Buku Pilihan Icha


Bahkan seorang anak seusia Icha sudah tahu apa yang diinginkannya. 

Sore tadi Icha mendekati saya sementara saya tengah menekuni tulisan saya. Sejak kemaren sebenarnya dia telah menunjukkan kepada saya secarik kertas buram berwarna merah muda, berisi daftar buku-buku dari sebuah penerbit yang saya kurang hafal namanya. Setiap tahun agaknya penerbit itu bergerilya dari sekolah ke sekolah mempromosikan buku-buku hasil terbitannya. Buku-buku saku berharga semurah jajanan di warung. Paling mahal sebelas ribu. Mulai dari rumus-rumus matematika, UUD 1945 dan amandemennya, cerita rakyat dan lain sebagainya. 

Saya melirik agak malas ke arahnya. Karena sudah bisa dipastikan, buku yang dibeli dari penerbit atau salesnya itu hanya akan jadi penghuni lacinya berjejalan dengan mistar, topi, mainan dan ikat rambutnya. Kemudian menjadi kusut karena terlipat-lipat, dan berakhir di ujung pena adik-adik sepupunya. Penuh coretan-coretan. Lalu teronggok sia-sia di sudut kamar.

Tapi, mata memelas Icha membuat saya tidak tega menolak keinginannya.
Lalu saya bertanya, "Ade, mau beli buku apa?"
Matanya berbinar seraya menunjuk satu judul buku. Buku seharga sebelas ribu itu bertajuk Peribahasa, Pantun dan Puisi.
Saya tersenyum lalu berkata padanya, "Ya udah, besok Ade beli buku ini, ya." 

Saya tidak memiliki alasan lagi untuk menolak keinginannya membeli buku murah itu. Apalagi setelah saya tahu bahwa buku yang ingin dibelinya adalah buku yang berkaitan dengan passionnya. Hasratnya pada dunia menulis. 

Tidak pada tempatnya saya under estimate pada sebuah buku murah. Siapa tahu, justru dari situlah Icha menemukan sumber mata air yang jernih dan tak habis-habisnya bagi proses kreatifitasnya. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar