saking seringnya berita duka itu kita dengar, kata kehilangan menjadi akrab meski tetap asing dan menyakitkan.

Pada suatu malam yang berjalan pelan, aku berkata pada dirimu: "Sayangku, apa yang akan terjadi padamu, bila suatu hari nanti aku kehilangan kecantikan, kesehatan dan kemudaanku? Apakah dirimu akan meninggalkan aku?"

Senyap. Dirimu berpikir keras. Aku tahu dirimu kesulitan menghimpun kalimat yang pas untuk menjawab pertanyanku. "Mengapa engkau berkata begitu", tuturmu lembut. Aku memejamkan mata, menikmati belaian jemarimu di dahiku. "Aku hanya ingin tahu, sayang. Kita hanya berempat dengan kedua gadis kecil kita. Bila saatnya nanti mereka menemukan belahan hatinya, pasti kelak kita akan menua berdua saja", bisikku sambil mengecup telingamu.

Tanganmu meraih daguku, seraya mengucap sesuatu yang membahagiakan aku: "Sayang, aku akan merawatmu bila engkau sakit, menggendongmu bila engkau tidak kuat berjalan, menyuapimu saat dirimu hendak makan sesuatu".

Kita mereka-reka kehilangan kecantikan, kesehatan dan keremajaan tidak akan pernah mengenyahkan kasih dan sayang. Kita membuat perjanjian tak tertulis bahwa kita akan senantiasa memelihara cinta sampai usia kita menua, kulit kita mengeriput, dan rambut kita menguban. Tapi sebenarnya kita tidak pernah tahu apakah kelak kehilangan itu akan menyakitkan sedemikian rupa sampai kita lupa pada semua janji dan tutur kita. Kehilangan selalu menyakitkan.

Ah, sayang. Bukan aku meragukanmu. Namun kehilangan dan setiap inci  perih yang menyertainya adalah hukum alam. Kekuatan alam tak pernah bisa kita prediksi seberapa besar dampak yang timbul saat itu terjadi.

Tapi baiklah, aku harus yakin dan menaruh harapan besar pada tuturmu. Tutur yang tidak mudah engkau keluarkan dari bibirmu. Tutur yang muncul dari dalam hatimu. Kehilangan apapun tidak mengubah sedikitpun cintamu padaku. Termasuk bila aku kehilangan nyawaku...

Cinta Dalam Gelas vs Maryamah Karpov

Nama Andrea Hirata adalah jaminan buku laris yang begitu bukunya terpajang di rak-rak toko buku langsung melejit jadi best seller hanya dalam hitungan minggu. Mungkin itulah makanya saya tergerak begitu saja untuk memesan novel dwilogi Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas dari sebuah toko buku online. Saya dilanda penasaran akut untuk menemukan sebuah jawaban yang menggantung di kepala saya ketika membaca novelnya yang terakhir dalam tetralogi Laskar Pelangi, yaitu Maryamah Karpov.

Selain itu saya juga ingin merasakan kembali momen syahdu yang meruntuhkan air mata saat membaca adegan dalam Laskar Pelangi tatkala Mahar menyanyikan sebuah lagu barat untuk pertama kalinya di depan kelas. Entah mengapa saya sangat menyukai Mahar. Juga saya ingin menemukan kembali scene seru dalam Sang Pemimpi yang membuatku ngikik tidak habis-habis, karena membayangkan Arai memerankan anjing pudel yang lucu, menyalak-nyalak tidak karuan demi melihat pujaan hatinya tergelak di pinggir lapangan menyaksikan dirinya menjalani hukuman.

Saya menghabiskan waktu tidak lebih dari tiga jam untuk menamatkan dwilogi Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas itu. Bukan karena saya memiliki kemampuan untuk membaca cepat, tapi lebih karena bagi saya dwilogi ini belum menawarkan sesuatu yang berbeda dari novel-novel Andrea Hirata sebelumnya. Dalam dwilogi ini, Andre Hirata masih menulis dengan gaya yang sama, diksi yang sama, alur yang sama dengan keempat novelnya terdahulu. Tidak ada kejutan-kejutan cerita yang memompa emosi saya dari menangis lalu tiba-tiba tergelak karena lucu. Ini dijelaskan oleh penuturannya yang saya baca di sebuah website. Andrea mengatakan bahwa novel terakhir yang dia terbitkan yakni Sebelas Patriot mempunyai gaya penulisan yang berbeda dengan novelnya terdahulu. Ini disebabkan novel terakhir nya itu ditulis setelah dia mendapatkan beasiswa untuk belajar menulis di Universitas Iowa pada tahun 2010.

Yang menarik bagi awam seperti saya , buku ini sangat lelaki meski misinya jelas. Memperjuangkan kesetaraan hak antara lelaki dan perempuan. Itu karena tema utamanya dari awal sampai akhir adalah tentang kopi dan catur. Tidak ada yang lebih lelaki dari kedua hal itu deh, kayaknya. Setidaknya menurut saya. Boleh dibilang, jika ada perempuan yang mengakrabi kedua hal akan tampak beda - kalau tidak bisa dibilang aneh. Dan pasti akan membuat orang yang melihatnya mengernyitkan dahinya. Coba saja bayangkan kita melihat seorang perempuan main catur sambil sesekali menghirup kopi saat memainkan pionnya. Hehe.



Jika Dee Lestari pernah menulis tentang filosofi kopi, maka serupa dengan itu, Andrea Hirata mengupas seluk beluk kopi dan kecenderungan sifat peminumnya ditakar dari bagaimana cara seseorang menghabiskan kopinya, seberapa kental kopi dan seberapa manis gulanya. Sampai tentang kesetiaan seorang perempuan yang besar cinta pada lelaki yang menjadi suaminya dapat dilihat dari begitu mendarah dagingnya ritual perempuan itu menjerang air di pagi buta lalu menyeduhkan segelas kopi untuk lelaki yang dicintainya itu. Itulah mengapa novel itu berjudul Cinta dalam Gelas.

Mungkin saya salah, tapi entah mengapa saya merasa ada ketidak sesuaian  antara judul dan isi novel itu. Sekali lagi saya mungkin salah. 


Ketika saya membaca Maryamah Karpov, dengan membaca judulnya saya segera beranggapan bahwa isi novel itu adalah segala segi kehidupan dari seseorang yang bernama Maryamah. Di novel Sang Pemimpi sosok Maryamah secara sepintas digambarkan oleh Andrea sebagai seorang perempuan paruh baya yang sudah ditinggal mati oleh suaminya, hidup menderita sampai sampai untuk membeli beras pun tidak sanggup lagi. Lalu Maryamah dengan terpaksa harus menukar segantang beras dengan biola kesayangan anak gadisnya. Biola itu tidak jadi dilego karena ibunda Ikal dengan ikhlas memberikan beras untuk anak beranak itu.


Dari situ kepenasaranan saya menggantung, sebab Andrea Hirata tidak kunjung menjelaskan duduk perkaranya mengapa sampai perempuan itu memiliki Karpov sebagai nama julukannya. Maka saya berpikir buku Maryamah Karpov lah yang akan menuntaskan segala tanya di benak saya. Tapi keliru besar. Saya tidak menemukan secuilpun kisah Maryamah di buku itu. Yang ada malah pergumulan Ikal dengan hasratnya yang terbesar untuk menemukan perempuan Tionghoa paling dicintainya sampai mengigil-gigil. Maryamah Karpov sepertinya tidak mendapat tempat di 'rumah'nya sendiri. Andrea Hirata gegap gempita mengisahkan penaklukan Ikal terhadap pertaruhan orang di kampungnya menanggapi pencarian spektakuler itu. Spektakuler menurut saya, karena Ikal sampai harus bekerja membanting tulang untuk membiayai pembuatan perahu untuk ekspedisi ke pulau sarang penyamun, tempat dimana konon A Ling berada.


Dan di buku dwi logi Padang Bulan dan  Cinta Dalam Gelas lah, kisah paripurna tentang seorang Maryamah Karpov dibentangkan. Saya terkecoh saat membaca sinopsis bahwa dwilogi ini mengisahkan tentang perjuang hidup seorang gadis miskin bernama Enong. Saya mengira ini adalah tokoh baru. Kisah bagaimana Enong cilik terlunta-lunta mencari pekerjaan di Tanjong Pandan, mengais sisa-sisa timah untuk menukarnya dengan beras, dikejar-kejar preman suruhan cukong timah sampai harus melompat dari tebing ke sungai yang deras. Ternyata menuntaskan penasaran saya tentang Maryamah Karpov. 

Mungkin itu memang 'kenakalan' Andrea Hirata untuk membuat orang awam seperti saya, tetap menyimpan penasaran untuk buku-bukunya. Saya memang pernah mendengar bahwa judul dibuat untuk menarik perhatian orang agar mau membaca. Tapi rasanya buat saya kok tetap seperti ada yang salah tempat. Hehe. Saya lebih suka kalau judul merepresentasikan apa yang yang menjadi isi dari sebuah tulisan. Jadinya nyambung gitu


Terlepas dari anggapan saya, novel dwilogi Andrea Hirata ini cukup menghibur dan masih disukai pembaca. Buktinya, belum sebulan dilempar ke pasaran, dwilogi ini telah meraih mega best seller dengan total penjualan mencapai 25.000 eksemplar. Fantastis bukan? Nah, buat teman-teman yang penasaran seperti saya, mending baca deh novelnya. Mungkin, setelah membacanya nanti kalian akan mengerti maksud saya, Hehehe... Salam.



Ajaibnya Internet

Ada tujuh penghuni baru di kamarku. Mereka kusambut dengan antusias karena kedatangan mereka telah kutunggu-tunggu sejak jauh hari bahkan sebelum kamar yang kutinggali ini jadi. Kehadiran tujuh makhluk sexy itu adalah momentum penting dimana aku tidak lagi terasing dari peradaban. Terlepas dari ketidakberdayaan mengakses informasi.  Bebas merdeka dari kejahiliyahan yang mengangkangi otakku karena keterbatasan fasilitas.

Semua itu karena benda ajaib bernama internet. Sejak 2007 benda itu hadir di kehidupanku, baru kali ini aku merasa bahwa internet itu sungguh ajaib. Selama itu internet hanya menjadi media bagiku untuk membangun kembali komunikasiku dengan teman-teman lama yang kini sudah tersebar ke berbagai penjuru tempat. Aku terbuai begitu lama menghabiskan waktu luangku hanya untuk ikut trend menjadi narsis. Mengupdate status tentang hal-hal yang remeh temeh yg seringnya hanya karena ingin mengundang komentar banyak dari teman temanku, memasang foto yang tidak jelas momennya. Atau hanya iseng membacai status teman-temanku, seolah tanpa melakukan itu sehari saja aku akan ketinggalan zaman. Hehe...

Jangan bertanya kenapa aku begitu lama menemukan momentum "aha" itu. Di Sumba segala sesuatu berjalan sangat lambat. Termasuk sinyal telephon genggam. Hal yang amat berperan dalam menyemarakkan penggunaan internet di Sumba. Deras tenangnya arus sinyal yang masuk menjadi penentu ketekunan kita mengakses internet.

Tanpa internet sungguh sulit kubayangkan ke tujuh penghuni baru itu bisa hadir menemaniku. Mungkin keberadaannya pun di dunia ini tidak pernah bisa ku ketahui. Kini aku dengan mudah bisa menghadirkannya ke pangkuanku. Rasanya aku harus berterima kasih kepada Tim Berners Lee, sang penemu jaringan internet World Wide Web. Berkat kejeniusannya aku tidak perlu menunggu bertahun-tahun hanya untuk sekedar mampir ke sebuah toko buku.

Ke depannya aku mungkin akan membutuhkan tempat khusus untuk menampung penghuni-penghuni baru lainnya yang kupastikan akan terus berdatangan ke kamarku. Saat inipun aku sudah memikirkan untuk memesan stempel untuk menandai bahwa mereka, penghuni-penghuni baru itu adalah milikku. Membayangkannya saja sudah membuatku sangat excited. My own library...

Ya, benar sekali. Penghuni-penghuni baru di kamarku itu adalah buku. Tujuh buku-buku yang sangat sexy.

Pemantik

Tidak mudah untuk menjadi seorang penulis. Atau lebih tepatnya buatku, tidak mudah untuk menulis. Itulah kesimpulan yang bisa aku tarik setelah  lima bulan dua minggu yang telah lewat aku mendeklarasikan mimpiku untuk menjadi penulis. Sangat tidak mudah karena ternyata setiap kali hendak menulis, aku harus menemukan terlebih dahulu satu pemantik yang bisa menyalakan terang di otakku. Lalu setelahnya baru aku bisa menemukan remah-remah kata yang terselip diam di pikiranku.

Ketika aku memposting note pertamaku yang kuberi judul "Mimpi", aku berpikir pemantik yang menyalakan terang di benakku saat itu akan terus tinggal dan menetap di jiwaku. Lalu keesokan harinya dan hari-hari berikutnya aku akan dengan mudah menuangkan pikiranku ke dalam sebuah tulisan. Dugaan yang salah. Pemantik itu rupanya sebangun dengan emosi. Ia mengalami pasang surut serupa ombak. Dalam perjalanannya ia bisa  timbul tenggelam, datang pergi dan bukan tak mungkin benar-benar pergi. Sungguh merepotkanku saja, bila aku harus terus mencari-cari pemantik bila ingin menulis.

Karena aku masih sangat bergantung pada pemantik, maka apa daya, selama kurun waktu lima bulan lebih dua minggu itu ternyata aku hanya bisa menghasilkan tidak lebih dari 16 tulisan. Itupun lebih banyak tulisan galau ketimbang tulisan serius, hehehe. Amat memprihatinkan, bukan?

Di Twitter, demi mendongkrak minatku untuk terus menulis, aku memfollow seratus lebih orang yang berprofesi sebagai penulis. Mulai penulis sekelas Fajar Arcana yang editor harian Kompas Minggu, Jenar Maesa Ayu, Ayu Utami, Gola Gong,  Pipiet Senja, bahkan novelis internasional seperti Paulo Coelho yang terkenal dengan karyanya The Alchemist.

Tidak cukup dengan itu, aku mulai "bergaul" dengan komunitas para kompasianer di situs jejaring sosial besutan Jack Dorsey, Biz Stone dan Evan Williams itu. Sebuah langkah yang memerlukan modal muka tembok. Ada saat dimana aku ditanya: "kompasianer juga ya?". Lalu dengan sangat malu hati aku menjawab: "hehehe, bukan mbak". Dan itu saja. Setelah itu tidak ada lagi balasan sapaan yang dimentionkan ke akun twitterku.

Sedih? Tentu tidak. Masih ada penulis-penulis lain yang berkenan melayani celotehanku di Twitter. Fajar Arcana, Sitok Srengenge, Pipiet Senja dan beberapa penulis blogger, adalah sebagian dari penulis yang masih mau menyisihkan waktu di timelinenya yang bergerak cepat untuk membagi ilmu menulisnya padaku. Untuk itu aku  menaruh rasa hormat dan salut yang tulus kepada mereka. Meski terbatas, interaksi yang mereka jalin via twitter denganku itulah yang sampai kini menjadi pemantik di dalam dadaku untuk tetap belajar menulis, sekacau apapun hasil tulisanku.

Ada satu ungkapan bagus yang pernah dikatakan oleh seorang kawan di twitter. Ketika itu aku meminta saran darinya karena setiap kali aku mencoba menuliskan sesuatu selalu black out dan akhirnya aku menyerah dan menghapus tulisan yang sudah membentuk paragraf. Aku sangat tersentuh dengan ungkapan itu, sebuah ungkapan yang menusuk kalbu bagi siapapun yang merasa dirinya seorang ibu. Dan sangat masuk akal bagi penulis yang masih belajaran seperti aku.

"Kata-kata yang engkau tuliskan adalah bayi-bayi yang engkau lahirkan dengan susah payah. Jangan pernah membunuhnya". Ungkapan ini menyadarkan aku bahwa setiap kata yang dituliskan pada sehelai kertas adalah anak-anak dari siapapun penulisnya. Setiap anak memiliki raut wajah, postur badan, sifat dan karakteristiknya sendiri-sendiri. Tentu bukan tindakan yang baik mengenyahkan seorang anak hanya karena aku tidak melihat ada keindahan dalam wujudnya. Begitupun kata-kata yang aku tuliskan.

Dengan mengingat erat ungkapan itu, aku berharap bisa mensugesti diriku sendiri bahwa pemantik itu masih ada. Setidaknya sampai aku tidak membutuhkan lagi satu pemantik apapun untuk menulis. Saat dimana menulis sudah menjadi separuh nafasku. Hmm, kapan ya ....

Rindu Adil

Baru saja aku membicarakan dirimu dengan seorang kawan, Nak. Tentang berapa usia dan kelasmu sekarang. Tak terasa sudah lewat satu dekade hidupmu kau gantungkan padaku. Seorang ibu yang mungkin tak kan pernah menjadi ibu yang genap menyuplai kasih sayang dan belaian cinta kepadamu. Seorang ibu yang pernah membuatmu menitikkan air mata dan meninggalkan jejak kecewa di sudut terdalam hatimu. Maafkanlah ibumu ini, Nak.

Sayang, mungkin dirimu sudah lupa sebelas tahun yang lalu tubuh merah mungilmu kudekap erat sesaat setelah dirimu menghirup udara di dunia fana ini. Badanmu masih lengket oleh sisa air ketuban dan darah yang belum benar-benar dibersihkan. Menggeliat entah kedinginan atau geli karena kulitmu yang halus itu menempel di dadaku. Aku menitikkan air mata. Bahagia melihatmu hadir di hidupku. Di hidup ibu dan ayahmu.

Dirimu adalah anugrah Tuhan untuk kami. Sekaligus amanat terberat yang harus kami junjung di ubun-ubun kami. Kekhawatiranku akan kelemahan dan ketidak sempurnaanku sebagai manusia sekaligus sebagai ibu, sempat menderaku. Bisakah aku membahagiakanmu, menceriakanmu, membuatmu bangga dan bisa menjalani hidupmu tanpa kurang suatu apa? Entahlah, Sayang. Sampai sekarang, aku masih takut untuk menanyakan kepadamu apakah dirimu bahagia memiliki ibu seperti aku.

Nak, kecintaanku pada dirimu mungkin tidak terkabarkan oleh semilir angin, oleh derasnya rinai hujan, oleh teriknya sinar mentari. Namun di dadaku, nama dan ingatan tentangmu selalu tersimpan hangat dan terselimut rindu. Dirimu yang kini jauh dari jangkauan selalu aku naungi dengan doa-doa keselamatan dan kebahagian.

Ingin kuceritakan kepadamu, Nak, tentang betapa lucunya dirimu saat masih bayi. Tentang semua orang yang selalu menjawili pipimu saat kubawa dirimu keman-mana. Tentang saat-saat menjelang kelahiranmu, dan itu adalah bagian cerita yang paling kusuka. Nanti, Nak. Sekarang aku harus menenangkan debaran rindu di dada ini yang membuncah tak karuan. Sampai menikam-nikam.

Batu Kubur Sumba Nan Antik

Batu kubur nan gagah dengan pahatan tanduk kerbau
Sore ini, sepulang dari kantor saya menyempatkan singgah di sebuah area kuburan di bawah Kampung Tarung. Letaknya persis di sebelah kanan jalan masuk utama kampung itu. Saya tertarik untuk mengabadikan  beberapa kuburan yang untuk ukuran di sekitar kampung itu lumayan megah di zamannya. 




Yang menarik  adalah batu kubur itu bercirikan meghalithikum. Batu kubur yang  sudah berusia tua itu menjadi ciri khas tersendiri dan keberadaannya tersebar luas di setiap perkampungan adat yang ada di Sumba. Jangan heran bila suatu saat anda berkunjung ke Sumba, batu kubur seperti ini akan anda jumpai di sepanjang perjalanan. 

Batu kubur ini dibuat dari sebongkah batu gunung yang dipotong secara manual. Dengan menggunakan kapak, parang dan gergaji,  ratusan orang bergotong royong memotong batu gunung itu, dan membentuknya menjadi dua bagian. Yang pertama adalah bagian utama yang  serupa kotak yang terbuka di bagian atasnya. Kemudian yang kedua adalah  penutupnya. Beberapa batu kubur pada bagian kepalanya dihias dengan ukiran kepala kerbau dan bagian ujungnya dihias dengan ukiran pantat kerbau.
 

Pahatan mamoli di kepala batu kubur

Karena dibuat dari batu gunung dan dikerjakan secara manual, sederhana pula, maka bisa dipastikan proses pembuatan batu kubur itu memakan waktu yang cukup lama. Itulah sebabnya mengapa mayat orang Sumba harus menunggu sampai bahkan sebulan lebih untuk dikuburkan. Selain penguburan itu harus menunggu semua keluarga dan sanak famili datang dari tempat yang jauh, pembuatan batu kuburnya pun menyebabkan si mayat harus menunggu lebih lama. Sehingga untuk mengawetkan mayat agar tidak membusuk dan menyebarkan bau tidak sedap, formalinlah solusinya.
Pahatan ayam di belakang batu kubur

Setelah jadi, batu kubur itu akan digulirkan dengan menggunakan tali tambang dan balok kayu ke tempat yang telah ditentukan, umumnya di halaman depan rumah, untuk kemudian jenazah dimasukkan kedalam batu kubur itu dalam posisi duduk memeluk lutut. 

Besarnya batu kubur itu bervariasi. Ada yang berukuran panjang empat meter, lebar dua meter dan tinggi dua meter. Saya melihat ada tiga batu kubur yang ukurannya lebih besar dibanding sepuluh batu kubur lain yang ada di situ. Namun itu tidak seberapa besar dibanding dengan sebuah batu kubur raksasa yang saya temui di sebuah desa di Kecamatan Tana Righu. Besarnya kurang lebih panjang tujuh meter , lebar lima meter dan tinggi tiga meter. Sayang saya tidak sempat mengabadikannya karena saat itu saya tengah menemani Bapak Kakanwil dan Ibu dalam sebuah kunjungan keluarga.

Besarnya ukuran batu kubur itu karena batu kubur itu memang dibuat untuk menampung banyak mayat dari klannya masing-masing. Saya membayangkan betapa repotnya mereka menggeser penutup batu kubur yang beratnya minta ampun sampai terbuka, memasukkan mayat lalu menggeser kembali penutupnya untuk menutup batu kubur itu. Dengan ukuran seperti diatas, ketebalan kurang lebih empat puluh sentimeter, anda pasti tahu untuk menggesernya butuh puluhan tenaga laki-laki dewasa.

Pahatan tanduk kerbau di bagian pangkal batu kubur
Pahatan ekor kerbau di ujung batu kubur
Pahatan kepala dan ekor kerbau di bagian pangkal dan ujung batu kubur itu punya cerita unik tersendiri. Mungkin anda sudah tahu bahwa kerbau adalah hewan utama yang perannya amat penting dalam kehidupan orang Sumba. Dalam setiap pesta dan perayaan adat, puluhan kerbau harus merelakan nyawanya untuk 'ditikam'. Pengorbanannya menjembati 'dunia bawah' dan 'dunia atas'. Dalam kepercayaan Marapu Sumba, seorang yang mati akan mengendarai kerbau untuk bisa mencapai kebahagiaan di 'dunia atas'. Sehingga mereka menyerupakan batu kubur itu sebagai seekor kerbau, kendaraan bagi si mayat.

Batu kubur ini dibuat pada tahun 1940
Ketika saya bertanya kepada teman saya, mengapa kuburan mereka harus dibuat seperti itu. Mama Enjel yang penduduk Kampung Tarung menjawab, orang sumba percaya bahwa orang mati tidak layak dikuburkan di dalam tanah, seperti bangkai hewan. Manusia derajatnya lebih tinggi dari pada hewan oleh karenanya meninggalnya pun tidak boleh dikuburkan seperti seekor hewan dikuburkan. Bahkan, dulu si mayat dikuburkan bersama dengan barang kesayangannya. Di Anakalang dan Waingapu, malahan konon hamba sahaya si mayat turut menguburkan dirinya hidup-hidup. Tradisi yang unik tapi sekaligus mencengangkan.

Belakangan ini, pembuatan batu kubur di rumah-rumah penduduk umumnya sudah dimodernisasi dengan menggunakan batu bata dan semen, kemudian dihias dengan menggunakan keramik.  Ukurannyapun lebih kecil. Untuk memudahkan bila ada mayat yang harus dikuburkan lagi di batu kubur tersebut, dibuatlah semacam pintu kecil dari beton di bagian ujung batu kubur. Praktis dan efisien, sesuai dengan perkembangan zaman kan? 

Masih banyak cerita menarik di balik keunikan batu kubur Sumba. Tapi rupanya kaki saya sudah ngadat, minta diistirahatkan di atas kasur empuk. Saya pun menyudahi acara jeprat-jepret kamera Blackberry di pekuburan adat Kampung Tarung ini. Sudah waktunya pulang dan memeluk gadis kecilku di rumah.

Kampung Adat Tarung

Rumah Adat Sumba
Mengunjungi perkampungan adat terbesar di Waikabubak adalah satu hal yang berulangkali saya tunda-tunda karena kesibukan saya. Padahal jarak perkampungan adat dari tempat tinggal saya cuma sekitar lima ratus meter saja.Dengan jalan kaki menempuh rute mendaki dengan kemiringan lumayan tinggi, saya sudah bisa sampai di sana dengan mudah. Namun akhirnya saya berkesempatan juga untuk tour ke sana, sambil menemani tamu dari Ditjen PAIS Kemenag RI. Hmmm, suatu kebetulan yang sangat pas.

Kampung adat itu bernama Kampung Tarung. Terletak di sebuah bukit yang rimbun dengan pepohonan yang sudah berusia tua. Setua kampung tersebut. Membuat suasana sekitar kampung itu menjadi teduh dan sejuk. Kampung itu merupakan pusat kampung adat yang ada di seluruh Waikabubak. Dan merupakan kampung adat terbesar di Sumba Barat.
 
Ketika memasuki perkampungan, kami berpapasan dengan beberapa ibu dan gadis-gadis cilik yang sedang berjalan menjunjung seember air di kepala dan kedua tangannya masing-masing memegang jerigen air berukuran lima liter. Kebiasaan yang mereka harus lakukan setiap pagi dan petang untuk memasok air bersih di dapur mereka. Kondisi geografis Kampung Tarung yang berada di sebuah bukit yang lumayan tinggi membuat penduduk kampung harus bersusah payah naik turun bukit itu demi seember air bersih.

Memang pada umumnya letak kampung-kampung adat di Sumba Barat hampir seluruhnya terletak di perbukitan. Ternyata kondisi itu dikarenakan latar belakang suku-suku di Sumba pada masa lalu adalah suku perang. Dengan memilih kampung adat di bukit, maka secara praktis keamanan mereka lebih terjaga jika suatu saat terjadi kontak senjata atau perang suku di antara mereka. Bukit telah menjadi benteng pertahanan alami bagi penduduk suatu kampung. Sangat masuk akal, sebab akses masuk ke kampung tersebut jadi terbatas dan lebih sulit dibanding bila berkampung di dataran rendah yang terbuka. 


Kini kampung tersebut dijadikan sebuah situs cagar budaya oleh Pemerintah Daerah setempat. Akses masuk sampai jalan setapak di dalam kampung tersebut telah dibangun oleh pemerintah, untuk memudahkan pengunjung yang setiap saat bisa datang kesana. Kesan tradisonal sangat kuat melekat pada kampung tersebut. Jejeran rumah-rumah panggung dengan atap menara yang terbuat dari ilalang kering berderet mengelilingi areal pemujaan yang terletak di tengah-tengah kampung. Sehingga kalau dilihat dari udara, perkampungan itu terlihat seperti lingkaran oval.

Tempat pemujaan

Secara sederhana, rumah-rumah di Kampung Tarung dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah kolong rumah yang berfungsi sebagai kandang binatang peliharaan mereka seperti anjing, babi, ayam dan bebek. Tidak heran saat kami mencoba untuk menengok ke salah satu rumah di situ, hewan-hewan itu berseliweran dengan bebasnya di antara kaki kami. Bagian kedua adalah ruangan utama yang diperuntukkan bagi penghuni rumah. Dan bagian terakhir adalah langit-langit rumah yang dikhususkan untuk menyimpan bahan persediaan makanan mereka seperti padi dan jagung.

Kami beruntung, ketika datang, beberapa ibu tua sedang duduk sambil menenun kain adat sumba yang unik sekali. Kain itu nantinya akan mereka jual di pasar atau langsung dijajakan kepada para turis yang datang. Harganya lumayan mahal, tapi untuk mereka yang suka mengoleksi benda-benda khas daerah yang unik, tentu harga itu tak jadi masalah. Secarik sarung adat atau lembaran yang khusus dibuat untuk baju dihargai antara seratus lima puluh sampai empat ratus ribu tergantung jenis benang dan motifnya. Lalu selembar taplak meja dihargai enam puluh ribu rupiah. Dan selembar selendang yang lebih mirip syal cukuplah merogeh kocek sedalam tiga puluh ribu rupiah. Itu masih bisa ditawar lho. 



Tanduk kerbau di depan rumah
Saat mengamati kegiatan si ibu yang sedang menenun kain sumba, mata saya tertumbuk pada deretan tanduk kerbau yang dipajang di beranda rumah itu. Persis disamping kiri dan kanan pintu masuk rumah. Tanduk kerbau itu dipasang secara berurutan berdasarkan ukuran panjang tanduk. Semakin ke bawah semakin besar tanduk yang dipasang. Jumlah puluhan. Rupanya itu adalah tanduk kerbau yang dipotong saat ada upacara kematian. Jumlah tanduk kerbau itu mencerminkan derajat sebuah keluarga di mata masyarakat sekitar.

Puas berkeliling dan menikmati pemandangan sekitar kampung itu, kami pun beranjak meninggalkan Kampung Tarung. Seorang ibu muda yang sejak awal setia menemani kami sembari berceloteh menjawab pertanyaan kami, mempersilahkan kami untuk mengisi buku tamu yang khusus dipersiapkan bilamana ada turis yang datang berkunjung. Sambil berbisik, driver kantor kami mengatakan kepada saya untuk menyelipkan selembar rupiah sepuluh ribuan di buku tamu itu.

Perjalananpun kami lanjutkan lagi menuju Bandara Tambolaka,untuk mengantar tamu kami kembali ke Jakarta.Mobil kami merayap pelan menuruni jalan yang curam, meninggalkan bayang-bayang gelap rumah-rumah adat di Kampung Tarung yang tersaput cuaca mendung pagi itu.


Suasana Kampung tarung di pagi hari




Sumba Berduka

Saya tengah menekuri layar laptop ketika siang tadi sebuah berita duka mengejutkan kami di kantor. Seorang ayah, guru, ustadz, tokoh masyarakat dan sahabat yang baik budinya bagi semua orang, telah berangkat mendahului kita semua. Beliau meninggalkan semua yang mencintainya di dunia fana, pergi menyusuri perjalanan terakhirnya di alam Barzah. Usia yang lanjut dan sakit yang dideritanya telah mengantarkannya ke gerbang perpisahan antara dunia dan akhirat. Ketika berita itu saya terima, sontak kenangan saat pertama saya berinteraksi dengan beliau secara langsung tergambar di pelupuk mata.

Sore itu, ketika saya bersama murid-murid saya tengah latihan teater di halaman SDI Waikabubak, seorang bapak yang ramah dengan sesungging senyum menyapa: " Assalaamu'alaikum, waaah...sungguh luar biasa ibu ini, sudah terjun membina anak-anak kami..."

Sungguh. Kalimat yang keluar dari bibir seorang bapak yang tidak pernah kelihatan masam mukanya itu membuat jiwa saya sangat melambung. Padahal apa yang saya lakukan sebenarnya hanya kegiatan mengisi waktu kosong saya. Sekedar supaya ada kerjaan. Ternyata beliau mengapresiasinya sebagai hal yang luar biasa. Walaupun mungkin itu dilakukan untuk menyemangati saya. Namun, saya sangat merasakan ketulusan dan kehangatan dalam kata-katanya. Saya yakin, hal itu beliau senantiasa lakukan kepada setiap orang yang beliau temui. Entah itu keluarga, sanak saudara, sahabat, kenalan, tetangga, murid-murid dan bahkan orang yang tidak beliau kenal secara pribadi. Itulah mengapa, berita kematiannya menimbulkan kedukaan yang mendalam di setiap penjuru tempat.

Kematian adalah keniscayaan. Setiap yang bernyawa suatu saat akan merasakan sakaratul maut yang datang menjemput. Semua orang akan dipaksa untuk meninggalkan semua yang dipunyai. Siap ataupun tidak, tak seorangpun dapat menolak maut. Kematian menyadarkan kita bahwa tidak ada yang bisa melawan kehendak Tuhan. Meskipun kesadaran itu telah kita resapi,  tetap berat rasanya kehilangan orang yang kita cintai. Terlebih orang itu adalah sesosok panutan yang penuh dengan kasih sayang.

Ketika semua yang ditinggalkannya terisak menangis dan berduka cita. Tatkala kenangan demi kenangan berputar di pelupuk mata yang basah oleh air mata. Sesungguhnya beliau tengah tersenyum. Kebaikan dan amal sholehnya kini menjadi kendaraan mewah untuk beliau meniti perjalanan terakhirnya menuju akhirat. Menghadap Sang Khalik yang telah menunggunya dengan menyiapkan sebuah rumah yang lebih nyaman untuk beliau tempati di akhirat sana. Barisan malaikat yang selama beliau hidup, turut bertasbih, bertahmid dan bertahlil bersamanya, kini menyambutnya dengan senyuman dan wajah yang bercahaya.

Maka sejatinya kita tengah menangisi diri sendiri. Apakah kelak saat maut menghampiri kita, ada amal sholeh yang menjadi kendaraan kita, atau kita akan terseok-seok meniti jalan yang lebih terjal dari kehidupan keras di dunia ini? Dapatkah bibir kelu kita menerbitkan senyuman ketika di alam barzah, setiap amal ibadah kita menjadi lentera yang menyinari peraduan terakhir kita, atau kegelapan  dan ketakutan  tidak terhingga menyiksa istirahat terakhir kita? Adakah malaikat yang datang menyambut dengan senyum dan wajah yang bercahaya, atau kita sendirian di tengah alam yang asing dan suram...

Selamat jalan Ustadz H. Muhammad Bin Hasyim Al Gadri.... Seumur hidupmu, Engkau telah menjadi panutan terbaik kami. Sepeninggalmu pun wejanganmu tetap akan kami pikul diatas ubun-ubun kami. Esok kami akan mengantarmu ke peraduanmu yang terakhir. Hanya bait-bait doa yang turut menyertaimu. Kelak kami, satu persatu akan menyusulmu jua. Semoga kita dapat kembali bersua, dengan penuh keridhoan dan rahmat Allah di yaumil akhir... Amiin....


Waikabubak, 9 Agustus 2011
Repost

Kerewei

Dari Kecamatan Lamboya Kabupaten Sumba Barat, saya ingin mengajak kawan-kawan mengenali lagi sebuah pantai yang indah dan eksotis. Pantai Kerewei namanya. Pantai ini terletak di sebuah teluk yang indah dengan  pohon-pohon nyiur yang melambai-lambai di sepanjang pinggirnya. Pantai dengan panjang sekitar dua kilometer ini berpasir putih dan sangat landai. Sangat nyaman bila kita ingin mengajak keluarga untuk berenang di sana.
Pantai Kerewei
Pada sisi sebelah kanan teluk, terdapat satu lokasi yang menjadi favorit para pengunjung dimana tergolek sebuah pulau karang kecil dengan diameter kurang lebih tiga puluh meter. Bila air laut sedang surut, kita bisa berjalan menuju pulau itu dan menyaksikan biota-biota laut yang terjebak di lekukan-lekukan karang. Indah dan menggemaskan. Bahkan bila kita punya cukup keberanian, kita bisa mendaki ke puncak pulau karang itu. Tidak terlalu tinggi, sih. Namun cukup mendebarkan, karena untuk mendakinya kita harus menaklukkan karang-karang yang tajam. Dari atas pulau itu kita bisa memandang hamparan laut yang biru kehijauan. Dan bila beruntung, kita bisa pula menyaksikan ikan-ikan karang nan elok berkejaran di laut yang jernih.

Pantai pasir putih nan landai dan luas
 

Persis di bibir pantai tidak jauh dari pulau karang itu, ada lagi sebuah batu karang yang lebih kecil. Batu karang ini sering dijadikan objek latar belakang para pengunjung untuk berfoto-foto. Pada sebuah sudutnya, batu karang itu membentuk serupa gapura setinggi bahu orang dewasa. Siapapun pasti tergoda untuk berpose di sana.

Berpose di gapura karang
Puas berjalan menyusuri pasir putih yang halus, air laut yang tenang seakan membujuk kita untuk menceburkan diri didalamnya. Tidak perlu kuatir tenggelam atau terseret arus ombaknya, karena pantai itu landai dan berarus tenang. Mungkin itu pula sebabnya, penduduk lokal memanfaatkan pantai itu untuk menanam rumput laut. Berenang berlama-lama di sana terasa sangat menyenangkan.




Nyaman bermain di tepi pantai
Sayangnya dengan semakin banyaknya pengunjung yang datang, kondisi pantai menjadi kotor oleh sampah plastik. Kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan pantai masih sangat kurang. Saya kadang geram, tapi tidak tahu harus berbuat apa. Kecuali sebisa mungkin berusaha mengumpulkan sampah-sampah plastik yang berserakan dan membakarnya. Sekedar untuk mengurangi saja. Karena untuk membersihkannya secara total perlu kesadaran orang banyak. Namun sekecil apapun andil yang saya berikan, mudah-mudahan saja bisa tetap menjadikan pantai itu bersih dan indah.

Kapan-kapan, kalau anda hendak melintasi Sumba menuju Australia, silahkan mampir ke Pantai Kerewei. Hehehehe....


Berenang




Repost dari catatan fesbukku.

Hujan...


Memandang kering kerontang tanah sawah di seberang rumahku membuat hatiku gersang. Sudah lewat dua bulan hujan pergi meninggalkan daratan Sumba. Rasanya ada kerinduan tersendiri yang singgah di hatiku kepada hujan yang rinai di setiap sore hari musim  penghujan yang lalu.
Aku mencintai hujan. Seperti juga aku mencintai puisi, senja, kunang-kunang, padang sabana dan riak ombak di tepian pantai. Aku menyukai wangi tanah yang meruap di remang udara lembab setelah tersiram hujan. Genangan air yang memantulkan sinar matahari, selalu menggodaku untuk memercikkannya dengan telapak kakiku. Kegembiraan kanak-kanak yang sulit kutepiskan setiap datang hujan. Jika saja usiaku masih dapat dihitung dengan jari, pasti aku sudah menghambur riang menyambut hujan, setiap ia datang berkunjung ke berandaku.

Saat aku menginjak remaja, hujan adalah temanku yang setia mengenalkan aku pada melankolia masa muda. Berjalan menerabas hujan sepulang sekolah bersama teman-teman. Menyusuri kelokan jalan setapak di pinggir ladang dengan baju kuyup oleh gerimis. Mengukir lekukan senyum saat mata bersitatap dengan malu-malu. Rinai hujan menjadikan suasana syahdu.

Saat aku tak tahan menahan kesedihan, hujanpun datang menyamarkan air mata yang terurai di pipiku. Siapapun tidak boleh tahu kesedihanku kecuali hujan. Dialah yang menawarkan dukaku. Air hujan menjadi air mataku. Suara hujan menjadi suara tangisku.

Entah mengapa rinduku pada hujan muncul menguat di Juli ini. Aku rindu pada sejuknya. Aku kangen pada airnya yang menghidupkan segala. Aku ingin mendengar deraiannya yang rancak menimpa atap rumahku. Serupa musik  dari  langit ketujuh. Kurasa karena aku ingin kadoku yang terindah pada hari ulang tahunku adalah hujan yang mengunjungi berandaku. Menyejukkan halaman rumahku. Lalu menghidupkan pucuk-pucuk kembangku yang tertutup debu kemarau. Lalu dengan caranya sendiri, menghangatkan hatiku.

Ah, ulang tahunku telah dua belas hari berlalu. Mengapa pula aku masih menginginkan kado hujanku setelat ini. Rupanya aku masih merindu  rinai-rinai gerimis yang kerap mengunjungiku seiring hatiku yang berpuisi.

Waikabubak, 17 Juli 2011
Saat memandang mendung....

Repost from FB notes, hujan pertama tahun ini setelah sekian lama....

Lailiang...

Pantai Lailiang nan indah
Beberapa hari yang lalu saya diajak suami jalan-jalan ke Pantai Lailiang di Kecamatan Wanokaka. Pantai yang terletak di selatan pulau Sumba ini konon masih perawan dan sangat indah. Terselip diantara dua tebing karang, pantai ini membujur dihiasi pasir putihnya yang lembut. Dari kejauhan, diatas bukit sebelum sampai ke bibir pantai, saya suka sekali  deburan ombaknya yang terdengar dari kejauhan bergemuruh terpadu dengan riak air lautnya yang biru kehijauan..

Namun sebenarnya saya sedang memikirkan hal lain ketika kami sampai di persimpangan jalan yang membagi rute jalan ke pantai Lailiang itu. Ada pantai lain di garis yang sama dengan Lailing yang selama ini  dipergunakan sebagai tempat untuk melaksanakan sebuah permainan olahraga gulat tradisional  yang dikenal dengan nama “Pajura”. Saya yakin pantai itu sama indahnya dengan Lailiang mengingat kesamaan letak geografis dan keperawanannya. Lalu jika kita terus menelusuri garis pantai itu, kita akan menemukan pantai-pantai lain yang lebih indah lagi.

Banyaknya pantai indah yang menawan di sepanjang selatan Pulau Sumba, menggelitik hati saya, mengapa keindahan ini  seperti sia-sia dan tidak terjamah oleh pembangunan pariwisata. Entah karena tidak tahu bagaimana caranya, atau memang tidak melihat itu sebagai peluang untuk memajukan pariwisata di Sumba . Pemerintah daerah dalam hal ini dinas yang mengelola pariwisata seperti sedang tidur nyenyak saja. Padahal jika dikelola secara serius Pulau Sumba bisa menyamai keelokan Pulau Dewata. Saya tidak bercanda kawan. Alam yang masih natural, masyarakat adatnya yang masih tradisonal, situs-situs batu kubur megalithikum yang mengagumkan dan upacara-upacara adatnya yang sangat magnificent, bersinergi menjadi pemandangan yang harmoni, magis dan indah.

Sesungguhnya, ada secuil kecemburuan di hati saya sewaktu mendengar ada seorang ekspatriat yang melihat peluang itu dan menangkapnya dengan sigap. Dengan skill dan mungkin pengalamannya di negaranya dalam mengelola pariwisata serta kemampuan finansialnya yang memadai, dia mendapatkan hak istimewa untuk mengelola sebuah pantai yang luar biasa indahnya. Menyulapnya menjadi sebuah resor eksklusif yang privasinya amat terjaga. Kemudian menjualnya kepada para wisatawan asing yang memiliki kocek tebal. Disana, bule-bule bebas berjemur dan menikmati deburan ombak di atas papan selancar, tanpa ada gangguan.

Tebak berapa tarifnya semalam? Enam juta rupiah. Pikirku ini gila. Seorang bule yang mungkin saat itu nyasar ke Sumba, sekedar membuang uang untuk jalan-jalan ke pelosok Indonesia, kini malah berubah menjadi seorang yang menghasilkan milyaran uang setahunnya dari sepotong pantai di Sumba yang sebenarnya bukan miliknya. Saya tidak tahu persis, apakah pemerintah daerah mendapatkan bagian dari semacam pembagian profit yang dihasilkannya. Atau sekedar menerima pajak PPN dan PPhnya yang mungkin tidak seberapa.

Saya membayangkan banyaknya keuntungan yang didapat oleh masyarakat Sumba dari sektor wisata seandainya saja pemerintah mau sedikit menengok ke sana. Pendapatan ekonomi sektor besar dan kecil meningkat, akses transportasi dan informasi semakin terbuka, dan otomatis akan memacu kemajuan-kemajuan di bidang lain.

Pertanyaan saya ini akan selalu tinggal sebagai pertanyaan. Selama pemerintah tidak tergerak untuk lebih menengok ke sana. Peduli dan berusaha lebih serius menggali potensi alam yang dimiliki oleh Sumba. Apa yang bisa diharapkan dari sebuah pulau yang hanya bisa ditumbuhi oleh rumput-rumput sabana? Kecuali keindahan alamnya dan keunikan etniknya yang tradisional.

Teramat sayang, membiarkannya terabaikan, hanya dinikmati oleh segelintir orang seperti saya dan suami yang memang sangat menyukai pantai. Hingga pada akhirnya malah rombongan turis-turis bule yang tidak peduli sama sekali akan kemajuan Sumba yang menikmati keindahannya.  Menghabiskan dolarnya lalu mengalir deras memenuhi kocek seorang bule lain yang jeli matanya melihat lembaran-lembaran dolar tersembul di balik kilauan pasir putih di sebuah pantai indah di Sumba.

Tapi, mumpung belum ramai oleh wisatawan asing dan domestik. biarlah saya bersama suami  memuaskan diri menikmati keindahannya. Hehehehe.


Repost from my fb Note.

Perjuangan Seorang Ibu


Sudah lama sekali saya merasakan sebuah pengalaman yang menakjubkan sekaligus menakutkan sebagai seorang ibu. Takut dan senang menyatu, nyeri teramat sangat namun segera setelah proses kesakitan itu berakhir bibir tak reda menyungging senyum. Lelah, letih dan ngilu bercampur dengan semangat dan suka cita.


Bagi saya, pengalaman itu menakjubkan karena serentetan rasa dan emosi yang bersenyawa dalam proses itu, merupakan awal sebuah kehidupan yang suci, murni, polos dan menularkan kegembiraan yang tak terkira kepada orang-orang di sekitaran. Namun juga menakutkan karena saya diberondong cemas dan khawatir, akankah mulai detik awal hingga seterusnya, saya bisa menjalani peran yang sungguh tak ringan sebagai seorang ibu.


Sembilan tahun adalah waktu yang cukup untuk saya bisa melupakan rasa sakitnya. Apalagi saya diberi kemudahan oleh Tuhan dalam menjalani proses melahirkan kedua anak saya. Tidak lebih dari dua puluh menit saja. Dan bayi mungilku hadir di dunia. Rasa sakit itu lenyap tidak berbekas. Digantikan oleh senang yang meletup-letup di dada.


Ingatan tentang pengalaman indah itu belakangan menggeliat lagi, setelah saya membaca status seorang teman baik yang telah melahirkan putrinya yang ketiga di Tangerang sana. Perjuangan seorang Ibu, begitu Mbak Fitri Taufik --teman saya itu--  menuangkan luapan kebahagiaannya di beranda Facebooknya. Saya pun tergetar.


Menjadi seorang ibu tidaklah otomatis tersemat dalam diri seorang perempuan ketika ia mengandung dan melahirkan. Betul bahwa mengandung dan melahirkan adalah peran terpurna bagi seorang perempuan secara kodrati. Namun apakah persoalan menjadi seorang ibu selesai setelah ia mengandung dan melahirkan? Rasanya tidak.


Perjuangan seorang ibu saat sembilan bulan membawa sesosok janin dalam perutnya dan kemudian berdarah-darah melahirkan, lebih merupakan awal dari sebuah perjuangan yang sebenarnya bagi seorang ibu. Bisakah seorang ibu hadir di sisi anaknya di saat sang anak memerlukan perhatian dari seorang ibu. Mampukah seorang ibu menjadi panutan ketika sang anak mencari-cari sosok yang bisa ia jadikan idola. Relakah seorang ibu mengenyampingkan kepentingan dirinya untuk memenuhi kebutuhan anak akan cinta dan kasih sayang.Sungguhkah seorang ibu  mau mengerahkan seluruh kemampuannya agar sang anak setiap waktunya dipenuhi oleh kegembiraan, celoteh riang dan gelak tawa. Itulah perjuangan terbesar seorang ibu dalam mengantarkan anak-anaknya menjadi  manusia yang utuh.


Saya pribadi mengakui kelemahan saya sebagai seorang ibu. Seluruh pertanyaan tadi lebih saya tujukan untuk diri saya sendiri. Dan belum bisa saya dapatkan jawaban yang sempurna atas semua pertanyaan itu.


Kegembiraan dan antusiasme  saya saat mengandung dan kemudian melahirkan anak saya, hanya bertahan selama beberapa hari saja. Selebihnya banyak hal yang tidak dapat saya persembahkan bagi kelangsungan hidup anak saya secara komperhensif. Di sana sini saya melakukan excusing yang membuat anak saya lebih banyak harus memahami kondisi ‘kesibukan’ dan ‘kelelahan’ saya. Sedihnya, justru anak saya yang terpaksa berkorban untuk kehilangan keceriaan dan keriangan karena kehilangan waktu emas yang seharusnya dihabiskan bersama saya. Hanya karena saya lebih memilih untuk berkutat dengan setumpuk pekerjaan di kantor.


Apa yang telah saya perjuangkan untuk kedua gadis mungilku? Rasanya saya malu mengatakan kepada kedua anak saya bahwa surga ada di bawah telapak kaki ibu.


Teman saya yang baik itu pernah sekali mengatakan bahwa saya beruntung menjadi wanita karir. Tidak seperti dia yang hanya ibu rumah tangga. Saat dia mengatakan begitu, saya sempat tersanjung dalam hati. Namun sesungguhnya dialah yang lebih beruntung. Seluruh waktunya tercurah untuk mengawal tumbuh kembang anak-anaknya. Kapanpun dia bisa memeluk dan bercanda riang bersama buah hatinya. Tidak pernah dia rasakan kecemasan yang menusuk-nusuk hati saya saat harus ber’canda’ dengan komputer di kantor, sementara di rumah anak saya sendirian entah sedang apa.


Sejatinya seorang ibu seperti teman saya itulah yang benar –benar memperjuangkan dirinya untuk menjadi seorang perempuan yang layak dipanggil ibu. Seluruh tetes keringat dan air matanya tumpah untuk kepentingan anak-anaknya.  Setiap detik waktu yang dia jalani sepenuhnya berputar untuk mendampingi gelak tawa dan rengek tangis bocah-bocah lucu itu.


Untuk temanku yang baik hati, jangan pernah merasa kecil dengan peranmu yang mulia sebagai ibu rumah tangga. Sungguh. Seperti saya yang kini cemburu kepadamu karena ketersediaan waktumu sepenuhnya untuk memperhatikan anak-anakmu. Pasti engkaupun akan merasakan betapa tidak enaknya dan sempitnya lahan untuk berjuang sebagai seorang ibu, ketika engkau menjadi seorang wanita karir. Engkau akan mudah mengenyampingkan anak-anakmu demi selembar rupiah yang tidak seberapa nilainya dibanding dengan binar mata anak-anakmu saat engkau memeluk mereka dengan penuh kasih sayang. Dan itu sungguh menyedihkan.


Pada minggu kedua usia putri kecilmu saya ucapkan selamat padamu, semoga dia kelak tahu bahwa dirimu adalah ibu terbaik  dari seluruh ibu yang ada di dunia ini.




Waikabubak, 12 Juli 2011.
Repost.

Surat Untuk Tuhan

Dear God.

Entah mengapa hatiku galau beberapa hari belakangan ini. Terseret oleh sebuah lakon yang aku coba untuk perankan. Namun ternyata kisah ini berjalan dengan ending yang sulit aku bayangkan bagaimana hasilnya.
Aku semula hanya ingin mempertemukan adik perempuanku dengan seorang pemuda yang kupikir ia akan cocok menjadi calon suaminya. Aku menyayangi adikku. Dan sepertinya aku menyayangi pemuda itu seperti aku menyayangi adikku. Hatiku mengatakan pemuda ini adalah orang yang tepat untuk adikku. Persis seperti saat aku berjumpa dengan seorang laki-laki yang kini menjadi pendamping hidupku. Aku terpana dan mengatakan pada diriku sendiri, inilah orang akan menemani hari-hariku kelak.

Tuhanku Yang Menguasai Hati dan Cinta.
Kupertemukan mereka dengan secercah harapan, mereka akan saling mengagumi dan saling menyukai. Sebuah awal yang agak mendebarkan bagiku sendiri. Rupanya hatiku tak cukup kokoh untuk menerima kejutan yang akan hadir pada setiap episode dari kisah perjodohan ini. Kecemasan bahwa pemuda itu ternyata tidak menyukai adikku, atau ternyata dia telah menemukan seseorang yang istimewa di hatinya, mendera pikiranku. Ini lebih sulit dari yang kuduga. Bahkan menyamai cemasnya hatiku saat ingin memperkenalkan kekasihku pada kedua orang tuaku. Akankah orang tuaku, terutama sekali ibuku akan menyukai dan jatuh hati pada kekasihku, atau sebaliknya malah membekukan wajahnya dan mengatakan dia bukan laki-laki yang pantas untukmu.

Kusebut nama-Mu Yang Agung, Tuhanku, saat aku memberikan kontak adikku kepada pemuda itu. Aku benar- benar jatuh hati pada pemuda itu. Sampai- sampai aku mengesampingkan perasaan malu dan sungkanku kepada-Mu untuk menitipkan sepenggal keinginan ini kepada-Mu. Mungkin saat itu Engkaupun tersenyum geli kepadaku. Seorang yang selalu lupa dan melalaikan-Mu, kini mengemis cinta-Mu agar sepasang pemuda dan pemudi yang terpisah ribuan mil bisa bersatu dalam ikatan kasih sayang. Aku yakin Engkau tahu benar isi hatiku. Karena setiap yang bergolak dan berkecamuk dalam hati ini semua adalah kehendak-Mu Yang Sejati. Maka aku, dengan setumpuk rasa tak karuan datang menghadap-Mu, mengadukan masalah ini kepada-Mu. Kiranya Engkau berkenan menyambung rantai kisah ini dengan menautkan sebentuk rasa yang indah pada hati adikku dan pemuda itu.

Tuhan, Yang Maha Baik.
Sebenarnya aku telah meletakkan kembali peran yang kulakonkan ini. Aku ternyata tak kuasa menahan naik turunnya suasana hati dalam mengarungi perjalanan yang kukira tadinya akan singkat dan pasti. Aku sepertinya lupa bahwa hati seseorang seringkali serupa labirin yang berliku-liku dan membingungkan. Terkadang aku menyesali mengapa dulu aku tak memikirkan seribu kali terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk mengatakan ide ini pada pemuda itu. Meskipun saat itu pemuda itu merespon secara positif , namun bisa jadi itu karena dia ingin menjaga perasaanku dan suamiku – mereka berasal dari satu kota yang sama-- dan pikiran itu yang membuatku semakin tak menentu. Tentu sangat menyiksa hati pemuda itu, bersikap seolah mengatakan ya padahal hatinya ingin lugas mengatakan tidak. Begitu baiknya pemuda itu hingga mungkin kini ia tak sanggup mengatakan sesuatu yang bisa melukai perasaan adikku.

Namun membiarkan hati adikku menggelepar sendiri karena ketidak jelasan arah cerita ini tentu bukan sikap yang baik sebagai seorang kakak. Sedapat mungkin aku harus berusaha menemani adikku menapaki sisa perjalanan yang mulai berliku. Ikut tersenyum saat ia bahagia, dan memeluknya saat keraguan menerpa.

Ah, Tuhan.
Andai saja hati manusia serupa dasar telaga yang bening, akan mudah bagiku untuk menerawang isi hatinya. Membaca apa yang ia pikirkan ketika ia tersenyum saat mengatakan padaku: “Umi, Lilis datang ya?” tentu gamblang dan tidak perlu menerka-nerka seperti sekarang ini. Lalu saat ia datang menjemput adikku untuk menemaninya jalan-jalan memutari kota, aku pasti tidak ragu untuk menyimpulkan bahwa memang ada rasa yang mengalun syahdu di lubuk bening telaga hati pemuda itu.

Tetapi hati manusia adalah susunan rasa dan getar-getar emosi yang sulit diterka. Hati manusia selalu bergelinjang setiap waktu, tak pernah tetap diam pada satu sisi. Tidak jarang hati manusia membentuk kamuflase yang sempurna menipu penglihatan orang. Aku ngeri membayangkan pemuda itu sengaja bersikap baik untuk menutupi hatinya yang kelabu.

Rasanya aku hampir percaya ada sinyal-sinyal yang dipancarkan dari pemuda itu. Sinyal yang akan membuat adikku melayang-layang dalam atmosfer kebahagiaan. Entahlah. Engkau Yang Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di ruang gelap hati manusia. Aku sungguh tak ingin ada air mata yang menetes dari kelopak mata adikku. Sudikah Engkau mengirimkan selarik cahaya agar terang jelas maksud dan tutur kata pemuda itu, Tuhanku?

Duhai Tuhanku.
Cinta memang hak prerogatif-Mu. Manusia tak pernah bisa tahu dari mana arahnya cinta datang. Pun tak bisa memilih dari hati siapa cinta itu akan hadir menghiasi hari-harinya. Namun boleh kan aku memohon, Tuhan, untuk kali ini saja. Tumbuhkan cinta di atas hamparan sanubari pemuda itu untuk adikku. Aku meminta ini untuk kebahagiaan adikku. Adikku telah menaruh harapan indah pada pemuda itu. Dan sepertinya aku telah melihat masa depan mereka berdua adalah dua tangan yang selalu bergenggaman erat, empat mata yang senantiasa saling menatap rindu, degup dua jantung yang tak pernah reda saat hati saling bicara.

Aku yakin dan tunduk pada Kuasa-Mu Ya Tuhanku Yang Maha Pengasih.
Telah tuntas kuungkapkan kegalauanku. Biarlah tiga hari terakhir adikku berada di pulauku ini, kuserahkan pada Kuasa-Mu. Cintakan mereka berdua Ya Tuhan, atau tidak sama sekali. Engkau Maha Mengetahui yang terbaik untuk umat-Mu.

Waikabubak, 5 Juli 2011 saat pagi menggigil.

Sajak Buku



SAJAK BUKU

Membaca buku seperti membaca matamu
Aku meminjam bukumu, tapi sebenarnya aku meminjam hatimu
Setiap kata yang kubaca dari bukumu, menasbihkan namamu dalam relung-relung kalbu
Serupa buku, engkau melesat lesat dalam pikiranku
Esok lusa bukumu tamat kubaca, namun namamu tak kan tamat kueja.








Untuk Ibu


Dini hari ini lebih dingin dari biasanya. Kakiku mengkerut dan kram waktu menyentuh lantai yang beku. Namun selalu saja, serta merta hawa nyaman yang hangat menyelusuri hatiku. Teratur, pelan dan pasti, kehangatan itu lalu mengalir ke cabang dan ranting aliran darah di seluruh tubuhku. Membuat dingin embun pagi di kota kecil ini, serasa sirna. Yang tinggal hanya kehangatan yang membuatku enggan menanggalkan kenangan tentang kisah seorang ibu.


Mengenang ibu adalah mengenang hidup. Karena  ibu adalah kehidupan itu sendiri. Ia membawa kehidupan dalam tubuh ringkihnya. Ia memelihara kehidupan sepanjang usianya, Ia mengajarkan kehidupan kepada setiap kehidupan baru yang ia lahirkan. Ibu hidup untuk memberi kehidupan pada kita.


Ibuku adalah seorang perempuan bersahaja. Perempuan yang mempersembahkan sisa umurnya untuk mengantar enam orang anaknya mencapai cita-cita. Bagi ibu, cita-cita adalah barang termewah yang tidak mungkin ia gapai lagi. Kecuali ia menggadaikan hidupnya, menyita umurnya, memeras keringatnya agar dapat menobatkan anak-anaknya sebagai peraih  cita-cita. Cita-citanya adalah cita-cita anaknya.


Shubuh ini begitu hangat saat ku kenang ibuku. Di setiap dini hari seperti ini, dengan terseok-seok menahan kantuk, ibu bangun, meraih handuk dan bergegas menuju pancuran di belakang rumah, untuk membersihkan dirinya. Dengan air wudhu yang masih menetes di keningnya, segera ia menghadap Sang Maha Hidup, untuk sholat dan melambungkan doa-doanya. Doa untuk anaknya. Menetes air matanya mengingat perjalanan yang masih panjang, biaya yang berat dan  ringkihnya tenaga yang beranjak tua.


Ketika matahari mulai bersinar di balik rimbun pepohonan, ibu mulai berbenah menyiapkan segala sesuatunya. Sarapan untuk seisi rumah, pakaian untuk suaminya bekerja dan anaknya bersekolah, mengantarkan mereka berangkat di beranda rumah, lalu secepat kilat memberesi kembali sisa-sisa kekacauan pagi hari itu. Kemudian ia mulai menyiapkan perangkat kerjanya, bermeter-meter kain untuk dijahit dan dibordir. Menekuri mesin jahit yang  berdecak keras sepanjang siang, mengikuti alur-alur pola yang telah direka sebelumnya, menjahitnya hingga menjadi selembar pakaian.


Siang hari itu , keletihannya dilengkapi dengan menyiapkan makan siang untuk suami dan anak-anaknya yang akan segera pulang. Belum sempat beristirahat. Setelah semua perut mendapatkan jatah makan siangnya, kembali ibu harus menguras tenaganya, berjalan berkeliling dari rumah ke rumah untuk menjual sepotong dua potong kain sarung, batik, daster dan pakaian anak-anak.


Semua itu ia lakukan dengan semangat, tanpa mengeluh dan menyerah pada keadaan yang sulit. Air mata dan keringat yang ia teteskan, telah menjadi bahan bakar yang menyengat energinya kembali. Ia jalani kehidupan yang terjal itu selama dua dasawarsa. Sedikitpun lelah tidak membuatnya  berhenti sebelum ia melihat anak-anaknya menjadi seperti apa yang ia citakan.


Aku selalu terlecut bagai kuda yang lari lintang pukang. Ketegaran ibu  selalu berhasil membuat aku bangkit dari kemalasan dan keengganan belajar. Lalu berusaha terbirit-birit mengejar apa yang tertinggal, mempertipis kebodohan  dan berusaha sekuat tenaga untuk cinta pada deretan huruf-huruf di buku pelajaran. Aku terpesona oleh senyum bahagia ibu, setiap kali ia melihat anak-anaknya tekun belajar. Lebih lagi saat melihat senyum ibu itu terkembang setiap kali menghadiri wisuda anaknya yang telah menjadi sarjana.


Pagi ini seindah pemandangan setiap pagi di masa itu. Saat ibuku mengenggam kitab suci, menderesnya tenang. Setenang udara yang mengalun pelan menyejukkan. Ada perasaan yang hening , jauh dan bergema di lubuk hatiku, saat mengingat ibu membaca buku untuk menghilangkan keletihan. Sosoknya bagai Dewi Sri di mataku. Daya hidup, ketegaran, keanggunan menyelimuti auranya yang cinta ilmu.


Karena ibu aku menjadi sebuah kehidupan, dari ibu aku  belajar tentang kehidupan.


"Waikabubak di awal pagi ke 15 bulan Mei tahun 2011".


Repost.