Puisi-Puisi Sitok Srengenge




Penghujung Musim Penghujan

Di penghujung musim penghujan
basah tanah dan batang pohonan susut perlahan
Daun-daun mengibas rambut pada terik mentari
dari matamu yang sarat sengkarut membersit pelangi
Menetas burung-burung dalam liang luka tubuh
lantas terbang murung sebagai kata-kata dan jatuh
Jatuh ke dalam gurit yang kuguris untukmu
kicau sembilu bergaung abadi di situ



Cinta Pertama

Udara yang kuhirup kali pertama
kini entah di mana
kadang aku bayangkan ia kekasih
yang akan bersedih
bila aku tiada
Sebab ia tahu, baginya kubuka
rahasiaku kali pertama
Aku tak peduli berapa laksa tubuh
ia masuki sebelum dan sesudahku
pengalaman pertamaku dengannya selalu kuulang
sampai aku mati dan ia akan sedih seperti yang kubayangkan

Menulis Cinta
Kauminta aku menulis cinta
Aku tak tahu huruf apa yang pertama dan seterusnya
Kubolak-balik seluruh abjad
Kata-kata yang cacat yang kudapat
Jangan lagi minta aku menulis cinta
Huruf-hurufku, kau tahu,
bahkan tak cukup untuk namamu
Sebab cinta adalah kau, yang tak mampu kusebut
kecuali dengan denyu


Kereta


1

entah siapa yang ia tunggu
Orang-orang datang dan lalu,
ia cuma termangu
Sepasang orang muda berpelukan
(sebelum pisah) seolah memeluk harapan
Ia mendesis,
serasa mengecap dusta yang manis
Kapankah benih kenangan pertama kali tumbuh,
kenapa ingatan begitu rapuh?
Cinta mungkin sempurna,
tapi asmara sering merana
Ia tatap rel menjauh dan lenyap di dalam gelap
: di mana ujung perjalanan, kapan akhir penantian?
Lengking peluit, roda + roda besi berderit,
tepat ketika jauh di hulu hatinya terasa sisa sakit

2

Andai akulah gerbong kosong itu,
akan kubawa kau dalam seluruh perjalananku
Di antara orang berlalang-lalu,
ada masinis dan para portir
Di antara kenanganku denganmu,
ada yang berpangkal manis berujung getir
Cahaya biru berkelebat dalam gelap,
kunang-kunang di gerumbul malam
Serupa harapanku padamu yang lindap,
tinggal kenang timbul-tenggelam
Dua garis rel itu, seperti kau dan aku,
hanya bersama tapi tak bertemu
Bagai balok-balok bantalan tangan kita bertautan,
terlalu berat menahan beban
Di persimpangan kau akan bertemu garis lain,
begitu pula aku
Kau akan jadi kemarin,
kukenang sebagai pengantar esokku
Mungkin kita hanya penumpang,
duduk berdampingan tapi tak berbincang,
dalam gerbong yang beringsut
ke perhentian berikut
Mungkin kau akan tertidur dan bermimpi tentang bukan aku,
sedang aku terus melantur mencari mata air rindu
Tidak, aku tahu, tak ada kereta menjelang mata air
Mungkin kau petualang yang (semoga tak) menganggapku tempat parkir
Kita berjalan dalam kereta berjalan
Kereta melaju dalam waktu melaju
Kau-aku tak saling tuju
Kau-aku selisipan dalam rindu
Jadilah masinis bagi kereta waktumu,
menembus padang lembah gulita
Tak perlu tangis jika kita sua suatu waktu,
sebab segalanya sudah beda
Aku tak tahu kapan keretaku akan letih,
tapi aku tahu dalam buku harianku kau tak lebih dari sebaris kalimat sedih



Kau Angin
Semula aku sangka kau gelombang
tapi setiap kali aku renangi
kau menggasing bagai angin
Peluh membuncah dan ruh tubuh gelisah
adalah ibadah bagi Cinta tak berjamah
Di situ, kunikmatkan teduhmu
sesekali sebelum kau berhembus pergi
Aku buru suara seruling di jauhan
yang kutemu dedahan bergesekan
Aku termangu tertipu gerakmu
sehening batu di kedalaman rinduku
Kini aku tahu, tak perlu memburumu
Kau hidup di dalam dan di luar diriku
-tak berjarak namun terasa jauh
teramat dekat namun tak tersentuh
Jika benar kaulah angin itu
semauku akan kuhirup kamu
Dalam jantung yang berdegup
kau gairah baru bagi hidup
Mengalirlah darah, mengalir
dalam urat nadi Cintaku
karenamu, Kekasihku!


Peretas

Seumpama pagi, kita pun lekas pergi
Sebagai sore, kita segera sampai
Dari dan ke pangkuan kelam
Di mana kita jadi penelusur gua gelita
Meraba, menaswir gema cinta
Terpisah dari yang selain desah
Raga melenggang bagai ganggang
Sukmaku menggapai sukmamu, bersitaut serupa kiambang
Larut dalam kelucak ombak pasang
Kulumur landai lampingmu sampai pasir menyerpih
Kudentur-dentur ceruk curammu hingga berbuih
Hingga kau-aku terhempas, terlepas, di altar tarikh
Peramlah separuh perih, sampai kaulihat rakit
dinakhodai cahaya fajar pertama dari kaki langit
Selebihnya biar kusemat di jantungku, betapapun sakit
Sebab, selagi selat susut semata kaki,
kita akan mulai saling mencari
Dipandu denyut nadi
Kuharap kita akan bersua di sebuah bukit hening
yang menyimpan mata air bening, di mana letih terbaring
seluruh luka pulih, seiring kita tandai segala yang asing
Dan di tanah yang tabah itu, hidup akan tumbuh
Kau bagian dariku, aku bagian dirimu, dua jiwa satu tubuh
Senantiasa saling butuh. Tanpa yang lain kita tak penuh, tak utuh


Ruang
Aku ceruk cangkir yang membayangkan kau sebagai kopi di pagi hari,
lingkar kalung yang merindu jenjang lehermu,
lubang baju yang butuh merengkuh tubuh

Kau greonggang rahang yang mengulum kelu lidahku,
rongga dada yang menampung paru dan jantung
lurung urat biru yang mengaruskan deru darahku

Aku cekung cangkang yang menginginkan kau menjadi kerang,
lengkung langit andaikan kau gugusan planet,
luas lautan manakala kau pepunuk pulau

Kau bidang padang mengerang gersang jika aku bukan rimbun pohonan,
kitab yang mengutip kisah kesiapku kala pertama kuintip wajah kekasih,
manik mata yang mendekap dunia, kakus yang tulus menadah limbah

Aku rangkum rahim di mana kau dulu mukim, rentang tangan yang selalu
menjagamu, kubebaskan kau bergerak dan berbiak dalam diriku
Aku kosong abadi yang menghendaki kau sebagai isi

Aku penuh oleh kau yang tak membiarkanku menghampar hampa
Aku takjub pada hidup yang berdegup, cinta yang bergema


 Kebun

boleh aku berkebun dalam dirimu?
padang pasir itu akan kucangkul,
kugaruk, kusemai
bila putik telah muncul
akan kusiram, kupupuk, kusiangi
akan kuundang angin sepoi
akan kupanggil hujan rinai
agar kau sejuk segar dan damai
kubiarkan tubuhmu menari
menakzimi gerak matahari
dedaunmu lembut dirahmati warna laut
kelopak-kelopak kembangmu
rekah dengan harum meruap
seperti luka yang pelahan malih jadi harap
kubayangkan kau padang luas
tempat pepohon besar berdaun rimbun
dan aku seorang kerdil yang bernaung
di bawah teduhmu nan anggun
kubiarkan serangga dan unggas
bercengkerama akur
di cecabang dan rerantingmu
yang kuat dan lentur
aku akan menjaga dan merawatmu
sebab kau telah memberiku bahagia
dan mengajariku perihal rindu
kelak jika aku mati
jasadku akan berbaring tenang di kebun itu
itulah saat aku kembali
dan kekal menyatu dengan dirimu


Kata Berkata
Panggil aku kata
Akulah asal mula
Jangan tanya siapa si pertama mengatakanku
Aku malu tak mampu memberi tahu
Walau dengan sepenuh daya
Aku tak sanggup sebut namanya
Aku cuma kata
Asal mula segala


Bunyi Sunyi
Parafrase atas musik Tony Prabowo
Bunyi-bunyi ganjil itu, kawanku, memanggilmu sampai kelu
Jiwa terkucil yang ragu, bersandar bilah bayang-bayang,
melawan arus waktu yang menderas
menggerus mimpi-mimpimu
Kibaskan rambutmu, biar debu gemerincing mengusir sepi
yang selalu menyemai di sela seloroh orang ramai
Biar gairah berpijar bagai putik bunga api,
membakar hari-harimu yang memar
Kudengar derit derita, senyaring rasa sakit paling purba,
mungkin senar-senar syaraf berdenyar didera duka,
atau raung rindu dari ruang gelap tubuh
tak tersentuh
Kata-kata gagu meniru bunyi-bunyimu, cahaya redup,
tak sanggup menjelmakan sosokmu yang gagap-gugup
Hanya hening, membentang antara damba dan hampa,
selengang padang gersang
Kau melenggang, sendiri, meracik benih bunyi:
rintih ringkik raung ricik—menjadi sunyi
Tumbuh liar di tepi-tepi, serupa lantana
merekah jingga: kelopak-kelopak luka
Bunyi-bunyi ganjil itu menyeru namamu:
derit derita, jerit sakit, denyar duka,
ringkik rindu, sengal ajal
nan kekal



Lidah Ibu
Cahaya yang pendar dalam kata, bukan percik api bintang pagi
Bayang samar yang gemetar di sana,
bukan geliat muslihat fatamorgana
Ini sajak menampik suara yang disumbar para pendusta
Di sesela konsonan-vokal menggema cinta tak terlafal
Huruf-hurufku bersembulan bagai gairah bebunga,
mencerap cerah cahaya
Di bawah tanah kaki-kaki mereka menjalar seliar akar,
menjangkau sumber air
Kata-kataku menautkan daya renggut inti bumi
dan medan magnet yang dilancit lambung langit,
menggerakkan yang diam, meneriakkan yang bungkam
Larik-larikku dirimai rindu pada pencinta
yang datang tanpa predikat tanpa belati di belikat
Nafasnya meraba rabu,
kelembutannya membelai betak benakmu
Lidah ibu menyalakan lampu dalam kataku
Benda-benda yang tersentuh cahayanya pun mengada:
riuh menyebut nama-nama, piuh merajut semesta
Di semesta sajak ini tak sebiji benci semi bagi pendengki
Lidah ibuku menjelma pohon pengasih buah hati



Kata Asing
: Sylvia Plath
Di negeriku, Sylvi, saat ini matahari masih rendah,
mimpiku masih basah, puisi belum usai meraut wajah
Tak perlu terburu,
bangku kayu di taman khayalmu, di mana kau inginkan aku
duduk berderet dengan kata-kata lain dari kamusmu,
masih bertabur serbuk salju, mungkin kotor
oleh tai burung dan gugur daun sikamor
Sebentar lagi, segeliat tubuh lagi
Aku akan datang dengan separuh ruh matahari tropis
bagi rerumpun perdu yang meranggas di ranjang ranjaumu
Jemariku rindu bebunyi yang menggema dari sentuhan,
selirih pekik dandelion ditakik angin muson
Bawalah, seperti biasa, roti bakar selai marmalad
tapi kumohon jangan lagi berkelakar tentang kiamat
Kami, kata-kata yang kaupingit demi mengungkit sakit,
lebih senang kausiapkan kertas merang dan pencil arang
Sebab, jika nanti kaulansir puisi kabut dan bulan ranum,
kami ingin menaswir wajahmu yang semuram tarum
Semoga kau tak lupa, Sylvi, saat itu 23 Februari:
cuaca berangin meski suhu udara tak begitu dingin,
aku tiba di taman itu tapi kau tak kutemu
Hanya perempuan sunyi, tubuh rapuh berperancah duri
mengurai benang tangis merajut repih jiwa,
seperti linguis letih merunut siapa
yang pertama melafal kata
Tapi aku menunggu. Menunggu kisah-kisahmu,
sepenggal demi sepenggal, yang membuatku kian rapat ke ajal
Sampai kutahu: kau tak lagi menginginkanku,
pun semua kata yang berbaris rapi
yang selama ini kausapa puisi
Sebab telah kaukatupkan semua pintu dan jendela,
kausumbat ventilasi dan lubang kunci, sebelum gegas
ke negeri nirkata yang kaucipta dari dengus gas



Ular dan Penyair
Di Taman Edan, aku bersua sesosok kata terpuruk mabuk di pojok kalimat jorok. Rambut gimbal akar gantung beringin tua, pakaian kumal sarang kepinding dan kecoa, mulut busuk comberan mampat, tubuh gembrot burik berborok
Kusapa ia dengan cinta. Mata bara menjelang padam, kerjap binal bintang zohal. Kutawari ia mandi, pakaian bersih-rapi, sebotol minyak wangi. Siapa tahu kelak, ketika nasib tak lagi congkak, seorang penyair yang sedang cari inspirasi memungutnya sebagai anak asuh dan memberinya rumah dalam puisi yang teduh
Aku ingin kau mampus, ia mendengus ketus. Bau mulutnya alkohol kakilima. Lidah bercabang, kata-kata terucap sumbang. Kudengar ia kentut, udara pun semaput. Lalu ia muntah, menumpahkan bangkai kawan-kawannya sendiri yang ia telan sembari masturbasi
Tak ada sajak cukup kupijak, ia berlagak. Aku terlalu besar. Aku bukan kata sekadar. Segala sesuatu bermula dariku. Aku penyebab penyair lahir. Firmanku suci, perintahku dipatuhi para nabi. Penyair tak lebih dari pendusta nyinyir, bertualang dari remang ke temaram, tanpa kitab keabadian. Aku kutuk mereka: mendamba cahaya, didera derita
Mungkin saat itu tuhan pulas di selembar daun apel yang lepas. Angin berdesir, muncul si penyair. Rambut tersisir klimis, dandanan necis. Sambil mengelap ujung sepatu ia ucap salam rindu kepadaku. Kata- katanya terdengar lain, sesahdu irama latin. Aku terpukau, dalam dirinya bebukit hijau, bentang kebun kakao, kemilau danau
Sambil menimang apel malang, si penyair bilang: Aku sedang menyusun ulang kata-kata yang sengaja tak diucapkan Adam kepada Eva, tentang Lilith istri pertamanya. Kelak akan gamblang, mengapa dunia dipenuhi para pecundang. Mereka pencemburu yang tak doyan mengunyah sajak, lebih gemar memburu dan mengenyah orang bijak, bersenjata pedang dusta
Kata busuk yang terpuruk mabuk di pojok kalimat jorok itu seketika kuyu. Ia beringsut kecut, melata pergi, lalu lesap ke kobar api, jauh di luar sajak ini


Separuh Kromosom

Kau, suara yang sayup kudengar saat mula selaput telinga tergetar,
senandung kidung segugup degup jantung, membisikkan fajar
sejenak setelah aku sadar, mengajar mengeja semesta cinta
sampai sangkakala melengking melengkapkan usia
Kau, wujud yang lamat kulihat kali pertama pelupuk mata terbuka,
cerlang sejernih pandang kekasih, sabar menjalar di langit nalar,
mengelus santun ubun, menuntun tangan menatah nisan
sebelum cahaya dan apiku padam di sumbu kalbu
Dan aroma asing yang paling dulu kuhirup, tiada lain selain kau,
seharum hawa lembab di lembah susu, melecut kelepak paru,
mengulur nafas mengalirkan nafsu, ke muara rahasiamu
kelak ketika udara henti di hulu nadi
Siapa lebih setia dibanding kau – jiwa yang tak jeri mengembarai diri
sendiri, detikmu serentak detakku, harimu sehiruk haru-huraku,
rasaku meraba rabumu, tak tanggung kautunggui aku
hingga hapus air mataku dari mata airmu
Kukecup-kecap cintamu, kupagut pagi-petang, kusesap siang-malam,
kau bertahun bertahan, tanpa alpa tugasmu: menumbuh-rubuh-rapuhkan
kenanganku, sampai aku melupakanmu ketika tanah
memintaku kembali ke Entah

Di Hamburg Sepi Menghambur


 Kecuali kelam cuma angin compang-camping,
       seusai sepi merajamkan sejuta taring
       Hawa jekut bersalto di perut gelandangan,
    bayang-bayang maut dari ghetto masa silam
                     Sepi menjalar, mendesis di lurung-lurung gedung,
       lidahnya menjilati patung-patung di taman
              Udara menggelepar, menanggung gaung,
   menebar bau rawan peraduan
                          Dan di danau yang menyerupai genangan mimpi,
                  sulur-sulur cahaya seakan pendar fosfor akar kuldi
                    Gesau Gestapo telah lama tenggelam di dasar danau itu,
       tapi masih tersisa isyarat yang mengeruhkan kalbu:
        di lorong-lorong Metro, ketika rinding riuh kehilangan echo,
                        lolong sengau dan kerling menjauh bagi kulit sawo
   Sepi meringkuk berselimut kabut tebal
      di pucuk menara katedral,
 dengkur lembut yang ngalir dari alam bawah sadarnya
   melantunkan Talmud dan mimpinya sinagoga
                    Riap tunas kembang menyingkap jangat bumi:
              ada yang sedang berdandan, barangkali musim semi
      Busut-busut salju mulai memuai,
         bagai lisut seprai. Rambut angin kusut masai
   Yang berlanjut cuma kelam,
   merajut kelamin ke kelambu malam
                        Nafsu yang menggerakkan waktu,
                               nafas yang menafikan belenggu beku
      Tubuh yang melimbak,
          butuh yang meliur
          Ke dalam sajak
                sepi menghambur
                       

Kenangan Scheveningen   
                             
 Ada yang senantiasa melukisi daun dan buah,
        lihat jejaknya menggaris di batuan tanah
Aku daun yang tanggal, terbasuh embun         
            sebelum luruh dibantun taifun
Kau buah yang mengkal, tersepuh ranum       
sebelum jatuh dikulum alum
Kita tumbuh dari akar berbeda,
meski mencecap air dari sumber yang sama      
Aku datang dari perih yang diguritkan angin  
dan angin mengibarkan rambutmu yang perak
Lihat tapaknya mengering di bangkai musim, 
                               sebagian abadi dalam sajak
   Kita saksikan laut
melalui nyala lilin dan rekahan kembang         
Pulau-pulau bagai bangkai hanyut,                    
jerit di jauhan menyusun bukit karang     
Kapal-kapal beringsut                                    
memasuki kelabu kabut,                                        
kau melambai                      
ke pemuda kusut masai                                         
"Kelak ia kembali membawa buah pala             
             dan seorang putri Minahasa.
                        Aku adalah cucu mereka."
                           Jauh di tepi danau gubuk-gubuk gipsy diperam perih waktu
                                                                 hingga udara dan air payau sama membeku,
tapi pohon-pohon putih menanggalkan baju
             dan aku tertindih tumbang tubuhmu




Musim

Tak pernah henti cinta mencintai
sampai usai tak letih silih mengisi
Dulu
sebelum menyatu
aku bergelar lapar
kau bernama dahaga
Sama-sama baru tiba dari hampa
Lalu
dibimbing waktu
aku melahapmu
kau meregukku
Sejak itu kita bukan lagi yang sediakala
Betapa perkasa cinta
Ia jelmakan kita jadi manusia
Kuhasratkan kau rebah di tanah
sebab aku petani yang tabah
setia membajak dan mencangkulimu
memupuk dan mengairimu
Hingga kau bunting
melahirkan nasi ribuan piring
Kadangkala aku pekerja pabrik gula
merawat ladang tebu
atau menjaga gerak mesin gilingmu
Agar tak cuma aku
tapi semua yang dekat kita
tetap bisa menikmati manismu
Dalam dambaku kau seindah musim basah
selalu murung dan menangis
setiap kausaksikan kawanan burung
meninggalkan hutan tropis yang hampir habis
Kubuka sawah dan kebun
menadah gairah yang rimbun
sebelum kau berpaling sebagai musim kering
membuatku gering rindu peluhmu
Aku bergantung padamu
Tak perlu kuminta kau jadi yang kumau
sudah itu layu lalu luruh demi buah
Petani dan musim
tak terpisah



12 komentar:

  1. ijin nyimak,

    sukses selalu ya mbak admin.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sila, Tuan atau Puan....

      Terima kasih sudah berkunjung :)

      Hapus
  2. Balasan
    1. makasih sudah berkunjung...salam. :)

      Hapus
  3. Banyak belajar dari pemilihan diksi Pak Sitok. Terima kasih yang sudah upload puisi-puisinya. Salam.

    BalasHapus
  4. awas kena rayuan sitok ntar dicabuli hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mmm, saya menghargai karyanya. Terima kasih.

      Hapus
  5. now I know why it could happen.
    be patient sitok

    BalasHapus
  6. Pelit amat sih...admin'...ah

    BalasHapus
  7. Yg puisi boneka kekasih yg gmna? krya sitok srengenge

    BalasHapus
  8. Terima kasih telah berbagi puisinya mas Sitok
    Kalau ada waktu, mampir ke rumahku..

    www.lumbungpuisi.com
    Salam

    BalasHapus