Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Cinta Separuh Hati






Lengang menyergap ruangan pengap. Setumpuk berkas menggunung menghalangi pandangan ke arah pintu. Suara desis kipas angin dalam Control Processor Unit sebuah komputer tua di sampingku menyita atmosfer yang lembab. Aku terpejam menikmati kesendirianku di tengah kepungan map, buku dan layar komputer. Kantuk mulai mengintai di sudut mataku, ketika nada dering ponsel di saku celanaku berteriak melagukan Heavennya Eric Clapton.

Kantukku menguap. Gerutu yang sudah siap muntah dari mulutku tertelan lagi. Di layar ponsel tertera namanya, berkedip-kedip menggodaku. Aku memperbaiki posisi dudukku, sebelum menekan tombol hijau. Seolah seseorang yang tengah menanti telponnya kuangkat ini, ada di depanku.

“Hei, finally,” sapaku renyah.

“Ya, emmm, ini dirimu kan? Kupikir dirimu tidak nyata.  Ternyata bahkan suaramu lebih merdu dari yang kubayangkan. Sibukkah? “

Aku tertawa kecil, menutupi gugupku. Aku sudah beberapa kali menerima pujian dan puisi-puisi pendek darinya melalui messenger. Tapi mendengar suaranya yang basah menggelitik ujung telingaku, memompakan geletar aneh yang hebat. Jantungku tiba-tiba tidak mau kompromi, berdetak keras melebihi biasanya.

“Tidak, aku tidak sedang sibuk kok, kebetulan sedang istirahat. Bukankah kamu yang lagi sibuk riset?”

“Ya, seperti biasa, aku dikejar deadline laporan ke lab di Jakarta hari ini, tapi sinyal seperti tak bersahabat denganku, jadi kuputuskan untuk menghubungimu. Lagipula aku sudah ingin sekali berbincang langsung denganmu,” dia menyambung kalimatnya dengan tawa, aku membayangkan sungging senyumnya, “ ini sangat menakjubkan bukan?”

“ Ya, hampir tidak percaya kamu benar-benar menelponku.”

“Its so amazing to me,” katanya pelan tapi pasti.

Aku mendadak menggigil ketika  tanpa kuduga dia berkata bahwa kemarin saat senja memerah di ujung horizon dia mengingatku sepenuh laut. Tentang betapa bahagianya dia menemukan seorang perempuan yang menyukai senja dan laut sepertiku. Dia kemudian berjanji akan berkirim pesan beberapa hari lagi, setelah dia menuntaskan risetnya yang ke sekian di sebuah desa di ujung barat pulau ini.

“Nice to talk with you,” katanya menutup perbincangan kami senja ini.

Perbincangan yang menguras tenagaku. Meski tak lebih dari dua menit, selepas menutup ponselku, mendadak aku lunglai. Namun aku merasa ada diam-diam tumbuh dan mengakar di jauh relung hatiku. Dan dengan caranya sendiri, ia memberi tenaga pada tubuhku. Pelan-pelan menelusup mengikis lunglaiku, menginfus setetes demi setetes kesejukan yang sulit kujabarkan dengan kata.

Senja yang penuh senyum ini bermula dari sebuah senja yang telah jauh berlalu. Saat hatiku sedang dirundung rusuh dan melarikan  seluruh cengkramannya yang meremukkan pikiranku ke gunungan map-map pekerjaanku. Saat itu aku tak berniat pulang. Menyerahkan diri pada kekalutan yang panjang. Biar kutumpahkan sesak dadaku pada berkas-berkas yang keleleran di mejaku. Setidaknya mereka setia mendengarkan lenguhanku, meski mereka tak bisa bicara.

Lalu entah dari langit mana, sebuah sapa menghentikan gerakanku. Ini sebuah sapa yang biasa. Namun sama sekali aku tak menduga kalau pada akhirnya setiap kata-katanya yang ditujukan padaku menjadi terasa luar biasa.

“Selamat menikmati senja. Salam kenal.”

Aku melenguh lagi untuk kesekian kali. Kubiarkan sapaan itu menggantung di udara sampai beberapa lama. Beberapa hari. Bahkan hampir kulupakan keberadaannya. Sampai suatu ketika kudapati lagi sapaan serupa yang tak bisa tidak membangkitkan rasa penasaranku untuk membalasnya. Siapa sih dia, aku membatin sambil memandang layar ponselku.

“Separuh jingga dan secangkir kopi. Semoga Puan tengah bahagia senja ini.”

Aku berpikir keras. Kalimat apa yang akan kurangkai demi membalas sapaannya yang puitis. Ini hal yang baru dan aneh bagiku sebenarnya. Tapi mengabaikan sapaannya pasti  terkesan tidak sopan. Bahkan bila seseorang yang menyapa itu adalah orang yang tidak dikenal sebelumnya. Lagipula di tengah arus informasi yang mengglobal ini, bukankah dunia seperti menyempit dan semua orang terhubung? Jarak mengkerut dan membuat orang asing menjelma menjadi orang yang dekat.

Kutekan tombol huruf-huruf di ponselku.

“Salam, makasih sudah menyapa di senja yang jingga ini.”

Sejak itulah berderet-deret kalimat selalu menjadi penawar letih dan sepiku. Dia sungguh teman berbincang yang baik. Sangat terbalik dengan pengakuannya bahwa dia orang yang cenderung pendiam, lebih fasih menulis ketimbang bicara. Dari caranya meresponku, aku tahu dia adalah seorang pendiam yang punya kepedulian pada lawan bicaranya.

Kemudian di jeda waktu yang lain, aku dan dia terlibat diskusi-diskusi yang panjang dan menarik tentang film. Hal lain yang semakin mendekatkan aku dan dia. Ditunjang oleh fasilitas dan domisilinya yang tinggal di jantung peradaban, dia membuatku kagum tentang koleksi film yang pernah ditontonnya. Sementara aku hanya bisa ber’oh setiap kali dia berkisah.

“Aku heran,” katanya di suatu siang seusai diskusi tentang artikel medis yang aku baca di media online.

“Kenapa?

“Apa yang kamu lakukan di dunia antah berantah seperti ini. Perempuan secerdas dirimu ditengah pulau terpencil dan terbelakang.”

Aku hanya bisa tersipu. Kubayangkan dia mengatakan itu sambil menatapku dan tersenyum.

“I’m just an ordinary woman.”

“With extraordinary personality. Apakah dirimu tidak tertarik untuk keluar dari tempurung yang mengungkungmu? Menghirup segarnya ilmu, meraih gelar master. Aku yakin kamu akan dengan mudah mendapatkan beasiswa di luar negeri. Mereka umumnya lebih tertarik kepada perempuan cerdas dari daerah terpencil di dunia ketiga. Seperti dirimu.”

“Aku tidak tahu. Aku mungkin tidak akan bisa keluar dari pulau ini. Dan beasiswa luar negeri itu, kedengarannya cuma mimpi bagiku.”

Dia seperti biasa, terus menghamburiku dengan kata-kata indahnya. Aku bahkan tidak bisa membedakan apakah kata-kata itu termasuk rayuan gombal, atau memang mengalir murni serupa mata air di pegunungan. Yang ku tahu, dia begitu pandai memompa semangatku untuk mencari tahu langkah-langkah besar apa yang telah tertapak di dunia luar sana. Menelusuri ketertinggalanku karena terkurung di dunia yang sepi dan jauh.

Lama kelamaan, aku ketagihan pada dirinya. Pada renyah sapaannya. Pada hangat candaannya. Terlebih pada caranya memperlakukan aku. Begitu berbeda. Seingatku baru kali ini aku bertemu dengan seseorang yang memuji otakku bukan tubuhku. Lalu merayuku bukan dengan rayuan gombal, melainkan dengan mengirimiku puisi-puisi. Aku tak peduli walaupun sebagian puisi itu adalah puisi dari para penyair ternama di negeri ini. Aku meresapi kalimatnya seolah itu adalah ungkapan hatinya untukku.

Siapa perempuan yang tidak terpikat hatinya, bila tiba-tiba di penghujung malam, saat sang fajar mulai menyulurkan benang-benang cahayanya di langit yang masih tertidur, sebait puisi “Menulis Cinta” merambat di telinga.

Hingga detik ini aku masih mengingat dengan apik, bait terakhir puisi Sitok Srengenge itu.

Sebab cinta adalah kau
Yang tak mampu kusebut
Kecuali dengan denyut

Kuduga, dia pun mengalami hal yang sama. Meski kadang aku ragu sebab kupikir mungkin saja dia hanya ingin menunjukkan padaku tentang begitu banyaknya puisi-puisi indah di dunia ini. Bukan sedang mengungkapkan isinya padaku. Tapi, seharusnya dia sadar, bahwa bagi perempuan sepertiku, dikirimi sebait puisi sama nilainya dengan dikirimi seikat bunga mawar.
Jadi aku terus menduga-duga seperti apa hatinya dibalik semua kalimatnya. Sampai suatu malam yang penuh gemintang. Dari tepian pantai selatan di ujung barat pulau ini, dia kembali mengirimiku sebait puisi yang dikutip dari seseorang di entah.

Andai engkau mau menyelam lebih dalam di dadaku.
Engkau akan menemukan yang engkau cari.
Dirimu sendiri

“Apakah kau mencintaiku?” aku tidak tahan untuk bertanya.

“Aku sangat….mengagumimu.”

Seketika terang benderanglah padang luas di hatinya yang sedetik lalu terasa samar dan kelabu. Aku tergugu. Lalu memutuskan untuk tidak lagi menemuinya, berbincang dengannya. Aku tidak ingin terseret oleh arus liar yang terus menggelegak di dalam jeram kedekatan ini. Aku menutup diri darinya.

Namun rupanya  aksi nekatku mengucilkan diri darinya, malah membuahkan sebuah kejutan yang memporakporandakan kewarasanku. Tiga hari setelah kunonaktifkan ponselku. Aku terhenyak begitu kembali kunyalakan ponselku. Sebuah surel berisi catatan singkat menukik-nukik di mataku.

Secangkir kopi, tanah yang basah oleh gerimis pagi ini. Sudahlah aku tak ingin berpura-pura tak merindukan perempuanku di ujung sana. Perempuan yang seperti kata sebuah puisi, berselendang bianglala…

Tidak terasa, kristal-kristal bening luruh dari ujung kelopak mataku. Aku tergugu. Pada titik yang beku ini, segala tafsir analitis tak mempan untuk menerjemahkan kalimat yang jernih dan sederhana itu.

Lalu aku menyerahkan diri dengan segala kesadaranku kepadanya. Kepada sanjungannya yang melambungkanku ke langit penuh gemintang. Menembus lembutnya awan. Merasai gigilnya gerimis.  Aku bertekuk lutut pada ketidakpastian hatinya yang berselimut pendar-pendar cahaya yang mempesona. Aku sudah tak peduli pada definisi dan makna. Meleburkan diri pada petualangan mendebarkan yang menurutnya membuat hidup lebih menarik karena hadirnya yang tanpa direncanakan. Spontan seperti tawa kanak-kanak. Hadir begitu saja seperti gerimis di pagi hari bulan November ini..

Kukira dia terjebak pada geletar rasa yang sama anehnya sepertiku. Hanya saja dia jauh lebih pandai untuk menetralkannya. Mungkin lebih tepatnya jauh lebih pandai mengelabui hatinya. Meski tak urung sempat tersirat juga ketakutannya kehilanganku.

“Lalu apa artinya catatan yang kukirimkan untukmu,” ujarmu sengit ketika aku meragukan hatimu.

Aku terdiam. Dan sejurus dia kembali melunak.

“Aku menulis catatan itu saat mengingat dirimu.”

Ah, benarkah dia takut kehilangan diriku? Sampai ratusan senja berlalu sejak saat itu, aku tidak pernah tahu persis jawabannya. Dia hanya berkata hidup yang dijalani dengan berpindah dari satu rutinitas ke rutinitas lain tak lebih seperti mesin. Beku dan dingin.

Aku tetap tidak tahu, bahkan setelah mendengar suaranya di ujung ponsel yang menggigilkanku. Kurasa sampai kapanpun aku tidak akan pernah tahu. Sebab mungkin saja tidak ada yang perlu aku ketahui dari petualangan aneh ini. Ini sekedar pemecah kebekuan hidup baginya. Hanya pelarian dari rutinitas yang mengikat dan menjemukannya. Ini cuma hiburan untuk kesepiannya.

Senja telah menipis. Menyisakan coretan samar berwarna jingga di ujung cakrawala. Aku butuh pulang sekarang. Menemui seorang lelaki yang selalu tenggelam dalam diam. Tenggelam di dunianya sendiri. Mungkin aku akan menelusupkan kepalaku di dadanya, meleburkan pening dan mencari damai di sana. Atau sekedar menyinggahkan sekecup ciuman dari bibirku di pipinya.

“Pa, jemput aku ya.”

“Aku sibuk.”

Tut, tut, tuuuut.

Requim Cinta





Senja mulai memerah. Angin mengelus tengkuk Eily. Meremangkan bulu kuduk ketika kakinya yang panjang menapaki koridor rumah sakit swasta itu. Dia merapatkan jaketnya. Musim hampir bergeser ke musim kemarau. Di kota kecil yang lanskapnya menyerupai kuali raksasa itu, musim kemarau selalu membuat udara sedingin embun subuh.

Bergegas Eily menuju bangsal rawat inap kelas 3. Tangannya menenteng parsel berisi buah-buahan. Senyumnya sesekali mengembang tipis saat berpapasan dengan perawat dan beberapa pelayat yang hendak pulang. Agak ragu, dia mendorong pintu ruang rawat inap yang sedikit terbuka. Eily melayangkan pandangan ke sebuah sudut. Terbaring di ujung sana laki-laki berwajah tirus yang sudah lama dia ingin lupakan.

Sejenak Eily terdiam. Tapi seorang perempuan paruh baya menganggukkan kepalanya. Eily menghampiri kedua anak beranak itu.

“Sore, Tante. Maaf, saya baru sempat datang.” Eily mencium pipi perempuan yang dia panggil tante itu. Kemudian dia meletakkan parsel yang dia bawa di atas meja kecil yang dipenuhi sebotol air mineral, gelas, sebungkus biskuit dan obat-obatan.

Eily memandang wajah yang kuyu terbaring di depannya. Dia memperhatikan dada laki-laki itu yang bergerak naik turun pelan. Sebersit perih singgah di hatinya.

“Beberapa kali, Reza menyebut-nyebut namamu saat dia tidur. Tante berpikir, mungkin kalian harus bertemu untuk saling bicara.”

Eily menunduk. Dia menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya pelan. Seakan ingin menghemat oksigen di dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.

“Tante tinggal dulu keluar ya, ada yang harus tante beli.” Sembari mengusap pundak Eily, perempuan anggun itu beranjak pergi.

Suasana hening menyergap Eily. Dia tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Ada keinginan yang menyelinap dalam hatinya untuk menyentuh wajah Reza yang tengah tertidur. Dia sudah mengangkat tangannya untuk meluluskan keinginan hatinya itu, ketika tanpa dia duga Reza membuka matanya pelan. Eily sontak terkejut. Ah, hampir saja, batinnya sambil menenangkan degup jantungnya yang gemuruh.

“Eily, aku tidak mengira kamu datang menjengukku.” Ada getar pelan dalam suara lemah Reza. Sepasang mata saling menatap. Kilatan entah apa berkelabatan di dalamnya. Reza memperbaiki posisinya. Berusaha terlihat tegak, menaikkan tubuhnya sedikit dengan bantal sebagai penopangnya.

“Maafkan aku, saat itu aku harus memutuskan untuk pergi. Dan sekarang, di saat seharusnya kamu sudah melupakan kepergianku, justru kamu harus menemui aku…” Reza terdiam sesaat. “…dalam keadaan aku seperti ini pula.”

“Reza, sudahlah. I’m fine. Kamu tidak perlu mengkhawatir aku.Fokuslah untuk kesembuhanmu.” Eily menyentuh pundak Reza sekedar untuk menampakkan ketegarannya. Dia menyembunyikan gundahnya di balik selubung hatinya. Perlahan nyeri yang lama dia rawat dengan air mata, berdenyut lagi.

“Aku ingin sekali memberikanmu ini.”

“Untuk apa ini, Reza? Kamu tidak perlu memberiku apa-apa.”

“Seharusnya aku melakukannya dulu, saat kita menunggu senja di Lapale. Anggaplah ini permintaan maaf dariku. Atau sekedar tanda bahwa aku pernah ada.” Ujar Reza sedikit terengah-engah.

“Please, don’t talk like that. Aku sudah memaafkanmu sedari dulu. Aku sudah melupakan bahwa kamu pernah pergi menjauh dariku.”  Kini Eily benar-benar merasakan perih mengiris-iris di sekujur tubuhnya. Perlahan perih itu menelusup memanjat setiap urat yang mengarah ke sepasang kelenjar dan mendesak cairan bening keluar dari sudut mata. Meleleh seperti magma. Eily merasakan matanya memanas. Entah karena dia berusaha menahan air mata atau karena luka yang dia rasa. Atau mungkin karena dua-duanya.

Reza meraih tangan Eily, membawanya di dada. Seperti hendak meyakinkan Eily tentang besarnya penyesalan yang dia rasa. Layaknya sentuhan tangan di dada itu bisa mengenyahkan segala luka perih di hati Eily. Reza tahu ini bisa menjadi sentuhannya yang terakhir untuk Eily. Dia ingin waktunya yang tidak lama itu betul-betul habis untuk menghapus cerita kelam di antara mereka berdua. Jika saja tidak ada penyakit yang bercokol di tubuhnya, saat itu juga Reza ingin meminta Eily untuk menerimanya kembali. Dia rela menghabiskan seluruh sisa hidupnya untuk memunguti setiap keping luka yang terserak dalam jiwa Eily, demi membahagiakan perempuan yang pernah terluka karena sikapnya yang pengecut.

Langit sedang menelan senja. Tinggal semburat jingga yang terlukis di cakrawala. Sementara Eily masih menggenggam jemari panjang yang kurus milik Reza. Dia belum lupa jemari itulah yang pernah menggeletarkan jantungnya dalam rinai gerimis di salah satu siang  bulan Mei dua tahun lalu. Itu saat pertama kali Reza mengajaknya makan siang saat istirahat kerja di kantornya. Reza menggenggam tangan Eily, menembus titik-titik air yang berjatuhan. Agaknya siang  bergerimis itu menyuburkan benih asmara keduanya.

Eily memutuskan untuk pulang. Dilihatnya Reza sudah kembali tertidur. Sepertinya percakapan pendek mereka terlalu melelahkan untuk tubuh lemah Reza. Eily pun diterpa lelah yang sama. Mungkin bahkan jauh lebih lelah ketimbang Reza. Lelah yang terakumulasi dari penat rutinitas pekerjaannya, dua tahun berkubang dalam luka dan kecewa pada kepergian Reza,  lalu pertemuannya dengan Reza hari ini. Ditambah sebentuk cincin emas putih bertahtakan berlian di kepalan tangannya. Untuk apa dia menerima cincin itu dari Reza, Eily tidak persis tahu.

Sebagai penanda bahwa Reza pernah ada? Eily menggeleng, ada duka di balik kalimat Reza itu. Sepenggal duka yang lain. Biar bagaimanapun Eily lebih memilih ingin mengetahui bahwa Reza ada di belahan tempat lain terpisah dari dirinya, daripada harus menemui kenyataan pahit Reza sudah tinggal nama. Jauh di kedalaman hatinya, Eily masih menyimpan rasa yang diam-diam berkelindan setiap kali Eily menatap senja di balik jendela kamarnya. Mungkin itulah alasan sebenarnya.

Malam ini Eily memejamkan matanya lebih awal dari biasanya. Dengan begitu Eily bisa menyusupkan kenangan-kenangan tentang Reza dalam gelapnya alam tidur. Secangkir kopi yang sudah dia seduh, dibiarkan tak disentuh. Sejurus kemudian, Eily terlelap. Cincin yang dari tadi dia kepal, kini sudah berpindah di jari manis kirinya.

*

Rasa sakit meringkus seluruh tubuh Reza. Seribu jarum seolah menancapi setiap senti kulitnya. Sakit yang jauh menembus sumsum. Reza mengerang, mengaduh. Tetapi tidak ada yang keluar dari mulutnya. Kecuali lenguhan dan sengalan nafas di ujung leher.

Kini selain nyeri seperti tusukan jarum karatan di sekujur tubuhnya, Reza sekuat tenaga menyebutkan sebuah nama. Dia ingin seandainya ini adalah akhir hidupnya di dunia, nama itulah yang terucap hingga bibirnya berhenti bergerak. Jika matanya kuasa terbuka ketika sakit sedikit jeda, hanya seraut wajah yang terbentang di lensanya sampai kemudian kembali terpejam. Dan dalam mimpi, dimana Reza terbebas dari deraan penyakitnya, nama dan raut wajah perempuan yang dulu pernah jadi miliknya itu, terus menari-nari.

“Eily….Eily….”

Reza ingin meraih wajah Eily. Seperti sebatang kayu yang hanyut dalam derasnya riak sungai, Eily  muncul tenggelam dalam mimpinya. Tangan Reza menggapai-gapai hingga seluruh persendiannya melemas. Lalu lunglai.

Reza menangis. Dia ingat saat-saat paling memilukan dalam hidupnya. Bukan, bukan dalam hidupnya, melainkan dalam hidup Eily.

“Reza, jangan pergi. Aku membutuhkanmu. Aku mencintaimu. Please….dont go.”

Reza masih bisa merasakan getirnya suara Eily yang memohon, menghiba dan meratapinya untuk tidak pergi meninggalkannya. Dia masih mengingat dengan jernih, Eily merengkuh tubuhnya. Berharap rengkuhan itu masih berdaya menahan kepergian dirinya. Tapi tidak. Reza tak ingin lebih lama bertahan. Dia menepis pelukan Eily. Dia menutup telinganya. Lalu berpaling dan bergegas pergi.

Reza mengabaikan tangisan Eily yang meneriakkan sejuta perih ke angkasa.

Apalah gunanya dia memperjuangkan hubungan muskil ini. Reza menghadapi tembok raksasa. Di sebalik tembok itulah Eily berada. Meskipun Eily selalu meyakinkannya. Selalu memperlihatkan betapa besar cinta Eily untuknya. Namun Reza merasa terlalu kerdil untuk melawan tembok keangkuhan itu sendirian. Reza sudah seringkali terpental dan jatuh dalam keterpurukan saat berhadapan dengan tembok penghalang itu.

Dia tak ingin meruntuhkan tembok itu. Dia hanya ingin bisa menaklukkannya, dengan menembus batas yang dibentangkan tembok itu. Tapi sudah saatnya menyerah pada takdir, begitu pikirnya. Tembok itu terlalu liat untuk ditembus.

Kini, Reza justru menyesali keputusannya untuk pergi. Sudah terlambat? Memang kenapa? Biarlah terlambat, Reza akan semakin menyesal jika dirinya tak pernah merasakan peyesalan yang sudah terlambat itu. Jadi biarlah sekarang Reza bergumul dengan segunung penyesalannya.

Reza ingin penyesalannya menjadi penebus kesalahannya. Membiarkan perempuan yang sangat dia cintai tergugu di ujung jalan akhir hubungan mereka. Seorang diri.

Seberkas sinar menyilaukan Reza. Dia mengerang lirih. Lalu memanggil lagi nama Eily. Kali ini dia mendengar namanya disebut. Diantara sedu sedan isakan pilu yang terdengar jauh.

“Eily…Eily…”

*

Perempuan belia namun berkepribadian matang itu menyeka seluruh air mata. Mula-mula dengan sapu tangan. Kemudian sapu tangan yang sudah lembab basah itu hanya di remas-remasnya. Sementara air mata yang terus mengalir seperti hujan deras, disekanya dengan punggung tangannya.

Dia telah telah kehabisan tenaga untuk mengeluarkan suara. Lehernya tegang. Tapi dalam isak tangisnya, masih bisa terbaca sebuah nama.

“Reza…Reza…aku mencintaimu, aku membutuhkanmu.”

Tubuhnya seperti kapal karam terdampar di batu karang. Teronggok di jalan aspal depan rumahnya. Sudah setengah jam, dia masih belum beranjak dari situ. Masih berharap sosok laki-laki muncul dari ujung jalan yang berkabut.

Langit seperti runtuh menimpa dirinya yang sekarang merasa jadi orang yang paling sendirian. Sampai lebam matanya menangis, namun laki-laki itu tak kunjung kembali.

Entah mendapat kekuatan dari mana, Eily bangkit. Terseok menyeret tubuh remuk redamnya. Dia ingin tidur. Melupakan perih di pelupuk matanya yang membengkak. Melupakan perih di sekujur hatinya. Melupakan laki-laki yang baru saja angkat kaki dari kehidupannya.

Dia ingin tidur lama sekali. Sampai dia tidak ingat sedikitpun peristiwa itu, dan seluruh kenangan yang merangkai pertemuannya dengan Reza hingga kejadian yang dialaminya tadi.

*

Siang begitu murung, mendung. Langit hanya tinggal menunggu komando alam untuk menumpahkan hujan ke bumi. Angin diam tak bergerak, mengantar pelayat terakhir meninggalkan tempat suram dimana jiwa-jiwa yang sudah meninggalkan raga bersemayam.

Reza ada di sana. Berbaring di kedalaman pusara. Kini hanya ditemani bumi, tanah tempat dia berpijak mengelana sampai ke perbatasan Atambua. Semasa hidup, Reza melarikan seluruh gundahnya dengan mendatangi tempat-tempat jauh. Menjauh secara fisik, namun nyatanya sampai dia meregang nyawa, hatinya tak pernah bisa jauh dari perempuan sumber kegundahannya.

Perempuan itu juga ada di sana. Berdiri mematung dan membiarkan hujan di matanya turun deras mendahului langit. Terus menangis tak memedulikan sebuah suara memanggil-manggil dirinya. Seperti ingin menguras habis air matanya yang tersisa. Hingga saat dia melangkahkan kaki meninggalkan pusara itu, tidak ada lagi duka berlinangan di pipinya.

“Ini adalah akhir beban deritaku selama dua tahun,” begitu bisiknya lirih entah ditujukan pada siapa.

“Selamat jalan Reza.” Eily menundukkan tubuhnya meraba nisan yang dingin, seolah dia menyentuh tangan dingin Reza terakhir kalinya  tiga hari yang lalu.

“Mamaaa, puyang,” suara cadel kanak-kanak memecah sunyi.

“Iya sayang, ayuk pulang,” Eily merengkuh tubuh bocah lucu itu ke dalam pelukannya. Membawanya pulang, setelah mengabarkan keberadaan bocah itu diam-diam kepada pusara Reza. Bocah yang turut Reza tinggalkan bersama dirinya. Buah cintanya bersama Reza.

Di ujung cakrawala, mendung menggumpal.


Waikabubak, 25 Maret 2012

Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta


Pada sebuah telepon umum, seorang wanita berbicara dengan wajah gelisah.
“Katakanlah sekali lagi, kamu cinta padaku.”
Mendengar kalimat itu, orang yang mengantre di belakangnya memberengut, sambil melihat arlojinya. Pengalaman menunjukkan, orang tidak bias berbicara tentang cinta kurang dari 15 menit. Namun, sungguh terlalu kalau wanita itu masih juga bertanya tentang cinta setelah 30 menit. Apalagi sudah ada beberapa orang berdatangan ke telepon umum itu, sambil sengaja mengecrek-gecrekkan koin di tangannya.
“Kamu benar-benar cinta padaku? Sampai kapan?”
Orang-orang mendengar kalimat itu dengan jelas. Wanita yang menelepon dengan wajah gelisah itu memang terlihat berusaha menahan suaranya, tapi rupanya perasaannya berteriak lebih keras. Menjadi tidak penting lagi baginya, apakah orang-orang itu mendengar atau tidak. Mereka toh tidak tahu siapa dirinya. Di kota besar seperti ini, kita tidak selalu bertemu orang yang sama di jalanan. Begitu juga di telepon umum.
“Kamu gombal, kamu juga mengatakan hal yang sama pada pacar-pacarmu.”
Wanita itu melirik kea rah orang-orang yang menunggu, kemudian melihat arlojinya, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa ia bukan tidak tahu tentang waktu yang dihabiskannya. Tapi, kemudian ia menyembunyikan wajahnya ke dalam kotak kuning, berbicara pelan-pelan dan tersendat-sendat. Barangkali lelaki di seberang sana itu memberikan jawaban yang kurang berkenan.
“Aku Cuma salah satu di antara mereka, aku Cuma salah satu dari wanita-wanita itu, aku tidak ada artinya bagimu.”
Wajah wanita yang tadi gelisah itu kini tampak menderita. Matanya penuh cinta, tapi memancarkan rasa takut kehilangan.
“Ternyata kamu bohong, kamu tidak mencintaiku,” katanya.
Para pengantre berdecak-decak gelisah. Mulut mereka memperdengarkan bunyi ‘ck’ yang sengaja dikeras-keraskan. Sebagian menggeser-geser dan menghentak-hentakkan sepatunya. Sebagian, untuk kesekian kalinya, melihat arloji. Sebagian lagi terus terang menggerutu.
“Siang-siang panas begini bicara tentang cinta, seperti tidak ada waktu lain.”
“Terlalu.”
“Sudah setengah jam.”
“Kalau pergi ke telepon umum yang di sana, sudah sampai dari tadi, tapi sekarang jadi tanggung!”
“Berapa lama lagi dia selesai?”
“Ini sudah setengah jam.”
“Paling lama sepuluh menit lagi, dia kan tahu dari tadi kita menunggu.”
“Saya Cuma perlu menelepon setengah menit, penting sekali.”
“Saya juga Cuma sebentar, tapi penting sekali.”
“Saya harus segera telepon, sangat penting, kalau tidak, saya bisa celaka.”
***
Kemudian, terdengar suara wanita itu, yang tanpa disadarinya sudah menjadi jauh lebih keras.
“Kamu ini bagaimana, sih? Kamu tahu kan aku sayang padamu, aku selalu kangen padamu. Aku cinta sekali padamu, kamu jangan begitu, dong!”
Wanita itu sudah memasukkan koin lagi, dua sekaligus. Artinya percakapan masih akan berlangsung, setidaknya 12 menit lagi. Kalau setelah itu masih juga bicara, sungguh-sungguh keterlaluan, karena pengantre yang paling dekat dengannya sudah menunggu selama 42 menit. Sebagian orang yang datang belakangan sudah pergi. Mereka bisa memperkirakan waktu yang lama melihat banyaknya para penunggu. Namun, yang sudah terlanjur menunggu lama agaknya merasa rugi jika pergi. Mereka masih menunggu dengan wajah yang disabar-sabarkan.
“Aku ingin yakin bahwa kamu memang cinta padaku. Aku harus yakin kamu memang cinta, kamu memang sayang, kamu memang selalu memikirkan aku. Apakah kamu selalu memikirkan aku? Katakan padaku kamu cinta, cinta, cinta…”
Apakah yang dikatakan lelaku di telepon sebelah sana? Wanita yang menelepon dengan wajah gelisah itu kini untuk pertama kalinya tersenyum. Pasti yang disebut cinta itu ajaib sekali, karena bisa menelusuri kabel telepon dan mengubah wajah seorang wanita yang gelisah jadi bahagia. Menjadi cantik, dan menyegarkan, meski di siang panas terik yang melelehkan aspal jalanan. Mata wanita itu berbinar-binar, bagaikan mata kanak-kanak di sebuah dunia fantasi.
Pemandangan ini agak melegakan para pengantre. Pasangan yang bercinta di telepon biasa memutuskan percakapan mereka pada saat-saat terbaik. Mata wanita itu menunjukkan kebahagiaan. Pada saat seperti itu ia bisa berpisah di telepon dengan senang, dengan perasaan seolah-olah dunia sudah menjadi miliknya. Tinggal sebentar lagi, pikir orang-orang yang menunggu itu, sambil lagi-lagi melihat arlojinya.
“Satu koin lagi, ya? Ngomong cinta lagi, dong.”
Meluncur satu koin lagi. Berarti enam menit lagi. Orang-orang mengerutkan dahi. Alangkah memabukkannya cinta yang bergelora itu. Tapi, sudahlah, enam menit bukan waktu yang lama.
“Kamu masih akan mencintaiku kalau aku sudah tua?”
“Kamu masih akan mencintaiku, meskipun ada seorang wanita cantik merayumu?”
“Benarkah cuma aku seorang di dunia ini yang ada di dalam hatimu?”
“Masih cintakah kamu pada istrimu?”
***
Semua orang menoleh. Wajah wanita itu sudah gelisah lagi.
“Masih cintakah kamu pada istrimu?”
Meluncur lagi satu koin.
“Gila! Hampir satu jam!” Seseorang berteriak dengan marah.
“He! Mbak! Ini telepon umum! Gantian, dong.”
Pengantre yang paling lama mendekatkan kepalanya ke kotak kuning, sengaja memperlihatkan dirinya di depan mata wanita itu, sambil mengetuk-ngetukkan koinnya dari luar kotak. Wanita itu berkata pada yang diteleponnya.
“Sebentar, sebentar.”
Lantas ia mendekapkan telepon itu ke dadanya, dan berkata pada pengantre yang terdekat dengannya.
“Maaf, sebentar lagi, ya, Pak? Sebentaaar saja.”
Kemudian, ia menolehkan kepalanya ke arah lain. Berbicara setengah berbisik, maunya, karena yang terjadi adalah ia berteriak tertahan.
“Katakan yang jelas, apakah kamu masih mencintainya?”
Angin berhembus. Mega menutupi matahari. Langit mendung.
Orang-orang yang menunggu hanya melihat wanita itu mengeluarkan tissue dari tasnya, dan mulai mengeluarkan ingus. Matanya basah.
“Kamu masih tidur dengan dia?”
Orang yang berada di dekatnya menjauh. Mencari tempat untuk duduk. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan, selain menunggu. Angin makin kencang berhembus. Daun-daun berguguran.
“Kamu kok bisa, sih? Kamu terga sekali padaku. Sebetulnya kamu tidak mencintai aku.”
Seseorang pura-pura batuk, mengingatkan, tapi wanita itu sudah tidak peduli. Ia meluncurkan satu koin lagi.
“Apa sih artinya aku buat kamu? Apa sih artinya aku?”
Wanita itu membuang tissue ke bawah, dan mengambil lagi tissue yang lain. Sambil menjepit telepon dengan kepalanya, ia mendenguskan ingusnya. Tiada yang lebih sendu selain wanita yang menangis karena cinta.
“Jadi, kamu bisa mencintai lebih dari satu orang? Kamu bisa mencintai dua orang sekaligus?”
Ia seorang wanita yang cantik, menarik, dan indah. Wajahnya gelisah dan sendu, tapi ini membuatnya semakin lama semakin indah. Apakah cinta yang membuat seorang wanita menjadi indah? Mungkinkah seorang wanita menjadi indah tanpa cinta? Apakah artinya cinta bagi seorang wanita?
“Jadi, apa artinya hubungan kita? Apa artinya?”
Debu cinta bertebaran. Suatu ketika di suatu tempat, entah kapan dan di mana, seseorang bisa begitu saja saling jatuh cinta dengan seseorang yang lain. Ah, ah, ah-lelaki macam apakah kiranya yang berada di seberang telepon itu, yang telah membuat seorang wanita yang indah menjadi gelisah?
“Apa sih artinya cinta untukmu? Coba jelaskan padaku. Apa sih artinya cinta?”
Jeglek! Tuuuuuuttt…
Koinnya habis. Hubungan pun terputus. Wanita itu tertegun. Ia merogoh dompetnya. Tak ada lagi koin di sana. Ia banting gagang telepon itu dengan kesal.
Pengantre yang sejak tadi menunggu segera menyerobot dengan setengah memaksa. Pengantre yang lain pun mendekat dengan wajah mengancam. Semua orang punya keperluan penting. Tak seorang pun peduli dengan wanita itu, yang setelah menukarkan uang kertasnya dengan setumpuk koin di kios rokok, segera ikut menunggu kembali, meskipun hujan kini turun dengan deras.
Wanita indah yang wajahnya gelisah itu tidak lari berteduh-ia tetap menunggu, sampai basah kuyup. Ia juga punya keperluan penting. Ia masih menyimpan sebuah pertanyaan untuk cinta.
Taman Manggu, 21 Maret 1993
Seno Gumira Ajidarma

Flash Fiction: Layu



Sudah satu jam aku duduk terpekur.  Menunggu bukan lagi sesuatu yang membosankan. Meski tak bisa disangkal, penat mulai menjalar pantat karena rokku yang terlalu ketat. Aku tetap mengipasi bara harapan yang tengah menggelora di jiwa. Yakin seyakin langkahku sore itu untuk melarikan diri dari dunia nyata, dan bertemu sejenak denganmu di dunia imajinasi. Seperti yang pernah kita guraukan, kau menemaniku berbaring di rerumputan kering, mendengarkan kisah masa kecilku yang bening. Kita tersenyum. Aku tahu kau tersenyum meski seperti apa wajahmu aku hanya bisa menggeleng, entah.

Kau akan datang, bukan? Seperti janjimu. Suatu hari, saat jingga di cakrawala membiaskan biru nila hingga warnanya menyapu kaca jendela kamarku, kau akan datang menemuiku. Aku terkenang pembicaraan kita tentang kisah masa kecilku. Kau pasti akan datang untuk melunaskan janjimu itu, memasang telingamu dan membiarkanku menguliti kenangan semasa bocah dulu. Aku, merebahkankan tubuhku di hamparan rumput yang menguning dan menusuk-nusuk punggungku. Tapi bersamamu, aku serasa melayang di atas gumpalan awan. Kau harusnya sudah datang.

Tapi aku harus terus menunggu. Jika tidak, tentu kau akan mencari-cariku saat kakimu menginjak ranting kering yang gugur oleh angin senja yang tertiup buru-buru. Kau tentu tak lagi dapat mencium aroma tubuhku yang lari terbawa sang bayu. Sepasang matamu yang selalu sayu seperti katamu, akan mengitari padang rumput yang telah senyap sepeninggalku. Aku tak dapat memaafkan diriku untuk itu. Jadi aku harus terus menunggumu.

Aku masih menunggumu. Di cakrawala, jingga sudah tiada. Rumput mulai basah oleh kabut halus yang mendesah-desah. Selubung hitam menemaniku menunggumu. Tidak apa. Gelap kadang menjadi teman terbaikmu, bisikmu kala itu, saat aku merintihkan ketakutanku pada gulitanya malam. 

Entah sudah berapa lama aku menunggumu. Bulan dan mentari datang silih berganti. Tapi yang kurasakan kegelapan panjang yang menyayat hati. Aku tak dapat membawa lagi tubuhku pergi. Mungkin selamanya aku akan menunggumu di sini. Di tempat yang sering kau kisahkan saat kau gubah sebuah puisi. 

Rest In Peace. 

Air Mata Ima

Sudah tiga hari ini, lewat sepenggal siang, mataku selalu nanar di bingkai jendela kamar. Menunggu suara langkah kaki tersaruk-saruk sesekali diselingi batuk. Aku kian hari kian didesak keinginan --yang timbul karena kekosongan waktu-- untuk mengamati gerak gerik seorang perempuan.

Perempuan itu memunguti kemasan gelas plastik bekas air mineral yang berserakan di setiap sudut tanah becek sisa hujan semalam. Mengais rejeki dari barang yang sudah orang buang.

Itu dia, bisikku pelan pada diriku sendiri. Di luar penampilannya yang kumal dan kurang gizi, aku merasa dia memiliki raut muka yang manis. Serupa dengan bunga yang kusam dimakan debu jalanan.


Aku memanjangkan leherku. Menyongsong kedatangan perempuan lusuh dan kering yang gontai memanggul karungnya yang masih setengah isi. Di sebelah kirinya bocah perempuan kecil berjalan agak tertinggal, sambil menyeka ingus yang muncul tanpa diminta di hidungnya. Noda menghitam kemudian kering di terpa angin. Sepertinya tangan yang dipakai untuk menyeka itu penuh debu berdaki.

Sudah tiga malam, di rumah mertuaku dihelat sebuah rangkaian hajat. Adik iparku yang sempat membuat pusing kepala gara-gara masalah perempuan, akhirnya menikah juga.

Di kampungku, menikah bukan persoalan mudah. Banyak tahapan acara adat yang harus dilaksanakan demi menjunjung tradisi dan menjaga harga diri keluarga. Pernikahan yang dilaksanakan secara kilat dengan melewatkan tahapan-tahapan acara adat akan menimbulkan kesan negative dan desas desus miring akan membuat panas kuping. Hari ini adalah hari ketiga  minu ae petu. Acara untuk mengundang sanak keluarga dan kenalan-kenalan dalam rangka membantu pembiayaan acara nikah nanti.

Maka selama tiga hari itu pula, perempuan itu rajin bertandang. Biasanya dia datang setelah selesai makan siang. Ketika semua sanak keluarga yang terlibat dalam acara adat pernikahan adik iparku sudah kekenyangan dan kelelahan, perempuan itu mulai bekerja membersihkan halaman depan rumah kami dengan memunguti seluruh gelas plastic bekas air mineral.

Tak ada yang memperhatikan dia kecuali aku. Panas hawa pantai ditambah debu dan asap knalpot dari jalan di muka rumah, membuatku tidak bisa beristirahat siang dengan nyaman. Satu-satunya hal yang membuatku bisa tenang berdiam diri adalah perempuan itu. Kuperhatikan tangannya yang gelap di sengat matahari, mengambil gelas plastik memasukkanya ke dalam karung berulang-ulang sampai habis.

Aku melongokkan mukaku keluar jendela. Di atas akar pohon mangga yang mencuat ke permukaan tanah, anaknya duduk merengek. Meminta pulang karena lapar. Sementara perempuan itu terus membenahi isi karungnya agar mudah dia genggam karena sudah sarat isinya. Sekali dua, ia menyahuti rengekan anaknya dengan halus.
“Iya, sabar ya nak, sedikit lagi kita pulang sudah,” ujarnya sambil tersenyum tipis.

Tak jauh dari tempatku berdiri, kulirik istriku sedang terlelap kecapekan. Mulai jam 4 dini hari tadi di berkutat di dapur mempersiapkan makan minum untuk semua yang akan datang di acara minu ae petu adik laki-lakinya.

“Tunggu sebentar,” aku menyeru perempuan itu ketika kulihat kemudian dia sudah beranjak dari halaman rumah.

Dia terkesiap menoleh ke arahku, sementara anaknya terus menarik-narik bajunya mengajak pulang.  

“Ini ada sedikit uang untuk beli makanan. Saya lihat dia terus merengek kelaparan dari tadi,” aku mengarahkan mataku pada anak itu seraya mengulurkan selembar lima puluh ribuan kepadanya.

Sejenak dia diam. Tapi kemudian, dia menggeleng tegas.

“Terima kasih, tapi tidak. Saya tidak bisa menerima itu” dia menunduk seraya membalikkan badannya dan bergegas meninggalkanku. Aku masih bisa melihat kilatan aneh di matanya. Mendung tebal bergayut di situ.

Aku ingin mencegahnya. Hanya saja keinginan itu hanya diam di dalam hati.
Perempuan itu semakin menjauh. Punggungnya sedikit membungkuk untuk menahan beban yang sarat. Di belakangnya mengintil anak perempuan sambil menarik-narik ujung bajunya. Mungkin dia merutuki ibunya yang tidak mau menerima uang pemberianku tadi. Lalu entah mengapa, aku seperti terseret oleh arus yang dihanyutkan perempuan itu di atmosfer sekelilingku. Kakiku mulai mengambil langkah mengikuti jejak yang ditinggalkan anak beranak itu.

*

Rumah bebak bambu, seukuran kamar tidurku di Surabaya. Dari jauh aku bisa memastikan, aku harus menundukkan badanku supaya kepalaku tidak terantuk kayu bila hendak masuk ke dalamnya. Atapnya daun kepala yang dianyam sekenanya. Lalu disusun menumpuk tak beraturan untuk melindungi penghuninya dari panas dan hujan. Sebagian sudah lapuk, mengering dihantam sinar matahari yang masih garang sore ini. Aku menunggu, duduk di dahan waru yang condong ke tanah. Di sampingku deburan ombak musim barat mengganas menjilat pantai.

Perempuan itu mencampakkan pikulannya di samping rumah. Disekitarnya berjejalan barang rongsokan menutupi hampir seluruh tanah pekarangan yang tersisa. Dia menyeka keringat yang meluncur di dahinya, menarik nafas dan menjatuhkan pantatnya di sebuah bangku. bocah perempuan yang sudah mendahuluinya tiba di rumah, sudah melesat entah kemana. Aku mendengar perempuan itu berteriak mengingatkan anaknya bahwa makan siang akan segera siap. Makan siang, di jam begini, batinku trenyuh.

Setelah melepas lelahnya, perempuan itu kembali bangkit. Meraih keranjang dari anyaman daun kelapa, lalu menghilang di telan bayangan rumah bebak itu. Tak seberapa lama, dia telah muncul dengan keranjang yang dipenuhi daun singkong. Aku menghela nafas. Sejenak ketika aku berniat untuk pulang, suara laki-laki mengurungkan niatku.

“Hari ini nasib baik sedang berpihak padaku, Ima. Lihatlah!”

“Waah, Ini banyak sekali, Kak. Besok kita bisa belanja di pasar. Aku ingin membelikanmu sarung. Sarungmu sudah koyak terlalu lama.”

“Besok, Kau bisa membeli semua yang kau inginkan.”

Aku melihat dari kejauhan, keduanya saling melempar senyum. Seperti senyum sekuntum bunga pada seeekor kupu-kupu. Lalu keduanya mendekat satu sama lain, mereka berbicara hal-hal yang sepertinya tidak terlalu penting. Mengabarkan anaknya yang belum mendapat makan siang. Menceritakan kejadian siang tadi di rumahku. Menunjukkan kaki yang terluka karena menginjak duri. Mengusap kening yang basah berkeringat. Sedikit bercanda. Tertawa bersama. Laki-laki itu lalu mengecup bibir si perempuan.

Aku memalingkan mukaku. Berusaha mengenyahkan pemandangan yang mengingatkanku pada kemesraan yang lama tidak pernah  kurasakan. Kemudian menyeret kakiku menjauh dari rumah gubuk itu.

Sepanjang perjalanan pulang aku terbayang wajah perempuan lusuh itu. Membandingkannya dengan istriku yang selalu terlihat cantik dan bergaya. Sejak bangun tidur, dia akan segera mandi lalu duduk didepan meja riasnya sampai aku selesai bersiap ke kantor. Ketika malam, aku pulang, ritual yang sama dia lakukan di depan meja riasnya. Membersihkan make upnya, bermasker, mengeroll rambutnya lalu tidur di sampingku kaku persis mayat hidup. Entah mengapa, aku menjadi asing dengan perempuan yang telah empat tahun menemani hidupku ini. Hawa aneh menyergap perasaanku.

**

Aku akan segera meninggalkan kampungku. Tapi aku harus menyelesaikan sesuatu. Aku memutuskan untuk mempersiapkan semuanya dengan matang. Sebab aku tahu jika tidak, aku akan dihantui rasa sesal seumur hidupku.

Pagi-pagi,  kudatangi gubuk bebak bambu itu sekali lagi. Mungkin untuk terakhir kalinya. Kukatakan pada istriku, aku harus membeli suplemen penambah energy untuk menjaga stamina selama perjalanan pulang. Istriku mengangguk dengan sedikit mengernyit. Mungkin dia merasa heran sejak kapan aku mengkonsumsi suplemen penambah energy seperti itu. Tapi aku tidak memedulikannya.

Ketika aku tiba di gubuk itu, sepi masih menyelimuti udara sekitarnya. Aku meneguhkan hatiku. Lalu kurogoh saku celanaku. Dan kuletakkan uang berjumlah dua puluh juta di bale-bale. Aku hendak melangkah pulang, saat tiba-tiba pintu berderak. Seraut wajah terbit di balik pintu. Dia terperanjat melihatku.

“Aku, hanya ingin minta maaf. Dan mungkin uang itu bisa menebus kesalahanku padamu dulu,” aku tercekat sesaat, “walaupun aku tahu kesalahanku tak mungkin tertebus oleh apapun.”

“Kau tidak perlu berbuat itu, bahkan tidak seharusnya kau datang ke rumahku,” 

“Ima, aku benar-benar minta maaf.”

“Pergilah. Sebelum suamiku bangun dan mematahkan gigimu.”

Mata perempuan itu mulai merebak, air menuruni pipi tirus, menggantung di ujung rahangnya yang gemeretak menahan bah yang hampir pecah. Kemudian menetes satu persatu. Jatuh di lantai tanah berdebu tak jauh dari tempat kakinya berpijak.

Aku semakin tercekat.

“Pergi, pergilah!” dia semakin meradang.

Kata-kata yang hendak kuucapkan, urung keluar dari mulutku. Begitu ingin aku menghapus semua penderitaannya. Penderitaan yang telah aku benamkan dalam hidupnya lima tahun lalu. Pada sebuah malam, di atas perahu yang tertambat di pinggir pantai.

Aku melangkah gontai. Meninggalkan tangisan perempuan yang aku yakin akan terus menghiasi pikiranku sepanjang sisa hidupku. Kudengar rengekan kecil di sela isak tangis Ima. Rengekan yang semakin membuatku lunglai.