Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Langgam Bisu

Inilah kita. Tembang rapuh yang berletih-letih kita gumamkan. Tak peduli gamelan membawa kita entah kemana. Kita tetap membisikkan nada.

Inilah kita, Tuan. Pengelana yang dahaga untuk saling sua. Mengerat jarak selipat demi selipat. Mengukur sedalam apa bibir kita menyelam. Menerka-nerka adakah cinta dalam hela nafas kita.

Cinta kita, Tuan. Apakah serupa tembang lirih? Atau sekedar nyanyian sedih. Aku tak lagi peduli. Selagi Tuan masih di sini.

Seperti Kita...

Seperti ombak, yang jauh memantul-mantul di samudera. Berderai. Mengganas. Mengalun. Berriak bak tawa kanak-kanak. Jauh mengunjungi palung terdalam. Menyisiri teluk-teluk permai. Mengejar segala yang berlari. Untuk kemudian kembali ke pantai. Lalu abadi.

Serupa angin, yang riuh. Menerpa segala menjadikannya bergeretak. Singgah di dataran terentah. Melaju kencang mendaki puncak tertinggi. Membeku diam di bekunya salju yang temaram. Lalu segera berkesiur di sela daun nyiur. Dan tiba-tiba luluh lantak kota-kota yang diamuk amarahnya. Setelah itu sepi. Tak ada yang tahu ia tlah pergi.

Dan hujan. Dari bumi ia merambat langit yang luas. Berarak-arak merayap angkasa tak berbatas. Lalu derai. Lalu berai. Jatuh menghunjam. Membelah. Membasah. Menyusup di celah-celah. Memuaskan dahaga. Dan mengirimkan duka. Hujan ialah airmata. Yang tak mungkin kering meskipun ia tiada.


Barangkali, seperti itulah kita.

Kelu

Kau terlelap. Begitu senyap. Sementara aku terus mengembara mencecar jalan-jalan tak bernama . Kita pernah sedemikian erat. Terpagut rekat meski kadang salah satu diantara kita merasa terjerat. Lalu tetiba kita tidur berseberangan tempat. Kau begitu diam dalam tidurmu yang dalam.

Aku berkelana. Meraih-raih jawab akan sebuah tanya. Jauh menyuruk suluk hingga ufuk bersurai cahaya. Kucari-cari dirimu yang terasa maya. Kau begitu kelam, begitu jurang. Aku sendiri. Padahal ragaku ragamu tengah gegap menari.

Kuambil bibirmu yang kelu. Kulumat dalam gemerisik hati yang bertalu. Menyebut-nyebut namamu di kebekuan yang bisu.

Kita pernah di sini. Kita tak lagi asing kini.

Kembali ke Titik.

Seperti ombak, yang jauh memantul-mantul di samudera. Berderai. Mengganas. Mengalun. Berriak bak tawa kanak-kanak. Jauh mengunjungi palung terdalam. Menyisiri teluk-teluk permai. Mengejar segala yang berlari. Untuk kemudian kembali ke pantai. Lalu abadi.

Serupa angin, yang riuh. Menerpa segala menjadikannya bergeretak. Singgah di dataran terentah. Melaju kencang mendaki puncak tertinggi. Membeku diam di bekunya salju yang temaram. Lalu segera berkesiur di sela daun nyiur. Lalu luluh lantak kota-kota yang diamuk amarahnya. Setelah itu sepi. Tak ada yang tahu ia tlah pergi.

Dan hujan. Dari bumi ia merambat langit yang luas. Berarak-arak merayap angkasa tak berbatas. Lalu derai. Lalu berai. Jatuh menghunjam. Membelah. Membasah. Menyusup di celah-celah. Memuaskan dahaga. Dan mengirimkan duka. Hujan ialah airmata. Yang tak mungkin kering meskipun ia tiada.

Barangkali, seperti itulah kita.

Ah....



Diterkam sepi 
dalam muram
lengang
membentang

Yang tergugu dan terdiam
yang menyesak dan yang menyergap
sama-sama menyeruak
lalu terhenyak

Luruh
Runtuh
Jatuh
Dua tubuh berpeluh
Mengaduh



Denpasar, 20 Juni 2013

Mata-mata Maut


Terbaring,
kering,
miring,
suara tak lagi nyaring,
Si Sakit mengaduh, menjerit, mengerang lalu mengaing,
bak anjing merapalkan makian karena dilempar beling.

Di rumah yang penuh oleh penyakit,
maut mengintai.
Dari balik dinding,
seringai 
melunglai
tungkai-tungkai

Desah kesakitan
serbuan suntikan yang menjalar ke vena 
obat-obat yang dijejalkan
suara mesin pemanggil antrian
obrolan ringan orang berjas putih di sela tawa
mata-mata maut 
beringas mencari mangsa

Di pojok sana
aku melihat
seorang tersenyum
dan berkata:
Kau, belum saatnya.


Denpasar, 20 Juni 2013

Puisi-Puisi Chairil Anwar


Semasa kanak-kanak dulu, ketika masih duduk di bangku kelas 4 SD, saya tersihir oleh puisi Diponegoro gubahan Sang Pujangga Indonesia, Chairil Anwar. Saya seolah dirasuki semangat berperang yang disebarkan oleh bait teraakhir puisi itu. Untuk bocah sekecil itu, kata:
Maju
Serbu
Serang
Terjang, itu terasa sangat magis. Masih ingat betul rasanya saat saya membaca kata-kata itu. Merinding.

Tapi tak lama kemudian, sebagaimana bocah lainnya, saya kembali sibuk dengan bermain, bercanda dan main gila. Saya lupa dengan puisi itu. Sampai saat saya harus memberikan kelas puisi pada anak-anak santri Ponpes Baitul Hikmah, saya harus menelusuri lagi ingatan-ingatan saya tentang puisi yang pernah saya baca. Puisi Diponegoro ini salah satunya. 

Ada baiknya bagi saya, untuk mengumpulkan puisi-puisi Chairil Anwar yang pernah saya tahu, saya baca dulu, agar saya sesekali bisa menyedot semangat darinya dengan mudah. Terutama di usia saya seperti sekarang ini, yang sudah sering merasa letih.



PUISI KEHIDUPAN

Hari hari lewat, pelan tapi pasti
Hari ini aku menuju satu puncak tangga yang baru
Karena aku akan membuka lembaran baru
Untuk sisa jatah umurku yang baru
Daun gugur satu-satu
Semua terjadi karena ijin Allah
Umurku bertambah satu-satu
Semua terjadi karena ijin Allah
Tapi… coba aku tengok kebelakang
Ternyata aku masih banyak berhutang
Ya, berhutang pada diriku
Karena ibadahku masih pas-pasan
Kuraba dahiku
Astagfirullah, sujudku masih jauh dari khusyuk
Kutimbang keinginanku….
Hmm… masih lebih besar duniawiku
Ya Allah
Akankah aku masih bertemu tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
Akankah aku masih merasakan rasa ini pada tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
Masihkah aku diberi kesempatan?
Ya Allah….
Tetes airmataku adalah tanda kelemahanku
Rasa sedih yang mendalam adalah penyesalanku
Astagfirullah…
Jika Engkau ijinkan hamba bertemu tahun depan
Ijinkan hambaMU ini, mulai hari ini lebih khusyuk dalam ibadah…
Timbangan dunia dan akhirat hamba seimbang…
Sehingga hamba bisa sempurna sebagai khalifahMu…
Hamba sangat ingin melihat wajahMu di sana…
Hamba sangat ingin melihat senyumMu di sana…
Ya Allah,
Ijinkanlah



PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !


AKU

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi


KRAWANG-BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi


HAMPA

kepada sri

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti


SAJAK PUTIH

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah 


DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang


CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.


YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS

kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku


PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh


DERAI DERAI CEMARA

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah



SENJA DI PELABUHAN KECIL 

buat: Sri Ajati 
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

Tugu Peringatan

hidup dengannya
bercengkrama dan kemudian menangis bersama
aku menertawakan kehadirannya yang tak kupinta
tapi kemudian ku elu-elukan
sebab di detik lain kusadari ia tidak datang tanpa sebuah amar
dari langit tertinggi tempat asal catatan sejarah suci
ia menjadi tugu peringatan
agar aku tak kebablasan
ia dikirim sebagai sinyal penanda
yang pada akhirnya akan memekikkan kematian
jika aku abai dan bersikeras menafikan iman
aku harus hidup dengannya
yang mencengkeram maut di tangan kanannya
dan membelai hati dengan tangan kirinya
mungkin tidak lama
pisau tajam akan mengenyahkannya
atau
rohku lah yang berpisah raga

Setumpuk Malu

dialog dengan Tuhan
:
aku datang lagi dengan setumpuk malu
mengapa dirimu harus malu? Aku selalu menunggu kunjunganmu
tidakkah Engkau segan dan jemu, sebab aku bukan pengikutmu yang setia?
Aku terlampau mencintai makhlukKu untuk bisa segan dan jemu
bagaimana mungkin aku bisa mengadu dan menadahkan tangan ini dengan segala keluhuranMu itu
sebab Aku menginginkannya sedemikian rupa, setiap kali kau remuk hancur dan tak berdaya
Engkau sudah tahu
ya, meski begitu aku tetap ingin kau menyedu padaku
Tuhan
ungkaplah, Aku selalu ada untuk semua umatKu
aku tak kuasa berkata, kecuali melalui deraian air mata
maka menangislah, pundakKu tak pernah alpa bagi siapa yang memerlukannya



Kulakukan Segala














Seandainya aku boleh meminta
ingin aku menjelma
sebagai rama-rama
menjelajah kedalaman hutan dan belukar berbunga
dan sujud bersimpuh di seutas putiknya
lalu setelahnya meregang nyawa

Jika aku boleh memilih
niscaya aku akan menjadi buih
hanyut mengikuti kelok sungai tanpa jerih
terbentur batu, kayu mati dan bercampur kemih
jauh melayat kota-kota yang bersedih
hingga aku larut berkecamuk
dalam kancah samudera yang mengamuk
hilang bentuk
remuk

Kalau bisa aku memaksa
akan kuhela nafas agar tubuhku terbang
melayang
sebagai burung elang
bersenda gurau dengan kesendirian yang nyalang
sejauh mata memandang
menantang nyawa diujung senapan yang meradang
orang-orang yang tertawa garang

Seandainya
Jika
Kalau
Aku bisa menjadi segala
agar engkau sudi mencinta


Sepenggal Siang di Bulan Maret












Awan mengambang pelan dan gamang.
Di bulan Maret segala terasa berjalan lambat.
Siang seringkali berdansa tanpa terik matahari yang bergelora
...muram
...lengang
serupa telaga yang dipeluk beku udara
Denging serangga yang menggali liangnya di pematang sawah
menusuk telinga seperti hendak diam mengendap
dan bersarang di dalamnya
Hanya di Maret kelabu menjadi selimut dataran
dan langit menjelma mahkota awan hitam
Padahal sepoi angin terasa gersang
menggarang hingga kerontang hati yang dirundung kelam
hujan enggan datang
bertengger segan di remang kabut jarang
di kejauhan
di suatu tempat yang entah
Maret, di bulan Maret
segala titik jenuh bersekutu
saling bercumbu



Waikabubak, 2 April 2013

Puisi Kasmiyati


Di Saat Musim Hujan


Di musim hujan tanah becek dan pepohonan basah
Daun-daun mulai meneteskan air-air hujan
Seakan-akan air mata yang jatuh di tangan

Menetes kupu-kupu di dalam alam
Lantas terbang kupu-kupu sebagai kata-kata  indah
Jatuh sebagai titik-titik hujan
Kicauan burung yang seakan menyatakan musim hujan



Bersamamu

Aku ingin bersamamu
menjadamu dengan sepenuh jiwaku
ingin mengucapkan kata indah
yang belum sempat dikatakan
kupu-kupu kepada bunga yang memberikannya madu

Aku ingin bersamamu
menemanimu setiap saat
dengan suara lembut yang tak sempat dilantunkan
angin kepada alam yang memberikannya kesejukan

Puisi Andriyani


Tergores Luka
Andriyani dan Siti Erna

Deraian titik-titik terakhir musim penghujan
Basah menelusuri cercahan tanah dan ranting pepohonan

Dedaunan melambai bersesah garis-garis matahari
Terpanah oleh bola matamu sinar dadu menyerobot pelangi

Memecah dalam gunung bukit lubang tergores luka
Tak berseri mengitari angkasa sebagai pesan dan kata

Putaran dalam kubus yang terlukis untukmu
Nyanyian sembilu berhias kekal di situ


Penantian

Terlukis kerinduan pada benakku
Setelah melewati kisah-kisah bersamamu

       Kau kunang-kunang kecil
       Menelusuri gelapnya hati
       Bergegas pergi
       Kesetiaan hati

Kini rindu menyiksa batin
Teringat kenangan kita bersama

       Di manakah kau berada
       Ku menanti kehadiranmu

Cemburu yang slalu memburu
Mendesah hati gelisah

       Kesunyian yang selalu menyiksa
       Kesendirian yang kini jadi derita

Kembalilah kau dalam pelukanku
Takkan kubiarkan kau pergi untuk kedua kali



Penyesalan di Akhir Masa

Dalam kesendirian
Terpuruk dalam kegelapan
Meringis dalam tangisan
Penantian tak kunjung datang

Kekasih yang kini kudambakan
Pergi meninggalkan sejuta harapan

Dimana engkau kini
Menunggu seorang diri

Terlintas dalam pikiran
Melepas dirimu sayang

Pahit
Senang
Pedih kurasa
Kegagalan jadi derita

Lepas pergi kenangan itu
Bagai angin lalu

Biar sakit merobek hati
Doa selalu menyertai.

Puisi Megah Wati

Megah adalah santri putri yang duduk di kelas 2 MTsN Waikabubak. Meskipun pendiam dan bersahaja, gadis yang berasal dari Waitabula SBD ini ternyata memiliki minat besar untuk berpuisi. Menulis merupakan kenikmatan besar baginya, itu saya lihat dari sebagian puisi-puisinya yang kebanyakan panjang-panjang. Dengan sedikit usaha keras untuk menyempurnakan diksi, dia tak akan kesulitan menggubah sebuah puisi.


Daun Kesepian

Di musim hujan kau kekar
Bagaikan usiamu yang bertambah
Cahaya yang begitu menyilaukan
Di sela-sela daun yang indah
Kupandang mata
Kelak di musim semi
Daunmu berangkai-rangkai
Bagaikan bunga yang sudah mekar
Di musim kemarau tercecer di hamparan tanah yang rapuh
Engkau sedikit-demi sedikit makin menghilang
Entah dimana engkau berada
Dan beterbangan di langit ke tujuh


Kegelisahanku

Sebuah kertas tertulis kisah indah
dari kau hadir dengan segala kelemahanmu
cacat hidup menyempurnakan hatiku
       Terkadang orang yang kita sayang
       dialah yang menyakiti kita
       Jika nanti kau telah tiada
       Kuingin ada orang yang memberitahuku
       Kalau engkau menyayangiku

       Di malam yang kelam
       Aku  bersimpuh derita
       dududk termenung mematung
       terisak atas kepergianmu
Kini kaku hadir dalam khayalanku
yang tak luput dari kenyataan
dia ada dalam bayangan semu

Menyentuh jemarimu menepis bayangmu
Kau menggelisahkanku membuatku merindukanmu
 
       

Puisi Desi Saptania

Desi adalah kakak kandung Emilia Sabania. Dua bersaudara ini termasuk yang rajin mengikuti kajian puisi yang diadakan setiap Selasa sore di Pondok Putri Baitul Hikmah Waikabubak. Sama halnya dengan adiknya, Desi yang duduk di kelas tiga MTsN Waikabubak ini juga memiliki bakat menulis. Di bawah ini saya muat dua buah puisi terbaiknya untuk sementara ini. Mungkin kelak akan banyak lagi puisi indah tergurat oleh tangannya.


Penghujung Malam

Di penghujung malam makin terasa
Basah tanah bertetes air hujan

Dedaunan menyisir lambaian angin
Bergoyang-goyang seakan menari

Kicau burung bernyanyi-nyanyi
Terbang bahagia tak ingin melepas

Jauh ke dalam garis yang kutulis
Kicau sembilu abadi selalu


Desahku

Andai ku serupa burung
Ku kan terbang sesukaku

       Andai ku serupa kumbang
       Ku kan hinggap di sisimu

Ku kan merayu, oh dirimu
Kini, namun hanya desahan semata

       meminta-minta tak jua dihiraukan
       Ku lelah, ku tak tahu harus berbuat apa
       Hanya tetesan bening yang selalu menyejukkanku

Hatiku telah putus...

Puisi Zaiimatul Afifah Umbu Nay

Gadis blasteran Jawa Sumba ini berpotensi menjadi penyair. Tentu saja hanya bila ia menekuni puisi-puisi yang berserak di luasnya padang kata-kata di benaknya. Lihat saja puisi yang digubahnya....


Hujan Deras

Di musim hujan yang deras
Membasahi tanah dan batang pepohonan

Daun-daun meneteskan air pada matahari
Dari matanya yang berkilau seakan pelangi

Burung-burung merasa kedinginan
Lantas ia terbang sebagai ombak-ombak berlarian
Jatuh ke dalam lubang tanah
Dan berkicau meminta tolong



Bila Nanti

Dan bila nanti
Nafasku tinggal sehembusan lagi
Di setiap nafasku ini
Tak akan kau kubiarkan sendiri

       Bila nanti
       Mataku tak melihat lagi
       Di setiap katamu yang kudengar ini
       Tak akan kubiarkan kau menangis lagi

Dan bila nanti
Aku akan pergi
Di setiap perjalananku ini
Akan kusentuh wajahmu terakhir kali

Puisi Nur Choiriyah

Puisi pertamanya mencuri hati saya. Untuk seorang gadis kecil yang mungkin baru bersentuhan sekali itu dengan puisi, sepotong diksinya yang menyempil dalam sajak tentang hujan sungguh sangat magic. Santri yang juga siswi MTsN Waikabubak ini punya bakat alam. 

Tinggal, apa dia mau melatih secara simultan kemampuan menulisnya atau tidak. Kita akan lihat, mungkin tidak lama lagi puisi-puisi indah lain akan lahir dari goresan tangannya. Semoga..



Pohon-pohon Tumbang

Tertuang air yang membasahi tumbuhan
Bersama goyangan angin yang menerpa

Goyangan-goyangan penerpaan pohon
Membuatnya jatuh dan tumbang

Bagaikan kayu terpotong oleh parang
Dan membuat kata-kata terbius tidur

Burung pun serasa pecah seperti beling berceceran
Kering membekas dan menggores bau


Desahku

Andai ku serupa burung
ku kan terbang sesukaku
       andai ku serupa kumbang
       Ku kan hinggap di sisimu
ku kan merayu, oh dirimu
Kini, hanya desahan semata
       Meminta-minta tak jua dihiraukan
       Ku lelah, ku tak tau harus berbuat apa
       Hanya tetesan bening yang slalu menyejukkanku

hati yang telah putus...



Puisi Nurmi Hermansyah

Gadis tinggi semampai berkulit ini adalah santri yang paling dekat dengan saya diantara santri-santri lain. Pengalaman menjadi official MTQ tingkat Propinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun bulan Mei 2012, membuat kami menjadi dekat satu sama lain. Gadis yang berasal dari daerah pesisir utara Sumba ini diutus sebagai qariah remaja putri saat itu. Rupanya, selain piawai mengalunkan ayat-ayat suci Al Qur'an, Nurmi pun berbakat untuk menulis puisi. 

Inilah diantara beberapa puisi-puisinya.

Waktu
Nurmi Hermansyah

Angin bertiup kembangkan layar
Hendaklah hidup berikhtiar
Karena waktu terus bergulir
Seperti air yang mengalir

Hidup cuman sekali
Sayangilah orang yang kau cintai
Selagi waktu masih ada
Jangan kau sia-siakannya


Doa

Tuhan
Hati gelisah tak tentu arah
Hanya kepada-Mu aku berpegang teguh
Tuhan
Badan yang terbelenggu kemaksiatan
Engkau kompas penunjuk arah jalan
Tuhan
Aku tersesat dalam kegelapan dunia
Terangilah dengan cahaya
Tuhan
Sebelum engkau merenggut nyawaku
Izinkan aku mengingat-Mu

Percakapan Sebotol Bir


Rindu itu serupa pisau. Menikam-nikam menorehkan luka perih di jantung sepi....
Tapi yang kau rasakan bukan rindu, tukas sebotol bir mengusikku
....aku tahu. Ini cuma luka sayat kecil yang kugaris dengan kukuku sendiri.
Botol bir itu menyeringai diselingi buih yang meluber
Kujilat, kusesap dan kureguk pahitnya
bergulung-gulung bau sangit dan ribuan busa merajah mulutku
kau tak pernah tahu rasanya, bisikku menggoda birahinya
Botol bir itu tertawa...
Aku adalah saksi beribu rindu dan berjuta luka, ujarnya tanpa nada
di gelap sudut kamar seorang istri kesepian
di meja bar pelacur jalang yang terhina oleh pandangan mata manusia
di ranjang lelaki yang egonya kalap demi keperkasaan perempuan yang dicintai
di dapur seorang manusia frustasi setelah hilang seluruh ambisi
di jalanan sepi saat seorang putus asa menanti kekasih yang tiada
di hatimu.... saat merindukan mati
....
Sebotol bir kugenggam dengan mesra, ia mendesah manja
kupeluk erat seperti anak kecil memeluk bonekanya
ah, ia semakin gelisah
aku tahu hasratnya seolah meminta segala yang kupunya
satu-satunya nyawa
kupeluk hingga botol hitam mengkilat itu menggeliat
Inilah rindu, tiba-tiba ia berseru
Kupecah botol itu seiring letupan ekstasi yang menyeruak di selangkanganku
kutancapkan sebilah kaca tepat di dadaku
Inilah rindu
Kataku....

Puisi Terindah Sapardi


Aku jatuh cinta pada puisi berulang kali saat membaca puisi-puisi sang Maestro Puisi, Sapardi Djoko Damono. Seolah puisi-puisi itu makhluk bernyawa. Memuja, menenangkan, menyanjung, menggeletarkan buhul terindah yang saling simpul di hati. Menakjubkan.

Aku mendokumentasikannya di sini, semata agar aku mudah menemukannya saat gundah. Bagiku puisi-puisi ajaib ini, adalah vitamin jiwa.


Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.



Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti,
Jasadku tak akan ada lagi,
Tapi dalam bait-bait sajak ini,
Kau tak akan kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti,
Suaraku tak terdengar lagi,
Tapi di antara larik-larik sajak ini.

Kau akan tetap kusiasati,
Pada suatu hari nanti,
Impianku pun tak dikenal lagi,
Namun di sela-sela huruf sajak ini,
Kau tak akan letih-letihnya kucari.



Sihir Hujan

Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
-- swaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.
Meskipun sudah kau matikan lampu.

Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
- - menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh
waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan



Hujan Bulan Juni


Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu



Dalam Diriku

Dalam diriku mengalir sungai panjang,
Darah namanya;
Dalam diriku menggenang telaga darah,
Sukma namanya;
Dalam diriku meriak gelombang sukma,
Hidup namanya!
Dan karena hidup itu indah,
Aku menangis sepuas-puasnya


Yang Fana Adalah Waktu

Yang fana adalah waktu. Kita abadi :
Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
Sampai pada suatu hari
Kita lupa untuk apa.
“Tapi,
Yang fana adalah waktu, bukan?”
Tanyamu. Kita abadi.

Sonet, 1

: Andy, Pengamen
“Aku menyanyi untukmu,” katamu. Aku diam,
mendengarkan gerimis yang berderai lalu
bagai benang terurai dari langit yang dalam.
Adakah kausaksikan aku mendengarkanmu?
Aku diam, mendengar dan tidak mendengar
suaramu. “Biar aku menyanyi, hanya untukmu,”
katamu. Aku diam, mungkin gerimis bergetar
bagai tirai warna-warni, hanya untukku.
Apakah kau yakin aku bisa menyaksikan
mahasunyi yang meniti butir-butir gerimis,
apakah yang kauinginkan dariku yang bertahan
agar tak ada sebutir pun dari mata menitis?
“Aku menyanyi untukmu, selalu,” katamu.
Gila, kautusukkan juga senyap senar itu!

Sonet, 2

Aku tak lain sebutir telur
kubayangkan tergolek di sarang itu
ketika siang sudah luhur —
“Dan tak juga menetas,” katamu.
Aku tak lain seonggok sarang
kubayangkan terbaring di awan biru
ketika hari menjelang petang —
“Dan tak ada burung hinggap,” katamu.
Aku tak lain seekor burung
kubayangkan lepas dari ketinggian itu
ketika malam menjelma senandung —
“Menidurkanmu dalam telur,” katamu.
“Kau akan mendengar dendang hening
merawatmu, tak lekang mendenting.”

Sonet, 3

“Jangan lupa kirim pesan kalau kau tiba
dengan selamat di bandara,” katamu.
Kudengar getar dari kota nun di sana,
terpisah oleh jalan-jalan berdebu
dan langit yang bagai rasa cemas.
Kata melenting di dinding-dinding
kabin, tak berhak lepas
dari kaca jendela yang tak lagi bening.
Awan yang di bawah bergumpal melata
tampaknya tak siap lagi menjadi lambang
cinta kita, “Apakah ia akan tetap ada
sehabis hujan?” Pesawat mendadak goyang
ketika kubayangkan matamu mendesah,
“Jangan lupa, di sini ada yang gelisah.”

Sonet, 4

Hidup terasa benar-benar tak mau redup
ketika sudah kaudengar pesan:
suatu hari semua bunyi rapat tertutup.
“Penyanyi itu tuli,” katamu pelan.
Tapi bukankah masih ada langit
yang tak pernah tertutup pelupuknya,
yang menerima segala yang terbersit
bahkan dari mulut si tuli dan si buta?
“Penyanyi itu buta?” tanyamu gemetar;
kita pun diam-diam mendengarkannya,
Cinta terasa baru benar-benar membakar
ketika pesan kaudengar: padamkan nyalanya!
Kita pun menyanyi selepas-lepasnya,
sepasang kekasih yang tuli dan buta.

Sonet 5

Malam tak menegurmu, bergeser agak ke samping
ketika kau menuangkan air mendidih ke poci;
ada yang sudah entah sejak kapan tergantung di dinding
bergegas meluncur di pinggang gelas-waktu ini.
Dingin menggeser malam sedikit ke sudut ruangan;
kautahan getar tanganmu ketika menaruh tutup
poci itu, dan luput; ada yang ingin kaukibaskan.
Kenapa mesti kaukatakan aku tampak begitu gugup?
Udara bergoyang, pelahan saja, mengurai malam
yang melingkar, mengusir gerat-gerit dingin
yang tak hendak beku, berloncatan di lekuk-lekuk angka jam.
Malam tidak menegurku. Hanya bergeser. Sedikit angin.
Ada yang diam-diam ingin kauusap dari lenganmu
ketika terasa basah oleh tetes tik-tok itu.

Sonet 6

Sampai hari tidak berapi? Ya, sampai angin pagi
mengkristal lalu berhamburan dari sebatang pohon ranggas.
Sampai suara tak terdengar berdebum lagi?
Ya, tak begitu perlu lagi memejamkan mata, bergegas
memohon diselamatkan dari haru biru
yang meragi dalam sumsummu; tak pantas lagi
menggeser-geser sedikit demi sedikit bangkai waktu
agar tak menjadi bagian dari aroma waktu kini.
Sampai yang pernah bergerit di kasur
tak lagi menempel di langit-langit kepalaku?
Sampai kedua bola matamu kabur,
sayapmu lepas, dan kau melesat ke Ruh itu.
Ruh? Ya! Sampai kau sepenuhnya telanjang
dan tahu: api tubuhmu tinggal bayang-bayang.

Sonet 7

Ada jarak yang harus ditempuh sampai suasana
siap menerima kita. Dan kita arif menerimanya, bukan?
Ada yang harus tak habis-habisnya kita hela
dan hembuskan sampai pisau yang terpejam di tangan
membelah apel yang di atas meja. Seiris telentang, seiris
tengkurap di sebelahnya? Begitu ramal seorang empu
setelah menyelesaikan tugas menempa sebilah keris.
Celoteh juru nujum yang di bukit nun di sana itu?
Ada jarak yang harus diremas sampai kerut
dalam pembuluh darah kita. Sampai yang biru
kembali hijau berkat kuning itu, sampai segala terhalau:
yang ini, yang itu, yang di sana, yang di situ,
yang layang-layang, yang batu? Ada jarak yang harus ditebas
kalau kita mau menerima pertemuan ini dengan ikhlas.

Sonet 8

Di sudut itu selalu ada yang seperti menunggu
kita. Mengapa ada yang selalu terasa hadir di sana?
Di situ konon kita dulu dilahirkan, kau tahu,
agar bisa melihat betapa luas batas antara nyata
dan maya. Dua dinding bertemu di sudut itu,
seperti yang sudah dijanjikan sejak purba
ketika sehabis peristiwa itu leluhur kita diburu-buru
dan sesat di rumah ini. Kau masih juga percaya
rupanya, tanpa menyiasati dinding-dinding itu?
Rumah baru terasa rumah kalau ada penyekat
antara sini dan Sana, membentuk sudut tempat kita bertemu
dan memandang lepas ruang luas, tanpa akhirat.
Mengapa terasa harus ada yang menunggu?
Agar tak mungkin ada yang bisa membebaskanmu.

Sonet 9

Kaubalik-balik buku itu selembar demi selembar
sore ini. Bukankah waktu itu masih pagi,
ketika kau mencatatnya? Aku pungut buku yang kaulempar
ke lantai, telungkup, tampak lusuh, sendiri.
Kenapa mesti ada sore hari? Pejamkan mata, bayangkan
beranda yang pernah membiarkan kita mengitari
pekarangan yang begitu luas, yang kemudian ternyata bukan
bagian dari tempat yang konon disediakan untuk kita tinggali.
Matahari masih hangat ketika aku mencatatnya
di buku yang sore ini telah menggodamu untuk mencari
gambar sebuah taman yang memancarkan aroma
secangkir teh hangat di pagi hari. Ya, bukankah masih pagi
ketika kau menggambarnya? Ya, mungkin karena waktu itu
masih pagi. Lekas, berikan buku itu kembali, padaku!

Sonet 10

Ada selembar kertas yang belum bertulisan.
Apakah kauharapkan aku ke mari seperti semula,
belum penuh dengan coretan?
Ada yang ingin menulis aksara demi aksara
dan tahu tak akan mencapai kalimat meski ada tanda seru
di ujungnya. Tidak semua memerlukan tulisan,
(Apakah aku kaubayangkan selembar kertas itu?)
meski sudah terlanjur tercatat sebelum sempat diucapkan.
Air menyeret catatan berkelok-kelok di sepanjang sungai
bila penghujan. Tetapi sama sekali tak terbaca
bahkan ketika sudah begitu rekah-rekah perangai
kemarau. Tinggal garis-garis yang carut-marut di dasarnya.
Kau mengharapkanku kembali seperti itu? Risaukah kita
ketika menyadari bahwa tulisan tak perlu, ternyata?

Sonet 11

Terima kasih, kartu pos bergambar yang kaukirim dari Yogya
sudah sampai kemarin. Tapi aku tak pernah mengirim apa pun,
kau tahu itu. Aku sedang kena macet, Jakarta seperti dulu juga
ketika suatu sore buru-buru kau kuantar ke stasiun.
Tapi aku tak sempat menulis apa pun akhir-akhir ini.
Aku suka membayangkan kau kubonceng sepeda sepanjang Lempuyangan
berhenti di warung bakso di seberang kampus yang sudah sepi.
Kau masih seperti dulu rupanya, menyayangiku? Bayangkan
kalau nanti kita ke sana lagi! Di kartu pos itu ada gambar jalan
berkelok, bermuara di sebuah taman tua tempat kita suka nyasar
melukiskan hutan, sawah, kebun buah, dan taman
yang ingin kita lewati: gelas yang tak pernah penuh. Hahaha, dasar!
Aku suka membayangkan kartu pos itu memuat gambarmu,
residu dari berapa juta helaan dan hembusan napasku dulu.

Sonet 12

Perjalanan kita selama ini ternyata tanpa tanda baca,
tak ada huruf kapital di awalnya. Yang tak kita ingat
aksara apa. Kita tak pernah yakin apakah titik mesti ada;
tanpa tanda petik, huruf demi huruf berderet rapat –
dan setiap kali terlepas, kita pun segera merasa gerah lagi
dihimpitnya. Tanpa pernah bisa membaca ulang dengan cermat
harus terus kita susun kalimat demi kalimat ini –
tanpa perlu merisaukan apakah semua nanti mampat
pada sebuah tanda tanya. Tapi, bukankah kita sudah mencari
jawaban, sudah tahu apa yang harus kita contreng
jika tersedia pilihan? Dan kemudian memulai lagi
merakit alinea demi alinea, menyusun sebuah dongeng?
Tapi bukankah tak ada huruf kapital ketika kita bicara?
Bukankah kisah cinta memang tak memerlukan tanda baca?

Sonet 13

Titik-titik hujan belum juga lepas dari tubir daun itu;
ditunggunya kita lewat. Kupandang ke atas:
sebutir jatuh di bulu matamu, yang lain meluncur di pelipismu.
Pohon itu kembali menatapmu, hanya selintas.
Diberkahinya tanganku yang ingin sekali mengusap basah
yang mendingin di wajahmu. Kau seperti ingin melakukan
sesuatu. Aku pun mendadak menghentikan langkah
sejenak – jangan tergesa, agar bisa kaubaca niat titik hujan.
Butir-butir hujan menderas dari sudut-sudut daun itu
tepat ketika kita lewat. Kupandang ke atas.
Pohon itu tak lagi menatapmu. Ada yang membasahi kerudungmu,
meluncur ke dua belah pundakmu. Dibiarkannya kita melintas.
Kita pun bergegas agar segera sampai ke ujung jalan
tanpa bicara. Tak lagi berniat menafsirkan titik hujan

SONET: X

Siapa menggores di langit biru
Siapa meretas di awan lalu
Siapa mengkristal kabut itu
Siapa mengertap di bunga layu
Siapa cerna di warna ungu
Siapa bernafas di detak waktu
Siapa berkelebat setiap kubuka pintu
Siapa mencair di bawah pandangku
Siapa terucap di celah kata-kataku
Siapa mengaduh di baying-bayang sepiku
Siapa tiba menjemputku berburu
Siapa tiba-tiba menyibak cadarku
Siapa meledak dalam diriku
: siapa AKU
“Kau bertanya tentang puisi yang indah. Berulang aku bilang tak tahu batas-batasnya. Aku hanya tahu puisi yang begitu terbacakan, tiba-tiba hatiku terisi penuh sekaligus kosong. Benderang sekaligus syahdu. Gejolak sekaligus redam. Bagaimana aku bisa menggambarkannya dengan pisau analisa?”
“Ada lagi. Ia mengungkungku sekaligus membebaskanku. Bukankah tiada yang lebih indah ketika semua warna terpancarkan, dan kita terbeku tanpa memilih, membiarkan semua berlalu tanpa sebuah penilaian?”
Tiba-Tiba Malam pun risik
tiba-tiba malam pun risik
beribu Bisik

tiba-tiba engkau pun lengkap menerima
satu-satunya Duka
Berjalan di Belakang Jenazah
berjalan di belakang jenazah angin pun reda
jam mengerdip

tak terduga betapa lekas
siang menepi, melapangkan jalan dunia
di samping: pohon demi pohon menundukkan kepala
di atas: matahari kita, matahari itu juga

jam mengambang di antaranya
tak terduga begitu kosong waktu menghirupnya
Dalam Bus
langit di kaca jendela bergoyang
terarah ke mana

wajah di kaca jendela yang dahulu juga
mengecil dalam pesona
sebermula adalah kata
baru perjalanan dari kota ke kota

demikian cepat
kita pun terperanjat: waktu henti ia tiada
Dalam Doa: II
saat tiada pun tiada
aku berjalan (tiada

gerakan, serasa
isyarat) Kita pun bertemu
sepasang Tiada
tersuling (tiada

gerakan, serasa
nikmat): Sepi meninggi


Kami Bertiga

 

dalam kamar ini kami bertiga:
aku, pisau dan kata –
kalian tahu, pisau barulah pisau kalau ada darah di matanya
tak peduli darahku atau darah kata


Pertemuan

Perempuan mengirimkan air matanya
Ke tanah-tanah cahara, ke kutub-kutub bulan
Ke landasan cakrawala, kepalanya di atas bantal
Lembut bagai bianglala
Lelaki tak pernah menoleh
Dan di setiap jejaknya; melebat hutan-hutan,
hibuk pelabuhan-pelabuhan, di pelupuknya sepasang matahari
Keras dan fana
Dan serbuk-serbuk hujan
tiba dari arah mana saja (cadar bagi rahim yang terbuka,
udara yang jenuh)
Ketika mereka berjumpa, di ranjang ini




Maut

Maut dilahirkan waktu fajar
Ia hidup dari mata air;
Itu sebabnya ia tak pernah mengungkapkan seluk-beluk karat
yang telah mengajarinya bertarung
melawan hidup; ia juga takkan mau
Menjawab teka-teki sejakala
Yang telah menahbiskannya
Menjadi Penjaga gerbang itu
Maut mencintai fajar
dan  mata air, dengan tulus
Narcissus
seperti juga aku: namamu siapa, bukan?
pandangmu hening di permukaan telaga dan rindumu dalam
tetapi jangan saja kita bercinta
jangan saja aku mencapaimu dan kau padaku menjelma
atau tunggu sampai angin melepaskan selembar daun
dan jatuh di telaga: pandangmu berpendar, bukan?
cemaskah aku kalau nanti air hening kembali?
cemaskah aku kalau gugur daun demi daun lagi



Perahu Kertas

Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya Sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan.
“Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang lelaki tua.  Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala.
Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu.
Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,
“Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit.”



Kepompong Itu

kepompong yang tergantung di daun jambu itu mendengar kutukmu yang kacau terhadap hawa lembab ketika kau menutup jendela waktu hari hujan
kepompong itu juga mendengar rohmu yang bermimpi dan meninggalkan tubuhmu: melepaskan diri lewat celah pintu, melayang di udara dingin sambil bernyanyi dengan suara bening dan bermuatan bau bunga
dan kepompong itu hanya bisa menggerak-gerakkan tubuhnya ke kanan-kiri, belum saatnya ia menjelma kupu-kupu; dan, kau tahu , ia tak berhak bermimpi



Kisah

Kau pergi, sehabis menutup pintu pagar sambil sekilas menoleh namamu sendiri yang tercetak di plat alumunium itu.  Hari itu musim hujan yang panjang dan sejak itu mereka tak pernah melihatmu lagi.
Sehabis penghujan reda, plat nama itu ditumbuhi lumut sehingga tak bisa terbaca lagi.
Hari ini seorang yang mirip denganmu nampak berhenti di depan pintu pagar rumahmu, seperti mencari sesuatu. la bersihkan lumut dari plat itu, Ialu dibacanya namamu nyaring-nyaring.
Kemudian ia berkisah padaku tentang pengembaraanmu.
Perahu Kertas, Kumpulan Sajak, 1982.
akulah si telaga
berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
– perahumu biar aku yang menjaganya



Kukirim Padamu

kukirimkan padamu kartu pos bergambar, istriku,
par avion: sebuah taman kota, rumputan dan bunga-bunga, bangku dan beberapa orang tua, burung-burung merpati dan langit yang entah batasnya.
Aku, tentu saja, tak ada di antara mereka.
Namun ada.



Sajak Subuh

Waktu mereka membakar gubuknya awal subuh itu ia baru saja bermimpi tentang mata air.  Mereka berteriak, “Jangan bermimpi!” dan ia terkejut tak mengerti.
Sejak di kota itu ia tak pernah sempat bermimpi.  Ia ingin sekali melihat kembali warna hijau dan mata air, tetapi ketika untuk pertama kalinya. Ia bermimpi subuh itu, mereka membakar tempat tinggalnya.
“Jangan bermimpi!” gertak mereka.
Suara itu terpantul di bawahjembatan dan tebing-tebing sungai.  Api menyulut udara lembar demi lembar, lalu meresap ke pori-pori kulitnya.  Ia tak memahami perintah itu dan mereka memukulnya, “Jangan bermimpi!  “
Ia rubuh dan kembali bermimpi tentang mata air dan …..



Bunga 1

(i)
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia rekah di tepi padangwaktu hening pagi terbit;
siangnya cuaca berdenyut ketikanampak sekawanan gagak terbang berputar-putar di atas padang itu;
malam hari ia mendengar seru serigala.
Tapi katanya, “Takut?  Kata itu milik kalian saja, para manusia. Aku ini si bunga rumput, pilihan dewata!”
(ii)
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia kembang di sela-selageraham batu-batu gua pada suatu pagi, dan malamnya menyadari bahwa tak nampak apa pun dalam gua itu dan udara ternyata sangat pekat dan tercium bau sisa bangm dan terdengar seperti ada embik terpatah dan ia membayangkan hutan terbakar dan setelah api ….
Teriaknya, “Itu semua pemandangan bagi kalian saja, para manusia!  Aku ini si bunga rumput: pilihan dewata!”



Atas Kemerdekaan

kita berkata : jadilah
dan kemerdekaan pun jadilah bagai laut
di atasnya : langit dan badai tak henti-henti
di tepinya cakrawala
terjerat juga akhirnya
kita, kemudian adalah sibuk
mengusut rahasia angka-angka
sebelum Hari  yang ketujuh tiba
sebelum kita ciptakan pula Firdaus
dari segenap mimpi kita
sementara seekor ular melilit pohon itu :
inilah kemerdekaan itu, nikmatkanlah



 Cermin, 1

cermin tak pernah berteriak;
ia pun tak pernah meraung, tersedan, atau terhisak,
meski apa pun jadi terbalik di dalamnya;
barangkali ia hanya bisa bertanya:
mengapa kau seperti kehabisan suara?



Sajak November

 Siapa yang akan berbicara untuk kami
siapa yang sudah tahu siapa sebenarnya kami ini
bukanlah rahasia yang mesti diungkai dari kubur
yang berjejal
bukanlah tuntutan yang terlampau lama mengental
tapi siapa yang bisa memahami bahasa kami
dan mengerti dengan baik apa yang kami katakan
siapa yang akan berbicara atas nama kami
yang berjejal dalam kubur
bukanlah pujian-pujian kosong yang mesti dinyanyikan
bukanlah upacara-upacara palsu yang mesti dilaksanakan
tapi siapa yang sanggup bercakap-cakap dengan kami
siapa yang bisa paham makna kehendak kami
kami yang telah lahir dari ibu-ibu yang baik dan sederhana
ibu-ibu yang rela melepaskan seluruh anaknya sekaligus
tanpa dicatat namanya
kepada Ibu yang lebih besar dan agung :
ialah Tanah Air
kami telah menyusu dari pada bunda yang tabah
yang rela melepaskan seluruh anaknya sekaligus
untuk pergi lebih dahulu
apakah kau dengan para bunda itu mencari kubur kami
apakah kau dengar para bunda itu memanggil nama kami
mereka hanya berkaata : akan selalu kami lahirkan anak-anak yang baik
tanpa mengeluh serta putus asa
di Solo dua orang dalam satu kuburan
di Makasar sepuluh orang dalam satu kuburan
di Surabaya seribu orang dalam satu kuburan
dan kami tidak menuntut nisan yang lebih baik
tapi katakanlah kepada anak cucu kami;
di sini telah dikubur pamanmu, ayahmu, saudaramu
bertimbun dalam satu lobang
dan tiada yang tahu siapa nama mereka itu satu-persatu
tambur yang paling besar telah ditabuh
dan orang-orang pun keluar untuk mengenangkan kami
terompet yang paling lantang ditiup
dan mereka berangkat untuk menangiskan nasib kami dulu
kami pun bangkit dari kubur
memeluki orang-orang itu dan berkata : pulanglah
kami yang mati muda sudah tentram, dan jangan
diusik oleh sesal yang tak keruan sebabnya
kami hanya berkelahi dan sudah itu : mati
kami hanya berkelahi untukmu, untuk mereka
dan hari depan, sudah itu : mati
orang-orang pun menyiramkan air bunga yang wangi saat itu
tanpa tahu siapa kami ini
tiada mereka dengarkan ucapan terimakasih kami yang tulus
tiada mereka dengarkan salam kami bagi yang tinggal
tiada mereka lihatkah senyum kami yang cerah
dan sudah itu : mati
siapa berkata bahwa kami telah musnah
siapa berkata
kami kenal nama-namamu di mesjid di gereja di jalan di pasar
kami kenal nama-namamu di gunung di lembah di sawah
di ladang dan di laut, meskipun kalian
tiada menyadari kehadiran kami
siapa berkata bahwa kami telah musnah
siapa berkata
tanah air adalah sebuah landasan
dan kami tak lain baja yang membara hancur
oleh pukulan
ialah kemerdekaan
kemarin giliran kami
tapi besok mesti tiba giliranmu
kalau saja kau masih mau tahu ucapan terimakasih
terhadap tanah tempatmu selama ini berpijak
hidup dan mengerti makna kemerdekaan
dan kami adalah baja yang membara di atas landasan
dibentuk oleh pukulan : ialah kemerdekaan
(mungkin besok tiba giliranmu)
siapa yang tahu cinta saudara, paman  dan bapa
siapa yang bisa merasa kehilangan saudara, paman dan bapak
ingat untuk apa kamu pergi
siapa yang pernah mendengar bedil, bom dan meriam
siapa yang sempat melihat luka, darah dan bangkai manusia
ingat kenapa kami tak kembali
begitu hebatkah kemerdekaan itu hingga kami korbankan
apa saja untuknya
jawablah : ya
begitu agungkah ia hingga kami tak berhak menuntut apa-apa
jawab lagi : ya
sudah kau dengarkah suara sepatu kami tengah malam hari
datang untuk memberkati anak-anak yang tidur
sebab merekalah yang kelak harus bisa mempergunakan
bahasa dan kehendak kami
sudah kau dengarkah  suara napas kami
menyusup ke dalam setiap rahim bunda yang subur
sebab kami selalu dan selalu lahir kembali
selalu dan selalu berkelahi lagi
mungkin pernah kau kenal kami dahulu, mungkin juga tidak
mungkin pernah kau jumpa kami dahulu, mungkin juga tidak
tapi toh tak ada bedanya:
kami telah memulainya
dan kalian sekarang yang harus melanjutkannya
dan memang tak ada bedanya :
kalau hari itu bagi kami adalah saat penghabisan
bagimu adalah awal pertaruhan
awal dari apa yang terlaksana kemarin, kini besok pagi
meski kami pernah kau kenal atau tidak
meski kami pernah kau jumpa atau tidak
kami adalah buruh, pelajar, prajurit dan bapa tani
yang tak sempat mengenal nama masing-masing dengan baik
kami turun dari kampung, benteng, ladang dan gunung
lantaran satu harapan yang pasti
walau tak pernah kembali
kami hanyalah kubur yang rata dengan tanah dan tak bertanda
kami hanyalah kerangka-kerangka yang tertimbun dan tak punya nama
tapi hari ini doakan sesuatu yang pantas bagi kami
agar Tuhan yang selalu mendengar bisa mengerti dan
mengeluarkan ampun
kami adalah mayat-mayat yang sudah lebur dalam bumi
tapi adukan segala yang pantas tentang diri kami ini
agar tak lagi mengembara arwah kami
kami telah lahir, hidup dan berkelahi : dan mati
kami telah mati
lahir dari para ibu yang mengerti untuk apa kami lahir di sini
hidup di bumi yang mengerti semangat yang menjalankan kami
kami telah berkelahi; dan mati
tapi siapakah yang bisa menterjemahkan bahasa hati kami
dan mengatakannya kepada siapa pun
tapi siapakah yang bisa menangkap bahasa jiwa kami
yang telah mati pagi sekali
dan berjalan tanpa nama dan tanda
dalam satu lobang kubur
kami telah lahir dan selalu lahir
selalu dan selalu lahir dari para bunda yang tabah
selalu dan selalu berkelahi
di mana dan kapan saja
biarkan kami bicara lewat suara anak-anak
yang menyanyikan lagu puja hari ini
biarkanlah kami bicara lewat kesunyian suasana
dari orang-orang yang mengheningkan cipta hari ini
Sementara bendera yang kami tegakkan dahulu berkibar
atas rasa bangga kami yang sederhana
biarkanlah kami bicara hari ini
lewat suara anak-anak yang menyanyikan lagu puja
lewat kesunyian suasana orang-orang yang mengheningkan cipta



Kolam di Pekarangan
/1/
Daun yang membusuk di dasar kolam itu masih juga tengadah ke ranting pohon jeruk yang dulu melahirkannya.
Ia ingin sekali bisa merindukannya.
Tak akan dilupakannya hari itu menjelang subuh hujan terbawa angin memutarnya pelahan, melepasnya dari ranting yang dibebani begitu banyak daun yang terus-menerus berusaha untuk tidak bergoyang.
Ia tak sempat lagi menyaksikan matahari yang senantiasa hilang-tampak di sela-sela rimbunan yang kalau siang diharapkan lumut yang membungkus batu-batu dan menempel di dinding kolam itu.
Ada sesuatu yang dirasakannya hilang di hari pertama ia terbaring di kolam itu, ada lembab angin yang tidak akan bisa dirasakannya lagi di dalam kepungan air yang berjanji akan membusukkannya segera setelah zat yang dikandungnya meresap ke pori-porinya.
Ada gigil matahari yang tidak akan bisa dihayatinya lagi yang berkas-berkas sinarnya suka menyentuh-nyentuhkan hangatnya pada ranting yang hanya berbisik jika angin lewat tanpa mengatakan apa-apa.
Zat itu bukan angin. Zat itu bukan cahaya matahari.
Zat itu menyebabkannya menyerah saja pada air yang tak pernah bisa berhenti bergerak karena ikan-ikan yang di kolam itu diperingatkan entah oleh Siapa dulu ketika waktu masih sangat purba untuk tidak pernah tidur. Ia pun bergoyang ke sana ke mari di atas hamparan batu kerikil yang mengalasi kolam itu. Tak pernah terbayangkan olehnya bertanya kepada batu kerikil mengapa kamu selalu memejamkan mata. Ia berharap bisa mengenal satu demi satu kerikil itu sebelum sepenuhnya membusuk dan menjadi satu dengan air seperti daun-daun lain yang lebih dahulu jatuh ke kolam itu. Ia tidak suka membayangkan daun lain yang kebetulan jatuh di kaki pohon itu, membusuk dan menjadi pupuk, kalau kebetulan luput dari sapu si tukang kebun.
*
Ia ingin sekali bisa merindukan ranting pohon jeruk itu.
*
Ingin sekali bisa merindukan dirinya sebagai kuncup.
/2/
Ikan tidak pernah merasa terganggu setiap kali ada daun jatuh ke kolam, ia memahami bahwa air kolam tidak berhak mengeluh tentang apa saja yang jatuh di dalamnya. Air kolam, dunianya itu. Ia merasa bahagia ada sebatang pohon jeruk yang tumbuh di pinggir kolam itu yang rimbunannya selalu ditafsirkannya sebagai anugerah karena melindunginya dari matahari yang wataknya sulit ditebak. Ia senang bisa bergerak mengelilingi kolam itu sambil sesekali menyambar lumut yang terjurai kalau beberapa hari lamanya si empunya rumah lupa menebarkan makanan. Mungkin karena tidak bisa berbuat lain, mungkin karena tidak akan pernah bisa memahami betapa menggetarkannya melawan arus sungai atau terjun dari ketinggian, mungkin karena tidak pernah merasakan godaan umpan yang dikaitkan di ujung pancing. Ia tahu ada daun jatuh, ia tahu daun itu akan membusuk dan bersenyawa dengan dunia yang membebaskannya bergerak ke sana ke mari, ia tahu bahwa daun itu tidak akan bisa bergerak kecuali kalau air digoyang-goyangnya. Tidak pernah dikatakannya Jangan ikut bergerak tinggal saja di pojok kolam itu sampai zat entah apa itu membusukkanmu. Ikan tidak pernah percaya bahwa kolam itu dibuat khusus untuk dirinya oleh sebab itu apa pun bisa saja berada di situ dan bergoyang-goyang seirama dengan gerak air yang disibakkannya yang tak pernah peduli ia meluncur ke mana pun. Air tidak punya pintu.
*
Kadangkala ia merasa telah melewati pintu demi pintu.
*
Merasa lega telah meninggalkan suatu tempat dan tidak hanya tetap berada di situ.
/3/
Air kolam adalah jendela yang suka menengadah menunggu kalau-kalau matahari berkelebat lewat di sela rimbunan dan dengan cerdik menembusnya karena lumut merindukannya. Air tanpa lumut? Air, matahari, lumut. Ia tahu bahwa dirinya mengandung zat yang membusukkan daun dan menumbuhkan lumut, ia juga tahu bahwa langit tempat matahari berputar itu berada jauh di luar luar luar sana, ia bahkan tahu bahwa dongeng tentang daun, ikan, dan lumut yang pernah berziarah ke jauh sana itu tak lain siratan dari rasa gamang dan kawatir akan kesia-siaan tempat yang dihuninya. Langit tak pernah firdaus baginya. Dulu langit suka bercermin padanya tetapi sekarang terhalang rimbunan pohon jeruk di pinggirnya yang semakin rapat daunnya karena matahari dan hujan tak putus-putus bergantian menyayanginya. Ia harus merawat daun yang karena tak kuat lagi bertahan lepas dari tangkainya hari itu sebelum subuh tiba. Ia harus merawatnya sampai benar-benar busuk, terurai, dan tak bisa lagi dikenali terpisah darinya. Ia pun harus habis-habisan menyayangi ikan itu agar bisa terus-menerus meluncur dan menggoyangnya. Air baru sebenar-benar air kalau ada yang terasa meluncur, kalau ada yang menggoyangnya, kalau ada yang berterima kasih karena bisa bernapas di dalamnya. Ia sama sekali tak suka bertanya siapa gerangan yang telah mempertemukan kalian di sini. Ia tak peduli lagi apakah berasal dari awan di langit yang kadang tampak bagai burung kadang bagai gugus kapas kadang bagai langit-langit kelam kelabu. Tak peduli lagi apakah berasal dari sumber jauh dalam tanah yang dulu pernah dibayangkannya kadang bagai silangan garis-garis lurus, kadang bagai kelokan tak beraturan, kadang bagai labirin.
*
Ia kini dunia.
*
Tanpa ibarat.




Sajak Desember

kutanggalkan mantel serta topiku yang tua
ketika daun penanggalan gugur
lewat tengah malam. kemudian kuhitung
hutang-hutangku pada-Mu
mendadak terasa: betapa miskinnya diriku;
di luar hujan pun masih kudengar
dari celah-celah jendela. ada yang terbaring
di kursi letih sekali
masih patutkah kuhitung segala milikku
selembar celana dan selembar baju
ketika kusebut berulang nama-Mu; taram
temaram bayang, bianglala itu



Nocturno

kubiarkan cahaya bintang memilikimu
kubiarkan angin yang pucat
dan tak habis-habisnya gelisah
tiba-tiba menjelma isyarat merebutmu
entah kapankah bisa kutangkap
Mata Pisau
mata pisau itu tak berkejap menatapmu
kau yang baru saja mengasahnya
berfikir: ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu
Mata Jendela
Pandanglah yang masih sempat ada…
Pandanglah aku: sebelum susut dari Suasana…
Sebelum pohon-pohon di luar tinggal suara…
Terpantul si dinding-dinding gua…
Pandang dengan cinta…
Meski segala pun sepi tandanya waktu kau bertanya-tanya,
Bertahan setia langit mengekalkan warna birunya…
Bumi menggenggam seberkas bunga, padamu semata
Pada Suatu Pagi Hari
Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.
Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin mambakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi



Metamorfosis

ada yang sedang menanggalkan
kata-kata yang satu demi satu
mendudukkanmu di depan cermin
dan membuatmu bertanya
tubuh siapakah gerangan
yang kukenakan ini
ada yang sedang diam-diam
menulis riwayat hidupmu
menimbang-nimbang hari lahirmu
mereka-reka sebab-sebab kematianmu
ada yang sedang diam-diam
berubah menjadi dirimu