Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Menangkap Nyale




Pernah mendengar acara adat  Menangkap Nyale? Mungkin hanya sedikit saja yang tahu bahwa di Sumba Barat NTT, tepatnya di Kecamatan Wanokaka terdapat sebuah ritual adat yang masih sangat orisinil plus unik.

Ya, Menangkap Nyale. Ritual ini digelar secara tahunan setiap bulan Maret untuk mengawali Pasola yang dilaksanakan keesokan harinya.


Ritual Menangkap Nyale adalah sebuah upacara adat yang dipimpin oleh para Rato, untuk menanti kemunculan Nyale. Sejenis cacing laut berwarna cerah yang pada saat-saat tertentu akan banyak muncul di perairan sekitar pantai Wanokaka.

Cacing ini dipercayai membawa keberkahan bagi siapa saja yang menangkap dan mengkonsumsinya. Banyak pula yang mempercayai bahwa cacing ini dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Bahkan penduduk lokal biasa memakan cacing ini dalam keadaan hidup.



Bagi yang pengen nyoba gimana rasanya menelan cacing laut hidup-hidup sambil menikmati deburan ombak pantai Wanokaka, sila berkunjung ke Sumba Barat. Salam...

Batu Kubur Sumba Nan Antik

Batu kubur nan gagah dengan pahatan tanduk kerbau
Sore ini, sepulang dari kantor saya menyempatkan singgah di sebuah area kuburan di bawah Kampung Tarung. Letaknya persis di sebelah kanan jalan masuk utama kampung itu. Saya tertarik untuk mengabadikan  beberapa kuburan yang untuk ukuran di sekitar kampung itu lumayan megah di zamannya. 




Yang menarik  adalah batu kubur itu bercirikan meghalithikum. Batu kubur yang  sudah berusia tua itu menjadi ciri khas tersendiri dan keberadaannya tersebar luas di setiap perkampungan adat yang ada di Sumba. Jangan heran bila suatu saat anda berkunjung ke Sumba, batu kubur seperti ini akan anda jumpai di sepanjang perjalanan. 

Batu kubur ini dibuat dari sebongkah batu gunung yang dipotong secara manual. Dengan menggunakan kapak, parang dan gergaji,  ratusan orang bergotong royong memotong batu gunung itu, dan membentuknya menjadi dua bagian. Yang pertama adalah bagian utama yang  serupa kotak yang terbuka di bagian atasnya. Kemudian yang kedua adalah  penutupnya. Beberapa batu kubur pada bagian kepalanya dihias dengan ukiran kepala kerbau dan bagian ujungnya dihias dengan ukiran pantat kerbau.
 

Pahatan mamoli di kepala batu kubur

Karena dibuat dari batu gunung dan dikerjakan secara manual, sederhana pula, maka bisa dipastikan proses pembuatan batu kubur itu memakan waktu yang cukup lama. Itulah sebabnya mengapa mayat orang Sumba harus menunggu sampai bahkan sebulan lebih untuk dikuburkan. Selain penguburan itu harus menunggu semua keluarga dan sanak famili datang dari tempat yang jauh, pembuatan batu kuburnya pun menyebabkan si mayat harus menunggu lebih lama. Sehingga untuk mengawetkan mayat agar tidak membusuk dan menyebarkan bau tidak sedap, formalinlah solusinya.
Pahatan ayam di belakang batu kubur

Setelah jadi, batu kubur itu akan digulirkan dengan menggunakan tali tambang dan balok kayu ke tempat yang telah ditentukan, umumnya di halaman depan rumah, untuk kemudian jenazah dimasukkan kedalam batu kubur itu dalam posisi duduk memeluk lutut. 

Besarnya batu kubur itu bervariasi. Ada yang berukuran panjang empat meter, lebar dua meter dan tinggi dua meter. Saya melihat ada tiga batu kubur yang ukurannya lebih besar dibanding sepuluh batu kubur lain yang ada di situ. Namun itu tidak seberapa besar dibanding dengan sebuah batu kubur raksasa yang saya temui di sebuah desa di Kecamatan Tana Righu. Besarnya kurang lebih panjang tujuh meter , lebar lima meter dan tinggi tiga meter. Sayang saya tidak sempat mengabadikannya karena saat itu saya tengah menemani Bapak Kakanwil dan Ibu dalam sebuah kunjungan keluarga.

Besarnya ukuran batu kubur itu karena batu kubur itu memang dibuat untuk menampung banyak mayat dari klannya masing-masing. Saya membayangkan betapa repotnya mereka menggeser penutup batu kubur yang beratnya minta ampun sampai terbuka, memasukkan mayat lalu menggeser kembali penutupnya untuk menutup batu kubur itu. Dengan ukuran seperti diatas, ketebalan kurang lebih empat puluh sentimeter, anda pasti tahu untuk menggesernya butuh puluhan tenaga laki-laki dewasa.

Pahatan tanduk kerbau di bagian pangkal batu kubur
Pahatan ekor kerbau di ujung batu kubur
Pahatan kepala dan ekor kerbau di bagian pangkal dan ujung batu kubur itu punya cerita unik tersendiri. Mungkin anda sudah tahu bahwa kerbau adalah hewan utama yang perannya amat penting dalam kehidupan orang Sumba. Dalam setiap pesta dan perayaan adat, puluhan kerbau harus merelakan nyawanya untuk 'ditikam'. Pengorbanannya menjembati 'dunia bawah' dan 'dunia atas'. Dalam kepercayaan Marapu Sumba, seorang yang mati akan mengendarai kerbau untuk bisa mencapai kebahagiaan di 'dunia atas'. Sehingga mereka menyerupakan batu kubur itu sebagai seekor kerbau, kendaraan bagi si mayat.

Batu kubur ini dibuat pada tahun 1940
Ketika saya bertanya kepada teman saya, mengapa kuburan mereka harus dibuat seperti itu. Mama Enjel yang penduduk Kampung Tarung menjawab, orang sumba percaya bahwa orang mati tidak layak dikuburkan di dalam tanah, seperti bangkai hewan. Manusia derajatnya lebih tinggi dari pada hewan oleh karenanya meninggalnya pun tidak boleh dikuburkan seperti seekor hewan dikuburkan. Bahkan, dulu si mayat dikuburkan bersama dengan barang kesayangannya. Di Anakalang dan Waingapu, malahan konon hamba sahaya si mayat turut menguburkan dirinya hidup-hidup. Tradisi yang unik tapi sekaligus mencengangkan.

Belakangan ini, pembuatan batu kubur di rumah-rumah penduduk umumnya sudah dimodernisasi dengan menggunakan batu bata dan semen, kemudian dihias dengan menggunakan keramik.  Ukurannyapun lebih kecil. Untuk memudahkan bila ada mayat yang harus dikuburkan lagi di batu kubur tersebut, dibuatlah semacam pintu kecil dari beton di bagian ujung batu kubur. Praktis dan efisien, sesuai dengan perkembangan zaman kan? 

Masih banyak cerita menarik di balik keunikan batu kubur Sumba. Tapi rupanya kaki saya sudah ngadat, minta diistirahatkan di atas kasur empuk. Saya pun menyudahi acara jeprat-jepret kamera Blackberry di pekuburan adat Kampung Tarung ini. Sudah waktunya pulang dan memeluk gadis kecilku di rumah.

Kampung Adat Tarung

Rumah Adat Sumba
Mengunjungi perkampungan adat terbesar di Waikabubak adalah satu hal yang berulangkali saya tunda-tunda karena kesibukan saya. Padahal jarak perkampungan adat dari tempat tinggal saya cuma sekitar lima ratus meter saja.Dengan jalan kaki menempuh rute mendaki dengan kemiringan lumayan tinggi, saya sudah bisa sampai di sana dengan mudah. Namun akhirnya saya berkesempatan juga untuk tour ke sana, sambil menemani tamu dari Ditjen PAIS Kemenag RI. Hmmm, suatu kebetulan yang sangat pas.

Kampung adat itu bernama Kampung Tarung. Terletak di sebuah bukit yang rimbun dengan pepohonan yang sudah berusia tua. Setua kampung tersebut. Membuat suasana sekitar kampung itu menjadi teduh dan sejuk. Kampung itu merupakan pusat kampung adat yang ada di seluruh Waikabubak. Dan merupakan kampung adat terbesar di Sumba Barat.
 
Ketika memasuki perkampungan, kami berpapasan dengan beberapa ibu dan gadis-gadis cilik yang sedang berjalan menjunjung seember air di kepala dan kedua tangannya masing-masing memegang jerigen air berukuran lima liter. Kebiasaan yang mereka harus lakukan setiap pagi dan petang untuk memasok air bersih di dapur mereka. Kondisi geografis Kampung Tarung yang berada di sebuah bukit yang lumayan tinggi membuat penduduk kampung harus bersusah payah naik turun bukit itu demi seember air bersih.

Memang pada umumnya letak kampung-kampung adat di Sumba Barat hampir seluruhnya terletak di perbukitan. Ternyata kondisi itu dikarenakan latar belakang suku-suku di Sumba pada masa lalu adalah suku perang. Dengan memilih kampung adat di bukit, maka secara praktis keamanan mereka lebih terjaga jika suatu saat terjadi kontak senjata atau perang suku di antara mereka. Bukit telah menjadi benteng pertahanan alami bagi penduduk suatu kampung. Sangat masuk akal, sebab akses masuk ke kampung tersebut jadi terbatas dan lebih sulit dibanding bila berkampung di dataran rendah yang terbuka. 


Kini kampung tersebut dijadikan sebuah situs cagar budaya oleh Pemerintah Daerah setempat. Akses masuk sampai jalan setapak di dalam kampung tersebut telah dibangun oleh pemerintah, untuk memudahkan pengunjung yang setiap saat bisa datang kesana. Kesan tradisonal sangat kuat melekat pada kampung tersebut. Jejeran rumah-rumah panggung dengan atap menara yang terbuat dari ilalang kering berderet mengelilingi areal pemujaan yang terletak di tengah-tengah kampung. Sehingga kalau dilihat dari udara, perkampungan itu terlihat seperti lingkaran oval.

Tempat pemujaan

Secara sederhana, rumah-rumah di Kampung Tarung dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah kolong rumah yang berfungsi sebagai kandang binatang peliharaan mereka seperti anjing, babi, ayam dan bebek. Tidak heran saat kami mencoba untuk menengok ke salah satu rumah di situ, hewan-hewan itu berseliweran dengan bebasnya di antara kaki kami. Bagian kedua adalah ruangan utama yang diperuntukkan bagi penghuni rumah. Dan bagian terakhir adalah langit-langit rumah yang dikhususkan untuk menyimpan bahan persediaan makanan mereka seperti padi dan jagung.

Kami beruntung, ketika datang, beberapa ibu tua sedang duduk sambil menenun kain adat sumba yang unik sekali. Kain itu nantinya akan mereka jual di pasar atau langsung dijajakan kepada para turis yang datang. Harganya lumayan mahal, tapi untuk mereka yang suka mengoleksi benda-benda khas daerah yang unik, tentu harga itu tak jadi masalah. Secarik sarung adat atau lembaran yang khusus dibuat untuk baju dihargai antara seratus lima puluh sampai empat ratus ribu tergantung jenis benang dan motifnya. Lalu selembar taplak meja dihargai enam puluh ribu rupiah. Dan selembar selendang yang lebih mirip syal cukuplah merogeh kocek sedalam tiga puluh ribu rupiah. Itu masih bisa ditawar lho. 



Tanduk kerbau di depan rumah
Saat mengamati kegiatan si ibu yang sedang menenun kain sumba, mata saya tertumbuk pada deretan tanduk kerbau yang dipajang di beranda rumah itu. Persis disamping kiri dan kanan pintu masuk rumah. Tanduk kerbau itu dipasang secara berurutan berdasarkan ukuran panjang tanduk. Semakin ke bawah semakin besar tanduk yang dipasang. Jumlah puluhan. Rupanya itu adalah tanduk kerbau yang dipotong saat ada upacara kematian. Jumlah tanduk kerbau itu mencerminkan derajat sebuah keluarga di mata masyarakat sekitar.

Puas berkeliling dan menikmati pemandangan sekitar kampung itu, kami pun beranjak meninggalkan Kampung Tarung. Seorang ibu muda yang sejak awal setia menemani kami sembari berceloteh menjawab pertanyaan kami, mempersilahkan kami untuk mengisi buku tamu yang khusus dipersiapkan bilamana ada turis yang datang berkunjung. Sambil berbisik, driver kantor kami mengatakan kepada saya untuk menyelipkan selembar rupiah sepuluh ribuan di buku tamu itu.

Perjalananpun kami lanjutkan lagi menuju Bandara Tambolaka,untuk mengantar tamu kami kembali ke Jakarta.Mobil kami merayap pelan menuruni jalan yang curam, meninggalkan bayang-bayang gelap rumah-rumah adat di Kampung Tarung yang tersaput cuaca mendung pagi itu.


Suasana Kampung tarung di pagi hari




Kerewei

Dari Kecamatan Lamboya Kabupaten Sumba Barat, saya ingin mengajak kawan-kawan mengenali lagi sebuah pantai yang indah dan eksotis. Pantai Kerewei namanya. Pantai ini terletak di sebuah teluk yang indah dengan  pohon-pohon nyiur yang melambai-lambai di sepanjang pinggirnya. Pantai dengan panjang sekitar dua kilometer ini berpasir putih dan sangat landai. Sangat nyaman bila kita ingin mengajak keluarga untuk berenang di sana.
Pantai Kerewei
Pada sisi sebelah kanan teluk, terdapat satu lokasi yang menjadi favorit para pengunjung dimana tergolek sebuah pulau karang kecil dengan diameter kurang lebih tiga puluh meter. Bila air laut sedang surut, kita bisa berjalan menuju pulau itu dan menyaksikan biota-biota laut yang terjebak di lekukan-lekukan karang. Indah dan menggemaskan. Bahkan bila kita punya cukup keberanian, kita bisa mendaki ke puncak pulau karang itu. Tidak terlalu tinggi, sih. Namun cukup mendebarkan, karena untuk mendakinya kita harus menaklukkan karang-karang yang tajam. Dari atas pulau itu kita bisa memandang hamparan laut yang biru kehijauan. Dan bila beruntung, kita bisa pula menyaksikan ikan-ikan karang nan elok berkejaran di laut yang jernih.

Pantai pasir putih nan landai dan luas
 

Persis di bibir pantai tidak jauh dari pulau karang itu, ada lagi sebuah batu karang yang lebih kecil. Batu karang ini sering dijadikan objek latar belakang para pengunjung untuk berfoto-foto. Pada sebuah sudutnya, batu karang itu membentuk serupa gapura setinggi bahu orang dewasa. Siapapun pasti tergoda untuk berpose di sana.

Berpose di gapura karang
Puas berjalan menyusuri pasir putih yang halus, air laut yang tenang seakan membujuk kita untuk menceburkan diri didalamnya. Tidak perlu kuatir tenggelam atau terseret arus ombaknya, karena pantai itu landai dan berarus tenang. Mungkin itu pula sebabnya, penduduk lokal memanfaatkan pantai itu untuk menanam rumput laut. Berenang berlama-lama di sana terasa sangat menyenangkan.




Nyaman bermain di tepi pantai
Sayangnya dengan semakin banyaknya pengunjung yang datang, kondisi pantai menjadi kotor oleh sampah plastik. Kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan pantai masih sangat kurang. Saya kadang geram, tapi tidak tahu harus berbuat apa. Kecuali sebisa mungkin berusaha mengumpulkan sampah-sampah plastik yang berserakan dan membakarnya. Sekedar untuk mengurangi saja. Karena untuk membersihkannya secara total perlu kesadaran orang banyak. Namun sekecil apapun andil yang saya berikan, mudah-mudahan saja bisa tetap menjadikan pantai itu bersih dan indah.

Kapan-kapan, kalau anda hendak melintasi Sumba menuju Australia, silahkan mampir ke Pantai Kerewei. Hehehehe....


Berenang




Repost dari catatan fesbukku.

Lailiang...

Pantai Lailiang nan indah
Beberapa hari yang lalu saya diajak suami jalan-jalan ke Pantai Lailiang di Kecamatan Wanokaka. Pantai yang terletak di selatan pulau Sumba ini konon masih perawan dan sangat indah. Terselip diantara dua tebing karang, pantai ini membujur dihiasi pasir putihnya yang lembut. Dari kejauhan, diatas bukit sebelum sampai ke bibir pantai, saya suka sekali  deburan ombaknya yang terdengar dari kejauhan bergemuruh terpadu dengan riak air lautnya yang biru kehijauan..

Namun sebenarnya saya sedang memikirkan hal lain ketika kami sampai di persimpangan jalan yang membagi rute jalan ke pantai Lailiang itu. Ada pantai lain di garis yang sama dengan Lailing yang selama ini  dipergunakan sebagai tempat untuk melaksanakan sebuah permainan olahraga gulat tradisional  yang dikenal dengan nama “Pajura”. Saya yakin pantai itu sama indahnya dengan Lailiang mengingat kesamaan letak geografis dan keperawanannya. Lalu jika kita terus menelusuri garis pantai itu, kita akan menemukan pantai-pantai lain yang lebih indah lagi.

Banyaknya pantai indah yang menawan di sepanjang selatan Pulau Sumba, menggelitik hati saya, mengapa keindahan ini  seperti sia-sia dan tidak terjamah oleh pembangunan pariwisata. Entah karena tidak tahu bagaimana caranya, atau memang tidak melihat itu sebagai peluang untuk memajukan pariwisata di Sumba . Pemerintah daerah dalam hal ini dinas yang mengelola pariwisata seperti sedang tidur nyenyak saja. Padahal jika dikelola secara serius Pulau Sumba bisa menyamai keelokan Pulau Dewata. Saya tidak bercanda kawan. Alam yang masih natural, masyarakat adatnya yang masih tradisonal, situs-situs batu kubur megalithikum yang mengagumkan dan upacara-upacara adatnya yang sangat magnificent, bersinergi menjadi pemandangan yang harmoni, magis dan indah.

Sesungguhnya, ada secuil kecemburuan di hati saya sewaktu mendengar ada seorang ekspatriat yang melihat peluang itu dan menangkapnya dengan sigap. Dengan skill dan mungkin pengalamannya di negaranya dalam mengelola pariwisata serta kemampuan finansialnya yang memadai, dia mendapatkan hak istimewa untuk mengelola sebuah pantai yang luar biasa indahnya. Menyulapnya menjadi sebuah resor eksklusif yang privasinya amat terjaga. Kemudian menjualnya kepada para wisatawan asing yang memiliki kocek tebal. Disana, bule-bule bebas berjemur dan menikmati deburan ombak di atas papan selancar, tanpa ada gangguan.

Tebak berapa tarifnya semalam? Enam juta rupiah. Pikirku ini gila. Seorang bule yang mungkin saat itu nyasar ke Sumba, sekedar membuang uang untuk jalan-jalan ke pelosok Indonesia, kini malah berubah menjadi seorang yang menghasilkan milyaran uang setahunnya dari sepotong pantai di Sumba yang sebenarnya bukan miliknya. Saya tidak tahu persis, apakah pemerintah daerah mendapatkan bagian dari semacam pembagian profit yang dihasilkannya. Atau sekedar menerima pajak PPN dan PPhnya yang mungkin tidak seberapa.

Saya membayangkan banyaknya keuntungan yang didapat oleh masyarakat Sumba dari sektor wisata seandainya saja pemerintah mau sedikit menengok ke sana. Pendapatan ekonomi sektor besar dan kecil meningkat, akses transportasi dan informasi semakin terbuka, dan otomatis akan memacu kemajuan-kemajuan di bidang lain.

Pertanyaan saya ini akan selalu tinggal sebagai pertanyaan. Selama pemerintah tidak tergerak untuk lebih menengok ke sana. Peduli dan berusaha lebih serius menggali potensi alam yang dimiliki oleh Sumba. Apa yang bisa diharapkan dari sebuah pulau yang hanya bisa ditumbuhi oleh rumput-rumput sabana? Kecuali keindahan alamnya dan keunikan etniknya yang tradisional.

Teramat sayang, membiarkannya terabaikan, hanya dinikmati oleh segelintir orang seperti saya dan suami yang memang sangat menyukai pantai. Hingga pada akhirnya malah rombongan turis-turis bule yang tidak peduli sama sekali akan kemajuan Sumba yang menikmati keindahannya.  Menghabiskan dolarnya lalu mengalir deras memenuhi kocek seorang bule lain yang jeli matanya melihat lembaran-lembaran dolar tersembul di balik kilauan pasir putih di sebuah pantai indah di Sumba.

Tapi, mumpung belum ramai oleh wisatawan asing dan domestik. biarlah saya bersama suami  memuaskan diri menikmati keindahannya. Hehehehe.


Repost from my fb Note.