Puisi Emilia Sabania


Santri Pondok Pesantren Baitul Hikmah yang pendiam dan pemalu ini, sangat menyukai puisi. Antusiasmenya terasa kental sekali semenjak pertemuan pertama. Saat ini dia masih duduk di bangku MTsN Waikabubak kelas VIII. Saya rasa jika dia tekun dan terus melatih keterampilannya menulis puisi, dia bisa menjadi penulis puisi yang gemilang. 


Di Balik Purnama Yang Indah

Hai bulan purnama yang begitu indah dan damai
Bersinar terang menyinari bumi nan permai

Bintang-bintang berkedip menyapa
Bercahaya yang indah bak indah permata

Terlepas aku dalam relung kegelisahan
Tersenyum lirih seperti angin kesunyian

Terhanyut aku dalam kesendirianku
Tangisan perih bertempat abadi di situ


Pandangan Pertama

Wajahmu yang kulihat pertama kalinya
Kini ku tak tahu dikau di mana
Terkadang bayangan wajah sang kekasih menyelinap di ingatan
yang diterpa kesepian
Karna ku tinggalkan
sebab ia tahu terhadapnya ku ungkapkan pertama kali

Di relung hati rasa perih
yang ia sandarkan sebelum dan sesudahku
peristiwa pertama yang indah dengannya selalu ku kenang
sampai ku tiada dan kau akan kesepian
seperti yang kubayangkan

Mengaji Puisi dari Sosiawan Leak


Ketika semangat saya hampir saja meleleh, saya menemukan artikel di internet yang memberitakan kegiatan pengenalan puisi kepada siswa-siswa sebuah SMP Negeri di Pekalongan. Pihak sekolah mengundang seorang penyair dari Jogya yang sudah cukup terkenal dan sudah lama malang melintang di dunia kepenyairan. Saya terpekik sendiri membaca nama penyair tersebut, soalnya saya pernah bertemu dan berlatih dalam dalam satu ruangan bersama beliau semasa saya aktif dalam grup teater kampus.

Yang membuat saya kembali menyalakan semangat yang sudah kriyep-kriyep seperti lampu pelita yang kehabisan minyaknya, adalah ternyata penyair sekaliber Sosiawan Leak pun harus bersimbah keringat demi membangkitkan minat siswa-siswi itu. Memerlukan kesabaran tingkat dewa, begitu kalimat pengantar artikel tersebut.

Nah kalau penyair ulung dan sudah merambah ke mancanegara gara-gara puisi-puisinya saja sudah sedemikian payah menghadapi siswa-iswi SMP, apalagi saya, hehehe. Malu rasanya mengingat Selasa kemarin, saya sampai harus menitikkan air mata di depan murid-murid kajian puisi saya. Rasanya waktu itu, saya hampir putus asa melihat banyak santri-santri putri seperti tak mengacuhkan saya. Hadeeeh….

Akhirnya, saya tak mau memaksakan kemauan saya. Bahwa mereka harus sama tertariknya dengan saya terhadap puisi. Bahwa seharusnya mereka antusias dan haus ilmu puisi. Dan bahwa mereka harus bahwa mereka harus yang lainnya. Jika ibarat saja kelas kajian puisi saya ini sebuah kolam ikan, maka untuk dapat melihat ikan-ikan yang bersliweran indah itu haruslah kita singkirkan terlebih dahulu kotoran lumpur dari kolam itu.

So, sekarang ini saya duduk bersama sebagian dari mereka. Sebagiannya lagi memilih tidak menghadiri kelas. Hanya bersebelas saja. Tapi tak apa, karena membacai puisi yang mereka gubah dengan susah payah, membuat saya bahagia. Mungkin karena puisi-puisi  itu tercipta karena ada cinta di hati mereka.

Cekidot…….. Puisi mereka saya posting satu persatu di postingan selanjutnya ya.



Tata Cara Pergaulan Suami Istri Menurut Islam


Pada postingan saya yang lalu, saya sudah membahas tentang tanggung jawab suami istri. Bagaimana seharusnya dan sebaiknya pembagian tugas dan tanggung jawab dilaksanakan agar tercipta rumah tangga yang harmonis. Kali ini saya ingin membagikan pengetahuan tentang Tata Cara Pergaulan Suami Istri Menurut Islam. 

Segala puji hanya milik Allah yang telah berfirman dalam Kitab-Nya,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ﴿الروم : ٢١

 “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.(Qs Ar Ruum ayat 21).

Sholawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Junjungan kita Muhammad SAW yang telah bersabda dalam haditsnya,

تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ، فَإِنِّى مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ ، وفي روايةإِنِّى مُكَاثِرٌ الأَنْبِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ 
(رواه أبو داود والنسائي والحاكم وغيرهم)

“Nikahilah wanita yang penyayang lagi banyak anak, karena aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan para nabi pada hari kiamat (HR. Abu Dawud, Nasa’i, Hakim, dan lainnya)

Islam telah mengatur adab-adab orang yang telah menikah dan ketika akan mengumpuli istrinya. Adab-adab ini seringkali terlupakan atau tidak diketahui oleh orang kebanyakan bahkan oleh orang yang rajin beribadah.

Adab-adab pernikahan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Bersikap lemah lembut kepada isteri
Sangat dianjurkan agara para suami bersikap lemah lembut kepada istrinya, karena sesungguhnya Nabi Muhammad bersikap lemah lembut kepada istri-istrinya bahkan ketika istri-istrinya bersikap menjengkelkan. Dalam pergaulan sehari-hari perkataan  dan sikap lemah lembut dari suami sangat berperan menciptakan suasana rumah tangga yang harmonis dan mesra. Sebaliknya istri pun harus memperlakukan suami dengan lemah lembut agar segala kepenatan yang dialami suami ketika bekerja seharian hilang begitu ia sampai di rumah.

2. Memegang ubun-ubun istri dan berdoa untuknya.

Pada saat malam pertama kalinya suami hendak mempergauli istrinya, sangat dianjurkan untuk memegang ubun-ubun istri seraya berdoa kepada Allah SWT agar perkawinannya diberi berkah dengan doa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ 
 Wahai Allah, aku memohon kepada-Mu munculkan kebaikan darinya dan dari segala apa yang Engkau ciptakan pada dirinya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan dari segala apa yang Engkau ciptakan pada dirinya”

3. Sholat dua rokaat
Dianjurkan kepada pasangan suami istri yang baru menikah, untuk melaksanakan sholat sunnah dua rokaat berjamaah setelah akad nikah sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para ulama salaf. 

4. Doa ketika mempergauli dengan istri
Dianjurkan kepada seorang suami ketika hendak mempergauli istrinya untuk mengucapkan doa,

بِسْمِ اللهِ اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَاالشَّیْطَانَ وَجَنِّبْ اَلشَّیْطَانَ مَارَزَقْتَنَا
Dengan nama Allah, wahai Allah jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari anak kami yang akan engkau anugerahkan kepada kami”
Karena dalam suatu hadits  Nabi bersabda,
ثُمَّ قُدِّرَ بَيْنَهُمَا فِي ذَلِكَ أَوْ قُضِيَ وَلَدٌ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا
“Kemudian Seandainya Allah menakdirkan keduanya memperoleh anak (dari hubungan tersebut),   maka setan tidak akan membahayakan anak tersebut selamanya”

5. Cara mempergauli istri
Seorang suami boleh menggauli istrinya dengan cara apapun asal pada farji (lubang kemaluan)nya, boleh dari depan maupun dari belakang. Hal ini berdasarkan firman Allah   SWT,
نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُواْ حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ ....﴿البقرة :٢٢٣
“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki...” 
(Qs. Al Baqarah ayat 223)

6. Haram menggauli istri pada dubur
Seorang suami haram menggauli istrinya pada dubur berdasarkan hadits Nabi,
لَعَنَ اللَّهُ الَّذِينَ يَأْتُونَ النِّسَاءَ فِي مَحَاشِّهِنَّ
“Terlaknat orang yang mendatangi istri di tempat keluarnya kotoran, yaitu dari duburnya”

7. Berwudhu bila hendak mengulangi persetubuhan. 
Apabila suami istri bergaul,  lalu hendak mengulanginya, maka dianjurkan untuk berwudlu terlebih dahulu, sebagaimana sabda Nabi SAW, 

 إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُودَ فَلْيَتَوَضَّأْ بَيْنَهُمَا وُضُوءًا
“Bila salah seorang diantara kalian menggauli istrinya lalu berkeinginan mengulangi, hendaklah berwudlu (seperti wudlu ketika hendak sholat) karena yang demikian itu akan   menambah gairah untuk mengulanginya” 

8. Mandi lebih baik, bila hendak mengulang bergaul suami istri 
Akan lebih baik lagi bila suami istri hendak mengulang persetubuhan. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Rafi' bahwa Nabi SAW suatau malam pernah menggilir   istri-istrinya, beliau mandi ketika hendak berpindah kepada istrinya yang lain. Abu Rafi'      berkata,” Saya bertanya kepada Rasululllah SAW, wahai Rasulullah, apakah tidak cukup dengan sekali mandi saja? Beliau menjawab, tidak, karena ini lebih suci, lebih baik dan lebih bersih.' 

9. Suami istri mandi bersama 
Suami istri dibolehkan mandi bersama  dalam satu tempat meskipun disitu akan saling   melihat auratnya masing-masing.
  
10.  Berwudlu setelah bersetubuh ketika hendak tidur 
Sehabis bersetubuh, suami istri hendaknya wudlu terlebih dahulu sebelum tidur. Hal tersebut berdasarkan hadits, 
 
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَهُوَ جُنُبٌ تَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ

"Apabila Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ingin tidur, sedangkan beliau masih dalam keadaan berjunub, maka beliau berwudhu dengan wudhu untuk mengerjakan shalat sebelum tidur."

Hukum berwudlu seperti diterangkan diatas adalah sunnah muakkad (sunnah yang penting).  Namun dalam beberapa situasi, Nabi juga mengganti wudlunya dengan tayammum. 

11. Mandi Junub setelah melakukan hubungan suami istri. 
Setelah melakukan hubungan suami istri diwajibkan untuk mandi junub atau sering juga  disebut mandi besar. Akan lebih baik mandi tersebuit dilakukan setelah berhubungan   sebelum tidur, namun mandi junub dapat dilakukan juga pada waktu shubuh menjelang melakukan sholat shubuh. Adapun tatacara mandi junub/mandi besar yaitu berwudlu terlebih  dahulu , kemudian dengan mengucapkan niat, mengguyurkan air keseluruh tubuh dan kepala hingga tidak bagian tubuh atau kepala yang tidak tersiram air. 

Adapun niat mandi junub/mandi besar adalah, 
نَوَ يـْتُ الْغُسْلَ  لـِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَكْــبَرِ فَرْضًا  ِللهِ تَعاَلى ð
 “Saya niat mandi untuk menghilangkan hadats besar fardlu karena Allah Taala” 

12. Haram menggauli istri yang sedang haidh. 
Tidak diperbolehkan untuk menggauli istri yang sedang haidh, hal ini berdasarkan hadits, 

مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوْ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 “Barang siapa menggauli istri yang sedang haidh atau pada duburnya atau mendatangi dukun lalu mempercayainya, berarti ia mengingkari apa yang telah diturunkan kepada Muhammad”(HR. Turmudzi)

Namun, suami istri tetap boleh bermesraan ketika sedang haidh asalkan tidak sampai menggauli.

Bila istri telah bersih dari haidhnya, maka suami boleh menggaulinya, tentu setelah istri mencuci farjinya, atau lebih baik lagi berwudlu atau lebih baik lagi mandi. 

13. Kafarah bagi suami yang menggauli istrinya ketika sedang haidh. 
Bila terdorong oleh nafsu yang tidak bisa ditahan, suami bisa saja menggauli istri ketika  haidh. Namun ia wajib membayar denda (kafarah) dengan menyedekahkan uang sebesar setengah poundsterling (mata uang Inggris), hal ini berdasarkan sabda nabi SAW, 
مَنْ أَتَى حَائِضًا فَلْيَتَصَدَّقْ بِدِينَارٍ
"Barangsiapa mendatangi (mensetubuhi) wanita haid, maka hendaklah bersedekah 
dengan satu dinar."(HR. Tirmidzi) 

14. Suami istri diperbolehkan melakukan 'azl. 
Suami diperbolehkan melakukan azl yakni mengeluarkan sperma di luar farji istrinya. Hal  itu dilakukan untuk mencegah kehamilan. Namun sebaiknya hal tersebut dilakukan atas persetujuan istri, karena hal tersebut dapat mengganggu kenikmatan istri dalam berhubungan dengan suami.

Akan tetapi Nabi mengisyaratkan untuk tidak melakukan 'azl karena menghilangkan tujuan  pernikahan itu sendiri yakni melestarikan keturunan. 

15. Meluruskan niat dalam menikah. 

Seharusnya Suami istri melangsungkan pernikahan dengan niatan untuk memelihara  kesucian diri dan untuk menghindarkan diri dari perbuatan yang diharamkan oleh Allah. Hal ini karena pergaulan suami istri yang didasarkan atas perkawinan yang sah dan dengan niatan yang baik akan dinilai sebagai ibadah bagi keduanya.   

16. Yang dilakukan Suami istri pagi hari setelah melalui malam pertamanya. 

Dianjurkan kepada suami istri baru yang telah melalui malam pertamanya agar pada pagi  harinya mengunjungi sanak keluarganya yang telah mendatangi walimahnya, memberi salam kepada mereka dan mendoakan mereka. 

17. Wajib mempunyai kamar mandi di dalam rumah. 
Suami istri wajib mempunyai kamar mandi di dalam rumahnya. Suami hendaknya tidak memperkenankan istrinya masuk ke kamar mandi umum, karena hal itu diharamkan. 

18. Haram membuka rahasia ranjang. 
Haram bagi suami istri membuka rahasia yang berkaitan dengan urusan  ranjang mereka.  Nabi bersabda. 
إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada Hari Kiamat 
ialah seseorang yang menyetubuhi istrinya dan istri bersetubuh dengan suaminya, kemudian suami menyebarkan rahasia istrinya." (HR. Muslim)

Demikian diantara adab-adab pernikahan yang diajarkan oleh Nabi SAW. Siapa saja yang menginginkan agar pernikahannya diberi berkah oleh Allah, maka seyogyanyalah melaksanakan dengan ikhlas apa yang telah dicontohkan oleh Nabi-Nya. Wallahu a'lam  bishshowab


Semoga bermanfaat.



Dont Ever Loose Hope.....



Entah kenapa, pagi ini saya jatuh hati pada senandung lagunya Maher Zain; Insya Allah. Liriknya yang versi Inggris sangat menyentuh hati. Saya melagukannya dengan lirih sembari mengingat-ingat kapan terakhir kalinya saya berada dalam kondisi loose hope seperti yang digambarkan Maher. 

Karena saya pernah merasakan kegelapan yang menyungkupi hidup saya, pernah merasa tidak tertolong dan tidak tahu kemana akan melangkah, saya begitu meresapi lirik ini. Beruntung bagi saya, Allah tetap berada di dekat. Sedekat urat nadi. Meski malu karena hampir selalu saya datang menemuiNya dalam keadaan sedih, tapi saya seperti dituntun oleh tangan ghaib untuk bersujud padaNya. Tersungkur berdoa dengan rembesan air mata. Saya tidak pernah mengingat lirik lagu Insya Allah ini saat itu. Sehingga lirik ini mencuri melankoli hati saya sesaat tadi.

Terima kasih Allah......untuk selalu ada dan tak pernah meninggalkanku walau sesaat. Walau aku seringkali menjauh dariMu.....Guide my steps don’t let me go astray. You’re the only one that showed me the way.

Insya Allah

Every time you feel like you cannot go on
You feel so lost
That your so alone
All you  see is night
And darkness all around
You feel so helpless
You can`t see which way to go


Don`t despair and never loose hope
Cause Allah is always by your side


Insya Allah3x
Insya Allah you’ll find your way


Every time you can make one more mistake
You feel you can’t repent
And that its way too late
You’re so confused, wrong decisions you have made
Haunt your mind and your heart is full of
shame


Don’t despair and never loose hope
Cause Allah is always by your side


Insya Allah 3x
Insya Allah you’ll find your way
Insya Allah 3x
Insya Allah you’ll find your way

Turn to Allah
He’s never far away
Put your trust in Him
Raise your hands and pray


Ooo Ya Allah
Guide my steps don’t let me go astray
You’re the only one that showed me the way,
Showed me the way 2x
Insya Allah 3x
Insya Allah we’ll find the way

Merindukan Pulang


Selalu ada alasan untuk pulang, Meski sebenarnya tak butuh satupun alasan untuk kembali ke sesuatu yang kita sebut rumah.

Orang melangkahkan kakinya. Mencari banyak hal yang membuat ia merasa belum lengkap tanpa memilikinya. Mengejar jawaban dari pertanyaan yang berlesatan bagai kilat dalam hidupnya. Berkelana, menyusuri jalan dan tempat asing yang jauh, untuk kelak berhenti melakukan semuanya dan merindukan pulang.

Kata pulang menjadi demikian magis untuk dilafalkan di bibir. Mengejanya membuat hati teriris-iris. Terlebih bila pulang, adalah satu-satunya jalan untuk merasakan kembali nyamannya rumah. Tak banyak orang yang mampu menjadikan tempat dimana ia berpijak menjadi rumah, tempat ia melabuhkan hati dan tubuhnya dengan nyaman. Padahal perantauan menjanjikan kesenangan dan banyak hal yang tidak dapat ditemui di kampung halaman.

Pulang adalah kembali ke akar. Tempat awal tumbuhnya segala yang hidup.

Namun pulang bagi beberapa orang yang terbuang menjelma menjadi bintang. Jauh dan tak terjangkau. Hanya kilaunya saja yang berpendar di dada, hilang muncul. Mereka sampai rela untuk pulang meskipun dalam keranda. Untuk orang semacam mereka, kaum buangan, pulang adalah hal teragung sehingga kehilangan nyawa mungkin jadi satu-satu alasan untuk bisa kembali mencium bau tanah, merasakan indahnya rumah dan bersatu dengan bumi yang menumbuhkan mereka.

Orang-orang itu, seperti tokoh yang digambarkan oleh Leila Chudori dalam novelnya 'Pulang', hanya mampu membaui kampung halaman, tanah airnya, dari aroma kenangan. Ketika pulang sudah menjadi kata yang muskil untuk diwujudkan, hanya dengan menghirup bau kenanganlah segala rindu itu terlunaskan. Meski darah kesedihan dan air mata nelangsa tetap menetes dari luka sayat di tubuh harapan.

Bahagialah, mereka yang lahir tumbuh dan menua di kampung halaman. Tak perlu merasakan sesaknya rindu yang menderu-deru. Tak payah untuk menelusuri jalan menuju kampung halaman yang mungkin sebagian telah terlupakan digerus ingatan yang lekang dimakan zaman.

Bahagia jualah, bagi siapa saja yang bisa mengecap syahdunya mengucapkan kalimat: "Aku pulang", setiap jeda kesibukan di perantauan menggiring untuk mereka kembali di tanah asal sendiri. Menyesap romantisme menatap kelebatan pohon dipinggir jalan dari balik jendela kendaraan. Menikmati desauan angin yang membisikkan ucapan selamat datang. Menatap kerlip lampu-lampu rumah penduduk di kejauhan saat malam tiba dari becak yang dikayuh perlahan.

Pulang, kembali ke asal. Barangkali di sana, di teras sebuah rumah yang teduh sedang menunggu, seseorang dari masa lalu.


Apa Yang Menarik dari Dimsum Terakhir-nya Clara Ng...?



Nama Clara Ng sebenarnya sudah sangat terkenal di jagat perbukuan Indonesia. Namun Sumba adalah tempat segala anonim bermukim. Jadi jangan heran bila semua jari di tubuh kita tidak habis dipakai untuk menghitung jumlah orang Sumba yang mengenal namanya.

Perempuan Cina berusia  40 tahun ini sudah menelurkan karya yang lumayan banyak. Ia dengan senang menulis cerita fiksi untuk menghibur anak-nak dan dewasa. Konon ia beranggapan menulis adalah cara yang brilian untuk mencegah dirinya agar tidak gila.

Saya pertama kali mengenal namanya dari jejaring sosial twitter. Petualangan saya di dunia twitter yang terkenal penuh intrik itu akhirnya membawa saya kepada nama Clara Ng. Saya langsung tertarik begitu membaca namanya. Kemudian saya menemukan cerpennya di situs Cerpen Koran Minggu dan saya langsung menyukainya. Namun tentu saja saya tidak begitu saja dengan mudah menemukan buku-buku novelnya di Sumba sini. Dan....

Suatu hari saya iseng ngetwit, bertanya buku-buku apa yang bagus untuk dikoleksi. Banyak mention muncul. Salah satunya merekomendasikan buku Dimsum Terakhir karya Clara Ng. Woallaaaa.... Saya pun berusaha menelusuri kemungkinan saya untuk memiliki buku tersebut dengan berbagai cara. Termasuk berburu ke Gramed Kupang ketika kebetulan saya dinas luar di Kota Karang itu. Nihil. Buku Clara Ng sedang kosong di situ. Sampai akhirnya, berkat kebaikan hati seorang murid sekaligus teman saya, Naima (tulisan tentang ini ada DISINI), saya mendapatkan Dimsum Terakhir yang langsung saya lahap dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.

Bukan karena saya seorang pembaca yang bagus. Saya malah sebenarnya seorang Slow Reader. Justru karena buku Dimsum Terakhir itu begitu memikat saya, sehingga saya tidak bisa berhenti membaca sejak halaman awal hingga tamat. Kalaupun saya harus berhenti, otak saya terus memikirkan bagaimana kelanjutan kisahnya. Dan ini membuat saya terkagum-kagum akan kelihaian Clara Ng meramu bahasa sehingga tercipta kisah yang runut, dramatik, detil tapi sekaligus membuai pembaca untuk tidak berhenti membaca sebelum sampai halaman akhir.

Saya terpikat pada kisah bagaimana empat perempuan kembar yang bertebaran di berbagai penjuru tempat, berjibaku dengan ego, keinginan dan masalah pribadinya masing-masing saat diharuskan bertemu oleh sebuah kondisi darurat. Sang ayah yang sudah renta dan hidup menyendiri sejak kepergian istrinya sedang sekarat. Mereka berdebat tentang siapa yang paling memungkinkan untuk tinggal bersama sang Ayah, merawat dan menyiapkan segala keperluannya. Tidak ada yang merasa cukup banyak waktu untuk libur sejenak dari rutinitas pekerjaannya masing-masing. Semua dengan alasan dan dalih yang sama-sama dipaksakan. Persoalan kemudian merumit, ketika suatu saat sang Ayah berpesan agar keempat putrinya itu bisa menikah sebelum dirinya meninggal. Rupanya kesepian akibat ditinggal istrinya begitu menukik-nukik dirinya sehingga ia tak ingin meninggal dalam keadaan mengetahui empat gadis kembar itu belum memiliki teman hidup.

Berbagai intrik mengambang ke permukaan. Siska yang pengusaha sukses di Singapura, merasa perempuan tak harus menikah untuk bahagia. Sebab pengalamannya mengatakan lelaki hadir hanya untuk menyakiti. Ia berkencan dengan lelaki mana saja yang ia inginkan tapi untuk menjalin komtmen, Big No. Lalu bagaimana dengan amanat ayahnya?

Indah yang ditekan oleh ketiga saudarinya untuk menerima kewajiban merawat ayahnya hanya karena dia berdomisili di dekat kediaman ayahnya, juga memendam masalahnya sendiri. Sebagai wartawan, ia terjebak pada cinta lokasi saat ia mewawancari lelaki yang begitu menawan hati. Sayang ia salah melabuhkan cintanya. Perkenalan intim yang dijalaninya, membawa dirinya berhubungan intim justru dengan lelaki yang disumpah untuk tidak mengumbar birahi seumur hidupnya. Tidak mungkin ia meminta dinikahi oleh lelaki yang hidup dan matinya hanya untuk melayani Tuhan.

Sementara Siska dan Indah bergelut dengan masalahnya, Rosi setengah mampus menutupi keadaan dirinya yang merasa berbeda. Ia hidup dalam dua dunia, dengan dua status, dua nama dan dua kondisi psikis yang bertolak belakang. Ia merasa dirinya lelaki. Dan mencintai perempuan sebagaimana lelaki. Permintaan sang ayah untuk segera menikah membuat pacar perempuannya ngambek, dan Rosi dilanda stress. Apa yang harus ia lakukan. Meneruskan sandiwara gilanya, atau mengaku dengan pasrah pada ayahnya. Lalu seisi dunia serentak mengecamnya....?

Dan Novera tenggelam dalam dukanya. Merasa dirinya perempuan tidak sempurna dan tidak mungkin ada lelaki yang sudi menerima dirinya sebagai istri. Tanpa sepotong organ yang bernama rahim.

Semua kisah yang pelik itu diramu oleh Clara Ng dengan bahasanya yang renyah, hangat, mengalir dan dramatik. dibumbui oleh latar kehidupan kaum Chineese yang kental. Saya menyukainya diksi dan alurnya yang mudah dimengerti, dan pesan-pesan moral yang begitu lugas disematkannya disana-sini. Namun jangan berharap bahwa pesan moral yang diemban oleh kisah ini dibawa ke ranah yang pragmatis, ritualistis dan religius. Clara Ng mengajak kita agar hidup tidak semata dinilai dari hitam atau putihnya sesuatu. Ada nilai kekeluargaan, nilai kebebasan berkehendak, nilai ketulusan, kasih sayang dan jiwa besar yang diperlihatkan di novel ini. Entah apa lagi sebutannya, saya belum mampu mendeskripsikan dengan tepat. Yang jelas, kisah ini membukakan mata saya, akan makna keluarga dan kasih sayang orang tua.

Saya menitikkan air mata saat membaca kalimat berikut:
"Pernah dengar kalimat ini? Manusia adalah makhluk yang mempunyai daya tahan dan kekuatan luar biasa. Tapi kesepian adalah virus yang sungguh mematikan."
Mata abu-abu Nung terlihat sendu ketika dia meneruskan ucapannya dalam bisikan. Aku terpana seperti tersihir.
'Jangan cuma naksir, Dharma. Cintailah Rosi sepenuh hati. Temani agar dia tidak kesepian. Oom berterima kasih kepadamu karena telah mencintai dan mendampingi Rosi sampai selama ini..."

Saya bukan penganut Lesbianisme, tetapi saya bisa merasakan disitu, betapa kasih sayang terindah yang pernah diberikan oleh seorang ayah terhadap pacar perempuan anak gadisnya itu terasa mengharukan.

Betul, kata Nung. Kesepian adalah virus yang sungguh mematikan. Maka sudah seharusnya kita menutup lubang-lubang kosong dalam hidup anak-anak kita, pasangan kita, orang tua kita dan keluarga kita. Agar tidak ada lagi yang merasa hidupnya tak berharga dan memilih jalan mengakhiri nyawanya sendiri. Karena direnggut sepi.


Waikabubak, 22 Maret 2013

Mencangkul di Ladang Pahala



Yang berseragam dan tidak berseragam bahu membahu bersama
 
Hari Jumat selepas Ashar, tanggal 15 kemarin, saya tengah iseng mencabuti ramput yang tumbuh liar di halaman rumah. Segerombolan suami-suami yang hampir tiap hari nongkrong di rumah demi mencari suasana santai selepas kerja penat seharian, ramai membicarakan sesuatu. Jelas sekali di situ yang bersuara paling vokal adalah my beloved husband, hehehe.

Kelihatannya serius, nih. Saya membatin sambil mengorek-ngorek akar rumput dengan parang tumpul. Entah karena parangnya yang tumpul atau tertarik dengan isi pembicaraan para suami-suami itu, akhirnya saya malah lebih menegakkan cuping telinga saya ketimbang merapihkan rerumputan yang tercerabut tidak tentu arah itu.


Estafetkan pahala hingga puncak langit

Ini sesuatu tentang bagi kerja pagi, siang dan malam. Tentang penumpukan kerja pada pagi hari bila tidak dibagi shift. Dan masing-masing lelaki itu mengatakan saya bagian pagi, saya bagian siang, dan ada yang memilih malam. Penasaran, pembicaraan tentang apa ini? Tersebab saya adalah golongan kaum perempuan bekerja yang hommy, alias kalau pulang kerja langsung ngerem di rumah saja, alhasil saya sama sekali tidak bisa menduga-duga arah pembicaraan mereka.

Okelah, akan saya tunggu sampai suami menceritakannya dengan jelas apa yang mereka diskusikan dengan semangat 45 itu. Meskipun saya penasaran setengah mati, tapi saya agak gengsi untuk bertanya. Takut dijawab dengan kelakar kering oleh suami: "mau tau aja atau mau tau banget?" Hehehe...

Dan sampai keesokan harinya saya sama sekali tidak mendapat clue, atau jawaban dari kepenasaran saya itu. Yah, sudahlah...

Ketua Ta'mir Masjid Agung Al Azhar Sumba Barat , Sang Pelopor Renovasi

Maka, keesokan harinya, saya siap tempur melawan segunung cucian, baju kotor sekeluarga selama seminggu dan dua set bedcover kotor yang tebalnya, alamaaak. Hal yang membuat saya penasaran semalaman sudah tergulung deru mesin cuci yang berderak-derak menggilas cucian. Saya berkeringat di hari yang tak panas itu.

Tidak lama kemudian, ketika saya sedang meraup cucian untuk dimasukkan ke dalam mesin cuci, saya kedatangan tamu. Rupanya Mama Tanjung, begitu saya memanggilnya, datang untuk membicarakan rencana memasak lauk untuk santapan dalam acara pengecoran dek Masjid Agung Al Azhar yang tengah di renovasi besar-besaran. Ziiiip, benak saya langsung nyantol. Ohhhh, ini toooh yang diobrolkan oleh para lelaki budiman itu. Rupanya mereka bersiap menyumbang tenaga untuk menyukseskan pengecoran tersebut.


Pemandangan kegiatan gotong royong dari seberang jalan

Sementara para lelaki yang sumbang tenaga untuk mempercepat proses pengecoran, para ibu urun tangan menyiapkan santapannya. Aduhai, harmonisnya. Saya salut akan kebersamaan ini. Berapa banyak sih, pembangunan masjid yang hampir seluruh prosesnya melibatkan urun tangan warganya? Bukan hanya pada pengumpulan dananya saja. Melainkan sampai pada proses pembangunannya. Saya tahu persis, karena Ketua Ta'mirnya adalah atasan saya di kantor, sehingga saya tahu bahwa panitianya merangkap sebagai perancang desainnya, kontraktornya, mandor, tukang belanja bahan, bahkan ikut bekerja seperti dalam proses pengecoran dek ini. Sehingga tidak heran saat ada pekerjaan kasar sekalipun yang membutuhkan tenaga masal, sekali calling di masjid, warga berduyun-duyun datang berpartisipasi.

Rapatkan barisan....

Lihatlah, betapa guyubnya semua orang yang merasa memiliki kecintaan kepada masjid tertua di Waikabubak ini. Rela menyisihkan waktu dan tenaganya untuk menyokong pembangunan rumah ibadah tempat Tuhan bersemayam. Ada dorongan dari hati yang terdasar untuk turut melangitkan pujian kepada Sang Maha Pencipta dengan berkotor-kotor dan berpayah-payah melarutkan cairan cor-coran ke atas dek masjid. Diterpa panas, diterjang angin dan ditimpa deraian hujan. Sejak matahari mengintip di balik bukit dan pepohonan sampai gelap merajai angkasa. Semua berpadu.

Tetap semangat meskipun bekerja saat malam

Alangkah indahnya bila sendi-sendi kehidupan bermasyarakat selalu dijalani dengan konsep yang sudah hidup sejak nenek moyang kita yang purba dulu. Beban yang berat akan ringan. Hal yang mustahil bisa terwujud. Dan semua kebanggaan ketika sesuatu itu tercapai, akan dirasakan dengan porsi yang sama. Tidak ada yang merasa lebih berjasa, tidak ada yang tinggi mengakui semua terjadi karena uangnya. Semua ikut bangga sebab ada nilai magis yang tak bisa ditukar dengan tumpukan uang, jasa atau nama. Nilai-nilai ilahiyah yang mungkin ada di sela-sela hati yang sibuk oleh dunia, bahkan pada seorang hamba yang masih jauh dari Tuhannya.

Barisan ibu-ibu majelis ta'lim penyuplai semangat dan tenaga
Begitu banyak masjid megah dan indah berdiri di seantero dunia. Tapi berapa banyak masjid yang di langit-langitnya, di setiap shaf yang terbentang dan setiap inchi dindingnya bertebaran pahala-pahala yang menjadi ukiran penghias masjid itu yang asalnya dari tetesan keringat para pencari Tuhan? Saya yakin Masjid Agung Al Azhar ini adalah salah satu diantara yang sedikit itu. Catatan sejarah teragung yang bernaung di Arsy, akan mencantumkan satu persatu dengan teliti siapa mempersembahkan apa. Bahkan bila apa yang dipersembahkan kepada Tuhan itu hanya sebesar biji dzarrah.

Masih banyak tenaga, waktu, dana, pikiran dan keringat yang harus dilakukan demi berdirinya Masjid Agung Al Azhar yang anggun dan kokoh. Masih perlu banyak tangan-tangan terulur demi kebanggaan umat Islam itu.

Sore itu, minggu tanggal 17 Maret 2013, suami saya pulang dengan tangan hampa.
"Yaah, Mi. Abi ga kerja tadi." seolah petani yang gagal panen ia berkata.
"Lo, kenapa? Bukannya abi datang ke masjid untuk kerja?" saya balik tanya.
"Waktu abi mau kerja, Aba Ibni larang saya; 'eeeets, kau tak usah kerja' katanya."

Saya tersenyum. Masih banyak ladang pahala menunggu untuk dicangkul. Semoga masih diberi waktu.


Waikabubak, 22 Maret 2013

Percakapan Sebotol Bir


Rindu itu serupa pisau. Menikam-nikam menorehkan luka perih di jantung sepi....
Tapi yang kau rasakan bukan rindu, tukas sebotol bir mengusikku
....aku tahu. Ini cuma luka sayat kecil yang kugaris dengan kukuku sendiri.
Botol bir itu menyeringai diselingi buih yang meluber
Kujilat, kusesap dan kureguk pahitnya
bergulung-gulung bau sangit dan ribuan busa merajah mulutku
kau tak pernah tahu rasanya, bisikku menggoda birahinya
Botol bir itu tertawa...
Aku adalah saksi beribu rindu dan berjuta luka, ujarnya tanpa nada
di gelap sudut kamar seorang istri kesepian
di meja bar pelacur jalang yang terhina oleh pandangan mata manusia
di ranjang lelaki yang egonya kalap demi keperkasaan perempuan yang dicintai
di dapur seorang manusia frustasi setelah hilang seluruh ambisi
di jalanan sepi saat seorang putus asa menanti kekasih yang tiada
di hatimu.... saat merindukan mati
....
Sebotol bir kugenggam dengan mesra, ia mendesah manja
kupeluk erat seperti anak kecil memeluk bonekanya
ah, ia semakin gelisah
aku tahu hasratnya seolah meminta segala yang kupunya
satu-satunya nyawa
kupeluk hingga botol hitam mengkilat itu menggeliat
Inilah rindu, tiba-tiba ia berseru
Kupecah botol itu seiring letupan ekstasi yang menyeruak di selangkanganku
kutancapkan sebilah kaca tepat di dadaku
Inilah rindu
Kataku....

Dimsum Terakhir dari Naima



Tidak ada yang lebih menyenangkan bagi seorang perempuan selain menerima hadiah. A Gift. Sebuah Kado. Entah dari kekasih, teman, anak atau mungkin dari seorang yang kita tidak pernah sangka bahwa suatu saat ia akan memberi sebuah hadiah. Semua efeknya sama. Membahagiakan. Apa lagi namanya kalau bukan bahagia mengetahui bahwa ada seseorang di luar sana yang sempat memikirkan kita dan merasa bahwa keberadaan kita berarti bagi dirinya sehingga ia merasa perlu untuk mengekalkan keistimewaan hubungan itu dengan sebuah hadiah. Agak sedikit ada unsur Ge eR, sih. Tapi seperti itulah rasanya buatku


Yup, aku baru saja menerima sebuah hadiah yang terdiri dari dua buah buku. Sebuah buku berjudul Perfect Timing dari Jill Mansell dan satunya lagi adalah buku yang sangat kuidam-idamkan. Dimsum Terakhir-nya Clara Ng. Sudah lama aku "memburunya", namun ternyata tanpa kusangka aku mendapatkannya begitu saja dari seorang muridku dulu di MTsN Waikabubak. Padahal, waktu aku dan Naima, begitu nama muridku itu, bertemu kembali di Facebook, Naima sudah frustasi kepadaku sebab aku ternyata sudah kehilangan memori tentangnya. Meski aku sudah menguras kolam ingatanku, tetap saja sosoknya samar-samar.

Lalu untuk menebus rasa bersalahku, aku berjanji untuk menghadiri pernikahannya secara khusus. Dia senang sekali dan begitu menanti-nantikan momen itu. Sampai kemudian kami bertemu di hari istimewanya itu. Kurang lebih dua-tiga bulan yang lalu. Aku menemuinya di kamar pengantin dan tak bisa berhenti menatap wajahnya. Bahagia memancar seperti bulan purnama di wajahnya yang tirus itu. Selain mengagumi kecantikannya aku juga masih mencari-cari seraut wajah mungil yang dulu duduk di kelas selagi aku memberikan pelajaran SKI, bertahun-tahun dulu. Ah, betapa rapuhnya ingatanku.

Buku Dimsum Terakhir yang Naima hadiahkan kepadaku, rupanya menjadi semen perekat rumah ingatanku yang sudah rapuh itu. Sebab bisa saja bertahun-tahun dari sekarang tatkala keadaan berubah, mungkin aku dan Naima akan lost contact oleh suatu alasan. Jarak dan waktu sering menjadi racun bagi sebuah hubungan.  Dan aku memiliki ingatan yang serapuh istana pasir. Namun jika pun itu terjadi, ada Dimsum Terakhir yang bisa menambal bolong-bolong dalam ingatanku. Seperti sebuah kalimat dalam sajakku; Suatu saat buku ini tamat kubaca namun namamu takkan tamat kueja.

Terakhir, untuk Naima, selamat ya Dear. Hopefully your life fullfill with a lot of joy, happiness and be blessed by God. Bila nanti dirimu sampai di Jepang bertemu dengan suami terkasihmu, sampaikan salam ibu pada gunung Himalaya dan bunga sakura.





Pengemis Ngesot dan Seekor Anjing


Pagi datang tanpa isyarat. Selalu begitu. Padahal siang dan matahari telah menyiapkan berbagai misteri. Kadang tanpa sempat menyisakan waktu untuk berpikir, kita bergerak, berjalan, beraktifitas dan ketika pada akhirnya misteri itu terkuak, barulah kita sadar. Seharusnya ada waktu sejenak untuk kita merenung agar kita tidak alpa menangkap pertanda.

Seperti biasa, pagi itu aku bangun. Berangkat ke kantor dan tenggelam dalam pekerjaan sampai tak terasa pagi sudah lama berlalu dan senja segera akan bertahta di ujung cakrawala. Kemudian setelah semuanya aku rasa beres, aku beranjak pulang. Sepanjang jalan aku menikmati udara semilir yang menerpa wajahku.

Saat aku melewati kompleks pertokoan, aku berhenti sejenak untuk membeli dua pak biskuit. Sejak terbaring sakit selama dua minggu, suamiku berhenti merokok dan sebagai gantinya aku harus menyiapkan camilan. Keributan kecil terjadi di toko antara pemilik toko yang Chineesse dengan pembantunya. Aku merasa harus segera kabur dari situasi panas itu.

Ketika aku akan melangkahkan kaki menuju motor yang kuparkir di depan toko, seraut wajah familiar tersenyum menghadang jalanku. Ia mengenaliku. Sudah beberapa kali aku memberikannya uang. Tanpa pernah menadahkan tangannya, aku selalu saja tergerak untuk merogoh dompet dan membagi sepercik kebahagiaan untuknya. Tapi sore itu, entah kenapa aku hanya membalasnya dengan senyum. Sekilas kuingat, di dompetku hanya tinggal dua atau tiga lembar seratus ribuan. Itu terlalu besar, pikirku. Dan aku tak ingin sekedar memberinya recehan seribuan yang mungkin nyelip di sela-sela KTP, SIM, Kartu Askes dan slip-slip ATM yang berjejal di dompetku.

Aku terenyuh memandang sepintas wajah lelaki yang tak beruntung memiliki kaki sesempurna aku dan orang-orang lain. Lelaki pincang, pengemis itu tak pernah melepas senyum dari wajahnya. Aku berkata dalam hati, lain kali aku menemuinya, aku akan memberinya uang sepantasnya. Seperti tahu isi batinku, pengemis yang berjalan persis hantu suster ngesot di film itu pun menggeser tempatnya berdiri atau tepatnya duduk ngesot. Kemudian aku berlalu.

Malam bertahta. Gelap gulita menguasai langit. Aku tidak lagi mengingat kejadian sore tadi. Setelah sholat magrib, makan malam dan anak-anak asyik belajar, aku dan suamiku menikmati istirahat berdua sambil nonton tivi. Aku penggemar film barat, dan tivi berlangganan yang baru saja dipasang sebulan ini oleh suamiku membuatku larut dalam keasyikan. Suamiku mungkin hanya sekedar mengikuti moodnya yang sedang bagus. Kami memelototi layar kaca 40 inci itu tanpa pernah tahu, di luar sedang terjadi pertengkaran.

Tiba-tiba saja, driver kami masuk dan membawa kabar itu. Seorang perempuan tua yang masih terhitung tetangga kami datang mengamuk di depan, persis saat driver kami hendak pulang ke rumahnya. Ternyata saat melintas di depan rumah perempuan tua itu, Boban, driver kami itu menabrak mati seekor anjing miliknya. Tanpa menghiraukan permintaan maaf dan penjelasan Boban bahwa ia tidak tahu bahwa anjing itu mati, perempuan tua itu terus marah-marah. Untung ada seorang Polisi yang tinggal di kost milikku, datang dan melerai pertengkaran itu. Dan setelah puas, perempuan itu pun pergi.

Suamiku bangkit dan bersama Boban keluar rumah untuk meminta keterangan yang lebih jelas dari Amal, polisi itu. Lalu tak seberapa lama, suami masuk dan meminta sejumlah uang. Ganti rugi anjing yang mati itu.

Aku terhenyak, sebab bukan salah kami rasanya kalau anjing itu sampai mati. Kenapa anjing itu dibiarkan berkeliaran di jalan-jalan. Terus, kalau gara-gara anjing, nyawa seorang manusia jadi melayang, apakah perempuan itu akan sanggup membayar ganti rugi nyawa itu? Aku mengomel, tapi tanganku tetap saja meraih  dompet dan mengulurkan uang sejumlah dua ratus ribu. Suamiku tak menanggapi omelanku. Aku tahu benar, dia memberikan uang itu karena untuk menjaga rasa, tepa selira, menjaga keharmonisan hubungan dengan tetangga. Tapi aku tetap saja sebal tak terkira.

Lama suamiku baru muncul lagi di rumah. Sepanjang itu pula aku mencoba berdamai dengan hati. Kehilangan uang dua ratus ribu  itu terasa semakin menohok hati, saat berangsur-angsur aku satukan kepingan-kepingan kejadian hari itu. Seandainya saja sore tadi aku berikan selembar saja uang seratus ribuanku kepada pengemis itu, mungkin aku tak perlu kehilangan uang dengan cara seperti ini.

Barangkali Tuhan ingin memberi pelajaran kepadaku tentang bersedekah, tentang kesabaran, tentang keikhlasan dan tentang rizki. Bersedekah tak elok ditunda-tunda. Bersabar saat menghadapi situasi pelik itu perlu dilatih, aku selalu gagal untuk tidak mengomel. Harus lebih ikhlas karena segala sesuatu yang kita sangka milik kita hakikatnya adalah milik Tuhan semata, kita hanya dititipi saja. Cepat atau lambat pasti akan diambil kembali oleh-Nya dengan cara yang kita tidak pernah sangka.

Dan Tuhan tak pernah salah membagikan rizkinya.