Tampilkan postingan dengan label Catatan Harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Harian. Tampilkan semua postingan

Sebuah Pinta



Aku ingin menjadi kenangan yang tak lekang ditelan zaman. Cukup di hatimu. Cukup di ingatanmu. Menjadi purba dan menua. Tapi tak jua sirna. 

Stop.....! And Start Right Now.

Setelah 4 jam mantengin blog Dee Idea, Catatan Bhaskoro dan Rusdi goBlog, jadi gak bisa tidur. Ada beberapa letupan kecil di otak yang  minta perhatian. Butuh bingkai agar tak berlarian kesana sini lalu lenyap lagi. Blog saya sudah rehat terlalu lama. Bahkan seperti sedang hibernasi saja. Tidur panjang. Meskipun isinya bukan apa-apa jika dibanding dengan blog-blog keren yg bertebaran di dunia maya. Tapi setidaknya itu ada bukti eksistensiku. "Aku menulis maka aku ada".  Setelah sekian lama mencoba mengikat kata dalam tulisan, saya masih terus mencari-cari format yang top markotop untuk menulis. Tidak kurang artikel tentang menulis saya gilas. Semua hampir sama. Tapi toh saya tetap mencari.

Lalu sampai kapan saya akan mencari? Dee berkata di salah satu artikelnya; "tidak ada cara lain untuk menulis kecuali dengan menulis".

Berhenti iri pada tulisan orang lain!
It fucking waste your time.
Berhenti mencari rumus jitu menulis!
Its only a finger  a way to start it up right now. Berhenti memaksakan diri untuk menulis sesuatu yang kamu bahkan tidak suka hanya karena ingin terlihat keren dan cerdas.
Being a fiction writer isnt that bad.

Jangan mati sebelum kamu menulis. Or die when trying to is even better.

Lorong Waktu

Setiap orang seharusnya merasa bahagia. Setiap orang berhak bahagia. Setiap orang layak untuk berbahagia. Entah mengapa kalimat-kalimat itu terus menerus bergaung di benakku. Memantul-mantul seperti gema dalam gua di kepalaku. Sedikit menerorku hingga membuat sekejap dua kejap aku dihampiri ketakutan. Tapi kadang justru terasa menentramkan. Damai. Dan mungkin bahagia.

Siapapun memerlukan rasa bahagia. Beberapa kali aku mendengar itulah yang membuat usia seseorang panjang. Meski mungkin tak sepanjang umur orang-orang tua renta di dataran tinggi Nepal atau Himalaya yang sepanjang hidupnya hanya memakan makanan organik hasil tanaman mereka sendiri. Ayahku sendiri percaya tasbih panjang sejumlah seribu butirlah yang membuat usiamya bertahan hingga 70 tahun saat ini dan beliau sehat seperti kuda. Aku setengah yakin setengah tidak pada ucapan beliau. Yang pasti aku tersenyum dan itu adalah secuil bahagia yang ayahku tebarkan pada keluarganya.

Meskipun pada akhirnya seseorang harus meninggal, alangkah indahnya bila kematian itu datang dengan cara yang indah. Dengan rasa bahagia. Karena  mungkin ada secercah keyakinan sesuatu yang jauh lebih baik dari kehidupan dunia ini tengah menunggu di balik sana.Tapi mungkinkah seseorang yang bahagia akan tetap bahagia? Mungkinkah seseorang yang sedih bisa bertransformasi menjadi pribadi yang bahagia? Bisakah seorang yang ingin bahagia lalu ia mendapatkan kebahagiaannya? Itu adalah pertanyaan yang membutuhkan perjuangan untuk menjawabnya. Terutama bila kau tahu bahwa pertanyaan itu ditujukan kepada penderita sebuah penyakit mematikan. Kanker.

Bagaimana caranya seseorang bisa bahagia dengan kanker di tubuhnya?

Sulit. Karena bisa dipastikan semua penderita kanker akan mengalami lonjakan emosi drastis. Perasaan terpuruk dan getir yang teramat nyeri, bahkan lebih nyeri dari kanker itu sendiri, mengikis setiap celah yang tadinya dihuni oleh rasa bahagia. Perasaan yang teramat menghunjam seperti belati yang ditusukkan di ulu hati. Perasaan ingin mati saja, tapi tidak bisa semudah dan secepat yang diinginkan. Tidak secepat kematian yang terjadi pada seseorang yang tengah membonceng kekasihnya dengan mesra diatas sepeda motor, tapi ia tak menyadari bahwa saat ia akan menikung sebuah mobil berkecepatan tinggi melesat begitu saja di hadapannya. Motornya terpelecat beberapa meter. Ia jatuh dengan kerasnya di trotoar dengan kepala mendarat duluan disudutnya. Setelah sebelumnya bemper mobil itu sukses membentur dengan hebat badannya. Ia seketika menemui ajalnya.

Sebelum mati penderita kanker harus mengalami masa tersuram dalam hidupnya. Menunggu ajal yang pelan-pelan merambat mendekatinya. Memakan detik demi detik waktu yang mungkin tersisa. Entah sampai kapan. Pengingkaran, kemarahan, penyesalan, sejuta pertanyaan tentang mengapa bergelut dahsyat dengan kesedihan. Hingga pada waktunya nyawa terpisah dari raga, meninggalkan semua yang dimiliki. Atau mungkin meninggalkan semua yang tak lagi dia miliki. Hampir bisa dipastikan pergolakan itulah yang lebih membunuh orang yang memiliki kanker, ketimbang kanker itu sendiri.

Katakan padaku, seperti apakah rasanya menunggu ajal? Apakah seseorang yang secara tehnik dia sudah tahu bahwa ajalnya sudah dekat masih bisa merasakan bahagia? Masih mampu untuk melihat hidupnya secara optimis?

Aku bertaruh kau tak tahu, tak seorangpun tahu hal itu. Jadi, aku memutuskan untuk mencoba mencari tahu dari  beberapa orang yang aku kenal, dan mereka adalah orang-orang yang hidup atau pernah hidup dengan kanker di tubuhnya.

Aku tak akan menceritakan ini sekarang. Tunggulah sampai besok.

Ketika Hasrat Menulis Beku


Sangat sulit mempertahankan gairah untuk menulis. Terutama saat aku merasa sibuk oleh pekerjaan. Padahal sebenarnya untuk menulis tidak butuh waktu seharian. Menulis apa saja yang ringan dan terjadi di keseharian, bisa menjembatani kekosongan ide. Paling tidak bisa membuatku terhindar dari kekakuan karena terlalu lama tidak menulis sesuatu.

Kesannya jadi asal-asalan aja sih. Tapi memang inilah yang harus dilakukan agar aku bisa intens menulis. Natalie Goldberg pernah mengatakan bahwa dia terus menulis setiap hari meski tulisan itu tidak berarti apa-apa. Ia sekedar menuliskan apa yang ada di pikirannya, apa yang dilihatnya, apa yang dialaminya. Semua itu ia lakukan demi membiasakan diri menulis. Menulis secara bebas. Tidak perlu memikirkan kualitas tulisan, tidak perlu memikirkan siapa yang akan membaca tulisannya, tidak perlu memikirkan untuk apa tulisan itu dibuat. Just write.

Jadi sekarang, aku menulis tentang ini. Entah apa isinya sebenarnya. Yang jelas, ini kuibaratkan pemanasan sebelum latihan inti dalam olahraga. Sudah lama aku libur menulis. Aku sempat mengikrarkan One Day One Poetry, yang ternyata dengan sukses aku ingkari. Terakhir aku merasa menulis beneran adalah saat aku menulis Romantisme Sendu Setoples Cengkeh. Aku menjadi malas menulis berdalihkan aku harus mengikuti diklat. Lalu demi tidak kosongnya otakku, aku menulis catatan untuk adikku di sela-sela materi diklat yang membosankan itu. Dan memposting ulang cerpen SGA, penulis favoritku, yang kutemukan saat iseng browsing. Itu berarti aku hanya menulis dua catatan harian saja selama rentang waktu yang panjang itu. Aku tidak menghitung postingan cerpen SGA karena itu bukan tulisanku.

Hitung-hitung, melemaskan jari-jari yang sudah kaku. Jika saja jari-jari ini otomatis mengetikkan kalimat-demi kalimat yang terlintas di otakku, betapa senangnya. Tapi itu kan cuma khayalan saja. Menulis adalah kerja keras. Aku harus memaksakan diri. Dan mengumpulkan seluruh energiku agar bisa menulis lagi.

Aku juga ingin berterima kasih pada semua guru-guruku sejak TK sampai Perguruan Tinggi, yang mengajarkanku aksara-aksara yang jika kita pandai merangkainya dapat kita gubah menjadi tulisan yang indah dan menginspirasi. Aku lupa terlalu lama untuk menyebut jasa mereka. Meski belum apa-apa, dan belum menghasilkan apa-apa, tapi aku berkat mereka telah merasakan nikmatnya menulis.

Sudahlah...cukup meracaunya. Berdoa saja, besok satu atau dua buah cerpen bisa aku tulis. Tadi sudah mencoba, tapi urung di paragraf ketiga. Ada yang masih mengganjal di pikiranku. Seseorang yang mungkin telah completely erased me from his memory... Hallaaahh semakin ngawur saja....

Demikianlah...pemanasan ini. Maaf jika harus terpaksa membully mata anda untuk membaca tulisan nggak karu-karuan ini. Maaf satu trilyun kali.

Menemukan Tuhan


Tuhan itu dekat. Bahkan lebih dekat dari urat nadi di lehermu.

Begitulah yang tertera dalam kitab suci. Begitulah yang dikatakan oleh orang-orang suci. Orang-orang yang sejak zaman azali telah Tuhan tetapkan untuk bernafas, berjalan dan hidup sepenuhnya di jalan Tuhan. Bagi mereka, mudah sekali untuk menemukan Tuhan. Sebab sejak ruh ditiupkan ke dalam raganya, telah disemayamkan dalam detak pertama jantungnya keagungan nama Tuhan. Selanjutnya, begitu saja, mudah saja, seperti telah digerakkan oleh mesin, bibir mereka --orang-orang suci itu-- selalu basah oleh nama Tuhan.

Tapi bagi orang-orang yang pernah tersesat, orang-orang yang kehilangan jalan, orang-orang yang menyimpan tanda tanya besar akan 'wujud' Tuhan, pertanyaan dimana Tuhan adalah perjalanan panjang yang bahkan kerap menghabiskan seluruh waktu pencariannya. Tak jarang orang-orang itu, harus berjibaku, dengan perang batin dan petualangan yang mencengangkan. Dan ketika sampai pada saat mereka menemukan bahwa Tuhan selalu bersemayam di dalam dirinya, mereka telah sampai di ujung nyawa. Meski demikian, di akhir nafasnya, merekalah yang sesungguhnya paling bahagia.

Mereka adalah para pencari Tuhan. Orang yang dianugerahi jiwa penjemput hidayah. Bukan hanya sekedar menjalankan tradisi dan ritual yang telah ada sejak lahir. Mereka memilih jalan untuk menelusuri keberadaan Tuhan. Mencari kebesaran kuasa Tuhan melalui pertanyaan-pertanyaan yang menggema dalam hatinya. Lalu berjalan menyeruak keramaian orang-orang. Bercampur dengan hitam dan kerasnya kehidupan. Menghirup bau mulut orang mabuk. Berkeliaran dan melanggar aturan.
Meretas jalan terjal yang mungkin menghantarkan dirinya kepada penemuan akan kehadiran Tuhan.

Di saat mereka tenggelam dalam wilayah yang dianggap hitam, justru mereka sesungguhnya tengah meneriakkan nama Tuhan. Tengah berbicara dan memohon, Tuhan temukan aku... Tuhan bawalah aku dalam rengkuhanMu...Tuhan jangan tinggalkan aku.

Berbahagialah mereka yang tidak pernah mengalami, apa yang sering orang sebut sebagai jalan sesat. Namun sejatinya, orang yang pernah tersesat saat mencari kebenaran, yang tersaruk-saruk menemukan Tuhan, adalah mereka yang lebih disayang oleh Tuhan...atas semua yang telah mereka lalui.

Selamat Ultah Liz....



Liz......ini teteh. Dari jauh mengucapkan selamat padamu atas usiamu yang bertambah satu. Atau berkurang satu dari jatah usiamu di dunia ini....

Masih kuingat dulu, dua puluh tiga tahun yang lalu. Sosokmu yang lucu menggemaskan, membuat aku diam-diam bangga memiliki seorang adik sepertimu. Pipi gembil kemerahan seperti tomat yang dijual di pinggir jalan sepanjang Lembang. Rambut hitam lebat panjang berponi. Tawamu yang lucu. Dan matamu yang sedikit sipit sehingga semua orang di sekitar kita memanggilmu Oshin.

Mungkin dirimu tak pernah tahu, aku meskipun diam-diam membanggakan dirimu, namun pernah sesekali aku mencubitmu. Bukan karena gemas, tapi karena jengkel ketika dirimu yang masih kanak-kanak itu menangis meminta perhatianku. Lalu suaramu yang melengking membuat Mamah, memarahiku. Ketika itu, aku hanya bisa memendam sebel, yang kini sudah berubah menjadi sebuah kenangan yang membuatku senyumku simetris.

Sebagai kakak, menggendong tubuhmu yang mungil dan lucu, sungguh menyenangkan. Seperti menggendong boneka barbie yang tak pernah aku miliki. Sebuah pengalaman yang kemudian aku temukan kembali sensasinya tatkala aku menimang anak-anakku. Salah satunya yaitu yang kedua, pada suatu saat tertentu, seperti menjelma menyerupai dirimu saat bayi dulu.



Lama waktu berlalu. Mengubah sosokmu menjadi seorang gadis. Dan aku seorang ibu yang beranjak menjadi perempuan paruh baya. Apa yang bisa ku perbuat untukmu, tanya batinku saat memandang tubuhmu yang semampai dan wajahmu yang selalu menyiratkan kemanjaan. Lalu terjadilah peristiwa yang tak kan pernah kulupakan seumur hidupmu. Sebuah pertemuan yang mungkin mengakibatkan air matamu sulit kering tahun terakhir ini.

Kadang aku menyesali mengapa aku harus ceroboh dan terlalu yakin bahwa keinginanku juga keinginanmu, akan menemukan akhir bahagia. Happy ending ever lasting. Tapi kenyataan berbicara lain. Dirimu harus terluka oleh uluran tanganku. Dan tak berhenti hatiku menyalahkan diriku atas itu, hingga aku tak pernah punya keberanian untuk berbicara denganmu bahkan sampai saat ini.

Adikku....
Maafkan kakakmu ini. Sepanjang hidupmu yang telah mencapai seperempat abad, mungkin aku tak pernah berhasil membuat dirimu tersenyum bahagia dan bangga menyebut namaku dan mengatakan itulah kakakku. Entah mungkin jejak kenangan yang terekam dalam sanubarimu hanyalah jejak-jejak lusuh dan kotor yang tak indah untuk kau kenang.

Namun meskipun begitu, izinkanlah kakakmu ini mendoakan keselamatanmu, kebahagiaanmu, kesuksesanmu di masa yang akan datang. Karena hanya doalah yang bisa aku berikan untukmu. Hanya kepada Tuhan Yang Maha Memberi-lah aku titipkan dirimu. Semoga Dia selalu mengiringi setiap desah nafas dan kedipan matamu. Menaburimu dengan kasih sayang yang tak sempat aku curahkan kepadamu. Dan melindungi perjalananmu mengarungi kehidupan di sisa usiamu.

Selamat adikku. Engkau kini sudah bukan lagi kanak-kanak. Kini dirimu adalah seorang perempuan dewasa. Tak lama lagi, di sisimu akan ada lelaki tepat yang akan selalu merasa dirimulah perempuan terbaik di dunia ini.


One Day One Poetry



Tahniah. Ini bulan April...!

Apa istimewanya dengan bulan April? Apa karena di bulan ini seratus tiga puluh empat tahun yang lalu RA. Kartini lahir, lalu karenanya kita dapat menikmati kumpulan surat-suratnya yang ajaib dalam 'Habis Gelap Terbitlah Terang'? Atau karena peraih nobel sastra asal Prancis Anatole France lahir tiga puluh empat tahun sebelumnya? Atau karena William Shakespeare, sastrawan besar dunia dari Inggris itu terlahir pada 23 April 1564 silam, sehingga kemudian kita bisa mengenal kisah tragis Romeo dan Juliet yang masyhur itu....

Bukan. Bukan karena itu April kali ini sedikit ingin saya maknai. Biarlah mereka, para pembesar dunia mewarnai April dengan kemunculannya ke alam fana ini lalu dengan jenius menorehkan karya-karya yang menakjubkan dunia. Saya hanya ingin memproklamirkan sebuah resolusi di awal April yang penuh hawa iseng ini. A single simple resolution of mine.

Agak aneh memang meluncurkan sebuah resolusi di saat orang sedunia tengah jail-jailnya membodohi, menipu dan membuat panik orang di sekelilingnya. Tapi saya harus melakukan sesuatu sekarang juga. Meskipun bukan sesuatu yang besar dan berarti, setidaknya berbuat sesuatu meski kecil lebih baik ketimbang melewatkan waktu secara sia-sia. Begitu saja. Sederhana saja. Maka jadilah, Resolusi April.

Kemarin saya merasakan pendar yang hangat dan mencengangkan, saat seorang santri putri binaan saya menyerahkan selarik puisi gubahannya. Puisinya begitu sahaja, menemakan gundah saat didera perihnya cinta. Khas remaja. Namun ada yang memikat hati saya. Diksinya mulai ranum. Rimanya terlihat serupa tunas-tunas muda pada sebatang pohon, bermunculan pelan tapi pasti. Dan iramanya, ahai...saya hampir tidak dapat menahan pekik girang saya saat itu. Begitu bernas seperti padi yang mulai berisi. Lihat saja DISINI.....

Sebuah sensasi yang mendebarkan menyelinap ke sudut-sudut relung dada saya. Lalu begitu saja tercetus ide untuk membuat resolusi itu. 

One Day One Poetry. Satu Hari Satu Puisi.Saya merasa dibangunkan oleh sebuah cahaya. Saya begitu tergugah dan berpikir betapa sia-sia selama ini saya melewatkan waktu begitu saja. Padahal ada sebuah keajaiban yang menunggu di ujung senja. Keajaiban yang muncul dalam wujud kata-kata. Keajaiban yang hanya muncul jika kita merapalkan mantra dalam wujud goresan pena, torehan aksara yang ditulis dengan tangan saya.

Sedangkan seorang kanak-kanak yang baru saja tumbuh, telah menjemput keajaibannya sendiri melalui sebuah puisi. Betapa naifnya saya, memberi segala dalih dan alasan untuk melindungi kemalasan dalam menulis. Dan ini tidak boleh dibiarkan.

Hanya dengan Resolusi inilah saya meneguhkan tiang pancang keteguhan dan ketabahan hati dalam menulis. Tidak besar. Bukan sesuatu yang mengguncang dunia. Hanya menulis sebuah puisi dalam satu hari selama April. Namun saya tahu saya memerlukan ini sebagai ganti tangan seseorang untuk memeluk, menenangkan dan meneguhkan hati saya di kala penat melanda.

Waikabubak, 1 April 2013.

Mengaji Puisi dari Sosiawan Leak


Ketika semangat saya hampir saja meleleh, saya menemukan artikel di internet yang memberitakan kegiatan pengenalan puisi kepada siswa-siswa sebuah SMP Negeri di Pekalongan. Pihak sekolah mengundang seorang penyair dari Jogya yang sudah cukup terkenal dan sudah lama malang melintang di dunia kepenyairan. Saya terpekik sendiri membaca nama penyair tersebut, soalnya saya pernah bertemu dan berlatih dalam dalam satu ruangan bersama beliau semasa saya aktif dalam grup teater kampus.

Yang membuat saya kembali menyalakan semangat yang sudah kriyep-kriyep seperti lampu pelita yang kehabisan minyaknya, adalah ternyata penyair sekaliber Sosiawan Leak pun harus bersimbah keringat demi membangkitkan minat siswa-siswi itu. Memerlukan kesabaran tingkat dewa, begitu kalimat pengantar artikel tersebut.

Nah kalau penyair ulung dan sudah merambah ke mancanegara gara-gara puisi-puisinya saja sudah sedemikian payah menghadapi siswa-iswi SMP, apalagi saya, hehehe. Malu rasanya mengingat Selasa kemarin, saya sampai harus menitikkan air mata di depan murid-murid kajian puisi saya. Rasanya waktu itu, saya hampir putus asa melihat banyak santri-santri putri seperti tak mengacuhkan saya. Hadeeeh….

Akhirnya, saya tak mau memaksakan kemauan saya. Bahwa mereka harus sama tertariknya dengan saya terhadap puisi. Bahwa seharusnya mereka antusias dan haus ilmu puisi. Dan bahwa mereka harus bahwa mereka harus yang lainnya. Jika ibarat saja kelas kajian puisi saya ini sebuah kolam ikan, maka untuk dapat melihat ikan-ikan yang bersliweran indah itu haruslah kita singkirkan terlebih dahulu kotoran lumpur dari kolam itu.

So, sekarang ini saya duduk bersama sebagian dari mereka. Sebagiannya lagi memilih tidak menghadiri kelas. Hanya bersebelas saja. Tapi tak apa, karena membacai puisi yang mereka gubah dengan susah payah, membuat saya bahagia. Mungkin karena puisi-puisi  itu tercipta karena ada cinta di hati mereka.

Cekidot…….. Puisi mereka saya posting satu persatu di postingan selanjutnya ya.



Dont Ever Loose Hope.....



Entah kenapa, pagi ini saya jatuh hati pada senandung lagunya Maher Zain; Insya Allah. Liriknya yang versi Inggris sangat menyentuh hati. Saya melagukannya dengan lirih sembari mengingat-ingat kapan terakhir kalinya saya berada dalam kondisi loose hope seperti yang digambarkan Maher. 

Karena saya pernah merasakan kegelapan yang menyungkupi hidup saya, pernah merasa tidak tertolong dan tidak tahu kemana akan melangkah, saya begitu meresapi lirik ini. Beruntung bagi saya, Allah tetap berada di dekat. Sedekat urat nadi. Meski malu karena hampir selalu saya datang menemuiNya dalam keadaan sedih, tapi saya seperti dituntun oleh tangan ghaib untuk bersujud padaNya. Tersungkur berdoa dengan rembesan air mata. Saya tidak pernah mengingat lirik lagu Insya Allah ini saat itu. Sehingga lirik ini mencuri melankoli hati saya sesaat tadi.

Terima kasih Allah......untuk selalu ada dan tak pernah meninggalkanku walau sesaat. Walau aku seringkali menjauh dariMu.....Guide my steps don’t let me go astray. You’re the only one that showed me the way.

Insya Allah

Every time you feel like you cannot go on
You feel so lost
That your so alone
All you  see is night
And darkness all around
You feel so helpless
You can`t see which way to go


Don`t despair and never loose hope
Cause Allah is always by your side


Insya Allah3x
Insya Allah you’ll find your way


Every time you can make one more mistake
You feel you can’t repent
And that its way too late
You’re so confused, wrong decisions you have made
Haunt your mind and your heart is full of
shame


Don’t despair and never loose hope
Cause Allah is always by your side


Insya Allah 3x
Insya Allah you’ll find your way
Insya Allah 3x
Insya Allah you’ll find your way

Turn to Allah
He’s never far away
Put your trust in Him
Raise your hands and pray


Ooo Ya Allah
Guide my steps don’t let me go astray
You’re the only one that showed me the way,
Showed me the way 2x
Insya Allah 3x
Insya Allah we’ll find the way

Merindukan Pulang


Selalu ada alasan untuk pulang, Meski sebenarnya tak butuh satupun alasan untuk kembali ke sesuatu yang kita sebut rumah.

Orang melangkahkan kakinya. Mencari banyak hal yang membuat ia merasa belum lengkap tanpa memilikinya. Mengejar jawaban dari pertanyaan yang berlesatan bagai kilat dalam hidupnya. Berkelana, menyusuri jalan dan tempat asing yang jauh, untuk kelak berhenti melakukan semuanya dan merindukan pulang.

Kata pulang menjadi demikian magis untuk dilafalkan di bibir. Mengejanya membuat hati teriris-iris. Terlebih bila pulang, adalah satu-satunya jalan untuk merasakan kembali nyamannya rumah. Tak banyak orang yang mampu menjadikan tempat dimana ia berpijak menjadi rumah, tempat ia melabuhkan hati dan tubuhnya dengan nyaman. Padahal perantauan menjanjikan kesenangan dan banyak hal yang tidak dapat ditemui di kampung halaman.

Pulang adalah kembali ke akar. Tempat awal tumbuhnya segala yang hidup.

Namun pulang bagi beberapa orang yang terbuang menjelma menjadi bintang. Jauh dan tak terjangkau. Hanya kilaunya saja yang berpendar di dada, hilang muncul. Mereka sampai rela untuk pulang meskipun dalam keranda. Untuk orang semacam mereka, kaum buangan, pulang adalah hal teragung sehingga kehilangan nyawa mungkin jadi satu-satu alasan untuk bisa kembali mencium bau tanah, merasakan indahnya rumah dan bersatu dengan bumi yang menumbuhkan mereka.

Orang-orang itu, seperti tokoh yang digambarkan oleh Leila Chudori dalam novelnya 'Pulang', hanya mampu membaui kampung halaman, tanah airnya, dari aroma kenangan. Ketika pulang sudah menjadi kata yang muskil untuk diwujudkan, hanya dengan menghirup bau kenanganlah segala rindu itu terlunaskan. Meski darah kesedihan dan air mata nelangsa tetap menetes dari luka sayat di tubuh harapan.

Bahagialah, mereka yang lahir tumbuh dan menua di kampung halaman. Tak perlu merasakan sesaknya rindu yang menderu-deru. Tak payah untuk menelusuri jalan menuju kampung halaman yang mungkin sebagian telah terlupakan digerus ingatan yang lekang dimakan zaman.

Bahagia jualah, bagi siapa saja yang bisa mengecap syahdunya mengucapkan kalimat: "Aku pulang", setiap jeda kesibukan di perantauan menggiring untuk mereka kembali di tanah asal sendiri. Menyesap romantisme menatap kelebatan pohon dipinggir jalan dari balik jendela kendaraan. Menikmati desauan angin yang membisikkan ucapan selamat datang. Menatap kerlip lampu-lampu rumah penduduk di kejauhan saat malam tiba dari becak yang dikayuh perlahan.

Pulang, kembali ke asal. Barangkali di sana, di teras sebuah rumah yang teduh sedang menunggu, seseorang dari masa lalu.


Dimsum Terakhir dari Naima



Tidak ada yang lebih menyenangkan bagi seorang perempuan selain menerima hadiah. A Gift. Sebuah Kado. Entah dari kekasih, teman, anak atau mungkin dari seorang yang kita tidak pernah sangka bahwa suatu saat ia akan memberi sebuah hadiah. Semua efeknya sama. Membahagiakan. Apa lagi namanya kalau bukan bahagia mengetahui bahwa ada seseorang di luar sana yang sempat memikirkan kita dan merasa bahwa keberadaan kita berarti bagi dirinya sehingga ia merasa perlu untuk mengekalkan keistimewaan hubungan itu dengan sebuah hadiah. Agak sedikit ada unsur Ge eR, sih. Tapi seperti itulah rasanya buatku


Yup, aku baru saja menerima sebuah hadiah yang terdiri dari dua buah buku. Sebuah buku berjudul Perfect Timing dari Jill Mansell dan satunya lagi adalah buku yang sangat kuidam-idamkan. Dimsum Terakhir-nya Clara Ng. Sudah lama aku "memburunya", namun ternyata tanpa kusangka aku mendapatkannya begitu saja dari seorang muridku dulu di MTsN Waikabubak. Padahal, waktu aku dan Naima, begitu nama muridku itu, bertemu kembali di Facebook, Naima sudah frustasi kepadaku sebab aku ternyata sudah kehilangan memori tentangnya. Meski aku sudah menguras kolam ingatanku, tetap saja sosoknya samar-samar.

Lalu untuk menebus rasa bersalahku, aku berjanji untuk menghadiri pernikahannya secara khusus. Dia senang sekali dan begitu menanti-nantikan momen itu. Sampai kemudian kami bertemu di hari istimewanya itu. Kurang lebih dua-tiga bulan yang lalu. Aku menemuinya di kamar pengantin dan tak bisa berhenti menatap wajahnya. Bahagia memancar seperti bulan purnama di wajahnya yang tirus itu. Selain mengagumi kecantikannya aku juga masih mencari-cari seraut wajah mungil yang dulu duduk di kelas selagi aku memberikan pelajaran SKI, bertahun-tahun dulu. Ah, betapa rapuhnya ingatanku.

Buku Dimsum Terakhir yang Naima hadiahkan kepadaku, rupanya menjadi semen perekat rumah ingatanku yang sudah rapuh itu. Sebab bisa saja bertahun-tahun dari sekarang tatkala keadaan berubah, mungkin aku dan Naima akan lost contact oleh suatu alasan. Jarak dan waktu sering menjadi racun bagi sebuah hubungan.  Dan aku memiliki ingatan yang serapuh istana pasir. Namun jika pun itu terjadi, ada Dimsum Terakhir yang bisa menambal bolong-bolong dalam ingatanku. Seperti sebuah kalimat dalam sajakku; Suatu saat buku ini tamat kubaca namun namamu takkan tamat kueja.

Terakhir, untuk Naima, selamat ya Dear. Hopefully your life fullfill with a lot of joy, happiness and be blessed by God. Bila nanti dirimu sampai di Jepang bertemu dengan suami terkasihmu, sampaikan salam ibu pada gunung Himalaya dan bunga sakura.





Pengemis Ngesot dan Seekor Anjing


Pagi datang tanpa isyarat. Selalu begitu. Padahal siang dan matahari telah menyiapkan berbagai misteri. Kadang tanpa sempat menyisakan waktu untuk berpikir, kita bergerak, berjalan, beraktifitas dan ketika pada akhirnya misteri itu terkuak, barulah kita sadar. Seharusnya ada waktu sejenak untuk kita merenung agar kita tidak alpa menangkap pertanda.

Seperti biasa, pagi itu aku bangun. Berangkat ke kantor dan tenggelam dalam pekerjaan sampai tak terasa pagi sudah lama berlalu dan senja segera akan bertahta di ujung cakrawala. Kemudian setelah semuanya aku rasa beres, aku beranjak pulang. Sepanjang jalan aku menikmati udara semilir yang menerpa wajahku.

Saat aku melewati kompleks pertokoan, aku berhenti sejenak untuk membeli dua pak biskuit. Sejak terbaring sakit selama dua minggu, suamiku berhenti merokok dan sebagai gantinya aku harus menyiapkan camilan. Keributan kecil terjadi di toko antara pemilik toko yang Chineesse dengan pembantunya. Aku merasa harus segera kabur dari situasi panas itu.

Ketika aku akan melangkahkan kaki menuju motor yang kuparkir di depan toko, seraut wajah familiar tersenyum menghadang jalanku. Ia mengenaliku. Sudah beberapa kali aku memberikannya uang. Tanpa pernah menadahkan tangannya, aku selalu saja tergerak untuk merogoh dompet dan membagi sepercik kebahagiaan untuknya. Tapi sore itu, entah kenapa aku hanya membalasnya dengan senyum. Sekilas kuingat, di dompetku hanya tinggal dua atau tiga lembar seratus ribuan. Itu terlalu besar, pikirku. Dan aku tak ingin sekedar memberinya recehan seribuan yang mungkin nyelip di sela-sela KTP, SIM, Kartu Askes dan slip-slip ATM yang berjejal di dompetku.

Aku terenyuh memandang sepintas wajah lelaki yang tak beruntung memiliki kaki sesempurna aku dan orang-orang lain. Lelaki pincang, pengemis itu tak pernah melepas senyum dari wajahnya. Aku berkata dalam hati, lain kali aku menemuinya, aku akan memberinya uang sepantasnya. Seperti tahu isi batinku, pengemis yang berjalan persis hantu suster ngesot di film itu pun menggeser tempatnya berdiri atau tepatnya duduk ngesot. Kemudian aku berlalu.

Malam bertahta. Gelap gulita menguasai langit. Aku tidak lagi mengingat kejadian sore tadi. Setelah sholat magrib, makan malam dan anak-anak asyik belajar, aku dan suamiku menikmati istirahat berdua sambil nonton tivi. Aku penggemar film barat, dan tivi berlangganan yang baru saja dipasang sebulan ini oleh suamiku membuatku larut dalam keasyikan. Suamiku mungkin hanya sekedar mengikuti moodnya yang sedang bagus. Kami memelototi layar kaca 40 inci itu tanpa pernah tahu, di luar sedang terjadi pertengkaran.

Tiba-tiba saja, driver kami masuk dan membawa kabar itu. Seorang perempuan tua yang masih terhitung tetangga kami datang mengamuk di depan, persis saat driver kami hendak pulang ke rumahnya. Ternyata saat melintas di depan rumah perempuan tua itu, Boban, driver kami itu menabrak mati seekor anjing miliknya. Tanpa menghiraukan permintaan maaf dan penjelasan Boban bahwa ia tidak tahu bahwa anjing itu mati, perempuan tua itu terus marah-marah. Untung ada seorang Polisi yang tinggal di kost milikku, datang dan melerai pertengkaran itu. Dan setelah puas, perempuan itu pun pergi.

Suamiku bangkit dan bersama Boban keluar rumah untuk meminta keterangan yang lebih jelas dari Amal, polisi itu. Lalu tak seberapa lama, suami masuk dan meminta sejumlah uang. Ganti rugi anjing yang mati itu.

Aku terhenyak, sebab bukan salah kami rasanya kalau anjing itu sampai mati. Kenapa anjing itu dibiarkan berkeliaran di jalan-jalan. Terus, kalau gara-gara anjing, nyawa seorang manusia jadi melayang, apakah perempuan itu akan sanggup membayar ganti rugi nyawa itu? Aku mengomel, tapi tanganku tetap saja meraih  dompet dan mengulurkan uang sejumlah dua ratus ribu. Suamiku tak menanggapi omelanku. Aku tahu benar, dia memberikan uang itu karena untuk menjaga rasa, tepa selira, menjaga keharmonisan hubungan dengan tetangga. Tapi aku tetap saja sebal tak terkira.

Lama suamiku baru muncul lagi di rumah. Sepanjang itu pula aku mencoba berdamai dengan hati. Kehilangan uang dua ratus ribu  itu terasa semakin menohok hati, saat berangsur-angsur aku satukan kepingan-kepingan kejadian hari itu. Seandainya saja sore tadi aku berikan selembar saja uang seratus ribuanku kepada pengemis itu, mungkin aku tak perlu kehilangan uang dengan cara seperti ini.

Barangkali Tuhan ingin memberi pelajaran kepadaku tentang bersedekah, tentang kesabaran, tentang keikhlasan dan tentang rizki. Bersedekah tak elok ditunda-tunda. Bersabar saat menghadapi situasi pelik itu perlu dilatih, aku selalu gagal untuk tidak mengomel. Harus lebih ikhlas karena segala sesuatu yang kita sangka milik kita hakikatnya adalah milik Tuhan semata, kita hanya dititipi saja. Cepat atau lambat pasti akan diambil kembali oleh-Nya dengan cara yang kita tidak pernah sangka.

Dan Tuhan tak pernah salah membagikan rizkinya.

Just Another New Year Story

Tahun Baru selalu menimbulkan romansa tersendiri di hatiku. Mungkin juga orang lain, sebab bukan hal yang aneh, jika seseorang menggunakan nuansa tahun baru untuk membingkai romantisme ke dalam sebuah hubungan. Sehingga kemudian di pergantian kalender berikutnya, sisa kenangan manis yang pernah dikecap di tengah hingar bingar terompet dan denyar sinar kembang api yang menghiasi langit, terasa membekas dan sulit lenyap dari hati. Saya merasakannya hingga kini. Bahkan setelah belasan tahun berlalu, kenangan itu masih terasa manis. Hingga setiap datangnya detik-detik itu, hatiku selalu membuncah-buncah oleh perasaaan bahagia. Entahlah, tapi seperti itu adanya.


Saya masih menyimpan foto tahun baru kala itu. Sewaktu saya baru saja menyadari bahwa saya telah menemukan seseorang yang tepat untuk saya ajak bersama-sama melakoni hidup yang sementara ini. Sewaktu saya tahu dengan sendirinya bahwa ternyata saya begitu terpaut dan selalu ingin terhubung dengan seseorang. Dan sungguh saya bersyukur setiap tahunnya, ketika saya tergelitik untuk melihat kembali foto itu, saya masih merasakan getar yang sama. Persis yang pernah saya rasakan ketika usai perayaan tahun baru 1996, di saat fajar menyingsing di garis horizon laut Jawa, pertama kali dia menggenggam tangan saya tanpa bicara, tanpa kata.

Tahun baru ini, saya, dia dan seorang kanak-kanak yang kemudian hadir ke dunia untuk memprasastikan cinta itu, berkendara menunggu saat itu tiba. Menunggu dentuman bubuk mesiu yang melontarkan sinar berwarni-warni bak kembang, kembali menghiasi langit kelam yang tersaput mega.

Gerimis yang baru saja usai saya rasakan turut memberi atmosfer tersendiri. Sendu. Muram. Namun mendamaikan. Mungkin ia hadir sebagai penetralisir kegembiraan yang cenderung berlebihan. Bau alkohol dan teriakan euforia yang meremang di udara.

Ini hanya selembar kalender biasa. Hanya pergantian angka dari 2012 ke 2013. Tapi bagi saya tahun ini adalah awal tahun yang beda. Saya masih memiliki seseorang yang 17 tahun lalu menghunjamkan cinta ke dalam hati dengan begitu yakinnya. Dan hal bagusnya adalah kerikil tajam, angin badai dan ombak ganas tak mampu mengkandaskan langkah saya dan dia menghantarkan sampan cinta hingga ke pelabuhan terakhirnya. Jika saja saya mampu untuk membeberkan betapa saya dulu pernah hampir menyerah. Andai saya kuasa membagi cerita kepadamu tentang cobaan hebat dan beruntun di tahun 2012 yang hampir meluluh lantakkan saya dan dia. Kau pasti takkan percaya, saya masih bisa ada disini bersama dia dan seorang gadis mungil yang senyumnya mencerahkan dunia. Berdiri di pinggir jalan bersama kerumunan, berpelukan dan terpana memandang bias indah pesta kembang api di angkasa.

Bagaimana bisa saya melewatkan segala duka dan derita yang seharusnya mampu menumbangkan harapan hidup saya. Itu semua karena cinta.

Tak perlu beresolusi. Cukup saya hantarkan doa dan harapan, cinta itu akan selalu ada. Itu lebih dari semua yang kuperlukan. Itulah yang akan mengantarkan saya ke perolehan-perolehan dan kesuksesan-kesuksesan di masa datang. Semoga.

Karangan Pertama Icha


Tersenyum bangga. Itulah reaksi spontan ketika saya sore itu mendapati secarik kertas berisi tulisan tangan Icha, anak bungsuku (yang kuharap bukan bungsu, tahu kan maksudku, hehe). Tulisan itu seperti setetes embun yang menyejukkan hatiku yang sedang kering kerontang gegara dua minggu ini seolah tak mendapatkan siraman hujan. Ya, aku gagal melenggangkan kakiku ke audisi lebih lanjut di Gradien Audisi yang sudah kuikuti selama hampir dua belas minggu. Itu berarti 3 bulan. Selama itu aku bagai bibit tanaman yang berkecambah dan menumbuhkan tunasnya yang hijau segar, disirami oleh air nutrisi yang secara berkala setiap Selasa saya dapatkan via dunia maya. Lalu tiba-tiba semua berhenti. Saya mulai layu dan mengering selama dua minggu ini. Setiap hari hanya menengok inbox yang tak kunjung bertambah pengirimnya kecuali notifikasi dari Goodreads. Facebook, Google+ dan jejaring sosial lain. Its over. Game Out.


Dan beberapa hari lalu, saya begitu sumringah membaca karangan pertama Icha. Mengapa saya harus berlama-lama terhanyut dalam kegalauan? Bukankah Audisi itu hanya ajang untuk menambah wawasan menulismu? Come on, Lik. Look at your child? She wrote something wonderful at her age. Its great contemplation for you. Its a nice spirit from your youngest child.

Okay. Hentikan segala pikiran negatifmu. Mulailah menulis lagi. Just like your child has show to you through this nice story below.

Kebun Binatang

Aku berdiri di samping rumah. Memandang ke langit berbentuk binatang.
Aku berpikir  kalau suatu saat nanti aku bisa pergi ke kebun binatang.

Ini saat yang tepat. Aku mengajak ayah dan ibuku pergi ke kebun binatang. 
Setelah beberapa jam aku dan kelaurgaku sampai di kebun binatang.
Binatang yang ada di sana sangat banayk terutama binatang buas.
Ada harimau, singa, beruang dan lain-lain.

"Hei, lihat ada monyet,"teriak Sinta.
"Wah, iya, ada monyet," kata Rauda.

Waktu telah berlalu lama. Hari juga sudah sore. Aku dan keluargaku pulang ke rumah.
Setelah aku sampai ke rumah, temanku datang ke rumahku untuk kerja kelompok.

Demikianlah karangan cerita saya dan terima kasih.

Karya Nawrah Izzatun Naja


See...? Betapa kuatnya gaya penuturan ceritanya. Meski sederhana dan singkat, tapi Icha sudah merasakan nikmatnya menulis. So enjoy your writing, Lik.


Selasa, 4 Desember yang tak juga habis-habis. WTH....

Kejutan Dari Icha


Hidup penuh dengan kejutan-kejutan. Sebagian ada yang membuat sedih, kecewa, marah, tegang dan stress. Separuh lagi hadir untuk memberikan senyuman, kebahagiaan dan rasa bangga.

Saya baru saja mengalami kejutan jenis yang kedua. Sebuah kejutan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Hal sesimpel dan sespontan yang disodorkan begitu saja oleh gadis kecil saya, Icha, ternyata membuncahkan rasa bangga dan bahagia yang tak terkira.


Jika saja saya sedikit sensitif terhadap beberapa kejadian sebelumnya, mungkin kejadian malam ini akan berakhir biasa saja. Dia akan kehilangan daya kejutnya karena saya telah berhasil menangkap sinyal-sinyal yang dilepaskan secara tidak sengaja oleh anak saya itu. Namun, begitulah cara Tuhan mengatur semuanya. Tak bisa dikira, unpredictable dan kadang-kadang hadir dengan jalan yang tidak biasa. Malam ini, saya menaikkan puji kepadaNya untuk sebuah kejutan kecil yang manis yang Dia hadirkan di hidupku.

Berbeda dari kakaknya yaitu Adil, Icha tumbuh dengan karakter lebih keras, kaku, cenderung memaksa dan sulit mendengarkan omongan orang. Ayahnya sering bercanda bahwa dia gadis jawa yang berkarakter ende. Kebetulan Icha memang dilahirkan di kampung kelahiran saya, Pekalongan. Sementara, Adil gadis ende yang berkarakter jawa, karena Adil dilahirkan di Kampung halaman Ayahnya, Ende.

Pada suatu hari pernah saya memarahi Icha karena dia telah menghilangkan uang dua puluh ribuan di sekolahnya, bahkan sebelum sempat dia belanjakan. Uang itu saya berikan dengan catatan dipergunakan untuk keperluan jajannya di sekolah selama sepuluh hari. Saat itu saya betul-betul kehabisan uang kecil. Sehingga dengan terpaksa saya berikan uang pecahan dua puluh ribu kepada Icha. Seperti biasa, saat saya marah, Icha hanya diam seribu bahasa dengan muka yang dilipat-lipat. Kebiasaan ini jelas diturunkan oleh ayahnya, hihihi. Kemudian setelah menumpahkan kekesalan saya, kehidupanpun kembali berjalan normal.

Namun rupanya, keadaan yang saya sudah anggap berjalan normal kembali itu tidak berlaku buat Icha. Dia masih menyimpan rasa sesalnya. Tapi dia hanya menyembunyikan untuk dirinya sendiri. Sampai pada hari ketiga setelah kejadian itu, sepulang dari kantor, saya menemukan secarik kertas terselip diantara tumpukan make up saya di meja rias. Isinya adalah sebagai berikut:

"Umi yang baik hati dan saya cintai. Saya minta maaf sekali sudah menghilangkan uang yang umi berikan buat saya. Jangan marah lagi ya Umi. Anakmu, Icha."

Saya terhenyak, namun tidak bisa memeluk buah hati saya itu karena beberapa menit sebelumnya dia pamitan untuk berkunjung ke rumah sepupunya. Dan karena rutinitas-rutinitas di rumah dan kantor, catatan kecil dari Icha itu kemudian seolah saya lupakan keberadaannya.

Dan berbulan setelah itu, sebuah kejutan manis mengingatkan saya kembali kepada catatan kecil dari Icha. Kini kejutan itu hadir dalam bentuk yang jauh lebih sempurna. Sebuah puisi. Ini adalah keajaiban. Icha menulis puisi pertamanya di usia 9. Di usia itu saya sedang gila-gilanya pada membaca, tapi tak sebuah puisi pun sempat saya buat. Tapi Icha, saya tidak pernah melihatnya tekun membaca seperti ketekunan saya membaca, tapi justru telah membuahkan sebuah puisi. Saya pun tercengang dan sontak teringat catatannya diatas. Apakah Icha sedang berusaha memberitahu saya bahwa dia memiliki minat yang sama dengan saya? Seharusnya saya sebagai ibunya tahu hal ini sejak awal. Agar saya bisa membimbing dan mengarahkan minatnya secara tepat. Sebab minat dan bakat bisa lenyap jika terkubur oleh ketidaktahuan dan ketidakpedulian orang tua. Satu hal yang tentu sangat merugikan anak.

Penasaran, saya membuka-buka binder koleksi Icha. Ternyata diantara coretan-coretan tidak jelas, terselip beberapa bait lagi puisi. Wow...apa  yang saya tahu tentang gadis kecil saya ini. Saya telah kehilangan banyak moment berharganya.

Untuk memberikan apresiasi yang mendalam bagi kejutan manis yang dia persembahkan untuk saya malam ini, tadi saya berjanji untuk menulis catatan di facebook tentang puisinya. Yang tentunya dengan kemampuan berbahasa dan perbendaharaan diksi yang masih terbatas, masih perlu banyak bimbingan untuk sampai pada tahap sempurna. Namun keberaniannya untuk menjelajah dunia yang baru, patut saya hadiahi pelukan dan pujian. Bila ibu gurunya memberikan nilai 100 untuk puisinya itu (yang satu-satunya nilai 100 di kelasnya), maka saya memberinya nilai 200. Sedikit berlebihan. Tapi tidak mengapa untuk memicu semangatnya lagi dalam menulis.

Maka selanjutnya, catatan ini saya tuliskan sebagai memorabilia atas kebanggaan saya sebagai seorang ibu dan monumen bagi puisi pertama Icha di hidupnya yang masih panjang ke depan. Semoga kelak di saat dia mungkin telah menuliskan ribuan puisi indah dan prosa yang menarik, dia tidak melupakan puisi pertamanya ini.

Puisi satu

Sekolahku

Sekolahku
Kau sangat bagus dan cantik
Lapangan luas dan bagus
Tiang bendera berdiri tegak

Sekolahku
Benderamu berwarna merah putih
Merah berani putih suci
Berarti kita berani dan suci

Sekolahku
Aku akan sekolah disini sampai aku lulus
Biarpun aku tidak lulus
Aku akan berusaha sampai aku bisa


Karya Icha



Puisi dua

Lumba Lumba

Lumba-lumba
Kau sangat pintar
Kalau kulihat, aku jadi terpesona
kupandang-pandang wajahmu
main bola basket kau bisa
Aku sangat suka kau

Lumba-lumba
Diriku bangga padamu
Aku akan menjemputmu


Karya Nawrah Izzatun Naja
(puisi yang ditulis di binder)


Puisi tiga

Orang Tua

Orang tua
Kau begitu menyayangiku saat aku kecil
Ku sangat sayang padamu
Karena kau yang mendidikku

Orang tua
Ku cinta padamu
Ku sayang padamu
Ku rindu padamu

Karena kau yang mengurusku
Waktu aku masih kecil

Karya Nawrah izzatun Naja
(puisi yang ditulis di binder)

Puisi empat

Kupu-kupu

Kupu-kupu
Kau adalah teman baikku
Kau selalu kucintai dengan sepenuh hati

Kupu-kupu
Sayapmu indah 
Dan berwarna warni

Aku suka padamu 
Karena kau sangat cantik
Dalam sepenuh hatiku
Maka kusebut kau sahabatku


Karya Nawrah Izzatun Naja
(puisi yang ditulis di binder)


Repost from Facebook Notes, Waikabubak, 5 Mei 2012.

Buku Pilihan Icha


Bahkan seorang anak seusia Icha sudah tahu apa yang diinginkannya. 

Sore tadi Icha mendekati saya sementara saya tengah menekuni tulisan saya. Sejak kemaren sebenarnya dia telah menunjukkan kepada saya secarik kertas buram berwarna merah muda, berisi daftar buku-buku dari sebuah penerbit yang saya kurang hafal namanya. Setiap tahun agaknya penerbit itu bergerilya dari sekolah ke sekolah mempromosikan buku-buku hasil terbitannya. Buku-buku saku berharga semurah jajanan di warung. Paling mahal sebelas ribu. Mulai dari rumus-rumus matematika, UUD 1945 dan amandemennya, cerita rakyat dan lain sebagainya. 

Saya melirik agak malas ke arahnya. Karena sudah bisa dipastikan, buku yang dibeli dari penerbit atau salesnya itu hanya akan jadi penghuni lacinya berjejalan dengan mistar, topi, mainan dan ikat rambutnya. Kemudian menjadi kusut karena terlipat-lipat, dan berakhir di ujung pena adik-adik sepupunya. Penuh coretan-coretan. Lalu teronggok sia-sia di sudut kamar.

Tapi, mata memelas Icha membuat saya tidak tega menolak keinginannya.
Lalu saya bertanya, "Ade, mau beli buku apa?"
Matanya berbinar seraya menunjuk satu judul buku. Buku seharga sebelas ribu itu bertajuk Peribahasa, Pantun dan Puisi.
Saya tersenyum lalu berkata padanya, "Ya udah, besok Ade beli buku ini, ya." 

Saya tidak memiliki alasan lagi untuk menolak keinginannya membeli buku murah itu. Apalagi setelah saya tahu bahwa buku yang ingin dibelinya adalah buku yang berkaitan dengan passionnya. Hasratnya pada dunia menulis. 

Tidak pada tempatnya saya under estimate pada sebuah buku murah. Siapa tahu, justru dari situlah Icha menemukan sumber mata air yang jernih dan tak habis-habisnya bagi proses kreatifitasnya. Semoga.

Jodoh

Dalam sebuah kunjungan ke sekolah saya bertemu dengan seorang kawan baik. Kakak Mah, demikian saya memanggil perempuan yang usianya terpaut 4 tahun diatas usia saya. Dulu ketika kami masih sama-sama bekerja sebagai tenaga pengajar honorer di sekolah yang sama, dia masih lajang. Sebuah predikat yang sungguh berat untuk disandang oleh perempuan manapun di dunia, saat usia semakin menjorok ke senja. Siapa yang masih bisa tersenyum ikhlas, menyandang gelar perawan tua?


Sesungguhnya Kakak Mah memiliki hampir semua kriteria yang diinginkan oleh laki-laki. Berparas manis, hidung mancung, badan proporsional untuk ukuran tubuh orang Indonesia, well educated dan garis keturunannya bisa dibilang terhormat di Waikabubak. Namun entah faktor apa yang membuat jodoh lambat bertandang dalam kehidupannya.

Ketika dia akhirnya menikah, semua orang di sekitaran menarik nafas lega. Bersyukur pada akhirnya ada laki-laki baik yang mempersuntingnya menjadi istri. Tidak perlu kuatir dengan bayangan-bayangan akan hidup yang kesepian seumur hidupnya. Tanpa kekasih yang menjadikan hidupnya menjadi lebih berwarna cinta, hidup terasa lebih sunyi dari mati. 

Tapi rupanya jodoh yang datang, menyisakan beban. Beban itu menyangkut di pundak Kakak Mah berupa empat orang anak. Tiga perempuan dan satu laki-laki. Semua masih berusia kanak-kanak yang masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Hanya yang terbesar yang sudah bisa mengurus keperluan pribadinya, tanpa dibantu orang dewasa. sedangkan tiga lainnya masih harus didampingi untuk bisa menyelesaikan keperluannya, apakah mandi, berpakaian, pergi sekolah, makan, belajar bermain dan lain-lain. Bisa dibayangkan betapa sibuknya Kakak Mah setelah menikah, harus bekerja dan mengurusi empat orang anak yang tiba-tiba saja hadir di hidupnya bersama seorang lelaki yang kini menjadi suaminya. Jawaban dari doa-doanya.

Meluncur air mata Kakak Mah, ketika ngobrol di selasar sekolah hari itu. Predikat ibu tiri kadang menerbitkan pandangan yang tak adil. Dan itu yang sekali dua, terdengar di telinga Kakak Mah, dan menorehkan perih di hatinya. Karena dia merasa, ketika pengantin baru yang lain asyik masyuk memadu cinta dengan pasangannya, dia justru harus terseok-seok di pagi buta menyiap keperluan buah hati suaminya pergi sekolah. Ketika pasangan muda lain tengah santai jalan-jalan bermesraan, dia harus sibuk mendampingi keempat anaknya belajar. Sementara suaminya bekerja di kota lain. 

Aku hanya bisa menguatkan. Memberinya pelukan. Jodoh seringkali datang tanpa kita bisa memilih. Ia datang begitu saja di hidup kita. Jika saja bisa, tentu Kakak Mah akan memilih jodohnya seorang laki-laki muda, lajang, berwajah tampan, baik dan mapan. Tanpa embel-embel empat orang anak seperti sekarang. Tapi itulah jodoh. Datang tak duga, dari arah yang tidak disangka-sangka. Tiba-tiba saja hidup terasa berat, ketika dalam hati kita terbersit perasaan kenapa saya harus berjodoh dengan dia. Karenanya, tak perlu lagi mempertanyakan. Berdamailah dengan kenyataan. Dan kelak akan ada saatnya masa-masa sulit berbuah manis. barulah ketika itu kita sadar betapa Tuhan tahu yang kita butuhkan, betapa Tuhan tidak pernah salah memilihkan jodoh untuk kita. Yang ada, seringkali kita lalai melihat dan memahami pasangan kita.

Aku memeluk Kakak Mah. Bayangan suamiku melintas. Diam-diam aku melarungkan doa-doa keselamatan untuknya ke angkasa.


Ultah Teristimewa


"Selamat ulang tahun pernikahan kita, Sayang."

Aku membisikkan kalimat itu di telinga lelaki yang selama tiga belas tahun sudah menjadi orang yang pertama kulihat ketika membuka mata di pagi hari, dan orang terakhir yang ku tatap ketika akan memejamkan mata di malam hari. Lelaki yang setiap inchi tubuhnya,setiap gerak-geriknya, setiap kernyit wajah dan setiap lenguh nafasnya telah kukenali dan melekat di memori.

Tidak ada kue, tidak ada greetings card atau perayaan yang sengaja kita gelar untuk momen ini. Hanya ada sebuah bisikan dariku, dan anggukan yang disertai tatapan sebagai balasannya dari lelaki itu.


Tapi aku, entah mengapa, justru merasa inilah momen perayaan ulang tahun pernikahan kami yang paling membahagiakan. Bahkan ketika ulang tahun itu datang ditengah badai musibah yang tengah mendera kami. Kerugian materi dan tekanan batin yang begitu tinggi karena kerugian itu, nyatanya malah semakin mendewasakan hubungan kami. Mungkin pula mendewasakan diri kami sendiri. Aku dan suami lalu mendapati dan percaya satu hal, musibah itu dikirim kepadaku untuk mengupgrade aku dan suami untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik dan Tuhan hendak menyiapkan sesuatu yang spesial bagi kehidupan kami. Musibah itu adalah satu dari sekian proses yang harus kami lalui. Dan Tuhan menempatkan musibah itu persis disaat menjelang ulang tahun pernikahan kami.

Inilah sesuatu yang berharga yang harus aku ambil dari pelajaran hidup ini. Tuhan menciptakan maslah sekaligus dengan solusinya. Tergantung manusialah solusi itu akan ditemukan atau tidak. Berhasil mengatasi masalah itu atau malah menambah parah. Atau solusi itu dibiarkan tergeletak di suatu tempat tanpa ditemukan. Hingga kemudian tak ada pelajaran yang diambil. Masalah tinggal masalah, diam begitu saja menyesaki hidup kita, tanpa diperjuangkan solusinya.

Aku memilih mencari solusinya. Setelah tentu saja, mengambil sejenak waktu untuk menata hati dan pikiran. Meredakan gejolak yang berkecamuk di dada setelah didera musibah. Bangkit dari kejatuhan. Lalu berdua dengan suami membahas jalan keluar dari masalah yang menelikungku begitu dalam. Aku dan suami banyak berbincang. Menghabiskan waktu untuk menyusun rencana-rencana yang sifatnya teknis. Bagaimana mengganti kerugian itu, bagaimana mengatasi kemelut di hati, bagaimana menyikapi kerugian itu, apakah harus menuntut ganti atau tidak, dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Kami menjadi begitu dekat. Begitu saling membutuhkan. Sekali juga menjadi bertambah-tambah rasa sayang dan cinta kami satu sama lain. Mungkin ini pula salah satu efek positifnya dari musibah yang menimpa kami. Hubungan cinta kami yang sudah berjalan selama tiga belas tahun, tidak memudar dimakan waktu. Melainkan semakin erat melekat di hati dan tumbuh subur merindangi rumah cinta kami.

"Semua pasti ada jalannya, dan kita telah menemukan jalan itu, Sayang," bisikku kemudian.


Lebaran Pertama

Ini adalah lebaran ke tiga puluh tujuh kalinya dalam hidup saya. Semua nyaris sama suasananya. Penuh kegembiraan, celoteh riang, huru-hara di dapur, isak tangis saat bersilaturrahim dan syahdunya sholat ied jamaah di lapangan atau masjid. Namun bagi saya, ini adalah lebaran yang sarat makna. Untuk pertama kalinya, saya merayakan lebaran di rumah sendiri.

Ya, rumah sendiri. Rumah yang saya bangun bersama suami untuk tempat berteduh kami sekeluarga. Tempat kami pulang melepas penat dari perjalanan mencari penghidupan. Sebuah kotak kecil yang dipenuhi riuh rendah suara canda dan tawa anak-anak. Namun ketika masuk ke dalamnya, saya merasa seolah berada di tempat terluas dan ternyaman yang pernah ada di dunia. Mungkin itulah makna filosofi 'rumahku istanaku'.

Allahumma Paksakaaan...

Bahwa saya adalah seorang yang lebih berbakat untuk menulis ketimbang untuk berbicara, hari ini terbukti sudah. Dengan segala desakan situasi, saya tidak mungkin lagi menghindar dari permintaan atasan saya; Drs. H. Pua Monto Umbu Nay untuk menjadi pembicara pada sebuah kegiatan orientasi di kantor. Jika dulu-dulu, jika ditawari saya selalu berhasil mengelak dengan dalih masih ada orang lain yang lebih berkompeten. Maka untuk kali ini tidak.

Dalam catatan saya yang lalu, saya pernah menulis tentang kepergian seorang ulama di Waikabubak yang amat sangat membuat kehilangan banyak orang. Beliau adalah salah satu dari beberapa orang yang sulit kami dapatkan di Sumba Barat untuk didapuk sebagai pembicara pada kegiatan-kegiatan serupa di kantor saya. Sementara, dua orang pembicara lainnya yang sejak kedatangannya beberapa tahun yang lalu ke kota kecil ini selalu siap siaga bila kami hubungi, sudah pindah tugas kembali ke kampung halamannya masing-masing.


Maka, kantor kolaps. Serupa dengan jantung yang sudah hampir tak kuat lagi bekerja karena salah satu biliknya yang tak lagi berfungsi. Mau mencari dimana, pembicara yang harus membawakan materi-materi keagamaan kepada para peserta orientasi? Sementara, untuk menjadi pembicara, yang paling utama adalah bahwa seseorang harus memiliki kemampuan berbicara di depan audience, disamping harus memiliki kompetensi keilmuan yang memadai. Beruntung, ketika jeda kekosongan pembicara itu berjalan, DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran)  belum lagi bisa dicairkan karena masih bertanda bintang. Yang artinya belum dapat dicairkan sampai adanya pemberitahuan dari atas. Sehingga kami tidak perlu buru-buru berpikir siapa dan dimana kami dapatkan pembicara untuk semua kegiatan orientasi yang terpapar di dalam DIPA tersebut.


Sampailah pada hari dimana kegiatan perdana di kantor kami, khususnya di seksi Bimas dan Kependais, harus segera dilaksanakan. Semua persiapan sudah beres. Tinggallah menentukan siapa pembicaranya. Saya tegang. Keringat dingin mengucur di dahi. Sudah bisa dipastikan, Ustad Monto, begitu biasanya atasan saya disapa, akan menunjuk saya untuk menjadi pembicara. Dan bisa dipastikan pula, kali ini saya tidak boleh menolak. Sebab bila menolak, saya akan diusir dari Sumba Barat, begitu seloroh Ustad Monto kepada saya. Tinggallah saya dengan beban maha dahsyat di pundak, lunglai memikirkan semuanya.

Saya dengan sadar berusaha mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Sungguh amat memalukan bukan bila saat berbicara di depan audience tiba-tiba mulut terkunci dan lidahpun kelu. Lain hal dengan menulis, kita tidak akan mengalami hari naas serupa tidak mampu berbicara, sebab saat terjadi writers block, momen disaat penulis mengalami kebuntuan dalam menulis, tidak ada seorangpun yang tahu.

Saya rupa-rupanya memang ditakdirkan untuk menjadi golongan orang-orang yang memiliki kecerdasan tulisan lebih tinggi dibanding kecerdasan lisan saya. Sepanjang sesi materi yang saya bawakan tadi saya merasa telah menjadi pembicara yang gagal. Sebab banyak audience yang saya lihat terkantuk-kantuk. Saya lebih sering bertemu pandang dengan layar proyektor ketimbang dengan audience. Dan... datar. Semua audience melongo, entah mengerti atau tidak.
Saya membacakan semua materi dengan cepat supaya segera selesai semuanya. Dan saya terbebas dari tugas yang maha dahsyat ini.

Ketika saya hendak menutup sesi materi saya, saya menukilkan sebuah slogan yang serupa doa. Saya mendapatkannya dari Ibu saya saat saya masih gadis kecil yang susah disuruh mengaji. Entah darimana ibu saya mendapatkannya. Yang jelas, biasanya slogan tersebut seolah mantra yang bila saya sudah merapalkannya dengan sepenuh hati, maka hati yang berat bisa berubah menjadi ringan.

Namun apa yang terjadi, ketika saya menyebutkan slogan itu? Semua audience tertawa dan giliran saya yang melongo.
Slogan saya itu adalah Allahumma Paksakaaaaaan.....