Komedi Yang Hampir Jadi Tragedi By Pakde Azir



Resensi cerpen “Lembur” karya Lilik Qurota Ayunin

Salah satu kekuatan sebuah cerpen adalah membuai pembaca hingga tiba pada anti-klimaks yang merupakan inti dari pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang. Ada beberapa macam pesan, namun semanya terpolarisasi pada dua genre, yaitu :
(1) Komedi atau kisah jenaka atau sense of humor  dimana pengarang mengarahkan karangannya dengan tujuan (pesan) agar pembaca merasakan sentuhan lucu, walaupun bukan bermaksud melawak.


(2) Tragedi atau kisah sedih, yaitu karangan dengan tujuan (pesan) membuai perasaan pembaca agar merasa terharu setelah membaca karangannya.Termasuk juga dalam kategori komedi adalah parodi  dan unsur kejutan,  dalam konteks cerpen ini, kejutan yang ingin dibuat oleh Tagu terhadap Kasih. Di awal cerita, bukan saja Kasih yang tertanya-tanya, bahkan pembaca pun diajak untuk menghayal, apa sesungguhnya maksud dan tujuan pengarang (melalui Tagu) dengan bekerja lembur tanpa membawa hasil.
Kisah yang bergenre komedi ini berakhir nyaris menjadi tragedi ketika Tagu pulang berdarah-darah. Di sini Lilik cukup piawai mengaduk-aduk emosi pembaca, sampai akhirnya pembaca faham mengapa Tagu harus bekerja lembur tanpa hasil. Anti-klimaksnya tertuang dalam ucapan Tagu kepada Kasih : “Untukmu, Sih,”  sedangkan endingnya terasa manis sekali pada rangkaian kalimat : Kasih tidak bisa berkata-kata. Dia tiba-tiba ingat, ini adalah hari ulang tahun pernikahan mereka.
Karangan ini bisa menjadi full komedi,  kalau pulang berdarah-darahnya Tagu itu hanya pura-pura. Misalnya, Tagu melumuri badannya dengan cat, lalu diantar pulang oleh kedua tetangganya yang sepakat bersandiwara bersama Tagu untuk membuat kejutan kepada Kasih. Tetapi anti-klimaksnya juga bisa menjadi full tragedi  seandainya Kasih mengidap penyakit jantung sehingga mati mendadak ketika melihat Tagu berdarah-darah.
Inilah sebuah cerpen yang memiliki potensi genre bermacam-macam. Bisa jadi tragedi, bisa jadi komedi, atau setengah tragedi dan setengah komedi. Bukan ditentukan oleh Tagu dan Kasih, melainkan oleh Lilik, hanya dengan “menyetel” anti-klimaks dan ending-nya. Cukup hanya dengan satu alinea untuk merubah seluruh imaji pembaca sejak awal membaca.

Diskusi panel selengkapnya sebagai berikut :

(1) YULI (Aunti Yuli) : Ceritanya bagus, sederhana tapi mengusik.

Jawaban Lilik :  Makasih ya … Yuli adalah komentator pertama pagi ini di lapak saya.

Tambahan Yuli :  Saya selalu baca apa pun yang dikirim Pakde, dan kalo signal bagus pasti akan kasih koment. Tapi kalo jelek signalnya nggak hadir. Hehehe.
Ceritamu sederhana dan ringan, jadi bagus dibaca disertai segelas kopi dan pisang goreng.

Jawaban Lilik :  Kondisinya sama dengan di Sumba. Sinyal selalu pake acara ngambek-ngambekan. Hihihi.
Enak tuh, Yuli, pisgornya. Sesuatu yang terlalu enak kadang bikin enek. Sama halnya seperti sebuah cerpen. Menurut saya, sebuah cerpen haruslah mudah dipahami, bahasanya sederhana, tapi ramuan cerita harus memikat. Ibarat pisgor. Sederhana, tapi nikmat, asal adonan tepungnya dan cara menggorengnya pas. Sedaaap .... Tapi, mungkin cerpen saya masih mengandung kelemahan-kelemahan yang saya tidak tahu. Mungkin Yuli dan teman-teman lain bisa menunjukkan kepada saya.

Ressume Panel :  Dialog Yuli dan Lilik tampak sederhana, tetapi bagi Pakde ini merupakan penggambaran bagaimana proses komunikasi yang “nyambung” dari pengarang selaku pengirim pesan (sender)  dan pembaca selaku penerima pesan (receiver).  Terjalinnya komunikasi itu diibaratkan oleh Lilik dengan sebuah contoh sederhana : pisang goreng. Apa yang membuat pisang goreng terasa enak? Ada dua : adonan tepung, dan teknik penggorengannya. Analog dengan itu, apa yang membuat cerpen enak dibaca? Ada dua : alur cerita, dan teknik penuturannya.

(2) PENA SUM :  Ternyata Tagu adalah … ah, takut suudzon  ah ….

Jawaban Lilik :  Tagu adalah apa ...?

Tambahan Pena :  Tagu adalah … saya sebut ini dengan istilah 'missing side alter ego character personality syndrome'.  Silahkan maknai, Teh.

Jawaban Lilik :  Makanan apa atuh eta teh, meuni hese  nyebutinnya juga. Itu semacem lelaki yang siang sama malem lain penampilannya kituh? Lieurrr ih. Sok atuh  jelasin.

Tambahan Rini :  Wai ... maka kawak bepadah mecungul,  nah ... urang mane pian ne .... 


Tambahan Pena :  Sot we bebas teh maknai masing masing.

Jawaban Lilik :  Rini, ampuun, saya nggak ngerti bahasa Kalimantan. Kan saya mah urang Sunda atuh .... 
Euleuh-euleuh, Pena, semakin remang-remang, ih.

Tambahan Rini :  Hihihi ... pantes nyambung ngobrol ama si Kabayan.
* Kabayan = Pena Sum.

Jawaban Lilik :  Hahhaaha, berarti Pena Sum = Borokokok, dong
Pena, just kidding. 


Tambahan Rini :  Borokok yg cerdas ....
* Pena dilarang mesem.

Jawaban Lilik :  Rini, tuh si Pena idungnya kembang kempis dibilangin cerdas ... hihihi.

Tambahan Pena :  Nah, kurang lebih gitu teh, 'remang remang'.  Soalnya saya sedikit punya persepsi lain tentang karakteristik penokohan Tagu. Mungkin kesan nya 'hero' tapi dalam visi saya jadi 'hero?' terlepas dari background profesinya.
Hehe, santai teh. Abah lah gara-gara na mah lah. Iteung … hehe.

Jawaban Lilik :  Meskipun masih remang-remang, tapi baiklah. Sebuah tulisan ketika sudah dipublish sudah jadi milik pembacanya. Pembaca bebas memberikan interpretasinya terhadap tulisan itu. Penulis tidak bisa lagi menyetir pembaca untuk mempersepsikan tulisannya sesuai kemauannya. Sok, mangga wae lah, bade dipersepsikeun kumaha wae oge.  Bebas, Pena. Nu penting mah cihuy we lah. 

Ressume Panel :  Setelah Pena menggulirkan masalah, lalu ditinggal pergi. Ayo, Pena … jelaskan kritikan Pena mengenai karakteristik tokoh Tagu. Bagi Pakde, Tagu tampil dengan sosok apa adanya. Dia ingin membuat kejutan buat istrinya. Hampir saja misinya gagal karena dirampok, tetapi Lilik “menyetel” anti-klimaks cerita dengan kolaborasi antara happy ending  dan sad ending.


(3) ANGGRA (Ludyaa Anggraini) : Ceritanya bagus banget. Ending sempet bikin jantung dag dig dug derr .... Bikin air mataku jatuh. So sweet,  Kasihan sama Tagu-nya.
Oh ya, dipan itu apa, kak?

Jawaban Lilik :  Hai, Anggra. Pagi ini kamu cantik banget, deh. Ehem.
Dipan itu tempat tidur yang terbuat dari kayu. Bisa juga berfungsi sebagai tempat duduk karena ada kalanya kalau di kampung di Sumba dipan diletakkan di ruang tamu. Jarang-jarang orang kampung tidur menggunakan kasur. Cukup dialasi dengan tikar pandan.

Tambahan Anggra :  Pagi-pagi udah ada yang bilang aku cantik. Ntar nggak bisa keluar dari kamar, pintunya nggak muat.
Kalo kayak gitu nggak ada kak di tempat aku. Makanya aku nggak tau. Tapi kalo tikar pandan, ada kak.

Jawaban Lilik :  Emangnya Anggra balon ya, kok bisa melembung gitu, hihihi.
Iya, di pelosok Sumba masih dipakai tempat tidur seperti itu. Malah kalau di rumah-rumah menara  (sebutan rumah adat Sumba) yang umumnya dibuat dari bambu gelondongan, mereka tidur langsung di lantai rumah yang disusun dari bambu-bambu gelondongan itu. Ngak kebayang gimana pegelnya.

Ressume Panel :  Anggra yang tidak tau bagaimana bentuk “dipan,” itu hanya karena pemberian nama lokal. Di mana-mana juga ada. Buktinya, Utz (lihat nomor 8) yang notabene juga orang Jawa Timur seperti Anggra, tau apa itu “dipan”. Ini berasal dari bahasa Belanda : divan, atau biasa juga disebut rosband (juga dari bahasa Belanda). Padanannya dalam bahasa Indonesia : bale-bale. Ini adalah tempat tidur yang terbuat dari kayu, bambu atau kain. Yang terbuat dari kain disebut juga veldbed, bisa dilipat-lipat, biasa dipakai oleh tentara di waktu perang, dan buat pasien di rumah sakit.
Dipan tidak digolongkan sebagai ranjang (bed),  melainkan ranjang lapangan (veldbed),  karena ukurannya tidak standar. Ranjang memiliki ukuran standar panjang 2 meter dengan lebar 1,8 meter (ranjang size 1); 1,6 meter (size 2), dst.
Orang-orang di kampung sudah lupa kalau “dipan” itu unsur serapan dari bahasa Belanda. Ini bukti bahwa globalisasi itu tidak selamanya dimulai dari kota. Ada sebuah pengalaman Pakde, ketika mengunjungi seorang keluarga di desa. Dia berkata : “Pakde, saya mau menikahkan anak. Supaya tidak repot mencuci, saya mau titip beliin serbet yang terbuat dari kertas, habis pakai langsung dibuang. Praktis. Saya tidak tau apa namanya dalam bahasa Indonesia. Kalau di kampung namanya tissu.”

(4) NANA (Ratna Kholidati) : Ceritanya bagus, bahasa yang dipakai juga simple, Nana suka. Cerita kehidupan keluarga sederhana yang banyak dialami oleh banyak orang di sekitar kita. Bikin penasaran nih Jeng, si Pagu itu merampok cincin lalu digebukin orang? Atau ... harus ada sekuel LEMBUR 2 nih, untuk menjawab pertanyaan ini. OK, terus berkarya, Jeng Lilik ... semoga sukses.

Jawaban Lilik :  Alhamdulillah kalau Jeng Nana suka. Sebenarnya Tagu bukan Pagu. Dia bekerja membanting tulang demi mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk membelikan sebuah cincin kawin yang belum sempat dia beri pada istrinya saat mereka menikah. Dan di saat pulang dari kota setelah membelikan cincin kejutan untuk istrinya itu, dia dirampok. Bukan dia yang merampok. Coba deh, Jeng Nana cermati cerpennya sekali lagi.

Ressume Panel :  Ini hanya karena Nana sedikit kurang cermat. Tapi ini konsekuensi dari cara membaca vertikal  yang mungkin digunakan oleh Nana. Pada umumnya orang membaca secara horisontal (dari kiri ke kanan, kata demi kata). Tetapi bagi mereka yang setiap hari harus membaca beratus-ratus halaman buku teks, atau memeriksa PR murid-murid yang se-ombyok,  waktunya tidak cukup kalau harus membaca horisontal. Jadinya membaca vertikal, dari atas ke bawah, baris demi baris. Memang ada untung-ruginya. Contoh ruginya, Tagu (nama orang), jadi terbaca Pagu (padanan kata plafon, biasa dipakai dalam penyusunan anggaran).

(5) ARIF WIDODO :  Mendadak beli tissu.

Jawaban Lilik :  Teteh udah siapin tissue juga nih ....

Ressume Panel :  Sedia tissu sebelum baca.

(6) BUARI MUCHAMMAD : Cerpen bagus. Tidak ada baris-baris yang kulewatkan. Tema sederhana, tapi penulisan bijaksana. Sampai aku ulangi dua kali untuk memuaskan imajinasi saya.
Moga Apresiasi Sastra ini masih berkelanjutan. Pakde. Aamiin ....

Jawaban Lilik :  Buari, makasih Mas. Sampai menyempatkan membaca ulang cerpen saya. Saya juga setuju dengan harapan Mas Buari. Semoga ke depan Pakde kembali menggelar ajang serupa.

Ressume Panel :  Tahun 2011 Komunitas Sahabat Kecil menyelenggarakan Apresiasi Puisi. Tahun 2012 Apresiasi Cerpen. Koment Buari dan tanggapan Lilik adalah bahan masukan bagi Pakde guna merancang media silaturahmi antar sahabat-kecil untuk tahun 2013. Ada usul lain? Masa’ Apresiasi Cerpen lagi?

(7) NUR (Cahaya Kasihdihatie) : Cerpen bagus, singkat, tapi tidak mengurangi keindahan, dan ceritanya juga jelas!

Jawaban Lilik :  Cahaya. Namanya manis, semanis orangnya. Makasih atas pujiannya, menambah semangat saya untuk menulis lagi dan lagi.

Ressume Panel :  Kata Schumacher : small is beautiful.  Namanya juga CERITA PENDEK, ya, seperti kata Nur : singkat tapi tidak mengurangi keindahannya.

(8) UTZ (Rhoro Mendutz) : Cerpennya sederhana tapi bagus sekali, mudah dibaca dan dipahami. Tapi bikin nyesek karena menggingatkan pada Dipan Usang-ku. Hehehe.

Jawaban Lilik :  Wah, ada kenangan ya dengan Dipan Usang-nya....? Makasih apresiasinya, sayy.

Ressume Panel :  Ini sekaligus menjelaskan pada Anggra (nomor 3), bahwa di mana-mana juga ada dipan, cuma namanya yang berbeda. Ada tradisi beberapa suku (di Sumba, kata Lilik) dan di Sulawesi (pengalaman Pakde), yang meletakkan dipan di ruang tamu. Ini menunjukkan suasana kekeluargaan, dalam hal mana tamu tidak hanya disuguhkan makanan dan minuman, tapi juga dipersilahkan beristirahat (tidur) kalau kelelahan.

(9) GENDIES (Sri Eza Yuliyaningsih) : Bait pertama dan kedua kubaca kayak kurang nyambung. Pemerannya Kasih sama Tagu. Tapi setelah kuhayati ... keren ... cerita yang sangat sederhana. Apalagi akhir cerita ... ohh ... so sweet ....

Jawaban Lilik :  Kurang nyambung di paragraf awal, ya? Mmmm, mungkin kalimat pembukanya kurang menukik di hatinya Sri, ya? Tapi syukurlah, ternyata endingnya Sri suka, kan?!

Tambahan Gendies :  Teman-teman semua, biar si Tabu cepet sembuh ... yuk kita shalat dulu nyok ... terus kita sama sama do'ain Tabu biar cepat bekerja lagi, cari uang lebih banyak lagi untuk Asih dan anak-anak. Nanti siapa tau bisa nraktir kita juga. Hehehe.
Mewakili Pakde : awas, bentar lagi gong … pagelaran mau ditutup!!!

Jawaban Lilik :  Bukan Tabu sayy, Tagu ... ihihihi. Mau ditraktir, ntar nunggu Pakde Azir ultah. Saya juga mau ditraktir, ihihi.

Tambahan Gendies :  Maaf … salah manggil nama ye ...?

Jawaban Lilik :  Nggak papa, Cin. Maklum nama kampung, hihihi.
Masih ada yang lebih aneh bin lucu. Contohnya : Ngongo Bulu, Lele Biri, Seingi Ngongo, Dangga Dora, Dengo Male, dan lain-lain.

Ressume Panel :  Gendies seorang penyair (pernah ikut dalam Apresiasi Puisi 2011 di komunitas ini), makanya menyebut baris jadi bait. Demikian juga ketika Gendies menulis Tagu jadi Tabu, dan Kasih menjadi Asih, itu mungkin pengaruh jiwa penyair yang suka membuat persajakan guna menimbulkan efek rima dan irama, yang menjadi kunci keindahan dalam penulisan puisi.
Tabu itu pantangan (pamali) yaitu larangan-keras yang tak boleh dilanggar, yang ada pada semua suku, khususnya yang masih menganut faham animisme.

(10) ERNA (Ezez Erna) :  Membaca cerpen ini aku jadi ingat lagunya Wali "Aku Bukan Bang Toyib" :
     Kau bilang padaku,
     kau ingin bertemu,
     kubilang padamu,
     oh yah nanti dulu
     aku lagi sibuk sayang
     aku lagi kerja sayang
     untuk membeli beras
     dan sebongkah berlian.
Mantap ceritanya, terbawa emosi ketika Asih bertanya kenapa Tagu lembur, dan Tagu hanya memberi jawaban yang berujung pada teka-teki. Tagu, hebat kamu bikin kejutan yang tak pernah terbayang sebelumnya oleh Asih. 

Jawaban Lilik :  Erna, jadi asyik goyang-goyang dinyanyiin “Aku Bukan Bang Toyib” sama Erna. Makasih Er ....

Ressume Panel :  Dalam beberapa pagelaran, Erna selalu mempuitisasi komentarnya. Kali ini, terbawa oleh kejenakaan Tagu, Erna menyanyi untuk kita. Tepuk tangan untuk Erna.

(11) NISA (Anissa Fitri) :
     Tiap hari engkau kutinggal pergi
     Bukan, bukan, bukan aku sengaja
     Demi kau dan si buah hati
     Terpaksa aku harus begini ....
Siip … cerpen yang baguss … top markotop, dah. Endingnya nyesekk banget, bisa dikatakan tragis. Kenapa dirampok? Btw, itu rampok kok nggak dapet rampokannya ya, padahal bawa golok?

Jawaban Lilik :  Tariiiik, maaang. Kenapa dirampok, itu namanya klimaks. Hehehe. Rampoknya kok nggak dapet rampokannya, karena orang Sumba ke mana-mana selalu membawa parang. Parang adalah bagian dari pakaian. Jadi Tagu pun membawa parang, yang menyebabkan si perampok dapat lawan yang sepadan.

Ressume Panel :  Seperti terungkap pada intro resensi ini, anti-klimaks cerpen nyaris menjadi tragedi. Dari segi teoretik, Lilik telah mencontohkan anatomi cerpen yang runtut, meliputi :
1) gambaran situasi (kondisi sosial-ekonomi keluarga Tagu);
2) peristiwa-peristiwa terjadi (Tagu lembur setiap hari);
3) peritiwa-peristiwa memuncak (Kasih mulai curiga pada Tagu);
4) klimaks (Tagu dirampok);
5) anti-klimaks (Tagu memberikan cincin kepada Kasih).

(12) RERE (Reafista Lanvaizha) : Surprise ... btw semoga luka bacok Tagu tidak parah, ya? Kalau parah, kasihan Kasih,pasti merasa bersalah berlipat-lipat. Elehh … kok kebawa emosi?
Cinta yang kokoh dalam drama kehidupan yang sangat sederhana, menyentuh. Bagus deh, dan terus berkarya.

Jawaban Lilik :  Kayaknya nggak parah, kok. Saya juga nggak tega mau mematikan tokoh Tagu. Hiks-hiks. Nggak suka sad ending. Andai semua cowok kayak gitu semua, ya? Rela melakukan apa pun demi membahagiakan pasangannya.

Ressume Panel :  Jawaban Lilik memperkuat statemen Pakde pada intro resensi ini bahwa akhir cerita bukan ditentukan oleh Tagu dan Kasih, melainkan oleh Lilik, hanya dengan “menyetel” anti-klimaks dan ending-nya. Kata Lilik : Saya juga nggak tega mau mematikan tokoh Tagu.

(13) DEVI (Boengsoe Novianti) : Wah, kayaknya coment dari aku telat nih. Ceritanya bagus, menarik hati dan mata untuk selalu menyimak tulisan berikutnya. Suka, istrinya terlalu cemburu tuh pada suami yang selalu lembur. Padahal kan si suami rela lembur untuk istrinya juga. So sweet  begitu, suaminya, si istri nyesel pada akhirnya.
Oh, ya. Si Tagu tuh akhirnya meninggal? Mudah-mudahan nggak lah, ya? Kan ulang tahun pernikahannya! Seharusnya bahagia kok malah bersedih!

Jawaban Lilik :  Devi, belum telat sayy. Kan Pakde belum muncul pukul gong. Palingan beliau masih di jalan-jalan. Hehehe.
Istrinya menjadi cemburu dan curiga, karena Tagu merahasiakan maksud lemburnya. Namanya aja kan mau ngasih kejutan. Tagu-nya ngga meninggal kok. Happy ending yang mengharukan ....

Ressume Panel :  Benar kata Lilik : Happy ending yang mengharukan .... Happy ending artinya senang (bahagia). Mengharukan (sad ending)  artinya sedih (berduka). Lilik mencampur keduanya lalu menyajikannya dengan cantik. So sweet,  kata Devi.

(14) ARU AYBI : Maaf datangnya telat, soalnya jalanya macet, rame, ada perampokan.
Cerpennya bagus, I like it.  Oh Kasih ... jangan-jangan suamimu (Abang Tugu) adalah ....
Semangat and terus berkarya. Trinkk ( ).

Jawaban Lilik :  Hai sweety …. Kirain macet karena si Komo lewat. Hehehe. Makasih Aru, atas apresiasinya. Haah, jangan-jangan apaan nih ….. Gantian saya yang penasaran. Udah dua orang yang berteka-teki hari ini. Pena Sum dan dirimu. Sukses juga untukmu ya, sayy.
Aru, salah tulis nama lagi deh … Abang Tagu, bukan Abang Tugu, ‘ntar ketuker sama Tugu Pancoran lagi, hihihi.

Tambahan Aru :  Hahaha … Sorry, salah ketik. Aduh, jadi malu.
Masak seh komenku mirip komennya Om Pena Sum ....

Jawaban Lilik :  Aru, gpp sayy. Jadi lucu sendiri, udah tiga orang yang salah tulis nama. Maklum kok, abis namanya asing di lidah kita. Coba deh, liat komentnya Mas Pena Sum di atas ....

Ressume Panel :  Mungkin Aru juga pakai cara membaca vertikal seperti Nana (nomor 4). Tapi memang nama Tabu bisa menggiring pikiran pembaca kepada kata yang mengandung arti. Buktinya, sudah 3 komentator yang terpeleset :
1) Nana (nomor 4) terpeleset menjadi Pagu (artinya : plafon).
2) Gendies (nomor 9) terpeleset menjadi Tabu (artinya : pantangan).
3) Di sini Aru terpeleset manjadi Tugu (artinya : monumen).

(15) HEN MUHAMMAD : Suami yang setia walau mengalami kepahitan.

Jawaban Lilik :  Hen, betul. Suami idaman.

Tambahan Hen :  Sebuah hadiah ulang tahun perkawinan yang pahit sekali. Semoga wanita selalu mengerti perjuangan suami di luar, BERAT SEKALI.

Jawaban Lilik :  Itu pelajaran utama yang harus para istri petik dari cerpen ini. Termasuk saya sendiri. Jadi pengen bilang sama suamiku, I love you. 

Ressume Panel :  Ini bagian dari upaya menciptakan romantisme dalam keluarga. Ketika menulis resensi untuk karya Lilik sebelum ini, Ponsel Dinah,  Pakde telah ceritakan bahwa romantisme itu bukan hanya monopoli yang muda-muda.
Waktu Pakde habis operasi jantung (2004), Pakde tanya : Dokter, ini foto rontgen masih mau dipake, nggak? Dokternya jawab : udah nggak. Pakde ambil spidol lalu menulis nama Bude sehingga semua ruang jantung itu penuh dengan nama Bude. Lalu Pakde tunjukkan : Bu, coba lihat apa itu yang tertulis di jantung Pakde. Waduh … senangnya Bude luar biasa … padahal dia tau itu bo’ong  (bukan bohong).

(16) ESTI RAHAYU : Maaf, kak Lilik. Aku emang nggak pernah ikut ngobrol di sini, takut salah ngomong. Tapi aku pernah baca cerpen ini sebelmnya di wall kak Lilik. Dua jempol kak (yang satu di wall kak Lilik, yang satu di sini).

Jawaban Lilik :  Esti, kok takut salah, sih? Nggak papa kalii, neng. Ini kan seru-seruan  aja. Sekalian belajar nulis sama Pakde Azir. Meskipun Pakde selalu mengelak kalau disebut sebagai penulis, maunya disebut pelukis, tapi nyebutinnya dipisah-pisah. Peluk dan Kiss. Hihihi.

Ressume Panel :  Ya, benar. Pagelaran ini lebih merupakan permainan (game), atau meminjam istilah Lilik : seru-seruan  aja. Jadi nggak perlu terlalu serius lah. Kalau pun salah, mari kita tertawa bersama, karena tertawa itulah tujuan dari seru-seruan.  Minimal mentertawai diri sendiri.
Seorang sastrawan dan ulama legendaris, Buya Hamka berkata :
     Jangan takut jatuh,
     karena yang tidak pernah memanjat-lah yang tak pernah jatuh.
     Jangan takut gagal,
     karena yang tidak pernah gagal hanyalah orang yang tidak pernah mencoba melangkah.
     Jangan takut salah,
     karena dengan kesalahan kita belajar bagaimana berbuat yang benar.


(17) JIHAN SAJA : Hiks hiks … pengen nangis.
Cerita yang sederhana, tapi nyata. Kasih sayang dan cinta yang tulus memang butuh pengorbanan.

Jawaban Lilik :  *sodorin tissue*
Jihan, ada orang bilang cinta itu memberi, nafsu itu mengambil.  Orang yang mencintai tidak akan merasa berkorban sesuatu, sebab cinta selalu ingin memberi.

Ressume Panel :  Tepat sekali ungkapan Lilik : cinta itu memberi, nafsu itu mengambil.  Dalam konteks ini bukan “cinta” dalam pengertian sempit dalam bentuk cinta seorang pria kepada wanita, melainkan cinta universal, yang merupakan anugerah Tuhan kepada semua makhluknya. Bisa berarti cinta ibu kepada anak (dan sebaliknya), cinta makhluk kepada Khalik-nya, dsb. Lebih jelasnya, ada lagu anak-anak yang populer, ciptaan SM Mochtar :
     Kasih ibu kepada beta
     tak terhingga sepanjang masa
     hanya memberi tak harap kembali
     bagai sang surya menyinari dunia
Lagu ini telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa dan dinyanyikan oleh murid TK di beberapa negara. Ini versi Inggrisnya :
     Love of my mother which be given to me
     never becomes die as long as my life
     only give to me never hope to return
     just like the sun is shining to this world.

(18) ATUN WARDATUN : Bagus banget, teh Lilik! Saya selalu suka dengan cerita tentang kesejatian cinta berlatar belakang kehidupan keluarga seperti ini. Great, great! 


Jawaban Lilik :  Terima kasih, Bu Dosen. Banyak kejadian sederhana di sekeliling kita yang membawa nafas cinta, hanya kadang kita alpa menangkap momentnya. Cerpen mungkin salah satu cara membingkainya.

Ressume Panel :  Kissah tentang cinta memang tak habis-habisnya untuk diangkat dalam semua aspek kehidupan dan monumen budaya manusia yang diekspresikan dalam bentuk karya seni. Kalau dilakukan penelitian, maka hampir 90 persen karya seni, apakah seni sastra, seni rupa, seni tari, seni drama, seni suara, dst. tak terlepas dari tema cinta.

(19) NUNG NS : Aah, saya mah nggak percaya sama cinta yang kayak gitu. Cuma saya percaya dalam cinta (baca : pernikahan) ada tanggung jawab. Itu saja ....
Tapi cerpennya memang slalu wokeeeyy ajjaah. I like it. 


Jawaban Lilik :  Kamu emang udah terkontaminasi sama kehidupan metropolitan. Ada yang salah sama pernyataan bahwa cinta itu memberi dan nafsu itu mengambil?  Itu pernyataan yang sederhana dan paling masuk akal tentang cinta. Cinta bukan semata-mata karena tanggung jawab belaka. Tapi, kamu boleh nggak sependapat tentang itu. Beda kepala beda isinya, kan?

Tambahan Nung :  Bukan metropolitan yang mempengaruhiku, justru iman yang membuatku berkata seperti itu karena ketika Allah titipkan sebentuk cinta di hati manusia maka dia harus bisa mempertanggungjawabkannya kepada Sang Khaliq. Cinta seperti apakah yang bisa dengan benar diekspresikan? Haheeyy, discuss tentang cinta deh jadinya. Hahaha … perbedaan adalah rahmat termasuk juga dalam kasus cinta ini, ya?

Jawaban Lilik :  Trus … apa pernyataan bahwa cinta itu memberi dan nafsu itu mengambil, itu adalah salah? Saya rasa nggak. Cinta dan tanggung jawab adalah sesuatu yang lain dan berbeda. Hanya saja karena konteks yang Bu Nunung bahas itu adalah cinta dalam pernikahan, ya memang saja harus ada tanggung jawab. Sementara pernyataan bahwa cinta itu memberi dan nafsu itu mengambil,  adalah konteks cinta secara umum (luas).
Sederhananya begini. Salah satu ciri cinta adalah bila seseorang selalu ingin memberi. Suami ingin memberi nafkah, ingin memberi kebahagian, ingin memberi kesetiaan pada istrinya, pacar ingin memberi hadiah, ingin memberi bunga, ingin memberi senyuman pada pacarnya.
Sementara, bila seseorang hanya maunya mengambil sesuatu dari pasangannya entah itu materi, atau immateri, bisa dipastikan itu adalah nafsu, bukan cinta.

Ressume Panel :  Cinta adalah anugerah Allah kepada semua makhlukNya. Ia bersifat naluriah, lebih banyak bisa terasa daripada terkatakan. Karena itu cinta tidak bisa diukur dengan ukuran kuantitatif. Besar-kecilnya rasa cinta, sangat relatif pada setiap makhluk.
Untuk Nung, ukuran cinta yang dimaksudkan barangkali bisa difahami dari pertanyaan Hawa kepada Adam, dua manusia yang mula-mula diciptakan Tuhan :
      (+) Dam, kau mencintaiku?
      (–) Tidak.
      (+) Mengapa kau menikahiku?
     (–) Memangnya ada pilihan?

(20) ZULVA ADJA : So sweet banget .... Mengharukan!

(21) NENI NURIYAH NURFARIDAH : Nyentuh bangettttttt......kerennnnn

(22) NAIMA ALHABSII : Once again, affected.

(23) LINDA ZACHARY : Mantaaapp sangaaattt ....

(24) WINDA RINDAYANI : Teh Lilik , Winda ketinggalan kereta nih, baru baca cerpennya sekarang. Cerpennya bagus, bahasanya mudah dimengerti . Bikin terharu.
Semoga Tagu-nya cepat sembuh, ya? Sukses selalu untuk Teh Lilik .

Jawaban Lilik :  Zulva, Neni, Naima, Linda, Winda … terima kasih apresiasinya.

Ressume Panel :  Kehadiran Zulva, Neni, Naima, Linda, dan Winda di akhir pagelaran ini sungguh tepat, ibarat cheerleaders  yang memberi warna istimewa sehingga pagelaran ini menjadi meriah. Pertunjukan dan pertandingan apa pun adalah “barang mati” tanpa adanya supporter. Kehadiran kalian merupakan “balon-balon” yang dilepaskan ke udara yang menjadi pertanda selesainya seluruh kompetisi pada Pagelaran Apresiasi Sastra 2012. Kita tunggu hasil penilaian Dewan Yuri, dan penutupan seluruh rangkaian acara dengan Pengumuman Pemenang dan penganugerahan Piagam Sastra pada hari Minggu, 23 Desember 2012.

Wassalamu alaikum wr. wb.
Sampai jumpa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar