Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Menemukan Tuhan
Tuhan itu dekat. Bahkan lebih dekat dari urat nadi di lehermu.
Begitulah yang tertera dalam kitab suci. Begitulah yang dikatakan oleh orang-orang suci. Orang-orang yang sejak zaman azali telah Tuhan tetapkan untuk bernafas, berjalan dan hidup sepenuhnya di jalan Tuhan. Bagi mereka, mudah sekali untuk menemukan Tuhan. Sebab sejak ruh ditiupkan ke dalam raganya, telah disemayamkan dalam detak pertama jantungnya keagungan nama Tuhan. Selanjutnya, begitu saja, mudah saja, seperti telah digerakkan oleh mesin, bibir mereka --orang-orang suci itu-- selalu basah oleh nama Tuhan.
Tapi bagi orang-orang yang pernah tersesat, orang-orang yang kehilangan jalan, orang-orang yang menyimpan tanda tanya besar akan 'wujud' Tuhan, pertanyaan dimana Tuhan adalah perjalanan panjang yang bahkan kerap menghabiskan seluruh waktu pencariannya. Tak jarang orang-orang itu, harus berjibaku, dengan perang batin dan petualangan yang mencengangkan. Dan ketika sampai pada saat mereka menemukan bahwa Tuhan selalu bersemayam di dalam dirinya, mereka telah sampai di ujung nyawa. Meski demikian, di akhir nafasnya, merekalah yang sesungguhnya paling bahagia.
Mereka adalah para pencari Tuhan. Orang yang dianugerahi jiwa penjemput hidayah. Bukan hanya sekedar menjalankan tradisi dan ritual yang telah ada sejak lahir. Mereka memilih jalan untuk menelusuri keberadaan Tuhan. Mencari kebesaran kuasa Tuhan melalui pertanyaan-pertanyaan yang menggema dalam hatinya. Lalu berjalan menyeruak keramaian orang-orang. Bercampur dengan hitam dan kerasnya kehidupan. Menghirup bau mulut orang mabuk. Berkeliaran dan melanggar aturan.
Meretas jalan terjal yang mungkin menghantarkan dirinya kepada penemuan akan kehadiran Tuhan.
Di saat mereka tenggelam dalam wilayah yang dianggap hitam, justru mereka sesungguhnya tengah meneriakkan nama Tuhan. Tengah berbicara dan memohon, Tuhan temukan aku... Tuhan bawalah aku dalam rengkuhanMu...Tuhan jangan tinggalkan aku.
Berbahagialah mereka yang tidak pernah mengalami, apa yang sering orang sebut sebagai jalan sesat. Namun sejatinya, orang yang pernah tersesat saat mencari kebenaran, yang tersaruk-saruk menemukan Tuhan, adalah mereka yang lebih disayang oleh Tuhan...atas semua yang telah mereka lalui.
Mencangkul di Ladang Pahala
![]() |
| Yang berseragam dan tidak berseragam bahu membahu bersama |
Hari Jumat selepas Ashar, tanggal 15 kemarin, saya tengah iseng mencabuti ramput yang tumbuh liar di halaman rumah. Segerombolan suami-suami yang hampir tiap hari nongkrong di rumah demi mencari suasana santai selepas kerja penat seharian, ramai membicarakan sesuatu. Jelas sekali di situ yang bersuara paling vokal adalah my beloved husband, hehehe.
Kelihatannya serius, nih. Saya membatin sambil mengorek-ngorek akar rumput dengan parang tumpul. Entah karena parangnya yang tumpul atau tertarik dengan isi pembicaraan para suami-suami itu, akhirnya saya malah lebih menegakkan cuping telinga saya ketimbang merapihkan rerumputan yang tercerabut tidak tentu arah itu.
![]() |
| Estafetkan pahala hingga puncak langit |
Ini sesuatu tentang bagi kerja pagi, siang dan malam. Tentang penumpukan kerja pada pagi hari bila tidak dibagi shift. Dan masing-masing lelaki itu mengatakan saya bagian pagi, saya bagian siang, dan ada yang memilih malam. Penasaran, pembicaraan tentang apa ini? Tersebab saya adalah golongan kaum perempuan bekerja yang hommy, alias kalau pulang kerja langsung ngerem di rumah saja, alhasil saya sama sekali tidak bisa menduga-duga arah pembicaraan mereka.
Okelah, akan saya tunggu sampai suami menceritakannya dengan jelas apa yang mereka diskusikan dengan semangat 45 itu. Meskipun saya penasaran setengah mati, tapi saya agak gengsi untuk bertanya. Takut dijawab dengan kelakar kering oleh suami: "mau tau aja atau mau tau banget?" Hehehe...
Dan sampai keesokan harinya saya sama sekali tidak mendapat clue, atau jawaban dari kepenasaran saya itu. Yah, sudahlah...
![]() |
| Ketua Ta'mir Masjid Agung Al Azhar Sumba Barat , Sang Pelopor Renovasi |
Maka, keesokan harinya, saya siap tempur melawan segunung cucian, baju kotor sekeluarga selama seminggu dan dua set bedcover kotor yang tebalnya, alamaaak. Hal yang membuat saya penasaran semalaman sudah tergulung deru mesin cuci yang berderak-derak menggilas cucian. Saya berkeringat di hari yang tak panas itu.
Tidak lama kemudian, ketika saya sedang meraup cucian untuk dimasukkan ke dalam mesin cuci, saya kedatangan tamu. Rupanya Mama Tanjung, begitu saya memanggilnya, datang untuk membicarakan rencana memasak lauk untuk santapan dalam acara pengecoran dek Masjid Agung Al Azhar yang tengah di renovasi besar-besaran. Ziiiip, benak saya langsung nyantol. Ohhhh, ini toooh yang diobrolkan oleh para lelaki budiman itu. Rupanya mereka bersiap menyumbang tenaga untuk menyukseskan pengecoran tersebut.
![]() |
| Pemandangan kegiatan gotong royong dari seberang jalan |
Sementara para lelaki yang sumbang tenaga untuk mempercepat proses pengecoran, para ibu urun tangan menyiapkan santapannya. Aduhai, harmonisnya. Saya salut akan kebersamaan ini. Berapa banyak sih, pembangunan masjid yang hampir seluruh prosesnya melibatkan urun tangan warganya? Bukan hanya pada pengumpulan dananya saja. Melainkan sampai pada proses pembangunannya. Saya tahu persis, karena Ketua Ta'mirnya adalah atasan saya di kantor, sehingga saya tahu bahwa panitianya merangkap sebagai perancang desainnya, kontraktornya, mandor, tukang belanja bahan, bahkan ikut bekerja seperti dalam proses pengecoran dek ini. Sehingga tidak heran saat ada pekerjaan kasar sekalipun yang membutuhkan tenaga masal, sekali calling di masjid, warga berduyun-duyun datang berpartisipasi.
![]() |
| Rapatkan barisan.... |
Lihatlah, betapa guyubnya semua orang yang merasa memiliki kecintaan kepada masjid tertua di Waikabubak ini. Rela menyisihkan waktu dan tenaganya untuk menyokong pembangunan rumah ibadah tempat Tuhan bersemayam. Ada dorongan dari hati yang terdasar untuk turut melangitkan pujian kepada Sang Maha Pencipta dengan berkotor-kotor dan berpayah-payah melarutkan cairan cor-coran ke atas dek masjid. Diterpa panas, diterjang angin dan ditimpa deraian hujan. Sejak matahari mengintip di balik bukit dan pepohonan sampai gelap merajai angkasa. Semua berpadu.
![]() |
| Tetap semangat meskipun bekerja saat malam |
Alangkah indahnya bila sendi-sendi kehidupan bermasyarakat selalu dijalani dengan konsep yang sudah hidup sejak nenek moyang kita yang purba dulu. Beban yang berat akan ringan. Hal yang mustahil bisa terwujud. Dan semua kebanggaan ketika sesuatu itu tercapai, akan dirasakan dengan porsi yang sama. Tidak ada yang merasa lebih berjasa, tidak ada yang tinggi mengakui semua terjadi karena uangnya. Semua ikut bangga sebab ada nilai magis yang tak bisa ditukar dengan tumpukan uang, jasa atau nama. Nilai-nilai ilahiyah yang mungkin ada di sela-sela hati yang sibuk oleh dunia, bahkan pada seorang hamba yang masih jauh dari Tuhannya.
![]() |
| Barisan ibu-ibu majelis ta'lim penyuplai semangat dan tenaga |
Masih banyak tenaga, waktu, dana, pikiran dan keringat yang harus dilakukan demi berdirinya Masjid Agung Al Azhar yang anggun dan kokoh. Masih perlu banyak tangan-tangan terulur demi kebanggaan umat Islam itu.
Sore itu, minggu tanggal 17 Maret 2013, suami saya pulang dengan tangan hampa.
"Yaah, Mi. Abi ga kerja tadi." seolah petani yang gagal panen ia berkata.
"Lo, kenapa? Bukannya abi datang ke masjid untuk kerja?" saya balik tanya.
"Waktu abi mau kerja, Aba Ibni larang saya; 'eeeets, kau tak usah kerja' katanya."
Saya tersenyum. Masih banyak ladang pahala menunggu untuk dicangkul. Semoga masih diberi waktu.
Waikabubak, 22 Maret 2013
Tentang Hati
Ada apa dengan Hati? Apakah membahas hati ada kaitannya dengan presiden PKS yang sedang terlibat perkara korupsi sehingga membuat sebagian orang ketar-ketir dan sebagian lagi tertawa dan menganggapnya kisah satir? Ataukah perlu membincangkan hati, sebab urusan hati yang jikalau galau bisa membuat artis pujaan para gadis dan janda muda sekelas Rafi Ahmad tersandung kasus narkoba? Mungkin jugakah hati perlu dibicarakan secara diam-diam, karena menyangkut hati, seorang paling saleh pun bisa menduakan cinta.
Hati bukan sekedar segumpal daging yang bertumbuh dan memberi denyut kehidupan pada sebatang tubuh yang tengah menelusuri usia. Hati adalah pangkal sikap. Tempat dimana seorang manusia patut bertanya apakah sesuatu yang ia lakukan sudah sesuai dengan tuntutan hati nurani. Meski pada kenyataannya, hati sering kali terabaikan oleh kepentingan-kepentingan sesaat. Yang justru malah membuat seseorang tersesat.
Saya, tergugah dengan judul ini tadi pagi. Judul yang diberikan oleh seorang teman penulis muda dari Pematangsiantar. Bersamanya, saya mencoba mengerjakan project menulis buku Kumpulan Cerpen sejak Maret 2012 lalu. Kini setelah menunggu hampir setahun lamanya, akhirnya draft Kumpulan Cerpen itu selesai dikerjakan, tinggal memolesnya di sana sini untuk sentuhan akhir, mungkin Maret 2013 ini buku Kumpulan Cerpen yang diberi tajuk Tentang Hati ini, akan bisa rilis.
Kumpulan Cerpen ini hanya kumpulan cerpen cinta. Sama sekali tidak membahas korupsi, narkoba atau selingkuhnya seorang religius. Namun jelas tergambar pada cerpen-cerpen yang terkumpul dalam buku ini, bahwa hati menjadi patokan seseorang untuk bersikap. Ketika cinta kemudian meleset dari pijakan jalan yang seharusnya, maka terjadilah prahara. Sebaliknya jika cinta teguh menelusuri jalan kebaikan, maka ketenangan hidup akan tercapai.
Hanya saja, terkadang, cinta tidak sesederhana itu. Urusan cinta kadang serumit hidup itu sendiri. Hingga pernah saya mendengar orang berkata: "Mati itu mudah dan menentramkan, hidup itu sulit dan rumit." Tapi itu tak sepenuhnya benar juga, bukan?
Singkatnya, bagaimana berurusan dengan hati, jelas-jelas akan menentukan seperti apa hidup kita akan kita jalani. Entah itu saat kita berhadapan dengan setumpuk uang yang siap dikorupsi, atau satu dua linting ganja untuk kita sesap saat beban stress bergumul di kepala, atau sekedar menolak satu senyum yang menggoda jiwa yang bisa menafikan cinta seseorang yang sudah sekian lama mengorbankan hidupnya untuk kita...
Semua tergantung kita. Tergantung hati kita.
Buku
Membaca buku adalah sebuah keasyikan tersendiri yang sulit saya cari bandingannya. Buku membuka cakrawala luas yang terbentang di hadapan saya. Saya bisa mengetahui apa yang sebelumnya saya tidak tahu. Saya bisa mengenal sesuatu yang sebelumnya saya tidak kenal. Saya bisa menyusuri jalan sebuah tempat yang bahkan belum pernah saya injak sebelumnya. Semua karena buku.
Namun, itu baru sekelumit tipis manfaat membaca yang saya rasakan. Dengan membaca buku, setiap kali, saya akan belajar untuk merangkai kata. Meski awalnya hanya tersimpan di benak, tapi kemudian lama-lama saya akan terangsang untuk mengekalkannya dalam sebuah tulisan. Saya sekarang jadi suka menulis. Lalu mulai berkeinginan untuk menulis sesuatu yang berarti. Dan membuahkan sebuah karya. Sebuah buku karya saya sendiri.
Betapa menyenangkan, mengetahui semua orang membaca buku yang saya tulis.
Hanya saja, saya tidak bisa dengan mudahnya mewujudkan keinginan saya itu. Ternyata menulis bukan suatu hal mudah. Meskipun banyak yang bilang menulis bukan sesuatu yang sulit. Maka saya harus belajar banyak. Membaca banyak. Dan, berusaha berteman dengan seseorang yang berhasrat sama untuk menulis.
Membaca buku yang bagus akan juga membuat kita bisa menulis bagus. Kata orang begitu. Tapi saya malah tertarik untuk membaca buku dari seorang teman yang kita kenal secara pribadi, bahkan bila buku itu bukan buku best seller. Ada semacam kekuatan yang bisa menulari saya untuk segera menyusul teman tersebut dalam menghasilkan karya nyata. Sebuah buku. Saya bisa berbincang tentang bagaimana proses kreatif teman tersebut dan liku-liku pembuatan buku itu. Saya bisa merasakan inspirasi yang merambat naik ke kepala saya karenanya.
Dan kini sebuah buku karya seorang teman, hadir di depan saya. Xixi, Diary Sang Rising Star. Begitu judulnya. Beberapa hari sebelumnya saya berbincang di fasilitas chat sebuah jejaring sosial dengan penulisnya. Mengeluhkan betapa sulitnya saya mendapatkan feel untuk melanjutkan sebuah draft novel yang saya tulis hampir dua bulan yang lalu. Dan berharap dengan perbincangan mengenai buku Xixi, Diary Sang Rising Star itu saya tertulari virus menulis sang penulisnya.
Di samping itu ada kebahagiaan tersendiri, membaca buku dari seseorang yang kita kenal. Sebelumnya saya pernah membeli buku Gandamayu karya Putu Fajar Arcana, kolumnis di koran Kompas. Betapa senangnya saya mendapati pada buku itu tertoreh tanda tangan beliau dan sebuah gambar gelas coretan tangan beliau sendiri. Lalu tiga bulan lalu saya mendapatkan tanda tangan dari seorang penulis wanita yang inspiratif dari Cirebon, Nyai Hj, Masriyah Amva pada tiga buku karya beliau yang diterbitkan oleh Penerbit Kompas.
Meskipun untuk buku Xixi, Diary Sang Rising Star ini, saya belum mendapatkan tanda tangan penulisnya, namun saya cukup mendapatkan pencerahan dan penguatan dari penulisnya agar saya bisa menghidupkan kembali semangat menulis saya yang sempat redup.
Suatu saat, insya Allah, saya bisa ketemu Mas Agung Masopu sang penulis buku novel ini, dan meminta tanda tangannya. Syukur-syukur saya mendapatkan tanda tangannya itu setelah saya juga berhasil menelurkan sebuah buku novel karya saya sendiri.
Semangat......!
Namun, itu baru sekelumit tipis manfaat membaca yang saya rasakan. Dengan membaca buku, setiap kali, saya akan belajar untuk merangkai kata. Meski awalnya hanya tersimpan di benak, tapi kemudian lama-lama saya akan terangsang untuk mengekalkannya dalam sebuah tulisan. Saya sekarang jadi suka menulis. Lalu mulai berkeinginan untuk menulis sesuatu yang berarti. Dan membuahkan sebuah karya. Sebuah buku karya saya sendiri.
Betapa menyenangkan, mengetahui semua orang membaca buku yang saya tulis.
Hanya saja, saya tidak bisa dengan mudahnya mewujudkan keinginan saya itu. Ternyata menulis bukan suatu hal mudah. Meskipun banyak yang bilang menulis bukan sesuatu yang sulit. Maka saya harus belajar banyak. Membaca banyak. Dan, berusaha berteman dengan seseorang yang berhasrat sama untuk menulis.
Membaca buku yang bagus akan juga membuat kita bisa menulis bagus. Kata orang begitu. Tapi saya malah tertarik untuk membaca buku dari seorang teman yang kita kenal secara pribadi, bahkan bila buku itu bukan buku best seller. Ada semacam kekuatan yang bisa menulari saya untuk segera menyusul teman tersebut dalam menghasilkan karya nyata. Sebuah buku. Saya bisa berbincang tentang bagaimana proses kreatif teman tersebut dan liku-liku pembuatan buku itu. Saya bisa merasakan inspirasi yang merambat naik ke kepala saya karenanya.
Dan kini sebuah buku karya seorang teman, hadir di depan saya. Xixi, Diary Sang Rising Star. Begitu judulnya. Beberapa hari sebelumnya saya berbincang di fasilitas chat sebuah jejaring sosial dengan penulisnya. Mengeluhkan betapa sulitnya saya mendapatkan feel untuk melanjutkan sebuah draft novel yang saya tulis hampir dua bulan yang lalu. Dan berharap dengan perbincangan mengenai buku Xixi, Diary Sang Rising Star itu saya tertulari virus menulis sang penulisnya.
Di samping itu ada kebahagiaan tersendiri, membaca buku dari seseorang yang kita kenal. Sebelumnya saya pernah membeli buku Gandamayu karya Putu Fajar Arcana, kolumnis di koran Kompas. Betapa senangnya saya mendapati pada buku itu tertoreh tanda tangan beliau dan sebuah gambar gelas coretan tangan beliau sendiri. Lalu tiga bulan lalu saya mendapatkan tanda tangan dari seorang penulis wanita yang inspiratif dari Cirebon, Nyai Hj, Masriyah Amva pada tiga buku karya beliau yang diterbitkan oleh Penerbit Kompas.
Meskipun untuk buku Xixi, Diary Sang Rising Star ini, saya belum mendapatkan tanda tangan penulisnya, namun saya cukup mendapatkan pencerahan dan penguatan dari penulisnya agar saya bisa menghidupkan kembali semangat menulis saya yang sempat redup.
Suatu saat, insya Allah, saya bisa ketemu Mas Agung Masopu sang penulis buku novel ini, dan meminta tanda tangannya. Syukur-syukur saya mendapatkan tanda tangannya itu setelah saya juga berhasil menelurkan sebuah buku novel karya saya sendiri.
Semangat......!
Geliat Masjid Agung Al Azhar
![]() |
| Bangunan Masjid Agung Al Azhar lama yang akan tinggal kenangan |
Bagi umat Islam di Pulau Sumba Nusa Tenggara Timur, sebuah bangunan tua yang sederhana menyempil di
sela-sela jejeran pertokoan di pusat
kota Waikabubak ini pastilah tidak asing keberadaannya. Meski secara fisik
masjid pertama yang didirikan di Waikabubak ini sangat jauh berbeda
penampilannya bila dibandingkan dengan
masjid-masjid agung di kota-kota lain di Indonesia, namun eksistensi masjid
yang bersejarah bagi perkembangan umat Islam di Waikabubak dan sekitarnya ini
sangatlah penting. Sudah lebih seabad lamanya masjid ini menjadi pusat kegiatan umat Islam di Sumba Barat.
![]() |
| Kegiatan pertemuan tokoh agama dan masyarakat di Waikabubak untuk membahas rencana pemugaran Masjid Agung Al Azhar |
Masjid Agung Al Azhar didirikan pada tahun 1911. Awalnya
bangunan masjid itu terbuat dari bambu yang dipecah atau dipipihkan sebagi
dindingnya. Sedangkan atapnya menggunakan alang-alang kering. Bentuk masjid itu
pada masa itu mirip sekali dengan rumah alang-alang khas penduduk Sumba asli di
pedalaman. Hanya saja, masjid ini tidak memiliki kolong sebagaimana rumah alang-alang
lazimnya.
![]() |
| Para tokoh agama dan anak-anak yang belajar mengaji di masjid berfoto bersama di depan bangunan pertama Masjid Agung Al Azhar. |
Sebagai satu-satunya pusat ibadah umat Islam saat itu, masjid
ini dijadikan tempat pertemuan para tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam
membahas berbagai masalah yang berkaitan dengan perjuangan dan kemerdekaan.
Meskipun skalanya kecil, namun hal tersebut
menjadikan masjid ini sebagai saksi sejarah Indonesia di masa lampau. Terlebih
secara administratif, Abdullah Bamualim oleh
Pemerintah Belanda yang masih berkuasa ditunjuk sebagai Kepala Orang Islam atau
Penghulu.
![]() |
| Para Tokoh Agama dan Masyarakat yang mengadakan kegiatan di Masjid Agung Al Azhar tempo doeloe |
Pada tahun 1937, bangunan masjid di rehab dengan mengganti
atap alang-alang menjadi atap seng. Kemudian pada tahun 1970 direhab untuk
mengganti dindingnya menjadi dinding permanen. Terakhir masjid Al Azhar ini
direhab pada tahun 1980 dengan biaya BanPres sebesar Rp. 17.500.000,-. Kemudian
atas prakarsa tokoh umat Islam yakni H. MBH, Algadri (alm) masjid pertama di
Waikabubak tersebut secara resmi ditetapkan sebagai Masjid Agung Sumba Barat
dan diberi nama Al Azhar.
![]() |
| Masjid Agung Al Azhar setelah mengalami perbaikan atap pada tahun 1937 |
Di usianya sekarang yang
menginjak 102 tahun, Masjid Agung Al Azhar akan kembali mengalami perbaikan.
Rencana renovasi besar-besaran masjid ini sudah digaungkan sejak beberapa tahun
belakangan, namun karena faktor romantisme masa lalu dari para pengurus sepuh
di masjid ini, renovasi ini baru bisa dilaksanakan tahun 2012.
Dengan rencana biaya renovasi sebesar 7 milyar lebih, diharapkan dalam empat tahun
ke depan, Sumba Barat sudah bisa memiliki masjid agung yang representative dan
menjadi kebanggaan umat Islam. Sudah terlampau lama, Masjid Agung Al Azhar
mempertahankan bentuk fisiknya yang sudah tidak memadai lagi untuk menampung
jamaah dan juga secara arsitektur belum menampilkan ciri khas yang membanggakan
Islam, kecuali kubah tuanya yang terbuat dari seng.
![]() |
| Renovasi Masjid Agung Al Azhar yang sedang berjalan |
Kini sudah saatnya, masjid ini berdandan cantik agar semakin
menggairahkan umat Islam untuk berduyun-duyun menyesaki rumah ibadah ini untuk
mengagungkan nama Allah.
Cinta Luka
Ketika malam mencengkeram kepalamu hingga kantuk lenyap, apa yang kau lakukan
untuk membunuh sepi yang menyengat? Kebanyakan orang mungkin mengalihkan
perhatian pada hiburan yang justru makin semarak pada saat malam makin
beranjak. Sebagian meleburkan diri pada permenungan panjang.
Aku?
Terbangun dan tetiba, entah mengapa ingatanku tumpah pada
dua sosok insan yang tengah dirajam perihnya memperjuangkan cinta. Aku yakin
mereka, dua anak manusia yang kini setiap mengingat cintanya berguguranlah air
matanya itu, tengah larut dalam sujud-sujud mereka yang khusyu’, hanyut dalam
doa-doa yang lirih dan perih. Menjeritkan kepasrahan pada takdir pahit yang
mungkin siap menghadang jalan hidup mereka.
Cinta adalah kekuatan yang dahsyat. Cinta mampu menggerakkan
hati yang lemah untuk menjadi kuat. Bukan sekali kita pernah mendengar betapa
kekuatan cinta bisa mengubah hidup seseorang. Seseorang bahkan berkelana
mencari cinta ke penjuru dunia, meski kemudian menyadari bahwa cinta yang ia
cari ternyata selama ini ada di seberang jalan rumahnya. Dan banyak anak
manusia yang meninggalkan rumah, mengabaikan zona nyaman, meninggalkan
orang-orang terdekat yang sontak menentang
cintanya, lalu menjadi orang yang tak berumah, ‘menderita’ dan asing,
semua demi cinta. Ada banyak anak manusia yang menanggalkan imannya, menjadi
‘kafir’ juga demi sebuah rasa yang semu tapi sekaligus berdaya tenaga besar,
yaitu cinta.
Cinta terkadang datang menembus batasan, sekat, dan
peraturan dan harapan. Itulah mengapa cinta pun memiliki gaya hancur yang luar
biasa terhadap semua tatanan yang ada.
Sesungguhnya cinta diciptakan oleh Tuhan sebagai pengikat
batin yang dipenuhi oleh rasa welas asih. Cinta itu menenteramkan. Cinta dengan
caranya sendiri, telah memberikan sinyal pengikat itu antara dua hati. Orang
akan begitu saja tahu, bahwa dialah orang yang tepat baginya. Untuk itulah
cinta layak diperjuangkan. Sebab cinta dan takdir selalu seiring sejalan.
Bukankah takdir tidak menghendaki kepasrahan buta, tanpa usaha dan ikhtiar.
Serupa itulah cinta yang tengah menanti takdirnya, harus diperlakukan. Cinta
butuh perjuangan.
Ah, rupanya aku tengah mengigau, menceracau seolah aku ahli
cinta. Jelasnya, aku sedang turut merasakan kegalauan yang melanda mereka.
Beruntungnya aku memiliki orang-orang yang mengasihiku, yang membiarkan aku
menjemput kebahagianku sendiri tanpa turut campur yang terlampau restricted. Meski aku harus terpelecat
jauh dari tempat aku lahir dan
bertumbuh. Orang tuaku percaya cinta adalah bekal utama hidup berumah tangga,
bukan harta, keturunan, kesempurnaan fisik, ras, atau golongan.
Bagaimana mereka yang dihadang oleh keyakinan yang keliru tentang
pilihan jodoh ini akan berbuat? Haruskah mereka menerjang rintangan dan
menanggung beban resiko yang berat disandang? Ataukah mereka pada akhirnya
harus menyerah dan mencerabut cinta yang sudah demikian kuat mengakar di dalam
hati mereka?
Aku tak dapat membayangkan. Kecuali selarik doa yang
kulangitkan untuk mereka. Semoga cinta tidak menyisipkan duka derita
berlama-lama.
Nonton Film N5M? Engga Deh Kayaknya....

Heboh launching film Negeri 5 Menara, tidak membuat saya penasaran untuk menonton filmnya. Saya sudah membaca novelnya hampir dua tahun yang lalu. Dan berhubung saya termasuk pembaca lambat (diterjemahkan dari slow reader), maka untuk bisa mendapat gambaran yang utuh terhadap sebuah bacaan, saya harus membaca novel Negeri 5 Menara sampai berulang kali. Mungkin juga karena saya semakin bertambah umur semakin lemot ya, hehehe. Saya sudah sampe ngelontok baca novelnya.
Rasanya seperti yang lalu-lalu, saya sudah bisa menduga bahwa sebuah film yang diadaptasi dari novel yang sudah lebih dulu melejit popularitasnya akan meninggalkan kesan yang datar-datar saja. Bahkan banyak juga yang bilang bahwa film itu jauh dari ekspektasi para penikmat film. Mengecewakan mungkin, sederhananya.
Saya melihat ada beberapa faktor yang membuat film-film yang diadaptasi dari novel itu berakhir tidak sama seperti popularitas novelnya. Pertama sekali, buat pembaca yang seperti saya, membaca novelnya secara berulang-ulang telah mematri scene demi scene dalam alur kisah tentang si tokoh dan setiap detil dramatisasinya. Dalam novel Negeri 5 Menara, saya begitu larut saat membaca Alif (Tokoh Utama) "ngambek" kepada orangtuanya terutama kepada Ibunya saat mereka mengharuskan Alif masuk Madrasah (Pondok Pesantren) alih-alih masuk ke SMA Negeri. Alif sampai harus mengurung diri dalam kamar karena kecewa keinginannya untuk masuk SMA favorit sebagaimana Randai sahabatnya tidak mendapat persetujuan dari orang tuanya. Saya yang pernah mengalami hal sama, seperti turut merasakan duka derita Alif saat membaca bagian itu. Saya hanyut dalam emosi Alif.
Bisakah emosi serupa dihadirkan dalam filmnya? Saya meragukannya. Sebab pengalaman menonton film adaptasi lain membuktikan hal yang selalu sama. Emosi dan keterhanyutan suasana yang didapat dari membaca novelnya gagal diusung ke filmnya. Maaf, maaf saja, kalau pernyataan saya mungkin bagi sebagian orang terkesan terlalu memandang remeh kekuatan sebuah film adaptasi dalam menghadirkan emosi penontonnya. Namun harus diingat bahwa visualisasi kata-kata seperti yang dilakukan oleh film adalah dalam rangka menerjemahkan kata-kata ke dalam ruang gerak dan bahasa tubuh yang lebih nyata, untuk lebih mematrikan sebuah fragmen lengkap dengan dramatisasinya. Dan itu seharusnya bisa disajikan lebih memikat dari sekedar barisan aksara.
Lalu apa yang salah dengan film itu? Biarlah para sineas dan pengamat film yang membahasnya. Apa yang saya kemukakan di sini, adalah sebatas kesan yang saya tangkap saja sebagai penikmat novel dan film.
Faktor lain yang membuat film adaptasi kurang menggigit adalah adanya kesenjangan penceritaan antara novel dengan filmnya. Kesenjangan itu disebabkan oleh terbatasnya durasi film sementara begitu banyak scene-scene penting dalam novelnya yang saling berkesinambungan dan keberadaanya menentukan di scene berikutnya. Butuh kecerdasan sinematik yang luar biasa untuk memotong menyambung scene-scene tersebut tanpa merusak alur keseluruhan, dan tidak mengurangi efek dramatisasinya. Saya ambil contoh, dalam film Laskar Pelangi, ada scene dimana bakat Mahar ditemukan secara tidak sengaja di kelas saat pelajaran Kesenian. Dalam kelas yang sudah kebelet ingin pulang semua, karena menyanyi ternyata sulit dilakukan oleh hampir semua murid Laskar Pelangi, takdir telah menyapa Mahar untuk mempertontonkan kepiawaiannya menyanyi. Dengan menyelempangkan karung kecampang dan memeluk ukulelenya dengan sepenuh hati. Mahar pun menyenandungkan sebuah lagu barat nostalgia yang dia hafalkan dari radio bututnya. Semua terkejut tidak menyangka suara merdu akan keluar dari mulut Mahar.
Scene yang menurut saya sangat penting itu dalam filmnya dihilangkan dan hanya diganti dengan adegan mahar menyanyikan lagu Bunga Seroja di sebuah padang rumput. Mungkin sang penulis naskah dan sutradara memiliki pandangan yang lebih analitis dan lebih bisa dipertanggungjwabkan secara ilmu perfilman. Tapi tetap saja, bagi saya ada yang hilang dari film itu, ialah emosi yang mengharubiru itu.
Beberapa adegan dalam Film Laskar Pelangi malah tidak saya temukan dalam novelnya. Sepertinya itu yang dijanjikan oleh Andrea Hirata bahwa film tersebut akan menampilkan hal-hal yang tidak terungkap dalam novel. Namun penambahan itu justru menjebak filmnya dalam kemonotonan. Sebab penambahan yang disematkan bukanlah sebuah mata rantai dari missing link. Melainkan hanya adegan yang dengan disebut sepintaspun dalam novelnya, sudah membuat pembaca ''ngeh'' tentang apa yang terjadi.
Hadeeeh, malah membahas Laskar Pelangi. Baiklah. Itu sekedar contoh saja. Masih banyak contoh lain yang serupa dalam film-film adaptasi lainnya. Film Ayat Ayat Cinta misalnya. Tapi tidak perlulah saya kupas lagi gagalnya film-film tersebut dalam menghadirkan emosi penontonnya sedahsyat saat membaca novelnya.
Karena beberapa hal tadi itulah, makanya saya sudah tidak seantusias dulu lagi saat saya menanti kehadiran film-film hasil adaptasi novel terdahulu. Sudah terlalu sering dikecewakan, ceritanya... hehehe. Tapi bukannya saya tidak menghargai film-film hasil karya sineas-sineas Indonesia loh. Bukaaannn... Ini lebih pada ungkapan hati saya sebagai penikmat film. Meskipun sampai sekarang saya belum nonton film Negeri 5 Menara yang sedang tayang di seluruh Indonesia, kecuali di NTT dan sekitarnya, tempat tinggal saya.
"Heeeeee. Pantesan aja, tidak antusias nunggu film Negeri 5 Menara. Ditunggu sampai pisang berbuah duren pun, engga bakal filmnya masuk di NTT, wong bioskopnya aja engga ada. Hahahahah".
Mudah-mudahan yang mau nonton film ini tidak terpengaruh opini saya yang sedikit asal ini ya. Buat saya lebih penasaran nunggu novel ketiganya A. Fuadi.
Salam dari Sumba...
Perjuangan Seorang Ibu
Sudah lama sekali saya merasakan sebuah pengalaman yang menakjubkan sekaligus menakutkan sebagai seorang ibu. Takut dan senang menyatu, nyeri teramat sangat namun segera setelah proses kesakitan itu berakhir bibir tak reda menyungging senyum. Lelah, letih dan ngilu bercampur dengan semangat dan suka cita.
Bagi saya, pengalaman itu menakjubkan karena serentetan rasa dan emosi yang bersenyawa dalam proses itu, merupakan awal sebuah kehidupan yang suci, murni, polos dan menularkan kegembiraan yang tak terkira kepada orang-orang di sekitaran. Namun juga menakutkan karena saya diberondong cemas dan khawatir, akankah mulai detik awal hingga seterusnya, saya bisa menjalani peran yang sungguh tak ringan sebagai seorang ibu.
Sembilan tahun adalah waktu yang cukup untuk saya bisa melupakan rasa sakitnya. Apalagi saya diberi kemudahan oleh Tuhan dalam menjalani proses melahirkan kedua anak saya. Tidak lebih dari dua puluh menit saja. Dan bayi mungilku hadir di dunia. Rasa sakit itu lenyap tidak berbekas. Digantikan oleh senang yang meletup-letup di dada.
Ingatan tentang pengalaman indah itu belakangan menggeliat lagi, setelah saya membaca status seorang teman baik yang telah melahirkan putrinya yang ketiga di Tangerang sana. Perjuangan seorang Ibu, begitu Mbak Fitri Taufik --teman saya itu-- menuangkan luapan kebahagiaannya di beranda Facebooknya. Saya pun tergetar.
Menjadi seorang ibu tidaklah otomatis tersemat dalam diri seorang perempuan ketika ia mengandung dan melahirkan. Betul bahwa mengandung dan melahirkan adalah peran terpurna bagi seorang perempuan secara kodrati. Namun apakah persoalan menjadi seorang ibu selesai setelah ia mengandung dan melahirkan? Rasanya tidak.
Perjuangan seorang ibu saat sembilan bulan membawa sesosok janin dalam perutnya dan kemudian berdarah-darah melahirkan, lebih merupakan awal dari sebuah perjuangan yang sebenarnya bagi seorang ibu. Bisakah seorang ibu hadir di sisi anaknya di saat sang anak memerlukan perhatian dari seorang ibu. Mampukah seorang ibu menjadi panutan ketika sang anak mencari-cari sosok yang bisa ia jadikan idola. Relakah seorang ibu mengenyampingkan kepentingan dirinya untuk memenuhi kebutuhan anak akan cinta dan kasih sayang.Sungguhkah seorang ibu mau mengerahkan seluruh kemampuannya agar sang anak setiap waktunya dipenuhi oleh kegembiraan, celoteh riang dan gelak tawa. Itulah perjuangan terbesar seorang ibu dalam mengantarkan anak-anaknya menjadi manusia yang utuh.
Saya pribadi mengakui kelemahan saya sebagai seorang ibu. Seluruh pertanyaan tadi lebih saya tujukan untuk diri saya sendiri. Dan belum bisa saya dapatkan jawaban yang sempurna atas semua pertanyaan itu.
Kegembiraan dan antusiasme saya saat mengandung dan kemudian melahirkan anak saya, hanya bertahan selama beberapa hari saja. Selebihnya banyak hal yang tidak dapat saya persembahkan bagi kelangsungan hidup anak saya secara komperhensif. Di sana sini saya melakukan excusing yang membuat anak saya lebih banyak harus memahami kondisi ‘kesibukan’ dan ‘kelelahan’ saya. Sedihnya, justru anak saya yang terpaksa berkorban untuk kehilangan keceriaan dan keriangan karena kehilangan waktu emas yang seharusnya dihabiskan bersama saya. Hanya karena saya lebih memilih untuk berkutat dengan setumpuk pekerjaan di kantor.
Apa yang telah saya perjuangkan untuk kedua gadis mungilku? Rasanya saya malu mengatakan kepada kedua anak saya bahwa surga ada di bawah telapak kaki ibu.
Teman saya yang baik itu pernah sekali mengatakan bahwa saya beruntung menjadi wanita karir. Tidak seperti dia yang hanya ibu rumah tangga. Saat dia mengatakan begitu, saya sempat tersanjung dalam hati. Namun sesungguhnya dialah yang lebih beruntung. Seluruh waktunya tercurah untuk mengawal tumbuh kembang anak-anaknya. Kapanpun dia bisa memeluk dan bercanda riang bersama buah hatinya. Tidak pernah dia rasakan kecemasan yang menusuk-nusuk hati saya saat harus ber’canda’ dengan komputer di kantor, sementara di rumah anak saya sendirian entah sedang apa.
Sejatinya seorang ibu seperti teman saya itulah yang benar –benar memperjuangkan dirinya untuk menjadi seorang perempuan yang layak dipanggil ibu. Seluruh tetes keringat dan air matanya tumpah untuk kepentingan anak-anaknya. Setiap detik waktu yang dia jalani sepenuhnya berputar untuk mendampingi gelak tawa dan rengek tangis bocah-bocah lucu itu.
Untuk temanku yang baik hati, jangan pernah merasa kecil dengan peranmu yang mulia sebagai ibu rumah tangga. Sungguh. Seperti saya yang kini cemburu kepadamu karena ketersediaan waktumu sepenuhnya untuk memperhatikan anak-anakmu. Pasti engkaupun akan merasakan betapa tidak enaknya dan sempitnya lahan untuk berjuang sebagai seorang ibu, ketika engkau menjadi seorang wanita karir. Engkau akan mudah mengenyampingkan anak-anakmu demi selembar rupiah yang tidak seberapa nilainya dibanding dengan binar mata anak-anakmu saat engkau memeluk mereka dengan penuh kasih sayang. Dan itu sungguh menyedihkan.
Pada minggu kedua usia putri kecilmu saya ucapkan selamat padamu, semoga dia kelak tahu bahwa dirimu adalah ibu terbaik dari seluruh ibu yang ada di dunia ini.
Waikabubak, 12 Juli 2011.
Repost.
Langganan:
Postingan (Atom)


















