Tampilkan postingan dengan label Gradien Writer Audition. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gradien Writer Audition. Tampilkan semua postingan

Mengungkapkan Emosi Dalam Kata


#1

Setiap kata yang didengar berubah menjadi nada melankoli, membuat hati kelabu. Serupa mendung yang menggantung saat jiwa tercenung murung. Setiap senyum yang tersungging dari bibir, berubah menjadi getar memantik titik air yang menggenang diam menjelma telaga di mata . Setiap gelak keramaian berubah senandung sendu yang mengurung kalbu dalam sembilu. Saat dimana kita benar-benar  ingin sendiri, meski disaat sama berharap serengkuh pelukan. Saat dimana kita ingin berbagi nafas dengan udara agar tidak sesak di dada.

Mengenali Objek Cerita


Air

Dilihat dari struktur tulangnya, daun yang menjadi rumah bagi enam titik air ini sejenis dengan daun talas. Atau sejenis daun singkong. Atau memang daunt alas itu sendiri. Aku tidak bisa memastikannya, sebab dalam foto, yang dijadikan point of viewnya adalah ketujuh titik air itu. Daun yang memiliki sembilan ruas tulang daun itu hanyalah sebagai latar belakang saja. Tidak terlihat dengan jelas bagaimana bentuk daun itu secara keseluruhan. Hanya sembilan sulur daun yang membentuk struktur seperti bintang atau jaring laba-laba.


Dengan seluruh tulang daun yang memusat di tengah-tengah daun. Jadinya seperti susunan sembilan segitiga sama kaki yang ditempel berhimpitan di ujung lancipnya. Dan titik pusat persinggungan kesembilan segitiga tulang  daun itu ditempati oleh sebuah titik air berukuran paling besar diantara ketujuh titik air itu. Sementara enam titik air lainnya berderet sedemikian rupa mengelilingi titik air yang paling besar itu. Entah bagaimana, enam titik air itu, berdiam di enam tulang daun bagian atas secara berurutan. Membiarkan empat tulang daun lainnya kosong tidak berpenghuni.

Jika ditarik lengkung diantara ketujuh titik air itu, akan terbentuk gambaran seperti ekor burung merak yang sedang mengembang. Bisa juga membentuk sayap kupu-kupu. Titik-titik air yang bening itu serupa dengan mutiara, bulat tapi agak oval seperti telur. Jika titik-titik air itu bisa dibekukan oleh sebuah keajaiban, aku yakin keindahannya akan melebihi mutiara. Saking beningnya, di salah satu titik air itu aku bisa melihat sulur tulang daun membayang di balik kemilau air itu. Diantara warna hijau daun yang mendominasi keseluruhan foto itu, kemilau bening titik air itu menyelipkan nuansa damai. Membuat kesan yang ditangkap mata, menjadi lebih teduh, alami, dingin tapi indah. Terlebih warna hijau daun itu sangat lembut. Seolah bercampur dengan warna putih yang membias dari cahaya yang diserap oleh titik-titik air di atasnya. Cahaya yang mungkin datang dari sinar matahari yang datang di pagi hari. Warna hijau itu kemudian disapu oleh sedikit warna kekuningan yang dipantulkan oleh sinar matahari. Dan ditingkahi oleh warna hitam, yang datang untuk memberi bayangan di sisi-sisi lekukan daun itu. Agak membuat suasana jadi agak kelam. Tapi tidak lantas menghapus kesan indah yang ditebarkan oleh titik-titik air itu. Justru sedikit hitam di pinggiran itu menyeimbangkan warna hijau yang menguasai pemandangan ini. Menjadikannya indah dan menenangkan.





Api


Panas, gerah, amarah dan sakit yang tak tepermanai. Itulah api yang sedang meluap-luap membakar apa saja yang menantangnya. Nyala merah yang menjuntai-juntai melalap semua yang ada didekatnya itu menyiratkan murka dan dendam yang membara. Membakar dan melumatkan semua yang bisa disentuhnya kemudian mengubahnya menjadi abu. Membuat apa saja yang tadinya berkuasa dan tegak berdiri menjadi menyerah kalah dan luluh lantak. Sampai-sampai angin sehalus bisikanpun akan sanggup menerbangkan abunya sejauh mata memandang.
Ini adalah sesuatu yang sangat menakutkanku. Membuatku ingin segera melarikan diri dari cengkeraman panasnya yang melelehkan segala. Dengan melihatnya saja sudah membuat badan menjadi meriap kepanasan, seperti hendak kering, lalu pelan tapi pasti dari segala arah menyala sejilatan api. Lalu kulit seketika gosong dan tak berapa lama tinggal seonggok abu.
Api yang kulihat sekarang ini adalah api yang tengah menyemburkan murkanya. Ia ganas menerjang ruang-ruang kosong yang membantunya berkobar hebat. Ruang kosong yang menyuplai oksigen bagi nyawa dan nyalanya. Ia mengganas, menjilat-jilat seperti lidah ular yang hendak memangsa korbannya.
Pernah terkena ujung setrikaan panas? Bayangkan rasanya sejuta kali lipat. Lidah api ini menyengatmu jauh lebih sakit dari sengatan listrik. Perih sambaran panasnya melebihi perih siraman garam di luka yang terbuka.
Warnanya kuning menyala-nyala menyilaukan mata. Ditambah merah yang menyalakan dendam, dan hitam yang menandakan kegelapan, kelam dan kejahatan. Muntab tak terperikan laksana api dari turun langsung dari matahari. Meluapkan amarah dan murka yang membakar jiwa.
Berada di dekatnya tidak akan membuatmu mengeluarkan keringat, melainkan akan seketika menghanguskanmu. Bahkan dalam hitungan detik. Sesaat setelah mendekat, dan tanpa peringatan apa-apa dan sebelum menyadarinya, kau sudah berubah menjadi api itu sendiri.
Saking ganasnya nyala api itu, seolah ia terbakar tanpa ada waktu untuk membuatnya berhenti menyala. Seolah ia tidak bisa padam atau dipadamkan. Seperti tidak mampu dilawan oleh air yang beku dan dingin meski air itu diguyurkan hingga membanjiri seluruh ruang yang ada. Api itu seperti api abadi yang terus menyala dan menyorotkan hawa panasnya yang menggelora. Bahkan semakin lama semakin merangsek membakar apa saja. Melalap mentah-mentah apapun yang menyentuhnya. Menyita seluruh oksigen untuk mengobarkan amarahnya sehingga tak satupun makhluk hidup bisa bertahan dan hidup berdampingan dengannya. Semua akan menghindar dan lari. Terkecuali sesuatu yang ingin terbakar dan hancur luluh tak bersisa.





Awan


Langit di sekitar awan itu biru terang. Jernih dan indah. Tidak dikotori oleh warna lain dan bahkan awan lain. Hanya ada langit biru itu dan tepat di tengah-tengahnya sebentuk awan cumulus yang menyendiri bertahta dengan megahnya. Persis seperti raja yang sedang duduk di singgasananya. Dia tidak rela berbagi kekuasaan dengan siapapun. Dengan apapun. Awan itu raja. Dan langit singgasananya. Awan yang putih pekat itu membentuk gumpalan seperti kapas raksasa yang sedang melayang di angkasa.
Kalau dilihat dengan seksama, gumpalan awan itu seolah menyerupai kelinci. Bagian kepalanya menghadap  ke sisi kanan. Lurus pas di tengah jika kita tarik garis dari sisi kiri ke kanan. Yang membuatnya kelihatan seperti kelinci adalah telinganya panjang menjuntai sampai menyamai panjang badannya. Lalu ekornya yang membulat seperti gulungan  benang wol. Lengkap dengan serabut-serabut bulunya yang halus. Dan kaki belakangnya yang sedang mendekam di balik perut yang gemuk. Kemudian kaki depannya yang terlihat seperti habis melompat. Lucu sekali.
Tapi aku lebih suka membayangkan awan itu seperti segumpal harumanis. Lembut manis dan berserabut. Rasanya tangan ini gatal ingin mencubit sebagian lalu menjejalkannya ke dalam mulut. Sensasi manis dan lumernya serabut-serabut halus itu di mulutku sangat menyenangkan. Hanya saja harumanis yang ini tidak berwarna merah seperti harumanis yang dijual di lapangan ketika ada pasar malam. Yang ini putih mulus. Tapi aku merasa harumanis putih yang sedang mengambang di langit ini lebih manis dari harumanis manapun yang ada di dunia ini.
Tapi awan putih itu hanya awan biasa saja. Yang kebetulan muncul di langit pagi yang sedang biru benderang. Di foto ini awan itu terlihat tidak begitu besar. Teronggok di tengah-tengah memenuhi kurang lebih seperenam bagian foto ini. Tapi jika dilihat aslinya, maka bisa dilihat awan itu adalah awan yang cukup besar. Bisa jadi awan itu terbentuk dari serpihan-serpihan awan tipis yang kemudian karena dihalau angin menjadi menyatu. Bergumpal dan membulat sedikit demi sedikit. Sampai membentuk awan yang solid ini.
Langit biru yang melatar belakangi awan itu membuat warna putihnya terlihat semakin bersih. Tapi jika jeli, ada sisi gelap di balik gumpalan-gumpalan asap itu yang bisa ditangkap oleh mata kita. Sedikit bayangan gelap yang mungkin sudah mengandung titik-titik air yang siap dijatuhkan jika sudah waktunya nanti. Melihat keberadaannya yang menyendiri, akan butuh waktu lama bagi titik-titik air di awan itu untuk jatuh di bumi. Ia harus mengelana ke tempat yang jauh, untuk bisa bersama kawan-kawannya, sesama awa, meneteskan air hujan.





Wajah


Perempuan itu berwajah khas kaukasia. Ia mempunyai rambut lurus, pendek dan berwarna hitam. Kelihatannya warna rambut itu hasil semiran, karena alisnya yang ia rapikan dengan cara mencukurnya itu lebih berwarna terang ketimbang rambut kepalanya. Mungkin coklat gelap. Dari sulur-sulur rambutnya aku tahu rambutnya adalah lurus yang dibuat, dengan cara rebonding. Kemudian dipotong dengan gaya model sekarang. Potongan rambut yang tidak simetris. Pada beberapa bagian bagian belakang dibiarkan helai-helai rambutnya meruncing seperti ekor tikus atau mungkin lebih mirip ekor burung cendrawasih. Hanya saja ini lebih pendek. Sebatas telinga dan bagian yang runcingnya tak melebihi lehernya.
Kulit putihnya kecoklatan, pasti didapat dari sunbathing. Dari senyum yang menawan terlihat dia orang yang berkepribadian menyenangkan. Sama seperti orang dari Eropa lainnya, hidungnya mancung. Batang hidungnya membentuk garis lurus dari mulai pangkal sampai di ujung yang mencuat persis di atas bibirnya yang tipis kemerahan. Lancip tapi mengesankan kelembutan. Matanya sedikit menjorok ke dalam. Tidak terlalu besar, tapi juga tidak sipit atau kecil. Seperti bibirnya, matanyapun seolah tersenyum. Siapapun pasti menyukai tatapan mata coklatnya yang bersahabat.
Aku taksir dia berumur dua puluh lima atau tiga puluhan. Wajahnya tidak terlalu dipenuhi make up. Hanya seulas bedak, lipstick tipis warna merah bata dan eyeliner saja yang membantu wajahnya menampilkan keceriaan. Hanya saja lehernya dihiasi dengan guratan-guratan kulit yang melingkar. Ada tiga guratan di sana. Dua di pangkal dan satu di ujung lehernya.Tidak membuatnya kelihatan tua, meskipun agak mengganggu tampilan wajahnya yang secara keseluruhan sudah cantik.
Gaun yang dipakainya berwarna hitam. Berleher rendah sehingga memamerkan bagian bahu dan dadanya yang putih mulus. Blus bergaya Sabrina yang amat sederhana. Sedikit membuat kulitnya yang putih menerawang dari luar. Pasti kainnya dari jenis yang tipis dan licin. Seperti kain tissue, atau kain paris. Tonjolan tulang belikatnya memberi kesan sedikit seksi, berpadu dengan bahu yang proporsional.
Di dagunya terdapat semacam dekik. Lekukan kulit yang mirip lesung pipi. Membuat senyum yang memberikan garis lengkung di kedua area atas bibirnya semakin terlihat manis. Bahkan meskipun senyum itu tak menampakkan giginya sama sekali. Aku suka tarikan di bibirnya saat tersenyum. Agak lebih cenderung tertarik ke sebelah kiri wajahnya. Bukan senyum yang seimbang, tapi justru di situlah daya magnetnya. Senyum itu yang membuat perhatian orang tersirap padanya.







"Masih Selasa yang tak biasa. Kenapa tidak jadikan Selasa ini sebagai tonggak perjuanganmu mengejar mimpi, Lik? Apalagi yang kau tunggu. Menulislah, dan terbanglah ke angkasa imaji liarmu yang menggelora...."


Repost from My Facebook Notes, Waikabubak, 4 Desember 2012

Belajar Memaparkan Setting


Dapur

Dapur di kantor saya membuat perasaan seperti sedang di rumah saja. Luas, terang dan piranti di dalamnya lengkap. Dengan luas ruangan sekitar 5 x 4 meter, dapur ini siap melayani kebutuhan karyawan dalam makan minum. Warnanya dominan putih diselingi silver pada beberapa alat seperti kran air, wastafel, kompor dan alat penghisap asap diatas kompor. Aksennya ada pada warna lantainya yang eye chacthing. Lantai berwarna coklat tua dengan motif seperti kayu. Memberi sentuhan alami di desain dapur yang secara keseluruhan modern.


Kitchen setnya juga berwarna putih. Menutupi hampir setengah bagian ruangan. Menempel di dinding dengan posisi letter L. Pada bagian bawah kitchen set, terdapat delapan laci besar, dipergunakan untuk menyimpan alat-alat masak  seperti panci, kuali dan lain-lain. Empat diantaranya laci dengan pintu buka tutup menyamping. Satu diantaranya lagi laci dengan pintu buka tutup dari atas ke bawah. Sementara dua  yang lainnya laci dorong tiga susun yang mengapit laci dimana kompor dan oven listrik berada.

Wastafel terletak di atas dua laci terujung sejajar dengan letak kompor. Di sebelah kompor terdapat beberapa botol berisi kecap, saos dan merica bubuk. Tepat diatas botol-botol itu menyorot cahaya lampu yang dipasang terintregrasi dengan laci kitchen set sebelah atas. Lalu di seberang kompor lainnya terdapat sebuah piring merah kosong yang juda disorot oleh sebuah lampu sejenis. Dan di sisi lain tak jauh dari piring itu berada, terdapat tiga buah toples khusus penyimpanan gula, kopi dan susu bubuk. Sebuah lampu menyorotkan cahaya dari bagian bawah kitchen set atas ke area dimana ketiga toples berada.

Kitchen set bagian atas hanya terdiri dari enam buah laci. Sebuah laci besar yang berdiri tepat diatas laci bawah di sisi kanan, menempel tanpa menyisakan ruang yang berfungsi sebagai meja diatasnya. Lima laci lainnya yang menggantung di dinding menyudut terletak di atas toples penyimpanan gula, piring, kompor dan berakhir di atas botol-botol bumbu. Laci besar, sebuah laci berukuran sedikit lebih kecil dan sebuah laci yang lebih kecil ukurannya terletak di sisi yang satu berimpitan dengan sudut dinding. Lalu laci kecil yang sama berimpitan di sudut dengan sebuah laci agak besar. Kemudian di sebelahnya terdapat alat penghisap asap yang terbuat dari stainless steel. Lalu di samping penghisap asap ada sebuah laci lagi yang berukuran sedang.






Kamar Mandi


Kamar mandi, ini adalah bagian yang saya sukai. Ia berukuran 2 x 3 meter. Menempati pojok kiri ruang rest room dengan desain minimalis. Tidak ada bak penampung air didalamnya, sebagaimana kamar mandi modern lainnya. Hanya terdapat sebuah selang shower yang terbuat dari metal bercat chrome warna silver di dinding sebelah kiri, dan sebuah kotak yang tertanam di dalam dinding satunya lagi. Saya belum tahu persis apa kegunaan kotak tersebut. Kamar mandi ini dilengkapi dengan fasilitas air panas dan air dingin tentunya. Akan sangat berguna untuk saya, yang hobby bike to work setiap hari. Pasti menyenangkan rasanya sehabis lelah berkeringat mengayuh sepeda, lalu mandi menggunakan shower air hangat. Tidak perlu kuatir antri, karena ada 3 kamar mandi seperti ini di kantor saya.

Lalu ada sebuah alat, yang  saya duga sebuah shower hanya saja tanpa selang yang menggantung seperti shower yang satunya. Berada tepat di atas kotak itu, berjarak kira-kira 80 sentimeter. Saya akan mencari tahu apa fungsinya besok-besok.

Yang membuatku menyukai kamar mandi ini adalah pintunya yang juga berfungsi sebagai pengganti salah satu dinding. Menggunakan kaca bening setebal  3 sentimeter, pintu itu membuat tampilan kamar mandi menjadi terasa wah. Jadi kamar mandi itu transparan. Jika kita lupa mengunci pintu rest room dan langsung mandi, bisa-bisa kita jadi tontonan gratis seisi kantor.

Dindingnya dilapisi marmer berwarna coklat agak abu-abu bermotif seperti kayu triplek plywood. Disusun mendatar sedemikian rupa seperti susunan batu bata pada tembok. Lebar marmer itu 40 x 80 sentimeter. Di tengah-tengah  dinding sebelah kanan yang ada kotak dan sebuah alat mirip shower itu, dindingnya dihiasi dengan aksen batu kali berwarna putih yang disusun rapi memanjang dari atas sampai bawah  dengan lebar sama persis dengan kotak itu. Kelihatan chic sekali. Bila kita melongok sedikit ke atas maka kita bisa lihat plafon berwarna putih bersih.

Lalu lantainya dibuat senada dengan aksen pada dinding. Alih-alih memakai lantai keramik seperti kamar mandi biasanya, kamar mandi ini menggunakan lantai yang terbuat dari susunan batu kali berwarna putih dan kecoklatan. Menjadikan kamar mandi itu bernuansakan alami. Kurang lebih berjarak 50 sentimeter dari dinding, ada sebuah lubang pembuangan air segaris dengan dinding beraksen batu kali tadi.
Kamar mandi seperti inilah yang saya inginkan, kelak kalau saya memiliki rumah.





Ruang Meeting


Ruang meeting di kantor saya yang baru dominan warna broken white. Mulai dari plafonnya, dinding, lantai dan furniturenya. Luasnya kurang lebih 80 meter persegi. Sekilas lebih mirip ruang kelas karena kursi dan mejanya disusun berbanjar 3. Masing –masing banjar terdiri dari sepuluh meja. Dan tiap meja memiliki dua kursi. Sehingga ruang meeting bisa menampung  30 orang. Desain meja dan kursinya simple dan modern. Meja terbuat dari plywood setebal 3 sentimeter dengan panjang kurang lebih 1,5 meter dan lebar 80 sentimeter. Disangga oleh satu batang besi alumunium berlapis chrome berwarna silver di kedua sisi kiri kanannya. Lalu kira-kira 20 sentimeter dari lantai batang alumunium itu disangga lagi oleh alumunium sejenis berbentuk lengkung yang berfungsi sebagai kaki meja. Yang kesemuanya dibungkus oleh semacam plastic hitam untuk melindungi lantai dari goresan besi penyangga meja tersebut. Sementara kursinya terbuat dari bahan seperti plastic tapi lebih solid dari kursi plastic biasa. Berwarna putih polos, tanpa busa di sandaran dan alas duduknya. Semuanya menghadap ke depan dimana terdapat sebuah layar proyektor menempel tepat di tengah-tengah di dinding.

 Tak jauh dari layar proyektor itu terdapat sebuah meja biro berwarna coklat muda. Diatasnya terdapat sebuah laptop yang tengah terbuka berwarna hitam. Meja itu menghadap ke arah meja kursi, membelakangi layar proyektor. Kemudian di samping meja biro itu terdapat sebuah buffet tempat penyimpanan barang-barang. Bufet itu tingginya sama dengan  meja. Namun panjangnya lebih sedikit dari pada meja. Terdiri dari dua sekat. Yang satu berfungsi sebagai rak buku, yang memiliki dua rak penyimpanan buku. Sedangkan satunya lagi berupa laci tunggal. Pintunya buka tutup, bukan dorong, berwarna putih polos. Sedangkan handelnya berwarna coklat muda senada dengan ply wood sebagai bahan dasar buffet tersebut. Diatas bufet itu ada sebuah globe berukuran besar, dan beberapa barang kecil lainnya.

Di atas plafon, tergantung sebuah in focus yang akan memproyeksikan presentasi-presentasi ke layar proyektor yang menempel di dinding depan. Pada plafon ini tertanam lampu-lampu yang bertebaran dengan jarak 2 meter. Lampu-lampu itu meringkuk dalam semacam mangkuk yang ditanam sedemikian rupa di dalam plafon. Sehingga yang terlihat hanya cahayanya saja membias terang keluar dari dalam mangkuk- mangkuk di atas plafon itu. Di sisi sebelah kanan ruang meeting itu terdapat jendela besar yang lebar dan panjangnya hampir memakan seluruh dinding itu. Membuat ruang meeting terasa lebih lega dan lapang.





Selasa Senja, 4 Desember 2012, saat galau hampir lingsir. Ini adalah usaha menyegarkan imaji yang kuyu dua mingguan ini. You can do it, Lik. With or without someone help you up.


Repost from My Facebook Notes, Waikabubak, 4 Desember 2012

Minggu Kesembilan


Sudah tidak ada lagi tugas untuk menulis sebuah cerita pendek. Padahal menulis cerita pendek sangat menerbangkan semangatku hingga ke awang-awang. Baru saja tadi saya meminta pertemanan dengan seorang penulis wanita muda dari Bandung, namanya Skylashtar Maryam. Sejenak aku berpikir, mengapa dalam namanya ada kata Sky. Langit, angkasa atau awang-awang. Rupanya ini sebabnya. Menulis membuat jiwa seseorang serasa melangit. Terbang ke suatu tempat yang bahkan belum pernah dia jejakkan kaki sebelumnya. Benar atau tidaknya pradugaku itu, aku tak bisa terlalu ambil pusing sekarang. Setidaknya itu adalah nalar terlogis yang bisa aku pikirkan. Dan yang terpenting itulah yang aku rasakan ketika aku menulis sebuah cerita pendek. Passion.


"Tidak ada penulis yang bisa menguasai semua bidang tulisan. Tulislah yang menjadi passion dan keahlian kamu. Find out your way, find out your destiny."  Begitu tulis Skylashtar Maryam di akun facebooknya. Di awal minggu kesembilan ini, bukan kebetulan aku bertemu dengan Skylashtar Maryam dan pada saat yang sama aku juga menemukan apa yang menjadi passionku. Aku pernah mengira bahwa aku ini akan menjadi penyair. Ternyata aku cuma bisa jadi penikmat syair-syair yang keindahannya menjadi latar pandang di jiwa. Lalu aku mengira aku mampu menjadi essais. Menulis opini-opini yang menarik dan menggelitik. Tapi tidak. Semua sudah aku coba, dan entah bagaimana mulanya tiba-tiba aku merasa hidup ketika menulis sebuah cerita pendek. Jadi, siap-siap saja, Skylashtar. Ada satu lagi pesaingmu di dunia cerita pendek. Hehehehe.

Ah, cukup sudah membualnya. Mari sekarang aku bagikan kepada kalian, tugas menulisku yang ketujuh dari Gradien Audisi. Juga sekaligus tugas kedelapan. Dan tugas kesembilan yang baru saja kuterima beberapa jam yang lalu.

Tugas ketujuh dan kedelapan adalah memaparkan setting. Pada tugas ketujuh aku diberi tiga foto yaitu foto ruang meeting, kamar mandi dan dapur. Sementara pada tugas kedelapan, aku diberi foto wajah, api, air dan awan. Dengan syarat tidak boleh menggunakan dialog, tidak boleh memasukkan karakter dan minimal foto itu dipaparkan dalam 350 kata, aku menggumuli foto-foto itu seolah foto itu adalah foto kekasih yang sedang kurindui. Hasilnya, sila teman-teman baca nanti di note yang aku khusukan untuk memuat tugas-tugasku itu. Serius, kaku dan apa adanya. Apa boleh buat, saya tidak bisa bermain-main dalam diksi.

Lalu di minggu kesembilan ini, tugasku memaparkan setting emosi. Ada empat setting yang harus kubedah dalam 75 kata saja, tapi dengan syarat tidak boleh menggunakan kata yang mewakili emosi dan padanannya. Sulit kubayangkan. Tapi ini sudah tidak relevan untuk pengeluhan semacam itu lagi. Dan sebuah cikal bakal novel disematkan dalam tugasku. Sinopsis novel dalam 600 lebih kata beserta premisnya dalam kalimat pendek.

Mungkin tugas memaparkan setting ini merupakan salah satu prasyarat penting untuk menulis novel. Pernah aku baca di entah media online apa, menulis adalah mengingat detail. Kini aku paham maksudnya. Novel membutuhkan setting dalam detail. Bukan hanya sepintas dan seadanya saja. Sebab sebuah kisah akan hidup dan menjelma di pikiran kita bilamana penulisnya sukses menggambarkan settingnya. Bila tidak, jangan harap novel itu akan membekas dalam ingatan pembacanya.

Seperti novel Galaksi Kinanthi, yang kujadikan benchmark dalam penulisanku nanti. Masih kuingat latar suasana gunung kidul yang kerontang, bocah perempuan menggendong adik laki-lakinya menyusuri kali bersama temannya, pelarian seorang gadis TKW di Kuwait dan petualangan dengan SUV di Great Plains. Jelas terekam dalam otakku. Padahal aku belum pernah menginjakkan kaki di ketiga tempat itu. Seperti itulah mengolah setting dan memaparkan dengan detail yang komplit menjadi sangat menentukan dalam menulis novel.

Jadi, bagaimana ini kelanjutannya. Bisakah aku melakukan itu semua? That is a big question for me to answer.


Repost from My Facebook Notes, Waikabubak, 6 November 2012

Kisah Ranti dan Ranto



“Tunggu…..”

Ranti tercekat, gemuruh di dadanya spontan senyap. Dia menunggu suara itu memaksanya untuk berhenti.

“Kita harus bicara. Aku, ingin kita berpisah dengan cara yang lebih indah dari pertemuan kita. Aku mohon, Ranti. Berhentilah…”

Dengan suara parau, Ranto mencoba menahan langkah Ranti. Meski hatinya ragu Ranti mau. Hingga keraguannya menyebabkan kata-katanya berdesau serupa angin kemarau.

“Jadi benar, kau akan meninggalkan aku,” Ranti terisak, lehernya sesak. Dia masih membelakangi Ranto yang terpaku.

“Tidak ada keindahan dalam setiap perpisahan. Kau menginginkan hal yang nonsense. Perpisahan selalu berkarib dengan luka dan kesedihan. Meski begitu, aku tak kan mampu mencegah perpisahan. Sesakit apapun rasanya, kau harus tau, aku akan rela menerimanya.”

“Ranti, andai aku bisa mengungkapkan semuanya kepadamu.”

“Ungkapkanlah, Sayang. Akupun berhak tahu apa penyebab porak porandanya hubungan kita. Untuk apa aku menemuimu disini, Ranto.”

Ada yang berdesir di hati Ranto saat mendengar kata sayang yang terucap dari bibir Ranti. Kedua tangannya mengambang sejenak di udara sebelum akhirnya menyentuh bahu Ranti. Membalikkannya hingga keduanya berhadapan.

“Sulit bagiku untuk mengatakan hal yang akan membuatmu sedih, Ranti. Itu membuatku tersiksa. Aku tak ingin melihatmu menjatuhkan air mata karena aku.”

“Tapi membiarkanku sama menyakitkannya dengan mengatakan apapun itu yang membuat kita jadi begini. Aku lebih memilih, kau mengatakannya dengan terang benderang sejak awal.”

“Maafkan aku Ranti. Aku ingin memberimu waktu untuk bersiap menghadapi ini semua. Aku sendiri perlu waktu untuk bisa menerima apa yang terjadi.”
“Apa yang sebenarnya terjadi, Ranto?”

Hening. Senja mulai menenggelamkan diri dalam kelam malam. Kerlip lampu taman memercik dari setiap sudut yang mulai gelap.

“Sudah, malam. Aku antar kau pulang. Besok jam 6 pagi, aku akan menunggumu di kantin. Semua akan kuceritakan padamu.”

Ranti mendesah. Dia tidak ingin menghabiskan meski hanya satu malam lagi untuk memikirkan misteri ini. Lelah mendera jiwanya. Tapi kepalanya telah mengangguk. Lalu mereka berjalan bersisian. Pelan. Diam-diam.

Keesokan harinya.

Ranti datang bersama embun yang masih tersisa di sela-sela dedaunan. Wajahnya pucat, sepucat rembulan yang menggantung  di langit. Suasana masih senyap. Belum ada kesibukan di kantin sederhana itu, kecuali seorang yang sedang membenahi letak kursi dan meja. Di salah satu sudut, sosok lelaki yang dicintainya duduk mendekap dada.

“Hai, aku tak mengira kau bisa sepagi ini datang,” sapanya pada lelaki yang telah menunggunya sejak pagi belum menampakkan diri itu.

“Aku yang berjanji untuk bertemu denganmu jam 6 pagi, kan.”

“Rasanya baru kali ini, kau bisa datang,” Ranti melirik jam tangannya, “bahkan beberapa menit sebelum waktu yang kita sepakati. “

Ranto menarik sudut bibirnya, membentuk segaris senyum tipis. Pandangannya tak pernah lepas dari wajah Ranti. Cantik, desisnya dalam hati. Sebentar lagi wajah itu sudah tidak berhak dia nikmati lagi.

“Paradoks,”  Ranti menambahkan kemudian. Dia menghenyakkan badannya di sebuah kursi.

Senyum di bibir Ranto lamat menghilang. Dengan gerak badan seolah pohon tumbang, dia mengikuti Ranti, duduk di kursi tepat di depan Ranti. Entah bagaimana dia tahu pertemuan kali ini tidak akan mudah untuk menyelesaikannya.

“Ya, aku tahu selama ini aku yang selalu membuatmu menunggu. Sekalinya aku bisa datang lebih awal dari dirimu, ternyata itu untuk pertama dan terakhir kalinya.”

“Ketika aku bangun tadi, aku mengingat semua puisimu, Ranto. Setelah hari ini, tak akan ada lagi puisi tercipta untukku.”

Kecupan pagi dari sang sepi, menyadarkanku bahwa tak ada yang lebih kekal dari sunyi, merengkuhku lebih tenggelam ke kepiluan tak bertepi.”

“Aku belum pernah mendengarnya.”

“Terlintas begitu saja, saat memandangmu tadi.”

“Itu bukan puisi cinta, ada duka yang dalam di sana.”

“Duka itu yang sekarang aku rasakan, Ranti. Aku harus berhenti mencintaimu.”

“Bukankah kau yang menginginkan perpisahan ini, Ranto. Ingat semua tanyaku yang tak kau jawab. Kau membuatku yakin bahwa kau sudah tidak menginginkan aku.”

“Aku tak ingin menambah duka yang akan muncul dari kenyataan yang aku hadapi, dengan memberi lagi duka milikku sendiri padamu. Tapi ternyata aku tak mampu mencegahnya.”

Ranto diam sejenak, kemudian. “ Aku menghindar darimu, karena aku tidak ingin melibatkanmu dalam kesedihanku. Aku tak menjawab semua tanyamu, karena aku tahu semua jawab hanya akan memurukkanmu dalam kekecewaan, bukan memuaskan rasa ingin tahumu.”

“Kau ingin melindungiku dari apa, Ranto? Hal buruk apa yang terjadi padamu hingga kau sedemikian rupa menyembunyikannya dariku?”

“Ranti, belum pernah sebelumnya aku mencintai seorang perempuan begitu dalam seperti aku mencintai dirimu. Aku bukan lelaki yang sempurna, tapi dengan kehadiranmu hidupku terasa lebih sempurna. Aku mencintaimu bahkan sebelum aku mengetahui namamu. Sejak kau tersenyum pada pagi di saat kita pertama berkenalan,  diam-diam aku membuat janji untuk diriku sendiri, kau akan menjadi perempuan terakhir untukku.”

“Dan janji itu harus kau ingkari…”

Ranto membuang nafasnya ke udara, seperti ingin membuang semua beban di otaknya.

“Ketika ayahku meninggal, aku sempat berpikir duniaku akan berakhir. Hanya aku yang menjadi tumpuan keluargaku. Kakakku meninggalkan beban dua orang yang harus Ibuku tanggung. Sementara Ibu, melihat fisiknya pun aku tak tega untuk membiarkan beliau bekerja menghidupi kami dan membiayai kuliahku. Aku ingin berhenti. Pulang ke kampung dan bekerja menggantikan ayahku mengurus kebun cengkeh. Tapi Ibu bersikeras. Beliau menginginkan aku menyelesaikan kuliah dan bekerja sesuai ijazah yang aku raih.”

“Lalu…”

“Aku tak melihat lagi setitikpun air mata jatuh di pipinya, sejak ayah meninggal. Ibu begitu keras berusaha mendapatkan keinginannya. Sosoknya berubah dari sosok yang lemah lembut, menjadi sosok yang keras, liat dan teguh pada niatnya. Aku tak bisa menolaknya. Aku berusaha mewujudkan keinginannya untuk selesai kuliah dan kemudian bekerja.”

Ranti menahan nafasnya. Dia merasa ada sesuatu  yang tajam ditusukkan pelan-pelan di hatinya. Dia bisa menduga arah pembicaraan Ranto.

“Sekarang, Ibumu menginginkan sesuatu darimu. Yang menyebabkan kau harus meninggalkan aku kan?”

“Ranti, jika saja aku bisa mengatakan tidak. Aku akan mengatakannya saat itu juga. Tidak ada yang lebih kuinginkan di dunia ini kecuali dirimu.”

“Aku tak lagi jadi yang terpenting bagimu. Jelas sudah.”

“Aku tak bisa menolak keinginan Ibuku. Perempuan yang pernah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkanku.”

“Dan aku yang harus dikorbankan. Aku hanya seorang perempuan yang tak penting.”

“Jangan katakan itu Ranti. Setiap puisi yang kugubah untukmu itu adalah tanda bahwa kau seorang yang berarti dalam hidupku.”

“Tapi tidak cukup penting, sehingga kau berpikir tidak masalah menjadikanku sebagai seorang yang harus menanggung semua kesedihan ini.”

“Bagaimana aku harus menjelaskan semua ini padamu, Ranti. Tentang rasa sakitku karena harus meninggalkanmu. Tentang dukaku karena aku harus melakukan sesuatu yang aku tak pernah bayangkan akan terjadi padaku. Tentang betapa aku ingin kamu terhindar dari turut merasakan kepedihanku.”

Senyap. Tiba-tiba suara deru motor menggeriap di udara. Panjang, lama kemudian menghilang. Satu demi satu penghuni kampus menampakkan dirinya.
Ranto meraih sebatang rokok mild dari sakunya. Beberapa detik berikutnya, asap putih meliuk-liuk. Aroma tembakau menyebar.

“Pertemukan aku dengan Ibumu, Ranto. Beliau belum mengenalku.”

“Tak mudah menaklukkan hati Ibu, terutama saat ini, Ranti.”

“Seperti apakah perempuan yang telah Ibumu pilihkan, Ranto?”

“Dia hanya perempuan desa, biasa. Tidak sepertimu. Kau, jauh lebih segala-galanya dari dia.”

“Jadi apa yang membuat Ibumu bersikeras kau harus memilih dia?”

“Dia sudah mendapatkan tempat tersendiri dalam hati Ibu. Bahkan aku tidak bisa membuat Ibu mengosongkan sedikit saja tempat di hatinya untukmu. Dan itu terjadi setelah kematian Ayah.”

“Jadi tidak ada peluang sedikitpun untuk memenangkan hati Ibu?”

“Ini bukan sekedar memenangkan hati Ibu, tidak semata-mata soal selera Ibu.”

“Adakah yang belum aku fahami disini?”

Mata Ranti menyelidik  jauh hingga ke dalam hati Ranto. Menembus telaga bening di mata Ranto. Mata yang dulu sering menjadi tempat Ranti menelusupkan kerinduannya. Mata yang teduh seolah menyimpan mendung abadi di dalamnya.

“Ranti, aku ingin kau tahu. Di luar semua  ini, aku benar-benar mencintaimu. Tidak sedikitpun aku mengharap ini terjadi. Yang kuharapkan adalah aku lulus dari sini, meminangmu lalu kita menikah dan seperti ceritamu, kita akan mempunyai  banyak anak. Aku ingin menjadi tua bersamamu, Ranti. Aku ingin menutup mataku yang penghabisan di pangkuanmu.”

Kata-kata Ranto terdengar sayup, jauh dan pilu. Ranti menekuri lantai. Rambutnya tergerai menutupi wajahnya. Setetes air mata jatuh langsung ke lantai.

“Semua yang kau katakan itu sekarang sudah tak ada gunanya, Ranto. Hanya membuat aku terluka lebih dalam. Aku harus mengkandaskan mimpiku justru ketika aku tahu tak jauh lagi mimpiku akan berlabuh di dermaga kenyataan. Aku harus tetap meninggalkanmu, kan. Meskipun aku mempercayai kata-katamu tadi.”

“Maafkan aku Ranti. Ketidakberdayaanku untuk menolak keinginan Ibu. Ketidakmampuan untuk mengecewakan Ibu, telah membuatmu terluka. Aku ternyata hanya lelaki lemah yang tidak bisa memperjuangkan cinta kita.”

Setetes buliran bening menganak sungai di pipi Ranti. Kali ini wajahnya menengadah, menatap ke atas. Bibirnya bergetar.

“Aku tidak mau cinta kita berdiri di atas murka orang tua. Jika memang Ibumu tidak menginginkan aku, aku harus mundur. Kecuali kau masih berniat mempertahankan hubungan kita,” dengan suara parau Ranti mengatakan kalimat yang terakhir. Dia masih mengharap Ranto mau berbuat sesuatu untuk mereka.

Ranto tercenung. Ada sedikit keraguan menerpa hati. Di depan Ranti, yang menitikkan air mata dan membuatnya trenyuh sekaligus perih, dia tahu hatinya yang sudah mulai bulat untuk menerima perempuan pilihan ibunya akan mudah berubah arah. Seperti sekarang.

“Apa maksudmu, Ranti?”

“Kau cinta aku, kan Ranto?”

“Lebih dari aku mencintai diriku sendiri.”

“Kalau begitu, temui Ibumu. Katakan bahwa ada aku, kekasihmu, yang juga siap berbagi hidup bersama-sama denganmu untuk berbakti pada Ibu. Katakan bahwa aku pun bisa dengan sepenuh hati menyayangi beliau.”

“Aku tidak tahu, Ranti. Apakah itu akan berhasil membuat Ibuku menuruti kemauan kita.”

“Kita belum mencobanya.”

“Ibu bukan orang yang mudah kita taklukkan.”

“Tapi Ibumu seorang perempuan juga, Ranto. Sisi keibuannya pasti akan tersentuh, jika aku turut menghadap beliau.”

“Kau mau menemui Ibuku, Ranti?” Ranto menatap mata Ranti dalam-dalam. Ia ingin meyakinkan sesuatu.

“Mengapa tidak. Dengarkan aku Ranto. Kita telah bersama selama dua tahun lebih. Aku sudah sampai pada keyakinan bahwa aku ingin menghabiskan hidup bersamamu. Kau pun begitu bukan? Betapa banyaknya waktu terbuang sia-sia hanya karena kita takut mencoba.”

“Entahlah, Ranti. Kau belum mengenal Ibuku. Beliau perempuan yang keras. Kata-katanya sulit kita bantah. Kemauannya tidak boleh kita tolak.”

“Hmmmhh…..lalu untuk apa semua pembicaraan kita. Jika begini keadaannya, tinggalkan saja aku semaumu. Mungkin itu jauh lebih mudah untukku,” nada bicara Ranti menanjak tajam. Dia kesal.

“Ranti…”

Keduanya terdiam. Sunyi meringkus  suasana. Pagi masih menyisakan dinginnya.

“Aku pesankan cappuccino ya,” Ranto mencoba mencairkan kebekuan yang lindap diantara mereka.

Ranti mendesah lalu mengangguk. Hatinya masih belum bisa menerima kebimbangan Ranto dalam memperjuangkan cinta.

Secangkir cappuccino mengepulkan aroma hangat telah tersaji di meja. Ranti menyeruputnya dengan penuh perasaan. Seolah dia ingin melesapkan sebagian resahnya dalam kehangatan cairan kecoklatan itu.

Sementara Ranto menghirup kopi hitamnya pelan.

“Aku tidak akan meninggalkanmu begitu saja, Ranti. Tidak denganmu. Kau bukan sekedar kekasih penghibur hatiku, kau adalah seseorang yang ingin kubawa dalam sisa hidupku. Aku tidak mau masalahku ini meninggalkan luka yang dalam untukmu. Untuk mengabarkan ini padamu saja, membutuhkan pergulatan yang panjang, apalagi untuk membawamu langsung berhadapan dengan Ibu. Apakah itu sepadan dengan hasil yang akan kita raih. Bukankah kamu akan lebih menderita lagi bila sampai di hadapan Ibuku, kau sama sekali tidak mendapat sambutan yang layak dari beliau. Bagaimana bila beliau mengatakan sesuatu yang menyakitkan hatimu. Aku tidak bisa membayangkannya.”

Ranti menggelengkan kepalanya demi menyanggah kalimat Ranto.

“Aku sepenuhnya sadar akan resiko itu. Tapi bukan berarti harus menyerah sebelum mencobanya.”

“Kau terlalu berharga bagiku untuk aku turut libatkan dalam masalahku ini Ranti.”

“Masalahmu. Masalahmu lagi. Ini menyangkut hidupku. Ini masalahku juga, Ranto. Kita bukan sepasang asing yang baru kemarin sore bertemu lantas jatuh cinta,” sergah Ranti kesal. Dia mulai putus asa dengan tekadnya untuk mempertahankan cintanya.

Its not that simple,” Ranto berbisik pada dirinya sendiri.

“Baiklah. Jadi aku harus melepaskan dirimu dengan penuh kerelaan,” ada nada satir pada ucapan Ranti.

Ranto terdiam gamang. Terbayang kerut kemerut di wajah ibunya. Lalu sosok kurus kecil dan seorang kanak-kanak yang montok . Bergantian ketiga bayangan itu menginvasi dirinya. Ia menguatkan hatinya.

“Mungkin memang jejak perjalanan kita sudah harus kita akhiri disini, Ranti. Betapapun inginnya aku meneruskan tangan kita bertautan hingga ke tujuan.”

“Kau sungguh mengecewakanku, Ranto.”

“Bencilah aku, sebut aku penjahat paling brengsek, lupakan aku, Ranti. Dengan begitu aku terbebas dari rasa bersalahku padamu yang menyiksa ini.”

“Aku mencintaimu Ranto. Memintaku untuk membencimu bukan hal yang mudah. Kau harus melakukan sesuatu yang benar-benar buruk untuk itu. Sedangkan kau, sekarang, hanya seorang anak yang tidak bisa menolak keinginan ibunya. Bagaimana aku bisa membencimu. Aku bermimpi menjadi seorang ibu suatu saat kelak. Tidak mungkin aku membencimu karena kau ingin membahagiakan ibumu. Aku hanya kecewa, saat sadar ternyata tidak ada sedikitpun keinginanmu untuk berjuang meminta restu Ibumu bagi kita. Untuk aku.”

“Aku sudah mencobanya, Ranti. Dan aku tahu persis ibu tak tergoyahkan.”

“Itu karena kau melakukanna sendirian. Mungkin saja bila kita melakukannya bersama-sama, Ibu akan melihat keteguhan cinta kita.”

“Tidak semudah yang kau bayangkan, Ranti.”

“Katakan ya, Ranto. Just, say yes. Selebihnya aku akan menanggung semuanya. Aku bersedia.”

“Bukankah sudah aku katakan, aku tidak mau kau menderita lebih dalam lagi.”

“Kau menyerah….” Ranti menghela nafas panjang.

“Ranti, percayalah. Aku sudah memikirkan semuanya. Aku mengambil keputusan yang akan sesedikit mungkin menimbulkan penderitaan bagimu. Biarlah aku saja yang menanggung duka menikahi seseorang yang tak kucintai. Demi sebuah bakti kecil yang mungkin tak bisa tuntas untuk membalas jasa ibuku. Orang tuaku. Ini kesempatan terakhirku untuk berbuat satu hal untuk membahagiakan Ibuku. Beliau sudah tua. Mungkin hidupnya tinggal bilangan jari saja.”

Ranti tergugu. Habislah sudah seluruh kekuatan dirinya. Dia luruh kembali dalam dekapan duka. Tak ada yang bisa Ranti katakan lagi untuk menjaga agar hubungannya tidak karam.

“Kau seorang perempuan yang menakjubkan Ranti. Bukan hanya bagiku. Setiap lelaki yang melihatmu, mengenalmu, sepakat denganku bahwa kau begitu menarik hati. Aku bangga pernah menjadi seseorang yang bisa masuk ke dalam hatimu, berdiam di dalamnya begitu lama. Aku bahagia karenanya.”

Ranti terisak. Sepasang jemari bertaut. Ranto mengelus punggung tangan Ranti yang halus.

“Jika kau tak ingin mengenangku, sebagai lelaki yang pernah kau cintai. Buang seluruh kenangan itu jauh-jauh, Ranti. Jangan biarkan aku berubah menjadi racun yang akan mengisap sari pati kehidupanmu pelan-pelan. Carilah penggantimu. Seorang laki-laki yang lebih bisa membahagiakan dirimu. Memperlakukanmu seperti ratu. Aku yakin kau akan mendapatkan kebahagiaan lebih dari yang pernah bisa aku berikan.”

Bukan itu yang aku inginkan, bisik Ranti dalam hati. Bukan menikah dengan lelaki lain yang aku impikan. Kau tak pernah tergantikan, Sayang.

“Aku tak ingin melupakanmu, Ranto. Kau lelaki yang pertama kali merebut hatiku. Tidak ada seorangpun lelaki yang bisa menerbitkan bahagia di hatiku seindah kau melakukannya selama ini. Bagaima aku bisa melupakan seorang laki-laki yang menyebutku sebagai perempuan berselendang pelangi,” tangisan Ranti pecah. Dia terisak menahan getaran yang mengguncang dadanya. Dia menelungkupkan kepala di tepian meja.

Ranto tercekat. Dia menggenggam tangan Ranti erat-erat. Berharap genggamannya bisa meredakan tangisan Ranti. Dibiarkannya Ranti menghabiskan aliran emosi yang tengah membanjir. Betapa ingin dia merengkuh tubuh yang sedang berguncang-guncang di hadapannya. Agar dia bisa meredam kesedihan Ranti dan menyesapnya habis ke dalam tubuhnya sendiri.

Sepoi angin menelisik kulit. Kantin masih sepi.

“Ranti, kau akan selalu menjadi perempuanku yang berselendang pelangi. Perempuan yang akan kunikahi itu hanya akan menjadi istriku. Dia tidak akan pernah menggantikan dirimu dalam hatiku.”

Tapi aku ingin menjadi istrimu, Ranto. Aku ingin menjadi ibu dari anak-anakmu, jerit Ranti  memantul-mantul di dinding hati. Dia dicekam ketidakberdayaan.

“Seperti apa rupanya? Aku ingin mengenalnya,” entah darimana suara itu datang, tiba-tiba Ranti telah mengatakan hal yang mengejutkan Ranto.

“Ranti…”

“Katakan, Ranto, agar aku tidak diliputi penasaran. Aku tidak mau menyerahkan begitu saja lelaki yang kucintai pada perempuan yang aku tidak ketahui seperti apa wujudnya.”

“Aku tidak memiliki fotonya. Sedangkan aku sendiri tidak begitu mengingat rupanya. Hmmm, aku tidak bisa mengingat rupanya.”

“Kalau begitu pertemukan aku dengannya.”

Ranto menatap wajah Ranti. Setelah segala usaha yang Ranti lakukan untuk bisa rela menerima keputusan Ranto. Tak sanggup rasanya Ranto mengecewakan Ranti sekali lagi. Perempuan itu sekilas mirip dengan Ibunya. Dia selalu tak ingin membuatnya kecewa. Ranto menghembuskan oksigen yang kini serasa meracuni rongga dadanya.

“Kau tahu itu tidak mungkin,” beberapa detik menguap begitu saja di udara, sebelum akhirnya, “Aku ceritakan yang sebenarnya terjadi.”

Tatapan Ranto menembus kedalaman telaga di mata Ranti. Lalu dia kembali membuka suara.

“Hidupku tergadaikan oleh sebuah wasiat, Ranti. Wasiat yang Ayahku sampaikan pada Ibu menjelang akhir hayatnya. Ibu menjaga wasiat itu dengan rapi selama bertahun-tahun tanpa aku tahu. Empat bulan sebelumnya kakakku satu-satunya hilang tanpa jejak. Samudera menelan jasadnya. Dia lenyap bersama kapalnya ketika berlayar menuju Makasar. Kami amat kehilangan. Ayah dilanda duka berkepanjangan, sehingga membuatnya menderita lahir batin. Penyakitnya semakin parah, memikirkan anak sulungnya yang tidak diketahui dimana jasadnya,” Ranto menerawang jauh. Matanya berkaca-kaca.

“Sampai kemudian beliau meninggal. Dan meninggalkan wasiat itu. Beruntung Ibuku adalah seorang perempuan yang tegar. Meski aku sudah berniat untuk berhenti kuliah, namun beliau melarangku dan bertekad membiayaiku hingga lulus. Dan wasiat Ayah itu, Ibu simpan seorang diri menunggu aku siap untuk menjalani tugas berat itu.”

Ranto menelan ludahnya yang terasa pahit. Tangannya meremas jemari Ranti yang dingin.

“Ketika itulah kemudian aku bertemu denganmu. Jika saja aku tahu sebelumnya bahwa aku harus menikahi perempuan itu, mungkin aku akan berusaha untuk tidak jatuh cinta padamu.”

“Betapa bahagianya dia bisa memilikimu, sementara aku harus rela berpisah denganmu.”

“Tidak, dia sama resahnya denganku memikirkan ini. Dia tahu aku sudah memiliki kekasih. Sebagai perempuan desa dengan segala kekurangan dia tidak ingin keberadaannya tidak mendapat tempat di hatiku. Karena itu dia telah memberi kebebasan untukku memilih.”

“Dan kamu telah memilih perempuan itu.” Ranti berkata dengan kesedihan yang menancap tajam.

“Aku memilih untuk mengorbankan hidupku sendiri untuk memenuhi wasiat ayah. Untuk membahagiakan ibu. Dan menjadi suami pengganti kakak kandungku yang hilang ditelan samudera sewaktu berlayar. Dia butuh suami, anaknya butuh ayah.”

Ranti terkesiap. Betapa absurdnya hidup. Dia menghabiskan waktunya untuk mencintai Ranto, tapi kekasihnya itu tidak bisa dia miliki seutuhnya. Ranto telah menciptakan berbait-bait puisi cinta untuk dirinya, nyatanya dia terpaksa harus mengorbankan dirinya demi seorang perempuan yang pernah menjadi istri kakak kandungnya. Sementara perempuan itu.…

Ranti dilanda rasa yang berkecamuk. Duka seolah berkuasa dalam dirinya. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Dan kini, dia sudah tak ingin menahan Ranto lagi.

“Baiklah, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan,” katanya pelan. Terasa ada getir yang mengiris-iris hatinya.

“Maafkan aku, Ranti.”

“Semoga kau bahagia dengan perempuan pilihanmu itu,” Ranti beranjak dari tempat duduknya. Dia sebisa mungkin mencoba menguasai dirinya yang limbung. Kemarin dia menginginkan perpisahan ini. Tapi kini, sadar bahwa Ranto akan menikahi perempuan lain dia seperti mau tumbang saja rasanya. Lelaki yang amat dicintainya ini akan segera jadi milik orang lain. Tidak akan ada lagi puisi cinta yang bisa meredam rindunya. Tidak ada lagi kata-kata mesra yang menyiratkan cinta ditujukan untuk dirinya seorang.

Dengan hati yang remuk-redam Ranti meninggalkan Ranto yang terpaku. Cinta dan duka terkadang bersenyawa. Siapapun tidak bisa menangkis duka yang berkelindan dalam cinta. Meski itu cinta sejati sekalipun.


PS: Ini adalah cerpen hasil remidi. Ada sedikit perbedaan dengan versi aslinya. Pada versi asli saya memasukkan karakter lain, meskipun sifatnya hanya pelengkap saja. Namun karena tidak diizinkan, maka karakter tambahan itu saya hilangkan, dengan sedikit merombak alur cerita tentunya. Tapi karena tema cerpen ini sudah ditentukan maka sebenarnya tidak ada perubahan berarti dalam ceritanya.

Repost from My Facebook Notes, Waikabubak, 25 Oktober 2012

Jalan Terjal

Tidak terasa perjalananku mengikuti Audisi Menulis yang diselenggarakan oleh Gradien Mediatama sudah memasuki minggu ke 7. Saya sudah menulis 11 judul cerita mulai dari cerita super mini yang minimal berisikan 350 kata, sampai cerita pendek yang memuat 3000 lebih kata. Jika termasuk dengan minggu remidial, maka total cerita pendek yang saya tulis sudah mencapai 12 judul.

Yang bisa saya dapatkan dari audisi menulis ini sebenarnya adalah petuah sederhana yang sudah seringkali saya dengar dari orang tua dan orang-orang bijak, yaitu bahwa siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan mendapat apa yang diinginkannya.


Man jadda wa jada. Siapa yang tak kenal kata-kata ini? Saya mendengar kata mutiara Arab ini pertama kalinya ketika saya masih kelas 5 SD. Ibu sayalah yang memperkenalkan kata mutiara tersebut saat saya sedang mengikuti pelajaran di Madrasah Diniyah yang kebetulan dipimpin dan salah satu pengajarnya adalah ibu saya. Waktu itu saya hanya diberi tugas untuk menulis kata mutiara itu dengan sebaik-baik tulisan. Entah karena saya masih terlalu kecil, atau karena sayanya kurang memperhatikan, kata mutiara itu mampir di otak saya sebatas hafalan saja. Saya belum bisa memaknai kata mutiara yang kini terkenal setelah A. Fuadi, mengusungnya menjadi nyawa dalam novelnya Negeri Lima Menara. Makanya ketika kemudian saya membaca Novel tersebut, ingatan saya meruah kembali kepada pelajaran yang saya terima dari ibu saya.Yang mengendap begitu saja tanpa bisa saya pahami dan ejawantahkan maknanya dalam kehidupan sehari-hari.

Bertahun kemudian, saya menemukan sebuah buku yang bagus yaitu The Alchemist karya Paulo Coelho, penulis hebat dari Brazil (kalau tidak salah). Paulo menulis “And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it". Dan, ketika dirimu menginginkan sesuatu, seluruh semesta raya bersekutu untuk membantumu mencapai apa yang kau inginkan. Kata-kata yang ditulis dengan kalimat lain dari kata mutiara Man Jadda Wa Jada, tapi saya mengartikannya sama. Siapa saja yang benar-benar menginginkan sesuatu maka niscaya ia akan mendapatkannya, selama dia benar-benar berusaha untuk itu.

Itulah yang sedang saya renung-renungkan beberapa hari ini. Betapa banyak hal yang saya lewatkan karena saya kehilangan passion untuk mendapatkannya. Saya sering merasa kalah sebelum bertanding. Dan sibuk menghitung-hitung bisa atau tidak, mampu atau tidak, sanggup atau tidak. Sampai akhirnya saya tidak melakukan apa-apa dalam meraih impian saya. Saya diam di tempat.

Saya merasa bersyukur dipertemukan dengan Gradien Audisi. Melalui ajang inilah saya benar-benar mempraktekkan pelajaran yang saya terima saat masih kelas 5 SD itu. Saya diarahkan untuk melakukan sesuatu dengan usaha maksimal. Menulis hingga merasa mentok, tapi kemudian menulis lagi untuk sampai pada garis finish yang ditentukan. Saya didorong, dipaksa dan dikejar mati-matian untuk menulis. Menulis. Dan menulis lagi.

Kini, setelah perjalanan saya pada audisi ini sudah hampir mencapai garis batas yang ditentukan, saya baru menyadari betapa benarnya kata mutiara itu. Dan betapa banyaknya waktu yang telah saya buang percuma.

Tapi ini belum apa-apa. Audisi ini bukan puncak keberhasilan saya. Ini adalah sebuah awal. Ibarat jalan, sekarang saya tengah menghadapi sebuah jalan terjal dan mendaki. Dan bukan tidak mungkin di balik tikungan tajam yang menyembunyikan pandangan saya dari apa yang akan saya hadapi di depan, sudah menunggu onak, duri, jurang yang menganga dan hewan buas yang siap menyarangkan taringnya kepada saya.

Perjuangan saya yang sebenarnya ada di balik audisi ini. Jika saya lolos, bisakah saya memenuhi tantangan dari gaung yang memantul-mantul dari dalam hati saya. "Menulislah sesuatu yang akan membuat dunia melihatmu. Mungkin kau ada di sebuah pulau terpencil, jauh dari peradaban dan masih setengah primitif, tapi apakah itu akan terus menghalangimu? Menulislah sesuatu. Buatlah dunia tahu akan dirimu."

Jadi, kenapa tidak? Bukankan seisi dunia sekarang sedang berkonspirasi untuk membantu saya mewujudkan sebuah mimpi?

Repost from My Facebook Notes, Waikabubak, 24 Oktober 2012

Bonus

Senang sekali dapat tambahan waktu di minggu ke-enam ini. Meskipun arti sebenarnya adalah tugasku harus diremidi, hehehe. Second chances, pernah dengar itu kan. Tidak setiap orang mendapatkan kesempatan kedua dalam hidupnya. Jika kemudian second chances itu disia-siakan, tidak dipergunakan untuk memperbaiki kesalahan kita, maka sungguh rugilah kita.

Minggu kemarin itu pula secara tidak sengaja, saya menonton sebuah film yang menurut saya sangat inspiring. Annapolis. Begitu judul film yang saya tonton di sebuah teve swasta nasional itu. Film yang saya belum pernah saya ketahui sebelumnya. Dan dari pemerannya, saya tahu film ini tidak begitu meledak di pasaran. Atau setidaknya begitu anggapan saya.


Apa yang menarik dari film itu? Film yang disutradarai oleh Justin Lin ini menceritakan perjuangan seorang pemuda kulit putih untuk menjadi kadet pada US Naval Academy. Bagaimana dia berjuang seorang diri untuk mendaftar kemudian memasuki pendidikan yang keras. Dia menghadapi tekanan dari instruktur yang sangat keras, cibiran dari teman-teman seangkatannya yang kecewa karena dia selalu menyebabkan seluruh kelas mendapatkan hukuman masal, dan sikap dingin ayahnya yang menginginkan dia meneruskan karir ayahnya sebagai ahli pembuat kapal untuk angkatan laut.

Suatu hari, dimana seluruh kadet diperkenankan untuk libur, Huard si pemuda itu, pulang ke rumahnya di galangan kapal. Menemui ayahnya dan mengatakan dia tidak sanggup lagi meneruskan cita-citanya untuk menjadi kadet di US Naval Academy. Sang ayah gembira, dan langsung menyiapkan sebuah posisi di galangan kapal yang dikepalainya. Namun, sesaat kemudian, ketika sang ayah telah keluar dari rumah, Huard menemukan secuil kertas yang ditempel di pintu kulkas. Sebuah catatan taruhan antara teman Huard dengan ayahnya tentang seberapa lama Huard bertahan di Academy. Huard tersinggung berat dengan taruhan yang nyaris saja dimenangkan oleh ayahnya itu. Kemudian dia berkemas dan menemui ayahnya.

Dia berkata pada ayahnya: "Ayah macam apa yang menginginkan anaknya gagal."

Ayahnya menjawab dengan tegas:" Dirimu sendiri yang menyebabkan kau gagal, bukan ayah."

Huard tercenung. Dia terlecut dengan ucapan ayahnya. Dengan tekad yang membara kemudian dia kembali ke Academy untuk menuntaskan apa yang sudah dimulainya. Dia ingin membuktikan kepada ayahnya, kepada teman-teman yang underestimate kepadanya dan kepada instruktur yang selalu menekannya bahwa dia bisa.

Setelah itu semua pelajaran keras yang dia terima dari Academy, dia santap habis-habisan. Ketika temannya istirahat, dia mati-matian belajar. Ketika teman-temannya mengira dia akan menyerah, dia terus mendorong dirinya sekuat tenaga untuk sampai di titik final. Namun halangan kadang tidak semata datang dari dalam. Ketika mendapati teman akrabnya yang putus asa dan menjatuhkan dirinya dari gedung bertingkat di kampusnya, Huard berang dan menyerang instruktur yang telah menyebabkan keputusasaan yang mendalam pada diri temannya itu. Dia terancam diskors. Dikeluarkan dari academy karena telah melanggar aturan yang berat hukumannya.

Ketika menunggui temannya yang selamat dari percobaan bunuh diri itu, Huard menyatakan akan mengundurkan sebelum sidang dirinya dilaksanakan. Temannya kemudian mengatakan: "Saya telah mendapatkan second chances dalam hidup saya, saya berharap kamu juga memanfaatkan second chances yang kamu dapatkan sebaik-baiknya."

Huard mendapatkan dispensasi penangguhan masa sidang. Di jeda itulah dia mengerahkan segala kemampuannya untuk bertanding boxing demi membahagiakan temannya dan untuk mencari jati dirinya. Dan dia kalah. Kekalahan yang membanggakan dirinya. Semangatnya di ring boxing pada akhirnya menjadi pemicu semangatnya bagi kemenangan dia dalam meraih cita-citanya menjadi kadet angkatan laut.

Second chances itulah yang mempengaruhi saya seminggu ini. Saya menganggap kebetulan ini bukan murni suatu kebetulan. Tuhan telah merancang sebuah pembelajaran yang asyik untuk saya, dalam menyikapi hidup. Seberapa banyak waktu yang kita sia-siakan. Dan terkadang, sebuah kesempatan kedua urung dimanfaatkan sebaiknya. Seringnya kita terjerumus di kesalahan yang sama, karena tidak menggunakan kesempatan kedua untuk memperbaiki keburukan dan kelemahan kita.

Kesempatan kedua tidak pernah datang dua kali, begitu tutur seorang kawan lama. Saya merasa diri saya seperti Huard di awal kisahnya, yang sering mengalami masa-masa menyerah dan kalah. Namun setelah menonton film itu, semangat saya bangkit. Keyakinan saya membumbung tinggi. Dan harapan saya untuk menjadi seorang yang saya inginkan, kembali menguat. Hanya orang yang memiliki impianlah yang akan berhasil.

Temanku yang baik hati.
Untuk minggu ini, dengan menyesal saya belum dapat memposting cerpen tugas GWA06. Seperti saya katakan di muka, cerpen saya harus diremidi. Mudah-mudahan saja, keharusan meremidi cerpen saya itu bukan karena cerpen saya buruk rupa. Melainkan semata-mata karena adanya miss interpretasi masal terhadap aturan yang ditetapkan oleh Gradien pada tugas minggu lalu. Di luar itu, bagi saya remidi itu adalah bonus waktu untuk saya. Semacam second chances rupanya.

Saya nukilkan tweet dari Gradien di twitter ya. Begini. "Sekali lagi, pekerjaan utama pengarang adalah mengarang. Pekerjaan sampingan pengarang adalah membaca. Di antara keduanya, hanyalah selingan, hihi."

Salam hangat.


Repost from My Facebook Notes, Waikabubak, 18 Oktober 2012

Kisah Ranto


Sebulan ini adalah masa-masa tersulit bagiku. Aku harus mengelak dari pertanyaan Ranti yang terus menerus dicecarkan padaku. Aku tahu sikap Ranti bukan tak berdasar. Setiap perempuan pasti akan memberikan respon yang sama seperti Ranti saat sesuatu yang membingungkan dan mencurigakan mengambang di benaknya.

Aku memandang wajahku di cermin yang menempel pada lemari pakaian. Jika memang ini akan menjadi pertemuanku yang terakhir dengan Ranti, aku ingin memastikan tak ada setetespun keringat yang membuatku lusuh seolah perpisahan itu menjadikanku sesengsara kuda beban. Terutama karena aku tak ingin membuat Ranti berpikir bahwa aku memang telah benar-benar mengkhianatinya. Seperti apa yang telah dia dugakan padaku.


Ranti. Perempuan yang kugambarkan dalam puisi selalu berselendang pelangi, terlalu berharga untuk kucemari dengan mukaku yang kusut karena memendam muram. Karena itulah aku menghindari pertemuan dengannya akhir-akhir ini. Melihatku datang dengan kelam di sekujur wajahku, pasti akan membuat senyumnya yang manis menghilang dari wajahnya. Dan mata itu akan redup seperti cahaya meteor yang lambat laun menghilang dari pandangan. Dan itu sangat menyakitkan.

Aku sangat mencintai Ranti. Belum pernah aku menemukan perempuan dengan kegilaannya pada buku sama besarnya dengan kegilaanku pada puisi. Dia menyimak puisi yang tak pernah laku kujual ke surat kabar, majalah atau penerbit manapun, dengan ketekunan sama seperti dia sedang membaca buku-bukunya. Seolah puisiku itu adalah masterpiece seorang maestro sastra. Dia akan menatapku penuh kekaguman. Mengerjapkan matanya setiap kueja kata yang menyiratkan cinta. Dan selalu memintaku membacakan puisi pada malam-malam setiap aku sedang berada jauh darinya.

Dia seperti bayi yang manja. Juga seperti seorang remaja yang selalu jatuh cinta. Yang paling kusuka adalah dia seperti pengagum setiaku yang sebelumnya tak pernah kupunya. Dia menyoraki setiap aku selesai tampil. Dan dengan berkilat-kilat, matanya secara bahagia menularkan semangat padaku untuk terus menulis puisi. Lagi dan lagi.

Aku jadi keranjingan menulis puisi cinta meskipun hasilnya tak seindah puisi Menulis Cinta-nya Sitok Srengenge ataupun Dalam Doaku gubahan penyair idolaku Sapardi Djoko Damono itu.

Semua kupersembahkan untuk Ranti. Sebab setiap aku memikirkan dirinya, deretan kata-kata cinta berdesakan dalam benakku, berjejalan meminta digoreskan menjadi seuntai puisi.

Aku melihat Ranti untuk pertama kalinya dalam sebuah dialog yang aku dan kawan-kawanku selenggarakan di kampus. Saat itu kami mengundang Sam Bimbo untuk menyampaikan pengalamannya dalam menapaki dunia music religi. Aku duduk di deretan paling depan di sisi kanan dengan sejumlah anggota UKM Seni Budaya yang mendukung kegiatan itu. Ranti yang duduk di kursi pengunjung, tak pernah menyadari sepasang mataku tak pernah lepas memandang wajahnya yang ayu keibuan. Menatap lekat Sam Bimbo yang sedang menyanyikan lagu Air Mata Ibu, dengan senyum yang seolah terpatri di gurat bibirnya dan linangan air mata yang luruh pelan di pipinya. Wajah Ranti itu adalah wajah imajinasi yang sering terbayang saat aku sedang dirundung perasaan melankolis. Wajah yang ingin kulukis dalam syair-syair puisiku. Memandangnya seperti menemukan inspirasi yang kucari-cari.

Maka pada sebuah pentas seni yang telah kunanti-nanti. Aku bacakan seuntai puisi gubahanku di hadapannya. Aku melihat kilau yang sama di matanya. Hanya saja ia tertahan di sana, tidak luruh di pipinya yang seranum apel Shanghai itu. Dia tersipu karena seluruh pengunjung pentas yang kebanyakan adalah teman-teman dekatku itu riuh bertepuk tangan dan bersiul panjang sembari menggodanya dengan tawa.

Saat itu aku tahu dia benar-benar perempuan berselendang pelangi seperti dalam khayalanku. Diam-diam aku berjanji bahwa dia adalah perempuan terakhir dalam hidupku. Janji yang ternyata sekarang harus aku ingkari sendiri. Aku mengkhianati diriku sendiri. Sekaligus aku mengkhianati ketulusan Ranti.

Aku tidak pernah siap untuk berpisah dengan Ranti. Dia telah menjadi nyawa bagi hidupku. Dia telah menjelma aksara bagi kata-kata dalam puisiku. Aku membutuhkannya lebih dari yang dia tahu.

Namun itu belum seberapa bagiku. Membayangkan aku akan segera memporak-porandakan harapannya membuat aku sungguh tersiksa. Membayangkan wajahnya yang akan menjadi sekelam kabut gunung sungguh membuatku merana.

Aku tak pernah lupa riang wajahnya bercerita tentang celoteh kanak-kanak yang berlarian di rumah kami yang mungil kelak suatu hari. Di sela-sela kesibukannya menyunting sebuah buku, tangis dan tawa kanak-kanak itu menghangatkan suasana. Dan pelukan-pelukan mesra yang diaromai harum bumbu dapur.

Aku hanya bisa berkata: Kita akan sampai di sana, Sayangku.

Sesungguhnya saat itu aku merasa begitu bahagia memiliki perempuan yang begitu sempurna.

Dan semuanya tiba-tiba harus berakhir. Dalam waktu kurang lebih lima belas menit lagi, aku akan menjadi musuh baginya. Mungkin lebih buruk lagi, musuh yang namanyapun tak akan pernah ingin Ranti ingat lagi.

Ruangan kotak ini terasa begitu pengap. Aku telah menghabiskan hampir empat tahun umurku di kamar ini. Tak pernah aku merasa sepengap ini di dalamnya. Padahal dari sinilah semua puisi-puisiku lahir. Ini sungguh lima belas menit yang paling lama yang pernah aku rasakan.

“Aku tak bisa melakukannya. Benar-benar tidak bisa,” aku berkata dengan jiwa yang hampir runtuh kepada  sesosok perempuan yang duduk tercenung di depanku.

Siang itu, tiga bulan yang lalu, saat matahari tengah terik memanggang bumi. Aku bagai disambar petir di siang bolong mendengar pengakuan perempuan tua yang telah melahirkanku dua puluh tiga tahun yang lalu itu.

Mendiang ayahku yang meninggal genap seribu hari menitipkan sebuah amanat yang teramat berat kepadaku. Amanat yang disampaikan beliau ketika ajal hampir menjelang kepada ibu. Dan saat itulah waktu yang tepat bagi untuk menyampaikan amanat itu kepadaku. Aku dirasa telah siap untuk menerima amanat itu.

“Apa pasal yang menyebabkan kau tak bisa menjalankan amanat ayahmu itu, Nak,” ibu bertanya dengan suara parau.

“Aku tidak bisa menikah dengan seseorang yang tidak aku cintai, Bu.”

“Belajarlah untuk mencintainya, cinta ibarat benih tanaman, dia bisa tumbuh bila kita tanam, pelihara dan kita jaga. Lagipula, apakah kau sanggup menolak wasiat dari mendiang ayahmu, itu sama halnya dengan kau menginginkan ibumu ini mati?”

Kalimat ibu seperti biasanya selalu mengandung mantra yang sanggup membuatku menyerah pada keinginannya. Aku menundukkan kepalaku yang terasa berat. Dunia gelap.

Bagaimana sepenggal cerita yang kubawa dari kepulanganku ke kampung halaman tiga bulan yang lalu itu bisa kubagi dengan Ranti. Beratnya wasiat yang harus kujalankan ini masih bisa aku tanggung. Pulang ke kampung, lalu menikahi perempuan asing yang wajahnya hanya kulihat di foto album keluarga. Ibuku mungkin benar cinta bisa tumbuh asal kita mau menanamnya. Aku banyak mendengar cerita serupa terjadi di sekitar kita.

Tapi betapa perihnya luka yang harus kutoreh di hati Ranti, karena semua impian dan harapan yang dia bangun denganku harus hancur berkeping-keping karenanya. Itu adalah luka terperih yang akan menghantuiku seumur hidupku. Luka yang tak mungkin kunjung mengering karena setiap mengingat namaku, luka itu akan tertoreh lagi.

Maka aku terus mengelak. Aku menghindar dari Ranti. Bahkan mendengar suaranyapun sangat menyakitkanku. Aku tak sanggup mendengar semua tanya yang Ranti ajukan padaku. Bagaimana aku harus menjelaskan padanya bahwa aku harus menyerahkan diri menikahi perempuan yang tidak kukenali demi baktiku pada kedua orang tua.

Aku terus berpikir, kenapa tidak Ranti saja harus menikahi lelaki lain. Meskipun aku pasti sama sakitnya dengan Ranti sekarang ini, tapi setidaknya aku tidak perlu melihat dia terluka. Aku masih bisa melihatnya mencari kebahagiaannya dari pernikahannya itu.

Tapi itu tidak terjadi pada Ranti.

Aku harus bersiap. Ini terakhir kalinya aku akan memandangi wajahnya yang selalu bersinar seperti senja yang jingga. Wajah yang selalu membuatku ingin menghabiskan seluruh umurku di sampingnya. Wajah yang saat sedih dan bahagia sama eloknya untuk kupandang. Wajah yang ketika manja dan marahnyapun selalu membuatku gemas tak terkira.

Biarlah semua tanya yang pernah ada, tidak perlu kusediakan jawabannya. Karena kupikir ada dan tidaknya jawaban itupun tetap tidak bisa mengubah keadaan yang menelikungku sedemikian rupa. Jadi biarlah Ranti dengan segala praduga dan kecurigaannya. Mungkin lebih baik membiarkan Ranti mengira bahwa aku telah berpaling darinya daripada memberitahukan bahwa aku akan menikah dengan perempuan lain yang tidak dikenal sebelumnya, dan aku tidak bisa menolaknya.

Bukankah menyakitkan mengetahui lelaki yang dicintainya menyerah kalah pada keadaan tanpa ada sedikitpun usaha untuk melawan.
Aku memandang jauh ke depan melintas bingkai jendela, menerobos bunga sepatu yang tengah bermekaran di samping kamar kostku. Jauh ke selaput-selaput cahaya yang dibiaskan oleh senja di atas cakrawala. Senja yang indah ini akan jadi penghabisan dari hubunganku dengan Ranti.

Kegaduhan di luar kamarku, tidak kupedulikan lagi. Gelak tawa yang sebelumnya mengusir penatku, tak menghiburku lagi.

Aku raih ponsel yang sudah sebulan ini hampir jarang kugunakan untuk menghubungi Ranti lagi. Mungkin saja aku akan memerlukannya untuk mewakili diriku mengakhiri hubungan ini.

Pada kolom teratas kotak pesan di ponselku itu, terbaca pesan Ranti yang sampai kini belum ku balas. Tepatnya lagi tak akan pernah kubalas.
Sebulan yang lalu, aku benar-benar tidak tahan ingin mengeluarkan segala kekalutan yang membelenggu pikiranku. Lalu dengan kesadaran yang telah separuh hilang, aku mengirimkan sebuah pesan pendek kepada Ranti. Pesan yang akhirnya aku sesali. Tak seharusnya aku kirimkan keluhanku itu pada Ranti. Sejak awal aku tak ingin membeberkan masalah keluargaku ini padanya.

Sejak itulah Ranti terus bertanya-tanya. Sejujurnya aku mengharapkan kemarahan Ranti. Dengan begitu akan lebih mudah bagiku untuk menghadapinya. Tapi Ranti tetaplah Ranti, yang selalu menyembunyikan kesedihan, kemarahan dan kekalutan jauh di lubukning seperti air telaga, dengan kebohongan demi kebohongan yang terus aku sembunyikan darinya. Aku jadi merasa ditimbuni perasaan bersalah setiap hendak menekan tuts ponsel sekedar hendak mengiriminya sapaan selamat malam.

Dan semua kekalutan yang silang sengkarut ini harus kuakhiri dengan segera. Agar Ranti bisa melanjutkan hidupnya yang cemerlang. Agar dia bisa memulihkan kembali hatinya yang telah kuracuni kenangan kerisauan dan kesedihan. Aku ingin melihatnya kembali tersenyum meski aku sendiri harus melupakan keinginanku terus hidup berdampingan dengannya.

Tentang bagaimana aku akan mengakhiri hubunganku dengan Ranti sebenarnya aku tak peduli. Yang ingin kulakukan saat ini hanyalah menemuinya.
Aku melangkah gontai menuju pintu kamarku. Dengan langkah yang kubuat ringan, aku menguatkan hatiku untuk menuju ke taman tempat aku berjanji akan bertemu dengan Ranti.

Sepanjang jalan aku mengenang pertemuanku pertama kalinya dengan Ranti. Wajahnya yang tirus putih bersemu merah itu sangat mempesonaku pagi itu. Aku masih ingat pipinya yang bersemu merah saat aku usai mempersembahkan sebuah puisi untuknya. Aku bersitatap dengannya dengan tatapan termesra yang pernah ada.

Ranti mungkin tengah duduk menungguku di sana. Selama kebersamaanku dengannya hampir selalu dia yang menungguku dalam setiap kesempatan. Dia yang terbiasa melakukan segala sesuatu sesuai waktunya, tidak pernah merasa keberatan melakukan itu. Baginya memahami aku sebagai kekasihnya mungkin merupakan kebahagian tersendiri. Sementara aku, dengan segala keteledoranku, tak pernah berhasil membuat Ranti tidak harus menunggu.

Ranti tidak pernah menyalahkanku atas kebiasaan burukku itu. Dia hanya tersenyum dan berkata: "Suatu hari nanti kau akan tahu betapa berharganya waktu.”

Lalu kemudian aku akan menjawil hidungnya yang sedikit melengkung ditengahnya seperti paruh seekor burung kakak tua. Dia selalu tergelak dengan pura-pura menepisku. Semua terasa begitu indah untuk dikenang.

Entah apakah setelah pertemuan ini, semua kenangan manis itu layak untuk aku kenang kembali. Rasanya tak adil bagi Ranti, aku masih menikmati kenangan indah saat-saat indah bersamanya, sementara akulah yang telah menyebabkan perpisahan ini kan terjadi.

Entah mengapa, sebelum semuanya benar-benar berakhir aku ingin melahap semua kenangan bersama Ranti sebelum semuanya menjadi tabu bagiku.
Ponselku berdering. Ada pesan yang masuk dari Widya. Aku mendesah panjang. Kelak tak lama lagi nama ini yang akan menggantikan Ranti, mengisi kekosongan hidupku. Dia tak bersalah, dia tak layak mendapat perlakuan antipati dariku. Bahkan sebenarnya dia patut mendapatkan seluruh sisa perhatianku yang telah habis kugunakan untuk memikirkan Ranti.

Bukan salahnya jika saat kandungannya menginjak delapan bulan suaminya yang adalah kakak kandungku meninggal karam di Selat Sulawesi.  Bukan salahnya pula jika ayahku yang tertekan batin akibat kepergian kakakku yang mendadak dan tragis itu akhirnya tak lama meninggal dunia. Bukan pula salahnya jika ayah yang tak sanggup memikirkan nasib buruk menantu dan cucu yang masih dalam kandungannya itu akhirnya menitipkan sebuah wasiat untukku kepada ibuku. Wasiat yang seminggu lagi harus aku jalani.

Perempuan itu butuh perlindungan dan status dariku. Sudah jamak di kampungku, kejadian bilamana ada seorang laki-laki meninggalkan istri, maka istrinya harus dinikahi oleh saudara kandungnya sendiri, demi menjaga martabat keluarga.

“Aku tidak akan memaksamu untuk menikahiku, Ranto. Semua berpulang pada keputusanmu. Aku akan tetap tinggal dengan ibu di kampung bersama anakku, meskipun dirimu tidak jadi menikahiku. Aku tidak mau menjadi beban bagi hidupmu.”

Terbayang wajah ibuku saat menyampaikan amanat ayahku. Kemurahhatian Widya ini belum tentu akan diterima dengan baik oleh ibuku. Masih terngiang jelas kata-katanya. Aku akan membuat beliau mati jika aku menolak melaksanakan amant ayah itu.

Aku membalas pesan pendek dari Widya dengan singkat.

“Biarkan aku yang memutuskan.”

Aku menutup ponselku. Lalu melangkah dengan hati yang lebih lega. Ranti dengan segala kelebihan dan pesonanya, akan lebih bisa bertahan menerima kenyataan pahit ini. Dia akan dengan segera melupakan sakit hatinya meskipun aku tahu aku cinta pertamanya. Setelah wisuda dan bekerja sesuai keinginannya, pasti Ranti akan segera menyusulku bersanding dengan lelaki yang kelak akan menjadi ayah dari anak-anaknya. Mungkin segala perih dan luka itu akan lebih mendewasakan Ranti.

Widya lebih membutuhkan aku. Anak yang dilahirkannya membawa aliran darahku. Apa yang bisa diperbuat oleh perempuan desa sepertinya untuk menghidupi satu-satunya penerus keturunan keluargaku.Sementara ibu telah beranjak renta. Tentu tidak lama lagi, beliau tidak sanggup lagi untuk menopang kehidupan mereka bertiga.

Ranti maafkanlah aku. Mungkin keputusanku ini telah membuat derita di hidupmu. Jika saja aku bisa memilih, tentu akan lebih memilih untuk mendampingi hidupmu selamanya. Namun hidup ternyata banyak memberikan duka, aku harus rela menyanding Widya  atas nama kemanusiaan dan bakti kepada orang tua.

Rasanya aku ingin segera bertemu dengan Ranti di taman itu. Aku ingin sekali lagi memandangi wajah tulusnya. Menciumi harum rambutnya. Dan mengatakan berjuta maaf yang keluar terus menerus dari bibirku.

Aku berdzikir nama dan ampunan darimu, Ranti.

Aku bergegas mempercepat langkahku menuju taman dimana Ranti telah menunggu. Taman yang dipenuhi pohon beringin yang rindang dan hijau itu akan menjadi saksi bisu akhir hubunganku dengan Ranti.

Itu dia, bisikku. Dari kejauhan aku sudah bisa melihat bayangan tengah duduk di sebuah bangku tepat di tengah-tengah jalan yang akan kulalui ini. Dengan wajah yang penuh menyembunyikan duka saja, masih terlihat pesonanya yang menentramkan hatiku.

Aku tahu dia sudah melihat kedatanganku. Apa yang dia pikirkan? Apa yang akan dia katakan? Apa yang akan aku jelaskan padanya?

Bayangan tubuhnya di taman semakin terlihat jelas. Wajahnya yang disinari lembayung senja menambah indah pesonanya. Aku tak mau sedetikpun lepas dari pandangannya. Aku tidak pernah menyesali semua yang pernah terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi. Semua telah diguratkan bahkan sebelum semua ada.
Yang perlu kulakukan adalah mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya agar perpisahan ini layak dikenang oleh Ranti. Aku mungkin telah mengabaikannya sebulan ini. Tapi Ranti harus tahu aku bukan lelaki yang akan meninggalkannya begitu saja. Aku akan tetap memberikan senyumku untuk menenangkan kegelisahannya. Senyum yang akan Ranti kenang sebagimana dia mengenang senyum saat pertama kali kami bertemu. Aku akan tetap menatapnya lekat, seperti tatapanku di atas pentas saat pertama kalinya kupersembahkan sebuah puisi untuknya. Dia layak mendapatkan perhatianku yang masih tersisa beberapa hari ini.

Ah, Ranti tetap begitu cantik. Meski ada bayang-bayang yang menggenang di pelupuk matanya. Dia tetap menebarkan pesonanya. Itulah mengapa aku tak bisa berhenti mencintainya. Aku tak bisa melukai hatinya dengan berterus terang tentang semua ini. Wajah itu sangat berharga untuk aku cemari dengan air mata.

Dia menyambutku meskipun dia tahu bahwa ini mungkin pertemuan terakhir diantara kami berdua. Senyum itu menghiasi bibirnya seolah tidak ada kekacauan yang telah kuperbuat dalam hidupnya.

Aku melihatnya menundukkan kepala. Mungkin air mata yang menumpuk di pelupuk matanya begitu berat untuk dia tahan. Aku ingin menghapus air mata itu selamanya.

“Ranti, maafkan aku.”

Suaraku itu lenyap ditelan sang bayu.

“Jangan menangisiku, aku tak patut kau tangisi.”

Kembali angin melarikan bisikanku.

Ranti telah berada tepat dihadapanku. Aku hanya bisa menatapnya dengan seluruh cinta yang ada. Tiada kata yang tepat yang bisa menggambarkan perasaanku saat ini. Semua karam dalam air mata yang deras menetes di pipi Ranti berlinang-linang jatuh ke bumi. Ujung hidung Ranti yang selalu menggemaskanku itu kini merah basah.

Aku tak dapat mengeluarkan suaraku lebih dari dua kalimat saja. Yang semua tidak Ranti jawab melainkan dengan isakan yang semakin tak tertahankan.
Apa yang harus kukatakan padanya. Aku tak tahan melihatnya bersimbah air mata.

Aku menunggu sesuatu yang datang dari bibirnya. Apa saja bahkan makian yang siap aku telan dalam-dalam. Tapi hanya desah Ranti yang semakin kuat menggangguku.

“Ranti…” aku meminta sesuatu yang aku sendiri tak tahu wujudnya apa.

Tubuh Ranti semakin layu didepanku. Aku tidak tahu harus berkata apa. Kedatanganku untuk mengakhiri semua ternyata begitu berat untuk diungkapkan dengan kata-kata.

“Aku mencintaimu, Ranto. Masih mencintaimu.”

Aku tak percaya kalimat itu keluar dari bibir Ranti. Perempuanku yang berselendang pelangi ini, tak sedikitpun menampakkan amarah dan kekecewaan. Cinta seperti tak pernah bisa lenyap dari hidupnya. Aku bergelimang cinta saat pertama bertemu dengannya, aku bergelimang cinta selama dua tahun tiga bulan ini bersamanya, aku masih juga bergelimang cinta di saat-saat terakhir kisah cintaku dengannya.

Tiba-tiba aku ingin memeluknya. Memberinya perlindungan yang tak bisa aku berikan. Memberikan kehangatan yang  tak akan aku bisa persembahkan. Memberinya kedamaian yang urung aku janjikan.

Aku memeluk Ranti sejadi-jadinya, sekuat-kuatnya. Sebab aku tahu ini akan jadi pertemuan terakhir. Tak akan ada pelukan, cinta dan kasih sayang yang akan aku berikan lagi padanya setelah ini.

Ku hapus air matanya dengan jemariku yang gemetar. Kubelai rambutnya dengan belaian terlembut yang pernah kulakukan. Untuk menukar penderitaan yang telah kuperosokkan begitu jauh ke dalam hidup Ranti.

Ranti masih menangis. Bibirnya masih gemetar. Air matanya masih berlinang menuruni lekuk pipinya.

Mengapa Ranti, tak cukupkah pelukan ini untuk menghentikan deraian air matamu?

Saat tubuh Ranti yang berguncang menepis oleng tubuhku, berlalu dari hadapanku, aku tersadar, aku ternyata tak pernah benar-benar memeluknya.


Repost from my Facebook Notes, Waikabubak, 10 Oktober 2012

Kisah Ranti

Sehelai daun beringin gugur jatuh melayang dan hinggap di pangkuan Ranti. Dia mengambil helai daun gugur itu. Kuning, tua dan layu. Dia merabai tekstur daun yang pohonnya rindang menaungi tubuh mungilnya. Kasar, kaku dan angkuh.  Dengan geram tertahan di dada, Ranti lalu meremas daun malang itu dan menghempaskannya ke tanah.

Ranti memikirkan daun tadi. Di satu sisi, daun itu mempresentasikan dirinya sekarang. Ranti merasa senasib dengan daun tua itu. Mungkin benar usia Ranti baru dua puluh satu. Sedang ranum-ranumnya ibarat mangga muda. Ranti sedang menyelesaikan skripsinya. Sebentar lagi wisuda dan tak lama lagi akan merambah dunia kerja. Kemudian menikah.

Tapi sebaliknya, Ranti merasa dia sudah menguning, layu dan tua. Seperti daun itu. Tinggal menunggu saat yang tak seberapa lama lagi, Ranti juga akan terlepas dari pokok pohonnya, melayang, jatuh dan kemudian terkubur di tumpukan daun-daun gugur lain. Membusuk di tanah.

Gadis jangkung berkulit kuning itu mendesah. Kenapa harus menyesali yang harus terjadi? Ia memantapkan hatinya. Jika memang ia harus rontok dan gugur dan digantikan perannya oleh daun yang muda, segar dan lebih cantik, so what gitu loh.

Sebelum dia harus digugurkan, lebih baik dia dengan tegar menggugurkan diri dari hubungan yang rumit ini.

Ya, di senja yang penuh dengan awan berwarna jingga ini, Ranti berniat akan memutuskan hubungannya dengan Ranto. Lelaki yang telah dua tahun tiga bulan menjadi kekasihnya. Waktu yang cukup lama untuk sebuah hubungan. Tapi ternyata tak membuat Ranti menjadi satu-satunya. Untuk selama-lamanya.
Air mata membayang di pelupuk mata Ranti. Dia mengusapnya pelan, sebelum jatuh dan menjadi air bah yang tak terhentikan. Ranti tidak ingin membuat senja ini menjadi senja yang karam dalam air mata. Biarlah senja tetap jingga, seperti ini adanya. Meskipun bagi Ranti, langit seperti hendak runtuh saja.

Semua berawal dari satu pesan pendek. Sebulan yang lalu. Ranti baru saja akan menyelesaikan paragraph akhir dari buku yang sedang dibacanya, saat ponselnya bernyanyi sembari meliuk-liuk di meja. Ranti meraihnya dan segera membuka ikon pesan pendek yang bertanda bintang di pinggirnya.
Pesan pendek dari Ranto. Singkat tapi membuat Ranti mengernyitkan dahi.

Aku bingung bagaimana harus membereskan masalah ini.

Ranti berpikir keras. Tapi pikirannya tidak bisa menjangkau apa yang dimaksudkan oleh pesan pendek Ranto. Masalah? Masalah apa? Setahu Ranti, dia dan Ranto tidak ada masalah apa-apa. Atau mungkinkah Ranto sedang terlibat masalah, dan berharap bantuan pemecahan masalah dari dirinya. Tapi masalah apa?

Dia membalas pesan pendek itu dengan pesan yang lebih pendek.

Masalah apa, Sayang?

Pesan terkirim. Hingga sepuluh menit berlalu, Ranti menunggu. Balasan dari Ranto tak kunjung datang. Ada apa ini? Ranti jadi semakin penasaran. Dia seperti mengendus ada yang tak biasa dari pesan pendek yang Ranto kirimkan tadi. Apa mungkin Ranto salah kirim. Ranti menduga-duga tapi tetap tak menemukan jawabnya. Ranti menggelengkan kepalanya. Dia tak sabar menunggu balasan Ranto. Lalu dengan hati yang mulai ditelikung tanda tanya, Ranti menelepon Ranto.

Terdengar nada dering di ujung telinganya. Lagu Angel yang dilantunkan Robbie Williams menyeruput pendengarannya. Lagu yang amat disukainya itu tak sanggup membuatnya reda dari sebuah tanya yang menderanya.

Diangkat. Ah, Ranti sudah hampir menggenapkan penasaran, tanda tanya dan sedikit resah, menjadi sebuah  kekesalan. Dia menghembuskan nafasnya lega.

“Say, apa yang kamu maksud dengan masalah di sms-mu tadi. Aku nggak ngerti,”Ranti segera mencecar Ranto dengan tanya.

Maaf, Sayang. Aku salah kirim sms tadi.”

“Salah kirim? Bener nih?” dengan nada bercanda Ranti menyelidik. Dia merasakan ada getar aneh di vibrasi suara Ranto yang di dengarnya. Ranti menekan sekuat tenaga kecurigaannya, mengusirnya jauh keluar dari benaknya. Berusaha mencari keyakinan bahwa tidak ada yang tak biasa dari percakapan ini. Tapi suara Ranto malah membuat sebaliknya. Aduuh, ada apa ini, batinnya.

“Beneran, Sayang. Aku salah kirim. Tadinya aku mau kirim sms itu ke Tomy, tapi nggak tahu kenapa, malah salah kirim ke kamu, Sayang.”

Hmm. Tomy, siapa pula itu. Ranti kembali mengernyitkan dahinya. Setahunya, tidak ada teman Ranto yang bernama Tomy. Apa mungkin ada teman-temen Ranto yang dia belum kenal. Sedang terlibat masalah apakah gerangan, hingga Ranto menjadi semisterius ini. Biasanya Ranto selalu menceritakan apa saja yang dialaminya. Tapi kali ini, rasanya benar dugaannya. Ranto sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Ranti hendak bertanya lagi, tapi Ranto sudah mengucapkan selamat malam, memberinya sebuah kecupan jauh. Dan telepon diputus.

Sebenarnya Ranti masih ingin menuntaskan kepenasarannya. Dia tidak ingin malam ini berbuntut insomnia dadakan karena digayuti semua tanya itu. Biasanya Ranto selalu menceritakan apa saja yang dialaminya. Tapi kali ini, rasanya benar dugaannya. Ranto menyembunyikan sesuatu.

Dan memang betul. Malam itu Ranti tidak bisa memejamkan matanya sampai suara kokok ayam jantan pertama memecah keheningan fajar.

Esok harinya, Ranti masih sempat mengingat kejadian semalam. Dia tercenung di tempat tidur sambil melamun, sampai akhirnya dia terkaget karena pintu kamarnya diketuk oleh ibunya. Dari balik pintu terdengar omelannya , yang membuatnya mengenyampingkan pikirannya pada Ranto. Dia bangkit dan melangkah gontai menuju kamar mandi. Hari ini akan banyak kegiatan yang harus dia kerjakan. Ranti mendesah panjang. Dia mengira-ngira kapan dia bisa bertemu dengan Ranto dan membabat habis semua gulma tanya yang sudah merambah kemana-mana di benaknya. Dia tiba-tiba merasa ada setetes demi setetes rasa takut yang jatuh tempias di hatinya. Membuatnya tak bisa berkonsentrasi pada apapun yang dia kerjakan. Ranti merasa akan terjadi sesuatu yang buruk padanya. Pada Ranto. Entah apa.

Ranti melepaskan pandangannya pada lalu lalang kendaraan di jalan raya. Dia ingin melemparkan rasa gundahnya ke aliran lalu lalang kendaraan itu. Ranti sudah terbiasa menunggu. Tapi kali ini, menunggu membuatnya tidak betah. Dia ingin segera mengakhiri semuanya. Dan dia bisa pulang ke rumah lalu tidur sepuasnya. Atau mungkin menangis sejadi-jadinya.

Tak biasanya taman ini sepi. Meskipun bukan taman yang indah dengan warna-warni bunga. Tapi taman ini sering dikunjungi oleh orang. Terutama muda-mudi yang ingin menikmati senja dengan pasangannya. Tak jarang kanak-kanak datang bersama orang tuanya, menikmati mainan yang sederhana yang tersedia di pojokan sana. Suara riang gelak tawa mereka turut menjadi bagian keindahan yang ditebarkan oleh senja di taman ini. Mungkin semua orang dan kanak-kanak yang biasa datang meramaikan taman ini, ditahan oleh sebuah kekuatan alam untuk membiarkan Ranti memiliki taman ini sendiri.

Ranti kembali diseret suasana senyap yang meremang,  ke dalam kancah lamunannya. Dia mengingat saat pertama kali dia bertemu Ranto. Saat indah yang selalu bisa menggetarkan hati Ranti kapan saja dia mengingatnya. Dia ingin merasakan getaran itu sekali lagi.

Pagi itu, saat mendung menyapu sinar matahari dari bumi. Ranti sudah menjejakkan kaki di kampusnya. Dia membalut tubuh jangkungnya dengan sweeter kuning gading untuk menepis udara dingin. Kaki-kaki panjangnya dengan langkah yang landai dan berirama melangkah menuju satu ruang terbuka di ujung koridor kedua di kampusnya. Akan ada pagelaran seni di sana.

Ranti bukan pegiat seni di kampusnya. Dia merasa terlalu sibuk untuk menambah jadwal kegiatan belajarnya dengan berkecimpung di UKM Seni Budaya. Jadi untuk menyalurkan kesukaannya pada seni terutama puisi, ia cukup menyempatkan diri untuk menonton pagelaran-pagelaran yang dipentaskan oleh komunitas mahasiswa pencinta seni itu.

Sudah ada beberapa orang di sana. Ranti lalu mengambil tempat di sebuah bangku taman yang tersedia. Menunggu sambil membuka buku The Alchemist dari Paulo Coelho yang belum tamat dia baca tadi malam.

“Buku yang bagus,” sebuah suara tiba-tiba menyergap telinganya. Ranti menoleh ke arah suara itu berasal. Dan matanya tertumbuk pada sosok tegap hitam manis dan sedang tersenyum menatapnya.

“Ah, ya. The Alchemist. Saking bagusnya, aku harus mengulang-ulang bacaannya sebelum akhirnya aku mengerti apa maknanya,” balas Ranti.

“Hmm, itu menandakan kamu seorang pembaca yang serius. Boleh aku duduk disini?”

“Oh ya, duduklah. Gratis kok.”

Ranti tertawa ringan sambil menggeser badannya, menyisakan tempat yang cukup untuk lelaki yang masih berdiri dengan senyum yang menawan itu di sampingnya.

“Pembaca yang serius? Maksudnya gimana?” tanya Ranti lagi sesaat setelah lelaki itu duduk tak jauh disampingnya.

“Saking seriusnya, kamu berusaha untuk memahami maknanya dengan mengulang-ulang apa yang kamu baca. Dan orang seperti itu juga seorang pecinta yang serius.”

Ranti tergelak.

“Pasti kamu tidak percaya apa yang kukatakan itu kan? Coba saja kamu pikirkan, kebanyakan orang seusiamu, seusia kita, akan meninggalkan bacaannya jika dirasa itu membuatnya mengerutkan dahinya. Lalu dia akan mengalihkan bacaannya pada sesuatu yang lebih ringan. Lebih ngepop. Dan mungkin juga sedang ngetrend.”

Ranti menatap lelaki itu. Sisa gelaknya masih terukir dalam senyumnya. Lelaki ini beda dari teman-temannya.

“Lalu apa hubungannya sama pecinta yang serius?” tanya Ranti sambil menutup buku dan memasukkannya ke dalam tas. Di depannya sebuah pentas siap digelar.

“Pecinta yang serius, tak akan meninggalkan orang yang dicintainya meskipun dia teramat susah untuk memahami kekasihnya itu. Dia akan terus mencintainya meskipun dia bisa saja meninggalkan kekasihnya itu dan mencari cinta baru yang lebih mudah untuk dipahami.”

Ranti baru akan mengatakan sesuatu, tapi lelaki itu sudah bangun dari duduknya dan dia berjalan dengan langkah yang panjang dan tegas menuju ke pentas.
“Namaku Ranto,” katanya  sebelum meninggalkan Ranti yang masih menganga.

Ternyata namanya  Ranto dan dia salah satu dari sekian banyak pegiat seni yang akan mementaskan pagelaran hari ini. Ranti menegakkan punggungnya ketika Ranto sudah berdiri memegang mike dan membacakan sebuah puisi.  Suaranya yang berat mendesah, membuat puisi yang sedang dibawakannya menjadi terdengar lebih indah. Entah mengapa, Ranti merasakan denyar  yang nanar menjalari sekujur badannya. Apalagi saat sepintas, matanya bersirobok dengan kilatan mata Ranto. Ranti tak pernah merasakan ini sebelumnya.

Suatu kali senja bisa saja tidak jingga. Semua melupakannya. Kecuali kita yang pernah sekali terjebak didalamnya.

Ranto mengakhiri puisinya. Dia menyelipkan sebuah ucapan dipenghujung persembahannya.

“Untuk gadis bersweeter kuning gading, yang telah menepis mendung pagi ini, menjadi matahari yang bersinar di lengkung langit hatiku.”

Ranti terpaku. Dia tak mendengar lagi tepuk tangan dan lengking siulan yang ditujukan pada dirinya. Pipinya terasa panas.

Semenjak itu Ranti menjadi bagian dari puisi-puisi Ranto. Lebih dari itu, Ranti telah menjadi bagian dari hidup Ranto.

Ah. Ranti memejamkan matanya mengingat kenangan indah itu. Kenangan indah itu akan segera berganti judul menjadi kenangan pilu. Mungkin setelah pertemuannya dengan Ranto untuk terakhir kalinya ini, Ranti tak ingin mengingatnya lagi. Tapi Ranti ragu apakah dia benar-benar bisa melupakan percakapan dan puisi yang telah membuatnya jatuh hati pada Ranto. Kenangan itu sudah terlalu dalam menancapkan akarnya ke palung ingatan Ranti. Mencabut kenangan itu dari ingatan Ranti pasti akan menyisakan perih di hati. Jika membuang kenangan saja sudah sebegitu perih apalagi menyimpannya dalam ingatan. Kelak bila sewaktu-waktu Ranti terkenang Ranto, bagian inilah yang pasti akan membuat Ranti menangis. Membuat perih bertubi-tubi menikam di hati.
Ranto adalah cinta pertamanya. Ranti tidak memiliki pengalaman secuilpun untuk menghadapi senja ini. Ranti merasa telah cukup waktu sebulan sejak pesan pendek yang nyasar ke ponselnya malam itu untuk memastikan bahwa tidak ada yang bisa dipertahankan dari Ranto. Tidak cintanya, yang mungkin sudah lenyap entah kemana. Juga tidak puisinya, yang mungkin hanya sederatan kata tanpa makna.

Saat dia mengatakan ya, dan menerima Ranto menjadi kekasihnya, Ranti sama sekali tidak pernah terpikir bahwa ini akan berakhir begitu saja. Ranti selalu yakin bahwa kelak tak berapa lama lagi, Ranti akan bersanding dengan Ranto, mengikat janji setia. Kemudian mereka akan beranak pinak seperti buku-buku yang berserakan terus bertambah setiap waktu di kamar Ranti. Dan akan ada suatu malam, dimana lampu sudah temaram, suara ceria kanak-kanak telah padam, mereka berdua saja di teras belakang. Duduk memandang langit yang kelabu. Sembari mendaratkan satu dua kecup ciuman di sela-sela obrolan ringan.

Tidak dinyana, khayalan yang telah Ranti pelihara diam-diam itu, kini akan menjadi barang usang.

Ranti melirik ponselnya, membaca angka pada jam digital yang berkedip-kedip di layarnya. Tinggal beberapa menit lagi. Sungguh menit-menit yang panjang dan melelahkan. Duduk di sini, di taman yang seharusnya menyenangkan ini, bagi Ranti ibarat duduk di atas sekam yang sedang terbakar.
Ranti mereka-reka kalimat apa yang akan dijadikan senjata pemungkasnya di hadapan Ranto.

Maaf, kita tak mungkin bersama lagi. Akan lebih baik bagi kita untuk menjalani hidup kita sendiri-sendiri. Kau dengan kekasih barumu itu. Dan aku dengan kesendirianku. Tidak usah kuatir, aku tidak akan sendirian selamanya. Tidak lama lagi aku pasti akan menemukan penggantimu.

Ranti tak suka ada kata maaf disitu. Seolah-olah Ranti penyebab semua ini terjadi, dan dia meminta maaf untuk itu. Atau ini saja…

Selamat tinggal. Jangan cari aku lagi.

Tapi Ranto memang telah dua minggu ini tak pernah lagi berusaha menghubunginya. Kecuali Ranti, yang terus mencari tahu ada apa sebenarnya di balik semua perubahan sikap Ranto, pada praktiknya  Ranto sudah tak pernah mencarinya.

Mungkin dengan penggalan puisi. Agar apa yang telah dimulai dengan sebuah puisi, akan diakhiri pula dengan sebuah puisi. Agar terdengar lebih dramatis. Tapi tak ada puisi yang diciptakan untuk mengakhiri sebuah hubungan. Sepertinya semua puisi bercerita tentang cinta dan kerinduan.

Atau seperti dalam sinetron abg yang tak sengaja Ranti lihat di teve-teve. Singkat, padat, disertai seringai tajam bak serigala: Kita putus!

Ranti menghembuskan udara yang dirasa mulai menyesaki dadanya dengan dengan satu hembusan panjang. Senja masih diam ditempatnya. Sinar matahari yang hangat menelusup sela-sela daun beringin yang bergerak-gerak dibuai angin.

Ternyata mengakhiri sebuah hubungan tidak semudah yang dia bayangkan. Apalagi jika sebenarnya sampai saat dimana vonis itu akan dia jatuhkan, Ranti sama sekali belum tahu apa yang telah mengacaukan hubungannya dengan Ranto.

Apakah ada perempuan lain? Atau mungkinkah Ranto telah bosan pada dirinya, dan sms pendek yang kesasar menurut pengakuannya itu hanyalah modusnya saja. Dia hanya mencari gara-gara agar dia bisa melepaskan diri dari ikatan hubungan yang sudah terlanjur rapat. Ataukah Ranto sejak awal tak ingin menjalin komitmen yang lebih pasti. Ranti sebentar lagi menyelesaikan skripsinya. Pembicaraan tentang menikah beberapa kali menjadi topik hangat diantara kencan-kencan mereka. Meskipun Ranti tak keberatan menunggu Ranto menyelesaikan kuliahnya –karena Ranto selalu sibuk dengan kegiatan ekstra – bisa jadi, Ranto sama sekali tidak pernah merencanakan untuk menikah dengannya. Dan menyadari Ranti akan segera lulus, Ranto kemudian mencari cara agar bisa melepaskan diri dari Ranti.

Jika begitu adanya,  kenapa Ranto begitu bersusah payah untuk menyusun skenario menjauhkan diri dari dirinya sampai sedemikian rupa. Membuat Ranti sebulan ini menderita dicecar dengan segala tanya, praduga dan kecurigaan-kecurigaan yang menyilet-nyilet kepercayaannya pada Ranto sekaligus menyilet-nyilet kepercayaan dirinya sendiri.

Ranti membayangkan seperti apa perempuan yang telah memalingkan perhatian Ranto darinya. Cantikkah? Pintarkah? Kulitnya kuning langsatkah? Suaranya mendayu-dayukah?

Kenapa Ranto tidak datang saja padanya begitu saja, sama seperti saat pertama kali dia muncul di hadapannya pagi dua tahun tiga bulan yang lalu. Mengatakan sesuatu yang Ranti tahu itu cinta. Kenapa dia tidak datang saja dan mengatakan semuanya agar tidak perlu ada sebulan yang menderita dan penuh prasangka.

Kini Ranti benar-benar geram. Dia tidak seharusnya mengalami semua ini. Pesan pendek yang membingungkan. Kemisteriusan Ranto menanggapi pertanyannya. Hilangnya seluruh perhatian Ranto dan sekarang, Ranti harus terjebak di taman ini memikirkan bagaimana caranya mengakhiri semua.
Ingin rasanya Ranti menekan tuts ponselnya. Mengetikkan sejumlah kata-kata yang mungkin mempresentasikan kekecewaan dirinya.  Lalu menuliskan kata selamat tinggal. Dan mengirimkannya sebagai pesan pendek terakhir kepada Ranto. Tapi tidak. Itu terlalu mudah dan menyenangkan untuk Ranto. Dia tidak perlu menyiapkan dirinya untuk menerima vonis yang teramat berat itu dari Ranti. Dia tidak akan mengalami bagaimana kerisauan sanggup mengobrak-abrik seluruh pertahanan dirinya. Dia tidak akan melihat bagaimana mata Ranti yang menggenang air bah kedukaan menusuk-nusuk jiwanya.

Ranti ingin Ranto sama menderitanya dengan dia. Paling tidak, saat berakhirnya hubungan mereka, Ranti ingin menularkan perih yang mengiris hatinya pada Ranto lewat tatap matanya. Itu sebabnya, Ranti sekarang disini, menunggu Ranto yang mungkin tinggal seribu langkah jaraknya dari taman ini.
Kemarin Ranti berhasil menghubungi Ranto, dan memaksanya untuk mau bertemu senja ini. Dia sengaja tidak lagi banyak bertanya, dan membiarkan Ranto mengira bahwa dia telah menyerah dan mengalah pada kemauan Ranto.

Ranti tidak ingin berlama-lama menderita. Baginya hidup terlalu berharga untuk dilewatinya dengan air mata. Ranto mungkin lelaki pertama yang telah membuatnya jatuh cinta. Juga telah membuatnya sesak nafas memahami sesuatu yang tidak kunjung dijelaskan  oleh Ranto. Bukan berarti itu boleh menyebabkan Ranti mengiba-iba mengobral air matanya.

Ternyata memahami lelaki tidak bisa dibandingkan dengan memahami buku. Seperti yang pernah diucapkan Ranto dulu. Buku tak pernah membuatnya semenderita ini saat dia berusaha memahami apa yang tersirat di balik rumit kata-katanya. Sementara memahami kerumitan lelaki dan isi otaknya yang misterius sangat menguras emosinya.

Sudah hampir saatnya. Ranti melihat bayang hitam di ujung jalan sudut taman ini bergerak gontai. Ujung jalan akan membawa sosok tegap --yang dengan melihatnya saja hingga kini masih menggetarkan Ranti-- itu sampai di titik ini. Tepat di hadapan Ranti.

Sengaja Ranti memilih tempatnya duduk menunggu, yang langsung akan membawa Ranto ke hadapannya. Tak ada akses lain menuju tempatnya duduk kecuali pintu gerbang yang terbuka lebar di depan Ranti. Tak sebegitu jauh dari tempatnya menunggu. Ranti tak ingin dia kecolongan tak mengetahui kedatangan Ranto seperti saat pertama mereka bertemu. Itu artinya Ranti akan kehilangan semua keberaniannya untuk mengakhiri kisah diantara mereka.

Sosok tegap itu semakin mendekat. Perlahan tapi pasti geletar aneh merambah sekujur tubuh Ranti. Degup jantungnya seakan bertalu-talu semakin keras setiap langkah kaki memperpendek jarak diantara dirinya dengan sosok itu. Ranto, dia mendesis lirih. Matanya tak sanggup memandang jauh kepada sosok yang masih terus melangkah mendekatinya. Kenapa ini, mengapa Ranti merasa tak berdaya memandang wajah kekasih yang akan sebentar lagi menjadi orang asing baginya. Seharusnya dia tegakkan kepala, menyorotkan api di kedua matanya dan memasang tameng untuk bertahan dari serbuan amarah yang akan ditebaskan padanya.

Ranti sungguh tak mengerti. Seluruh raga yang tadi bersikukuh bahu membahu hendak melontarkan kata pemutus hubungan, kini melemah. Luruh seinchi demi seinchi. Seperti prajurit yang gentar melihat kedigdayaan lawan. Ranto terlihat begitu tenang. Tidak sedikitpun sikapnya terlihat gamang. Ranti ragu-ragu apakah keputusannya untuk mengakhiri hubungannya dengan Ranto adalah keputusan yang tepat.

Sejujurnya Ranti mengharap, pertemuannya dengan Ranto adalah untuk membereskan kekacauan yang telah dia rasakan belakangan ini. Bukan dengan mengakhirinya, melainkan dengan pelukan dan kata-kata yang menyejukkan hatinya.

Ranto hanya berjarak sepuluh meter darinya kini. Lelaki itu menjadi bayangan gelap ditimpa sinar lembayung. Kelelakiannya menjadi semakin tegas diarsis oleh bias cahaya yang memantul dari garis tubuhnya.

Baiklah. Ini saatnya. Ranti menguatkan diri dan mengumpulkan keberanian yang mendadak sontak mengerjap dan sekejap lenyap dari benaknya. Dia ingin melewati ini dengan mudah. Kemudian setelahnya, Ranti akan terbebas dari belenggu tanya dan curiga yang menyiksa. Sembari menunggu Ranto menghentikan langkahnya tepat di depannya, Ranti berdiri. Dia gemetar menahan beban badannya sendiri. Yang gemetar menahan gejolak yang berdebur di jantungnya. Sesuatu tengah berkecamuk didalam sana. Ranti bersitahan meredakan semuanya, agar semua yang dia maksudkan senja ini tidak kabur sia-sia.

“Sudah lama menungguku?”

 Suara Ranto terdengar tetap mengejutkan walaupun Ranti telah menyiapkan drinya sedari kekasihnya itu belum berdiri di hadapannya.  Seluruh air di tubuhnya tersirap merayap pelan menuju satu titik di kedua kelopak matanya. Ranti mematung. Dia mencari-cari kekuatan untuk menahan sesuatuyang hendak menjebol benteng pertahanannya. Tidak. Dia tidak ingin menangis di depan Ranto. Tidak untuk kali ini. Dia harus memperlihatkan sisi dirinya yang keras, yang selama ini tersembunyi jauh di balik kelemahlembutannya.

“Ranti, mengapa kau diam?”

Sekujur tubuh Ranti benar-benar gemetar, pertahanannya runtuh sudah. Dia mengangkat wajahnya yang kuyup oleh air mata. Dalam samar pandangan yang tersaput linangan di matanya, Ranto sekilas memperlihatkan wajah cemas.

Ranti membuka bibirnya. Dia hendak mengakhiri semua.

“Aku mencintaimu Ranto. Masih mencintaimu.”

Senja telah usai.

Repost from my Facebook Notes, Waikabubak, 10 Oktober 2012